
Seluruh tamu yang berada di ruangan itu terkejut dengan ucapan sang tuan rumah. Keynand dan Raka langsung memalingkan wajahnya dengan perasaan yang sangat kecewa. Mereka tidak menyangka niat baiknya sia-sia malam ini, yang artian mereka gagal mendapatkan Adelia.
Gamal beserta istrinya hanya mampu berlapang dada menerima keputusan Darren, ada terbesit niat untuk menjadi bagian dari keluarga Alexander, namun bukan keberuntungan putranya.
Untuk keluarga Rania, Zayn terlihat biasa-biasa saja dengan keputusan Darren. Zayn tidak mempermasalahkan ponakannya tidak jadi menikahi Adelia. Namun dia sudah mendapatkan angin segar lewat lamaran Adelio terhadap ponakannya.
Ziva dan Milan langsung berpelukan bersama yang diselimuti perasaan haru dan bahagia. Sementara Para suami mereka hanya mampu tersenyum hangat melihat kekompakan istrinya.
Tak terkecuali Morgan yang sudah dua kali menepuk pundak kakaknya untuk segera melamar Adelia. Sedangkan sang kakak hanya acuh dan masih tidak percaya dengan keputusan yang diambil paman nya saat ini.
Darren kembali mempersilahkan Malfin untuk melamar putri tercintanya. Malfin segera bangkit dari duduknya dan mulai mengutarakan niat baiknya. Adelia yang duduk di kursinya tampak tersipu malu mendengar tutur kata calon suaminya.
Hingga suara teriakan setuju mulai menggema di ruangan itu. Wajah Adelia mulai merona yang belum juga angkat bicara menerima pinangan Malfin Alexander.
“Kak Lia, katakan setuju” ucap Morgan antusias.
Adelia tersenyum tipis di balik cadarnya dan segera mengedarkan pandangannya ke arah Malfin.
“Iya, aku setuju menikah denganmu” ucap Adelia yang tersipu malu.
Malfin hanya mampu menyembunyikan perasaan bahagianya kali ini. Malfin menghembuskan nafasnya dengan kasar dan merasa plong bisa melamar Adelia di depan semua orang.
“Alhamdulillah, semoga pernikahan kalian berjalan lancar.” Ucap Ziva dengan penuh syukur. Lalu memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.
Milan juga melakukan hal yang sama kepada putranya. Tuan Alvin bersama nyonya Ira begitu bahagia dan turut mendoakan kebahagian cucu-cucu nya hingga ke jenjang pernikahan.
“Baiklah, pesta pernikahan mereka terhitung dua minggu lagi. Untuk acara ijab kabulnya, Adelio dan Rania akan melaksanakan acara ijab Kabul terlebih dahulu. Saya memperkirakan esok hari waktu yang tepat untuk melaksanakan acara ijab kabulnya. Sedangkan Malfin dan Adelia, akan dilaksanakan acara ijab kabulnya tepat pada pesta pernikahan mereka berlangsung” ucap Darren panjang lebar.
“Mengapa pesta pernikahan kami begitu cepat, tidak bisakah paman mengundurnya sebulan lagi” sanggah Malfin yang seperti sedang melakukan protes.
“Yang baik harus di segerakan, saya tidak ingin kalian menjadi khilaf dan melanggar konsekuensi dalam aturan agama kita. Berbuat zina atau semacamnya, padahal kalian bukan muhrim dan lebih jelasnya kalian belum menjadi pasangan halal yang artian akan mengundang dosa nantinya jika kalian tidak disegerakan menikah.” ucap Darren sambil melirik putranya.
Adelio hanya mampu bedengus kesal, ayahnya dengan terang-terangan menyindirnya secara halus atas kesalahpahaman tempo hari. Adelio tak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan ayahnya. Esok atau lusa sama saja baginya, tetap menikahi Rania.
Astaga! mengapa acara ijab kabulnya mendadak sekali. Aku seperti kebut nikah nih. Batin Rania.
“Dua minggu sudah terhitung lama di kamus keluarga kita nak. Apa kamu tidak iri, Adelio lebih dulu yang akan melakukan ijab kabulnya“ timpal Fino yang juga memperingatkan putranya.
__ADS_1
“Baiklah, saya hanya mengikuti keputusan kalian” ucap Malfin yang tidak mau ambil pusing. Seluruh keputusan ada ditangan keluarganya.
Keynand dan Raka tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya mampu mengikuti acara lamaran itu hingga selesai.
Ketiga belah pihak keluarga mulai mengobrol bersama yang tengah membahas persiapan pernikahan anak-anak mereka diiringi dengan candaan. Setelah itu, mereka melanjutkan acara makan malam bersama. Seluruh keluarga menyambut dengan kebahagian acara lamaran kedua pasangan itu.
Keesokan harinya….
Pukul 10.00 waktu setempat di kediaman Alexander.
Aula vavilium yang berada di taman belakang sudah di dekorasi sedemikian rupa yang bernuansa biru donker dengan pernak-pernik yang sama dan menjadi tempat dilaksanakannya acara ijab Kabul pagi ini.
Tampak kerabat terdekat dan beberapa tamu undangan sudah menempati aula diselenggarakannya acara ijab kabul itu dan menempati kursi tamu.
Mempelai pria dan wanita masih berada di kamar mereka masing-masing dan masih saja bersiap-siap di dampingi oleh orang tuanya.
