
Adelio sedikit terharu dan hati bajanya sedikit tersentuh melihat raut wajah kedua orang tuanya yang memancarkan kebahagiaan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Berjalan beriringan bersama kedua orang tuanya merupakan hal langka baginya. Momen tersebut tak pernah mereka lakukan. Adelio menghentikan langkahnya saat melupakan sesuatu di dalam kamarnya. Kedua orang tuanya dan lainnya ikut menghentikan langkahnya.
"Aku ke kamar sebentar" ucap Adelio dingin.
"Sayang, acara ijab kabul nya akan segera dimulai" ucap Ziva dengan lemah lembut.
"Biarkan saja sayang, Lio pasti gugup dan pengennya ke kamar sebentar. Kamu tidak tau aja, ijab kabul itu seperti apa, pokoknya sungguh menegangkan." ucap Darren yang kembali bernostalgia dengan pengalamannya.
Adelia dan Malfin tampak mengedarkan pandangannya di sekelilingnya. Mereka, berpura-pura tidak mendengar ucapan ayahnya.
"Tapi mas_"
"Kita tunggu saja di aula vavilium."
Darren segera membawa istrinya ke tempat diselenggarakannya acara ijab kabul. Begitu halnya para iring-iringan Adelio yang mengekori mereka.
Adelio terus melangkahkan kakinya memasuki rumah utama yang tampak sepi. Lalu berjalan masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai tiga.
Tak berselang lama kemudian, pintu lift terbuka karena sesuai lantai yang di tuju. Adelio segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya. Pandangannya diedarkan mencari sesuatu yang dia lupa.
Adelio mengidihkan bahunya saat melihat kotak beludru yang lupa dia bawa. Adelio segera menyambar kotak beludru itu dan memasukkannya ke dalam saku texudo.
Kemudian Adelio bergegas keluar dari kamarnya dan kembali memasuki lift yang tadi. Walaupun dia tidak bahagia dengan pernikahannya, namun dia tidak akan pernah merusak momen bahagia keluarganya.
Sementara Rania sedang menjalankan aksinya, dia perlahah keluar dari kamar tamu dengan cara mengendap-endap seperti pencuri melihat situasi di sekitarnya. Kebetulan situasi rumah utama tampak sepi tanpa adanya para pelayan yang berlalu lalang.
Sepertinya aman, pokoknya aku harus kabur lagi.
Adelio yang baru saja tiba di lantai dasar mengedarkan pandangannya dan kembali menangkap sosok wanita mengendap-endap di sudut ruangan. Adelio segera bersembunyi sambil mengamati gerak-gerik wanita itu.
Gadis ini, mulai bertingkah. Batin Adelio yang mampu mengenali Rania.
Rania merasa aman tanpa curiga ada orang yang melihatnya. Dia pun berlari kecil menuju pintu utama. Saat berhasil keluar, dia pun segera bersembunyi di balik patung singa di teras depan. Kebetulan dua penjaga tampak berjalan di halaman depan.
__ADS_1
Melawan kedua penjaga itu tak masalah bagiku. Batin Rania.
Tak sengaja pandangannya tertuju pada mobil merah yang terparkir di halaman depan. Rania tampak berpikir sejenak hingga bohlan lampu terasa menyala di otaknya. Setelah merasa aman terkendali karena melihat penjaga pergi dari sana. Rania langsung mengendap-endap mendekati mobil merah itu.
Dengan perlahan Rania membuka pintu belakang mobil itu, yang kebetulan tidak terkunci. Rania bergegas masuk ke dalam mobil itu dengan gaun pengantin yang kelewat ribet.
Rania hanya mampu bernafas lega, tangannya mulai terulur untuk membuka cadarnya. Tanpa curiga, mobil itu langsung melaju kencang. Rania terlonjat kaget hingga kepalanya terbentur di kursi depan.
"Sial! apa kamu tidak bisa bawa mobil hah!" umpatnya dengan kesal.
Rania segera memperbaiki posisi duduknya, tak sengaja matanya tertuju pada kaca depan hingga mampu melihat dengan jelas si pengendara. Alangkah terkejutnya dirinya, sampai-sampai matanya ikut membelalak sempurna melihat si pengendara mobil itu.
