
Adelio beristirahat di ruang kerjanya. Berdebat dan terus berdebat dengan istrinya membuatnya emosional. Kebetulan di ruang kerjanya juga terdapat tempat tidur yang selalu dia gunakan beristirahat sejenak jika lelah bekerja semalaman. Dan terkadang dia tertidur semalaman di tempat tidur itu.
Adelio membaringkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Dia pun kembali teringat ucapan almarhumah Oma Ratu tentang perjalanan cinta ayah dan ibunya yang cukup berbelit-belit.
"Bagaimana bisa ayah dan bunda saling mencintai, sementara mereka saling bermusuhan, benar-benar tak masuk logika. Tapi, Apakah kisah mereka akan terulang kepadaku" gumam Adelio sambil melipat tangannya sebagai bantalan nya.
"Ini tidak boleh terjadi. Gadis gila itu memasuki kehidupan ku sebagai seorang mata-mata. Aku tak bisa membiarkannya hidup bebas, dia orang yang harus diwaspadai mulai sekarang" ucap Adelio dan kembali mengubah posisi tidurnya.
Tak berselang lama kemudian, mata Adelio sudah terpejam sempurna yang menandakan bahwa dirinya sudah terlelap.
Sementara Rania begitu leluasa menggunakan tempat tidur Adelio. Membolak-balikkan tubuhnya seperti penguasa tempat tidur itu dan terus mencari posisi ternyaman nya.
"Tempat tidur si aligator nyaman juga. Tapi sayang, aroma maskulin si aligator begitu nyata di kamar ini. Aku sangat membencinya" gumam Rania.
"Kamarnya sangat rapi. Ah aku punya ide, bagus ya kalau aku memporak-porandakan kamarnya esok hari" Ucap Rania tersenyum jahat.
Huaomm
"Aku harus tidur, nanti saja aku pikirkan rencana selanjutnya."
Berkali-kali Rania menguap dengan rasa kantuk semakin mendarah daging di tubuhnya. Hanya beberapa menit, Rania langsung tertidur pulas diiringi dengkuran halus.
Handuk putih yang dililitkan di kepalanya masih menempel dengan baik. Gadis manis itu begitu ceroboh, jika pemilik kamar itu melihatnya, sudah dapat dipastikan dia akan di tendang dari tempat tidur itu.
"Hei bangun!"
Samar-samar Rania mendengar suara seseorang sedang membangunkannya. Rania belum bergeming dan masih berkelana dalam alam bawah sadarnya.
"Bangun!"
Hingga tendangan kecil ikut membangunkannya.
"Siapa sih, ganggu aja."
Rania belum juga membuka matanya. Sementara Adelio sudah berdiri di samping tempat tidur yang tengah menatapnya dengan tatapan membunuhnya.
Tanpa basa-basi Adelio menarik handuk yang dililitkan di kepala Rania.
"Awwww, sakit tau" ucap Rania kesal, karena rambut panjangnya ikut ketarik lewat handuk tersebut.
"Tidur kayak kebo. Cepat bersiaplah, kita harus mengikuti makan malam bersama keluarga. Aku memberi mu waktu lima menit saja" ucap Adelio lalu memilih duduk di sofa dalam kamarnya.
Adelio selalu saja terlihat rapi dengan pakaian santainya. Adelio kembali mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa email dan pesan masuk dari ponselnya.
"Haish sangat menyebalkan."
Rania menggerutu kesal dan segera melompat dari tempat tidur, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia harus bersih-bersih dulu, karena habis bobo cantik.
__ADS_1
Setelah selesai, Rania segera keluar dari kamar mandi. Mengedarkan pandangannya dan mendapati sang suami tengah sibuk memainkan ponselnya.
"Ayo kita temui keluarga mu" ucap Rania, lalu berjalan menuju pintu.
"Tidak salah kau mengenakan pakaian seperti itu?" ucap Adelio sambil memperhatikan penampilan istrinya.
Rania hanya menggulung rambutnya dan begitu acuh dengan ucapan suaminya.
"Tak masalah dengan penampilan ku seperti ini. Aku hanya ingin memperlihatkan kepada keluarga mu bahwa seperti inilah penampilan ku sebenarnya" ucap Rania sambil mengibaskan rambut panjangnya.
"Ya sudah, lakukanlah. Tapi ingat baik-baik sekali kau melangkahkan kaki mu di pintu itu, maka dapat dipastikan nasib kakak mu akan berakhir jadi gelandangan" ucap Adelio dengan ancaman yang tak main-main.
"Ha ha ha, kau mengancam ku tuan Adelio Alexander Damanik yang super kaya?" ucap Rania tertawa renyah.
"Aku salah satu investor di perusahaan RR group dan tak main-main suntikan dana yang kuberikan nominal nya fantastis. Jika aku menarik seluruh dana beserta saham sekaligus, sudah dipastikan perusahaan kakakmu akan bangkrut secara tiba-tiba" ucap Adelio sambil menyilangkan kedua tangannya, lalu bersandar di sofa.
"Oh ya, aku jadi takut tuan" ucap Rania sambil tersenyum sinis.
"Aku tak pernah bermain-main. Malam ini atau besok bisa kulakukan" ucap Adelio sambil bangkit dari duduknya.