“Ayah sangat bangga melihatmu mengenakan texudo ini. Selamat menempuh hidup baru nak, semoga kamu dan Rania saling mencintai dan hidup bahagia” ucap Darren sambil memegang kedua pundak putranya.
“Terima kasih yah.”
Adelio hanya bisa berterima kasih kepada sosok panutannya. Adelio segera berhambur memeluk ayah nya, Darren membalas pelukan putranya sambil menepuk punggung putranya yang menandakan bahwa mulai sekarang dia harus lebih dewasa lagi.
“Rupanya kalian masih disini, sebentar lagi acara ijab kabulnya akan dimulai sayang” ucap Ziva yang tengah berdiri di ambang pintu.
Ziva melangkah masuk menghampiri putranya. Dan tersenyum melihat penampilan putranya yang tampak berbeda dan tetap saja terlihat tampan yang mampu membius kaum hawa akan pesonanya.
Adelio kembali menghambur memeluk ibunya, Ziva hanya tersenyum memalas pelukan putranya. Hingga akhirnya ibu dan anak itu memilih melepaskan pelukannya.
Ziva kembali merapikan dasi kupu-kupu yang kurang tepat di kemeja putranya.
“Berjanjilah kepada bunda, untuk selalu mejaga keutuhan rumah tangga kalian. Apa pun masalahnya, jangan sekali-kali berfikir untuk mengakhiri pernikahanmu. Dan tolong, jangan pernah gunakan tanganmu untuk memukuli istrimu jika dia berbuat salah”ucap Ziva dengan mata berkaca-kaca yang sedang menasihati putranya.
Adelio memejamkan matanya mendengar nasihat ibunya. Dia hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Begitu sulit baginya untuk menepati janji ibunya. Bagaimana jika sewaktu-waktu istrinya berbuat ulah dan malah mencelakai orang terdekatnya, pikirnya.
“ Baik, aku akan berusaha menepati janji bunda” ucap Adelio sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Darren hanya mampu tersenyum mendengar pembicaraan ibu dan anak itu.
__ADS_1
“Ya sudah, sekarang kita bergegas ke aula vavilium. Sebentar lagi acaranya akan dimulai” ucap Darren yang kembali mengingatkan putranya.
Darren dan Ziva menuntun putranya menuju tempat ijab Kabul. Adelia, Malfin, Morgan dan Kendrick ikut melakukan iring-iringan kepada mempelai pria.
Sementara di kamar tamu. Rania baru saja selesai bersiap dibantu oleh pelayan wanita. Gaun pengantin berwarna putih melekat sempurna di tubuhnya. Hijabnya tertata rapi menutupi kepalanya. Riasan wajahnya terlihat natural dan semakin mempercantik wajahnya. Cadarnya masih terlipat rapi diatas meja rias. Rania belum bisa memakainnya, karena saat ini dirinya sudah kesusahan untuk bernafas.
Bagaimana tidak, sebentar lagi dirinya akan sah menjadi sepasang suami istri dengan musuhnya sendiri. Mungkin kebebasan dan maut kematian semakin cepat menghampirinya.
Min tak kunjung keluar dari kamar itu, dia masih ingin menemani ketuanya. Min tampak kasihan melihat ketuanya yang akan segera menikah.
Rania menarik nafas dalam-dalam kemudian dihembuskan secara perlahan. Rania melirik ponsel pemberian kakaknya. Dia pun kembali teringat pesan masuk dari kakaknya yang memintanya kembali kabur.
‘Kamu masih punya waktu satu jam untuk kabur di rumah ini. Setelah kamu berhasil keluar, kakak menunggumu di gerbang depan dan akan segera membawamu ke dermaga penyebrangan. Kakak akan membawamu lari sejauh mungkin dari keluarga Alexander. Pikirkan baik-baik, kakak tidak ingin melihatmu menderita dan kehidupanmu hancur dirumah musuh kita’
Rania memejamkan matanya mengingat seluruh isi pesan dari kakaknya.
“Ya tuhan, bagaimana ini, aku begitu pusing saat ini. Di satu sisi aku tidak ingin membuat mama kecewa, disatu sisi kehidupanku saat ini sedang di pertaruhkan. Hufff...masa bodoh” gumam Rania.
Rania mengalihkan pandangannya menatap ke arah Bodyguardnya.
“Min, bisakah kamu membantuku” ucap Rania dengan raut wajah murungnya.
“Dengan senangtiasa saya akan membantu nona” ucap Min dengan hormat.
“Gantikan aku menikahi si alligator, aku sekarang ingin bersiap-siap untuk kabur lagi”ucap Rania memohon.
Min menggeleng cepat dengan bibir terkatup. Tak berselang lama kemudian, Min tampak selesai mengenakan gaun pengantin yang masih tersisa di kamar itu.
Ceklek
Pintu kamar tamu terbuka lebar, tampak ibu Rania berjalan masuk menghampiri putrinya.
“Ayo sayang, acara ijab kabulnya sebentar lagi akan di mulai” ucap Sarah kepada putrinya.
Sedangkan gadis yang dia anggap putrinya hanya mengangguk patuh. Rania bersembunyi di balik tirai gorden. Saat melihat ibunya sudah membawa Min keluar, dia pun segera keluar dari tempat persembunyiannya.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like, love, komen dan vote yang banyak 🤗
Terima kasih 🙏🙏🙏