
Keesokan harinya....
Sebagian anggota keluarga Alexander tengah melakukan sholat subuh secara berjamaah di ruangan khusus tempat ibadah yang terletak di lantai dasar. Tempat ibadahnya mirip sebuah masjid, dengan beberapa hiasan kaligrafi dan tulisan kaligrafi di sepanjang dinding.
Darren mengimami keluarganya yang tengah menunaikan sholat subuh berjamaah. Fino beserta sang istri turut serta melaksanakan sholat subuh secara berjamaah.
Tak ada putra-putra hebat mereka yang melaksanakan sholat. Hanya doa yang terus mereka panjatkan agar seluruh anggota keluarganya bisa hijrah dan berada di jalan Allah SWT.
Baik keluarga Darren maupun keluarga Fino terus mengingatkan putranya untuk menunaikan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-nya.
Namun seolah putranya buta dan tuli atas apa yang mereka sampaikan. Mereka hanya bisa memaklumi dan memaklumi, maklum dirinya pun pernah muda dan terasa berat untuk berada di jalan yang benar. Sehingga hanya doa dan doa yang mampu mereka panjatkan, mereka sangat yakin bahwa suatu saat nanti putranya akan hijrah dan kembali ke jalan yang benar.
Semua orang yang sudah berkeluarga pasti akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, begitulah prinsip hidup mereka. Karena sekarang pun telah mereka jalani.
Selepas sholat subuh secara berjamaah, Adelia masih menyempatkan waktunya untuk mengaji. Itu menjadi kebiasaannya selama ini membaca beberapa ayat untuk diamalkan nya.
Setelah selesai, Adelia bergegas merapikan peralatan sholatnya dan melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membantu ibu tercintanya.
Sementara pasangan pengantin baru. Masih saja terlelap di tempat ternyaman nya yakni tempat tidur dalam kamar nya. Rania menempati tempat tidur Adelio, sedangkan Adelio menempati tempat tidur di ruang kerjanya.
Rupanya tadi malam Adelio memilih tidur di ruang kerjanya dibandingkan tidur bersama sang istri. Adelio terbangun lebih awal dari sang istri dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Rania masih saja tertidur pulas diiringi dengkuran halus. Gadis itu sama sekali tak ada tanda-tanda nya untuk bangun.
Adelio tampak segar yang baru saja keluar dari kamar mandi. Adelio mencari remote control untuk membuka tirai jendelanya.
Clinggg
Tirai jendela kamarnya terbuka lebar hingga sinar matahari pagi dengan leluasa memasuki celah-celah jendela kamarnya. Setelah itu, Adelio bergegas masuk ke ruang ganti.
Gadis yang berbalut selimut itu, dengan cepat membuka matanya sambil mengumpulkan kesadarannya. Sinar matahari pagi yang begitu silau menerpanya.
"Siapa sih yang membuka tirai jendela" ucap Rania kesal sambil menguap tak karuan.
Rania mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang dia wanti-wanti pelakunya. Tak berselang, sang pelaku utamanya mulai menampakkan batang hidungnya yang baru saja keluar dari ruang ganti.
__ADS_1
Tampak Adelio mengancing kemejanya yang sedang berdiri di depan cermin untuk melihat dengan seksama penampilannya.
Rania yang berbalut selimut hanya menatapnya malas.
"Bagaimana tidur mu? apa begitu nyenyak sampai-sampai kau tak ingin turun dari tempat tidur ku" Ucap Adelio sambil memasang dasi nya.
"Sangat nyenyak, aku bahkan akan kembali tidur seharian di tempat tidur mu" ucap Rania sambil bersandar di bantal.
Rambut panjangnya tampak acak-acakan mirip singa betina yang baru saja lahiran.
"Tampang mu sangat menyedihkan, aku bahkan begitu kasihan pada gadis yang numpang hidup kepada ku."
Adelio mengatakannya dengan santai yang berusaha mengejek istri nya. Rania sudah mengepalkan tangannya di bawah selimut. Namun dia tetap berusaha untuk tersenyum manis.
"Harusnya kau bersyukur, karena aku masih bersedia menikah dengan pria menyebalkan seperti mu" ucap Rania ketus.