Rania berdengus kesal, ancaman Adelio membuatnya tak berkutik. Mau tak mau dia segera berlari masuk ke ruang ganti, bisa saja ucapan musuhnya kenyataan. Rania sangat tahu sifat asli musuhnya seperti apa, mampu menghalalkan segala cara dengan tabiatnya berdarah dingin nan kejam.
"Dua menit waktu yang kuberikan untukmu, jika lewat dari itu, maka siap-siap menanggung akibatnya" teriak Adelio dengan seringai licik diwajahnya.
Adelio berjalan keluar dari kamarnya, dia berpikir akan menunggu istrinya di depan pintu lift.
Dengan terpaksa Rania memakai salah satu pakaian syar'i yang berada di ruang ganti. Penampilannya kembali muslimah dengan cadar yang bertengger di kepalanya.
"Hijab mu terbalik, kau sangat ceroboh rupanya" sindir Adelio dengan tatapan sinis nya.
"Hah, apa..sial" gumam Rania yang melihat ulahnya sendiri.
"Aku akan kembali ke kamar untuk memperbaikinya."ucap Rania sambil memukul kecil kepalanya.
"Tak perlu, semua orang sudah menunggu kita. Gunakan alasan yang logis agar mereka tidak curiga dengan kecerobohan mu" cegat Adelio.
Terserah kamu saja aligator, aku sangat kesal dengan sikap mu. Baru sehari nikah, kamu sudah mengancam ku ini itu, arrgghhh...batinnya.
Seluruh keluarga sudah menempati kursinya. Hidangan lezat tampak tersaji di atas meja makan. Mereka semua sedang menunggu kedatangan si pengantin baru.
Pandangan mata Ziva berbinar saat melihat anak dan menantunya berjalan beriringan. Rania segera merapatkan tubuhnya dengan sang suami sambil menggandeng mesra tangannya.
Adelio begitu mengerti akan maksud istrinya, bersandiwara di depan keluarganya merupakan hal yang sangat baik untuk keduanya. Seluruh keluarga tampak tersenyum melihat kemesraan pasangan suami istri itu.
Adelio melepas gandengan tangan Rania, lalu menarik kursi untuk didudukinya dan sama sekali tidak melakukannya untuk sang istri.
Rania mengepalkan tangannya melihat sikap acuh Adelio kepadanya. Darren yang melihat menantunya masih berdiri segera angkat bicara.
__ADS_1
"Lio, tidakkah kamu mempersilahkan istri mu duduk di kursinya" ucap ayah Darren.
Refleks Adelio menarik kursi di sampingnya, lalu meminta Rania duduk.
"Terima kasih, kamu sangat perhatian suamiku" ucap Rania tersenyum sinis.
Seluruh keluarga mulai menikmati makan malamnya. Semuanya sama sekali tak menyadari hijab Rania yang terbalik, karena melihat kemesraan Keduanya benar-benar nyata. Rania melayani dengan baik Adelio, mengambilkan lauk pauk yang di minta suaminya.
Adelia yang ingin mengambil lauk kesukaannya tak sengaja berebut dengan calon suaminya. Malfin mempersilahkannya untuk mengambilnya lebih dulu, namun Adelia menggeleng cepat.
Menaruh lauk pauk kesukaannya di piring calon suaminya, membuat sang empunya tersenyum tipis menatapnya. Adelia ikut tersipu dengan rona wajah memerah melihat senyuman Malfin.
"Terima kasih" ucap Malfin, lalu segera memakan makanannya.
Adelia hanya mengangguk sebagai jawabannya. Semuanya tak menyadari akan sikap kedua insan itu yang tampaknya mulai tumbuh benih-benih. Apalagi sebentar lagi mereka akan melangsungkan pernikahannya.
"Kakak ipar, hijab mu ke balik" bisik Morgan karena hanya dia yang menyadari hal itu.
"Hehehe iya, aku sangat terburu-buru" bisik Rania.
Adelio tampak acuh, bisik-bisik tetangga yang di lakukan istrinya tak masalah baginya.
Mama Sarah dan paman Zayn juga menempati meja makan itu. Keduanya mengerutkan keningnya melihat Rania berbisik-bisik dengan pria lain.
Setelah selesai makan malam bersama, keluarga Rania bersiap-siap untuk pulang. Rania sama sekali tak ingin ditinggal oleh mamanya. Dia pun bermanja-manja memeluk mamanya.
"Jaga dirimu sayang, ingat berbaktilah kepada suamimu. Jangan lupa berkunjung ke rumah mama" ucap Sarah lalu melepaskan pelukannya.
Rania hanya diam seribu bahasa hingga melihat kepergian ibu dan pamannya.
"Sampai kapan kau terus berdiri di situ, apa kau ingin menginap di teras ini" ucap Adelio tegas.
"Kamu aja yang menginap di sini..uweekk" ucap Rania sambil menjulurkan lidahnya dan berlari kecil meninggalkan Adelio.
"Hei tunggu" teriak Adelio dan langsung mengejar Rania
Keluarga besar Adelio yang sedang duduk bersama di ruang keluarga, tampak mendengar aksi kejar-kejaran mereka.
"Cucuku sudah tidak sabar untuk melakukan nya. Sebentar lagi aku akan mendapatkan cicit dari nya" ucap tuan Alvin diiringi gelak tawa.
Yang lainnya hanya mampu ikut tertawa bersama.
Bersambung....
Jangan lupa like, love komen dan vote yang banyak š¤
Terima kasih ššš
__ADS_1