Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Rahasia


__ADS_3

Adelio memijit keningnya mendengar ucapan Adelia. Dia tidak menyangka bahwa Rania bisa hamil secepat ini, pulang-pulang malah dikejutkan dengan kehamilan Rania. Sedangkan Rania masih saja terbengong memikirkan ucapan Adelia.


"Alhamdulillah, kakak ipar harus ekstra jaga kesehatan dan kak Lio harus ekstra menjadi suami siaga. Aku sangat senang sebentar lagi bakal punya ponakan yang menggemaskan" ucap Adelia tersenyum bahagia dengan kabar bahagia kakak iparnya.


Adelio memilih meninggalkan mereka, tak ada rasa senang apalagi bersyukur dengan kehamilan Rania. Sementara Rania hanya mampu menatap punggung Adelio yang semakin menjauh.


Jika kabar kehamilan ku memang benar. Aku hanya perlu bersyukur kepada Tuhan karena memberiku anugerah terindah lewat janin ini. Aku benar-benar tak menduga bisa hamil secepat ini. Semoga aku bisa menjaga janin ini dengan baik dan bisa membuat Adelio menerima kehadiran kami. Batin Rania.


Rania menggenggam tangan Adelia dengan raut wajah memohon.


"Ada apa kakak ipar, mengapa kamu terlihat khawatir?" tanya Adelia yang bisa membaca pikiran kakak iparnya.


"Adelia tolong bantu aku untuk merahasiakan kabar kehamilanku, jangan katakan kepada siapapun jika aku sedang hamil" ucap Rania dengan mata berkaca-kaca.


"Kakak ipar, untuk apa kita merahasiakan kabar bahagia ini?" tanya Adelia yang merasa janggal dengan jalan pikiran Rania.


"Ku mohon, aku belum bisa menjelaskannya sekarang" ucap Rania sambil menundukkan pandangannya.


Aku rasa ada yang sedang disembunyikan kakak ipar dan kak Lio. Masalah apa ya? kak Lio sama sekali tak merespon kabar bahagia ini, aneh. Batin Adelia.


Adelia kembali memeluknya. "Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu. Rahasia ini aku simpan rapat-rapat. Jangan terlalu banyak pikiran mulai sekarang,karena bisa saja berpengaruh pada janin di dalam perut kakak ipar" ucap Adelia tersenyum. Ingin rasanya dia juga cepat di berikan momongan oleh Tuhan.


"Sebaiknya kakak ipar sarapan dulu, aku yang akan menyuapi mu" ucap Adelia dan segera melepaskan pelukannya.


Rania hanya mengangguk sebagai jawabannya. Adelia bergegas mengambil nampan yang berisi sarapan Rania dan Adelio.


Adelia kembali menghampiri Rania dan kembali duduk di tempatnya semula. Semangkuk bubur sudah berada di tangan Adelia. Dengan hati-hati Adelia menyuapi Rania, sementara Rania begitu senang masih ada yang memperhatikan dirinya.


Terima kasih Lia, kamu begitu baik kepada ku. Maaf pernah membuat mu celaka.


Bayang-bayang masa lalu kembali terlintas di pikirannya. Rania tak bisa lari dari perasaan bersalah dan menyesal kepada adik iparnya.


Suapan demi suapan sudah mengisi perut rata Rania. Rania selalu saja tersenyum dan merasa bersyukur kepada Tuhan karena masih dikelilingi oleh orang-orang baik. Setelah selesai menghabiskan sarapannya, Rania memilih beristirahat.


Seharian Adelia menjaga Rania di dalam kamar. Adelia melaksanakan sholat dan mengaji di dalam kamar Rania. Terkadang membantu Rania jika ingin ke kamar mandi. Kini mereka tengah duduk bersama di depan jendela untuk menyaksikan kawanan dolphin berenang bersama yang tidak jauh dari kapal yang tumpangi nya.


Adelia dan Rania tersenyum bersama dan kadang tergelak tawa melihat kawanan dolphin. Ditambah langit senja semakin memperindah pemandangan lautan.


Adelia bangkit dari duduknya saat mendengar ponselnya berdering, dia pun segera melihat panggilan masuk tersebut. Sekitar dua puluh panggilan masuk dari suaminya.


"Astaghfirullah, aku sudah mengacuhkan panggilan kak Malfin sebanyak ini" gumam Adelia dan segera mengangkat panggilan masuk dari sang suami.


"Halo Assalamualaikum, ada apa kak Malfin" ucap Adelia di ujung telepon.


"Aku menunggumu di kamar" ucap Malfin dingin yang sama sekali tak menjawab salam dari istrinya.


"Kak Malfin, aku_" ucap Adelia yang tak melanjutkan ucapannya." Ya dimatiin, apa dia marah" gumam Adelia sambil memegangi ponselnya.

__ADS_1


"Aku sudah mendingan sekarang, jangan khawatirkan aku. Suamimu pasti menunggumu, sana temui" ucap Rania tersenyum.


"Tapi aku ingin_" ucap Adelia yang tak bisa melanjutkan ucapannya.


"Tak baik menolak panggilan suami" potong Rania cepat.


"Baiklah, aku ke kamar dulu kakak ipar. Jika terjadi sesuatu cepat kabari aku" ucap Adelia tersenyum.


Rania hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Suasana diluar sudah petang, Adelia berjalan was-was menuju kamarnya. Tidak biasanya dia mendengar suara misterius suaminya.


