Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Kabur


__ADS_3

“Beristirahatlah nak, sekali lagi tante minta maaf atas perbuatan anak tante kepada kamu. Tante tidak menyangka Lio melakukan perbuatan keji kepada kamu” ucap Ziva dan kembali memeluk Rania.


Rania ikut membalas pelukan bunda Ziva. Rania bahkan sudah tidak tenang lagi mendengar kata menikah, memikirkannya saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling.


Belum menghancurkan seluruh keluarga Alexander. Dia bahkan sudah dihadapkan yang namanya pernikahan. Mau kabur begitu mustahil, maju kena mundur sama saja. Tak ada lagi jalan keluar baginya untuk mengakhiri nya.


Ziva kembali menangkup wajah Rania dengan lembut. Membuat Rania mendongak menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. Ziva dengan seksama mengamati wajah Rania dengan teliti.


Wajah gadis ini tidak asing, aku bahkan seperti melihat wajah sahabatku, Sarah. Apa mungkin gadis ini putri Sarah. Masya Allah, apa yang sedang aku pikirkan. Bahkan dimuka bumi ini, kita memiliki satu hingga tujuh kembaran tidak sedarah. Batin Ziva.


“Ini sudah takdir, kamu yang terpilih menjadi jodoh anak tante”ucap Ziva yakin akan kehendak sang pencipta.


Rania membulatkan matanya mendengar ucapan bunda Ziva, bahwa dia ditakdirkan berjodoh Adelio.


"Tidak seharusnya nyonya mengatakan bahwa kami ditakdirkan berjodoh. Saya tak pantas bersanding dengan putra Nyonya. Saya hanya miskin dan hina" ucap Rania rendah diri berharap bisa dimaklumi.


"Kami tak pernah melihat seseorang dari derajatnya. Kita semua sama di mata Allah. Tante yakin, kamu gadis yang baik" ucap Ziva tersenyum.


"Saya tidak meminta pertanggungjawaban dengan cara menikah. Saya hanya ingin hidup tenang dan bebas dari bayang-bayang anak nyonya" ucap Rania diiringi isak tangisnya.


Lagi-lagi Ziva menarik tubuh Rania ke dalam pelukannya. Dia menjadi bersalah atas perbuatan putranya.


"Semuanya akan baik-baik saja nak, Tante tahu seperti apa perasaanmu saat ini. Tante sangat yakin, Adelio bisa menjadi imam yang baik untuk mu" ucap Ziva yang kembali meyakinkan Rania.


Apa sih orang ini, jelas-jelas aku menolak untuk menikah dengan putranya? bahkan sangat menentang keras menikah dengan putranya. Mengapa terus membujukku? Benar-benar tak peka.


"Maaf, aku hanya ingin sendiri."


Rania melepaskan pelukannya dengan raut wajah ditekuk. Dia tidak bisa fokus berpikir jika bunda Ziva masih berada dalam kamarnya.


Ziva sangat memaklumi nya, dia pun segera keluar dari kamar tersebut.


"Selamat malam, mimpi yang indah" ucap Ziva, lalu menutup pelan pintu kamar tersebut.


Rania langsung melepas kesal hijab yang bertengger di kepalanya. Dia langsung mondar-mandir di dalam kamar untuk mencari cara agar bisa kabur dari rumah itu.


Hingga pada akhirnya, Rania menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


Malam semakin larut, baik Adelio dan Rania sama-sama belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya mulai tak menentu, pikiran akan pernikahan terus saja terlintas di benaknya. Rania berkali-kali menjambak rambutnya jika membayangkan dirinya menikah dengan Adelio.


“Tidak, tidak, aku bisa gila terus memikirkan pernikahan ini. Aku harus kabur malam ini”

__ADS_1


Rania kembali memukuli tubuhnya dengan guling. Masalah yang dia perbuat kembali pada dirinya sendiri. Melompat kesana-kemari di atas tempat tidur layaknya orang gila, semua itu dia lakukan untuk mencari jalan keluar atas masalah yang telah dia perbuat.


Sedangkan Adelio tampak bersandar di kepala tempat tidur sambil menatap figura besar dirinya bersama keluarganya.


“Aku tidak boleh lari dari masalah ini. Gadis gila itu harus mempertanggung jawabkan semua masalah ini. Dia belum tahu siapa aku sebenarnya" ucap Adelio sambil mengusap rambutnya ke belakang.


"Setelah masalah ini reda, takkan ku biarkan hidupmu tenang atas apa yang kau lakukan kepadaku” ucap Adelio menyeringai.


“Baiklah, aku akan ikut berperan dalam drama mu, siapakah yang akan memenangkan piala kali ini.”


Adelio tersenyum dengan ucapannya sendiri. Dia pun memilih mengubah posisinya, membaringkan tubuhnya dengan perlahan, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, hingga matanya ikut terpejam. Semoga tidurnya nyenyak dan mimpi yang indah.


Keesokan harinya….