Rania lagi-lagi terhempas ke kanan ke kiri ke depan hingga ke dashboard mobil. Akibat ulah si pengendara yang berkendara ugal-ugalan. Tampak si pengendara hanya menyeringai dan terus berputar-putar di bundaran pancuran air di halaman utama.
Rania sudah pusing tujuh keliling. Tangannya mulai meraba tubuh si pengendara.
"Berhenti, aku sudah pusing." ucap Rania sambil memukul kecil lengan si pengendara.
"Apa kau masih ingin kabur hah! tidakkah kau berpikir dengan ulah mu dapat mempermalukan keluargaku" ucap si pengendara yang tidak lain adalah Adelio.
Rania hanya diam memegangi kepalanya yang terasa pusing. Tenaganya sudah terkuras habis menaiki mobil sialan Adelio.
Adelio sering menggunakan mobil pemberian kakek nya mengelilingi halaman rumahnya hingga masuk ke pekarangan khusus mes para pekerja di kediamannya, jika dia malas berjalan di sekitaran rumahnya.
Mobil merah itu berhenti tepat di teras vavilium yang membawa mempelai pria dan wanita.
"Air, bisakah kau memberiku air. Aku haus" ucap Rania yang tengah bersandar di kursi belakang.
Adelio segera membuka dashboard mobilnya yang berisi beberapa botol air mineral di dalam sana. Adelio mengambil satu, lalu melemparkan ke arah Rania.
Rania yang belum siap, kembali mengalami nasib naas. Hidung mancungnya jadi sasaran. Rania berdengus kesal mengelus lembut hidungnya.
"Hais, kamu hampir mematahkan pangkal hidung ku" omel Rania, lalu segera meneguk air mineral itu hingga tandas.
"Cepat keluar, semua orang menunggu kita. Ijab kabul akan di mulai." ucap Adelio dingin sambil membanting pintu mobilnya.
__ADS_1
Rania lagi-lagi terlonjat kaget, dan bersumpah serapah tidak akan keluar dari mobil itu. Tanpa basa-basi Adelio membukakan pintu untuknya.
"Hei mau apa kau" ucap Rania ketus saat Adelio membungkukkan badannya sambil menatap nya. Adelio segera mengangkat tubuhnya lalu menggendongnya memasuki aula.
"Hei turunkan aku."
Rania meronta-ronta untuk diturunkan. Adelio sama sekali tak menggubris nya.
Semua orang menatap iri pada mempelai wanita yang digendong langsung oleh mempelai pria nya. Ayah dan ibunya hanya mampu geleng-geleng kepala melihat ulah mereka.
"Mereka benar-benar cocok, pantas saja adikku mengambil tindakan cepat" ucap Fino tersenyum melihat ulah ponakannya.
Kini mempelai wanita dan pria sudah menempati tempat ijab kabulnya dan duduk di kursi yang disediakan untuknya.
Pak penghulu beserta para saksi-saksi sudah siap menikahkan mereka. Adelio mulai berjabat tangan dengan pak penghulu untuk dimulainya ijab kabul nya.
"Saya nikahkan engkau ananda Adelio Alexander Damanik bin Darren Alexander dengan Rania Putri Ibrahim binti Malik Ibrahim dengan mas kawin 1000 gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
Refleks Adelio langsung menghentakkan tangannya.
"Saya terima nikahnya Rania Putri Ibrahim binti Malik Ibrahim dengan mas kawin 1000 gram emas dan seperangkat alat sholat di bayar tunai" ucap Adelio dengan sekali tarikan.
"Sah"
Para tamu undangan mulai menyuarakan kata Sah. Yang berarti mereka sah menjadi sepasang suami istri.
Pak penghulu lalu membacakan doa untuk pasangan suami istri itu, agar menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah.
Suasana haru langsung menyelimuti kedua belah pihak keluarga. Acara Ijab kabul itu berjalan lancar dan penuh khidmat.
Untuk pasangan pengantin baru itu, Adelio dan Rania masih tidak percaya bahwa mereka sudah menjadi pasangan suami istri.
Bersambungβ¦
Jangan lupa, like love komen dan vote yang banyak π€
__ADS_1
Terima kasih π ππ