"Astaga, aku terlalu asyik bersama kakak ipar sampai-sampai panggilan masuk kak Malfin sama sekali tak terdengar" gumam Adelia yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


Adelia ragu mengetuk pintu kamarnya, gerakan tangannya begitu lambat untuk mengetuk pintu kamar itu, hingga terdengar suara pintu kamarnya terbuka. Adelia segera menepi ke samping untuk bersembunyi.


"Ayo masuk, sedari tadi aku menunggumu" ucap suara bariton seseorang mengagetkannya yang tidak lain adalah suaminya.


Adelia segera masuk ke dalam kamarnya. Malfin segera menutup pintu kamarnya dan tak lupa menguncinya. Aura dingin mulai mengelilingi kamarnya, Adelia segera melangkah menuju kamar mandi, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan kekar mendekap tubuhnya.


Adelia mampu mencium aroma tubuh suaminya. Adelia langsung membeku di tempatnya dengan perasaan gugup


"Aku tidak suka di acuhkan" ucap Malfin dingin lalu menciumi pundak Adelia.


"Aku menemani kakak ipar seharian ini" ucap Adelia membela diri.


"Kak Malfin"


Adelia merasa aneh dengan sikap suaminya.


"Hemm"


Malfin segera membalikkan tubuh Adelia menghadap ke arahnya. Malfin segera membuka cadar Adelia hingga terlihat jelas wajah Adelia merona dan sangat menggemaskan. Ingin rasanya Malfin tertawa melihat raut wajah istrinya, namun sekarang dirinya sedang memasang mode marah.


"Kak Malfin, aku...aku"


Adelia semakin gugup saja karena wajah Malfin semakin dekat dengan wajahnya. Hingga Adelia memilih memejamkan matanya yang sudah kalah dengan tatapan dingin suaminya.


"Ha ha ha ha wajah mu sangat menggemaskan" ucap Malfin tergelak tawa sambil membelai wajah istrinya.


"Kak Malfin, kamu membuatku takut" ucap Adelia manja sambil memukul kecil lengan kekar Malfin.


"Ha ha ha. Aku senang mengerjaimu, dan aku sedang menguji mental mu" ucap Malfin lalu menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya. Adelia segera membalas pelukannya.


"Jangan pernah mengacuhkan ku, aku tak bisa jauh dari mu. Kamu selalu saja membuatku khawatir" ucap Malfin lalu mencium puncak kepalanya.


"Iya aku janji tidak akan mengulangi nya lagi" ucap Adelia tersenyum yang sudah merasa tenang.

__ADS_1


"Lia"


"Iya kak Malfin" ucap Adelia sambil mendongak menatapnya.


Cup


Malfin mencium mesra keningnya. Membuat wajah Adelia semakin merona.


"Aku bahagia bersamamu" ucap Malfin tersenyum tipis.


"Aku juga bahagia bersamamu" ucap Adelia tersenyum lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


Malfin kembali memeluknya erat. Aku mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu. Batinnya.


Debaran jantung keduanya memompa dengan cepat. Baik Malfin maupun Adelia sama-sama mendengar debaran jantungnya yang ikut bereaksi dengan perasaan bahagia.


Pasangan suami istri itu tampak romantis yang tak kunjung melepaskan pelukannya. Mereka terus memberikan kehangatan satu sama lain. Hingga dering ponsel mengangetkan mereka berdua.


Malfin segera melepaskan pelukannya dan berjalan mengambil ponselnya di atas meja. Tertera nama ibu mertuanya di layar ponselnya.


"Bunda"gumam Malfin.


"Bunda pasti menghubungiku sayangnya ponselku tiba-tiba mati Sepertinya baterai ponsel ku habis. Biar aku saja yang mengangkat nya" ucap Adelia yang tengah berdiri di belakangnya lalu mengambil alih ponselnya.


"Halo Assalamualaikum bunda."


"Waalaikumsalam, apa kalian sudah menemukan Rania?" tanya bunda Ziva diujung telepon.


"Alhamdulillah, kami sudah menemukan kak Rania. Sekarang kami bersamanya bunda" ucap Adelia antusias.


"Alhamdulillah, syukurlah, bunda sangat bahagia mendengar kabar baik ini" ucap bunda Ziva penuh haru. "Ya sudah sebaiknya ajak Rania dan Adelio berbulan madu bersama kalian. Semoga pulang nanti kalian memberikan kabar bahagia untuk kami" ucap bunda Ziva di ujung telepon.


Kak Lio dan kak Rania sudah memberikan kabar bahagia untuk bunda. Tapi maaf bunda, aku hanya bisa merahasiakannya darimu. Batin Adelia.


Malfin hanya menguping mendengar pembicaraan mereka.


"Baiklah bunda, semoga doa bunda segera terkabulkan...Aamiin" ucap Adelia tersenyum, namun sambungan telepon mereka terputus.


"Ya sambungannya terputus" ucap Adelia cemberut.


"Sinyal tidak mendukung, sebaiknya bersihkan tubuhmu, aku ingin mengajakmu makan malam di luar" ucap Malfin tersenyum.


Adelia mengangguk kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Malfin akan mengajaknya makan malam di luar. Setelah selesai bersiap-siap, pasangan suami istri itu berjalan bergandengan tangan menuju kabin kapal, kebetulan Malfin sudah menyiapkan makan malam spesial untuk istri tercintanya.


Bersambung...


Jangan lupa like, love komen dan vote ya teman-teman šŸ™šŸ™šŸ™

__ADS_1


Terima kasih šŸ™šŸ™šŸ™


__ADS_2