Tak ada yang berubah di keluarga Alexander, semuanya tampak akur duduk bersama. Darren dan Ziva duduk bersama kedua anaknya di meja makan. Semuanya tampak lahap menikmati sarapannya. Adelio sesekali melirik ke arah bundanya, berharap bundanya sudah memaafkannya.


“Habiskan makananmu, jangan terus lihatin bunda”ucap Ziva yang menegur putranya.


“Iya bunda” ucap Adelio, lalu menghabiskan makanannya.


Adelia hanya tersenyum menikmati makanannya, dia berharap keluarganya selalu rukun seperti ini. Setelah selesai sarapan, Adelia segera berpamitan kepada orang tuanya dan berangkat lebih pagi ini.


Sementara Adelio memilih menunggu bundanya di ruang keluarga. Dia perlu bercerita dengan bundanya sebelum berangkat ke kantor. Dia tidak ingin hubungannya dengan sang bunda menjadi renggang.


“Maaf nyonya, saya berusaha mengentuk pintu kamarnya. Tapi tak ada jawaban dari dalam. Sepertinya nona itu, masih tidur” ucap pelayan sambil menundukkan pandangannya.


“Ya sudah, biar saya saja yang membangunkannya. Kalian hanya perlu membawakan sarapan untuknya, nanti saya mengeceknya” ucap Ziva tersenyum.


Kedua pelayan wanita mengangguk, lalu undur diri dari hadapan majikannya.


Ziva mengalihkan pandangannya ke arah putranya. Dia mampu melihat sorot mata putranya terlihat memohon kepadanya.


“Ada apa Lio? Mengapa menatap bunda seperti itu?” tanya Ziva yang mampu membaca pikiran putranya.


Adelio lalu menuntun ibunya duduk bersama di sofa. Adelio mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan bundanya.


“Maafin aku Bunda, aku tidak akan membuat bunda kecewa. Aku janji tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Lio siap bertanggung jawab kepada gadis itu, dan menerimanya menjadi pendampingku. Lio siap menikahinya”ucap Adelio yakin.


“Bunda sudah maafin kamu nak. Bunda senang mendengarnya, kamu setuju untuk menikahi gadis malang itu” ucap Ziva yang belum juga tahu siapa nama calon menantunya.


Adelio lalu menghambur memeluk bundanya. Sungguh dia tidak bisa didiamkan oleh bundanya. Ziva membalas pelukan putranya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Ziva tersenyum mengelus lembut punggung putranya, dia juga tidak suka jika hubungannya dengan putranya menjadi renggang. Karena saat ini, kebahagiannya hanya tertuju kepada anak-anaknya.


“Wah ada apa ini saling berpelukan segala. Lio, Kamu tidak ke kantor?” tanya Darren karena putranya tak kunjung ke kantor.


“Sebentar dulu yah, Lio masih melepas rindu sama bunda”Ucap Adelio.


“Kamu ini ada-ada saja. Harusnya kamu lebih giat lagi bekerja. Ingat, sebentar lagi kamu punya tanggungan, menghidupi anak orang tidak gampang loh. Kamu mesti membahagiakannya secara lahir dan batin”ucap Darren yang kembali mengingatkan putranya.


Adelio hanya manggut-manggut mendengar ucapan ayahnya. Padahal dia sama sekali tak mendengarkannya dengan baik, hanya acuh dan tak ingin ambil pusing dengan masalah yang menimpanya. Prinsipnya, jalanin saja lambat laun pasti akan ketemu akarnya.


"Permisi tuan dan nyonya. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa nona yang menempati kamar tamu menghilang" ucap Kepala pelayan.


"Coba di periksa kembali bi. Mungkin dia berada di kamar mandi" ucap Ziva.


"Kami sudah memeriksanya Nyonya" ucap kembali kepala pelayan.


"Jangan-jangan dia kabur bunda" timpal Adelio.


Ziva segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar tamu untuk memastikannya. Adelio dan Ayahnya turut mengikuti langkahnya.


Dan benar yang dikatakan kepala pelayan. Kamar tamu yang ditempati Rania sudah kosong.


"Gadis itu kabur" ucap Ziva dengan raut wajah sulit diartikan.


"Syukurlah dia kabur" gumam Adelio.


"Lio, cepat cari gadis itu. Pokoknya harus ketemu" ucap Darren cepat.


"Ayah, aku harus ke kantor."


Adelio memilih acuh dengan ucapan ayahnya dan segera melangkah keluar.


"Benar yang dikatakan ayahmu, pokoknya temukan gadis itu. Bunda tidak ingin melihat wajah mu sebelum menemukan gadis malang itu" ucap Ziva dengan ancamannya.


Adelio langsung menghentikan langkahnya, berbalik badan menatap ke arah bundanya.


"Baiklah, aku akan mencarinya" ucap Adelio mengalah.


Sungguh ancaman bundanya lebih mematikan diantara senjata yang dimilikinya.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like, love, komen dan vote yang banyak 🤗


Terima kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2