Adelio segera memakai setelan jasnya. Bisa-bisa dia terlambat ke kantor jika terus meladeni istri cerewetnya. Adelio menenteng tas kerjanya dan berlalu meninggalkan Rania di dalam kamar.
Seluruh keluarga Alexander sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Hanya Rania yang tidak berada di sana. Semua orang memandang penuh curiga kepada Adelio, sementara Adelio tampak acuh melihat tatapan keluarga nya.
Adelio langsung terbatuk-batuk mendengar ucapan Morgan. Seluruh keluarga nya langsung menatap ke arahnya untuk meminta penjelasan.
"Emm..dia tidak enak badan, jadi tak bisa ikut sarapan bersama kita"ucap Adelio dengan alasannya.
"Benar kan tebakan ku. Berarti kak Lio sudah melakukan malam spesial bersama kakak ipar, hingga kakak ipar kurang enak badan, ayo ngaku?" ucap Morgan yang kembali menyudutkan Adelio.
Adelio hanya mampu mengiyakan ucapan Morgan, jika tidak, panjang urusannya. Ayah dan ibunya langsung tersenyum lebar mendengar ucapan putranya.
Opa dan Oma nya ikut tersenyum dengan mata berbinar, karena tidak lama lagi mereka akan mendapatkan cicit di umur nya yang semakin tua.
"Jalankan tugas mu Min" ucap Rania di ujung telepon dan segera memutus secara sepihak.
Rania tersenyum menyeringai turun dari tempat tidur, tangannya terulur menjatuhkan benda hias dan aneka koleksi miniatur hewan di dalam lemari kaca. Benda itu berjatuhan hingga hancur berantakan.
"Aku berhasil memporak-porandakan kamar si aligator. Tinggal menunggu kabar menggembirakan dari Min" gumam Rania dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
Siasat licik yang direncanakan Rania akan dijalankan oleh bodyguard nya, dia hanya perlu duduk tenang sambil menunggu hasilnya.
Sementara di lantai dasar....
Adelio dan Adelia berpamitan kepada orang tuanya sebelum berangkat. Malfin juga melakukan hal yang sama, karena dirinya harus kembali ke negara B untuk mengurus perusahaan nya. Mengingat pernikahannya masih terhitung beberapa hari.
Adelia segera masuk ke dalam mobil yang disiapkan untuknya lengkap dengan supir pribadi nya. Adelia kembali melirik ke arah Malfin yang tengah berpamitan kepada keluarganya.
"Jalan pak" ucap Adelia.
Dengan cepat sang supir melajukan mobilnya. Lalu di susul mobil Adelio yang juga meninggalkan kediamannya. Disepanjang perjalanan, Adelia masih teringat ucapan Malfin yang memintanya untuk terus menunggunya.
Sementara sang supir tampak mengantuk mengemudikan mobilnya. Dari arah yang berlawanan, sebuah minibus melaju kencang ke arahnya. Sang supir segera banting stir. Namun sayangnya, tiba-tiba rem mobil itu mendadak blong.
"Astaghfirullah, apa yang terjadi pak" ucap Adelia khawatir dengan laju mobil semakin kencang, bahkan ugal-ugalan di jalan raya.
"Rem nya belong nona" ucap Sang supir yang sudah dirundung kepanikan.
"Menepi pak" ucap Adelia di kursi belakang.
Sang supir berusaha mengendalikan mobil yang rem nya belong. Sang supir bahkan berteriak kepada pengendara lainnya untuk menepi
"Awas pak" teriak Adelia yang melihat mobil truk berlawanan arah terus melaju ke arahnya.
Brukkkk
Mobil yang ditumpangi Adelia terus terbalik hingga menabrak pembatas jalan. Terjadi kecelakaan beruntun di lokasi tersebut, antara mobil Adelia dengan supir truk. Kedua mobil itu rusak parah bahkan mengeluarkan asap yang sebentar lagi akan meledak. Sementara para penumpangnya masih terjebak di dalam mobil.
Di suatu tempat, tampak gadis berambut panjang tertawa terbahak-bahak mendengar kabar dari anak buahnya.
"Akhirnya, rencana ku berhasil. Selamat tinggal kesayangan Alexander"ucapnya menyeringai.
Bersambung.....
Terima kasih atas dukungannya teman-teman ššš
__ADS_1