
Adelio terus mengejar Rania menaiki anak tangga. Baru kali ini dia melakukan hal bodoh seperti itu yang tidak menggunakan fasilitas lift di dalam rumahnya. Morgan yang melihatnya hanya mampu geleg-geleng kepala.
“Kak Lio benar-benar brutal, bahaya nih kalau kakak ipar ke tangkap, pasti dapat hukuman semalaman” gumam Morgan, lalu ikut menyusul pasangan suami istri itu.
“Kak Lio, kakak ipar larinya kesana” teriak Morgan yang mencoba mengakali sepupunya.
Adelio menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menatap Morgan. Morgan yang ditatap langsung buang muka sambil menggaruk kecil kepalanya yang tidak gatal.
“Maksud ku, kakak ipar lari ke arah balkon” elak Morgan.
Adelio meliriknya tajam, lalu mengikuti arahan Morgan.
“Syukurlah, kakak ipar selamat. Aku juga takut lihat wajah kak Lio menyeramkan seperti itu” ucap Morgan dan segera berlalu menuju kamarnya.
Sementara Rania putar balik, dan memilih berjalan menuju balkon lantai dua. Padahal Morgan baru saja menyelamatkanya secara tak sengaja, namun dirinya kembali berubah arah. Mungkin nalurinya mengikuti kata hatinya saat ini, bahwa naluri sang suami sama halnya dengan naluri sang istri.
Adelio yang berjalan melewati setiap lorong kamar di lantai dua, tak sengaja berpapasan dengan kedua insan yang tampak malu-malu berjalan beriringan. Padahal tidak lama lagi mereka akan melangsungkan pernikahannya. Adelio menatap tajam si pria yang bersama kembarannya saat ini.
“Bisakah kau tidak mengikuti kembaranku seperti ini?” tanya Adelio sambil menatap tajam Malfin yang tengah berdiri di samping kembarannya.
“Kami hanya_”
Malfin mulai angkat bicara, namun Adelio mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan penjelasan Malfin.
“Kak Lio jangan salah paham, kami hanya mengobrol bersama” ucap Adelia meyakinkan kembarannya.
“Lia, masuk ke kamarmu. Dan jangan lupa menguncinya” ucap Adelio yang sedang menatap tajam Malfin di hadapannya.
Adelia segera mengikuti perintah kembarannya, Adelia tidak ingin Malfin dan dirinya mendapat masalah gara-gara kesalahpahaman ini.
“Tak perlu bersikap seperti ini, karena sah-sah saja kalau aku mengobrol bersama calon istriku” ucap Malfin tersenyum sinis dan berlalu meninggalkan Adelio yang masih berdiri di tempatnya.
“Aku tak mempermasalahkan kedekatan kalian, namun kau seorang pria, bisakah menjaga jarak dengan Lia sampai kalian melangsungkan pernikahan. Aku hanya tidak ingin kau melewati batasmu” ucap Adelio dingin.
Membuat Malfin menghentikan langkahnya sambil mendengarkan setiap ucapan Adelio yang menyindirnya secara terang-terangan.
“Jangan khawatir, aku bukan pria bejad yang kau maksud” ucap Malfin menyeringai yang hanya mampu menatap kepergian Adelio yang semakin menjauh darinya.
Malfin menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil melirik pintu kamar Adelia yang tertutup rapat. Hanya menatap pintu kamar calon istrinya, membuatnya tenang dan tak ingin berpindah dari sana.
Sementara Adelio sudah meringkus Rania di balkon lantai 2. Adelio dan Rania berjalan beriringan menuju kamarnya, mereka hanya saling diam hingga masuk ke dalam kamarnya. Gadis cerewet itu tak banya bicara melihat raut wajah suaminya yang selalu datar menurutnya.
Adelio berlalu menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Rania juga mengekor di belakangnya dan mengambil piyama tidurnya secara asal. Rania memeluk piyama tidurnya dan berdiri membelakangi suaminya yang tengah berganti baju. Rania diam-diam mengintip Adelio yang tengah berganti baju.
__ADS_1
“Apa kau hobi menjadi penguntip” ucap Adelio sambil mengancing piyama tidurnya. Dari balik cermin lemari pakaian, Adelio dapat melihat gerak-gerik Rania.
“Siapa yang mengintip mu, geer banget sih” elak Rania. Jelas-jelas dirinya sudah ketangkap basah.
Adelio tersenyum tipis kemudian keluar dari ruang ganti. Sedangkan rania segera memakai piyama tidurnya.
Lagi-lagi Rania berdengus kesal melihat Adelio sudah berbaring di atas tempat tidur. Rania berjalan mengendap-endap seperti pencuri mendekati tempat tidur.
“Astaga, nasibku terus saja berbagi dengan si alligator. Aku terpaksa tidur seranjang dengannya”gumam Rania.
Dengan pelan-pelan namun pasti, Rania membaringkan tubuhnya tepat di samping Adelio. Namun belum juga menyentuh bantal. Tubuhnya sudah di tendang oleh sang suami.
Gubrakkk
Rania terjatuh dari atas tempat tidur sambil memegangi pinggangnya yang terasa encok.
“Sial, jahat banget sih. Dasar pria tak berperikemanusiaan. Awas saja kamu!” ucap Rania yang meringis kesakitan.
Adelio sama sekali tak menggubris ucapannya dengan mata terpejam. Sedangkan Rania sudah bersumpah serapah sambil mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk menghabisi suaminya saat ini juga.
Mata Rania berbinar saat menemukan pisau dapur di laci nakas. Senjata tajam tersebut harus dia gunakan untuk menghabisi nyawa Adelio.
Rania kembali mendekat ke arah tempat tidur sambil menggenggam pisau dapur di tangannya.
Rania mampu mendengar suara dengkuran sang suami, dia pun menyeringai untuk melancarkan aksinya. Di bawah lampu tidur yang tampak remang-remang menghiasi kamar itu, Rania mengambil bantal dan langsung melompat menutup wajah Adelio menggunakan bantal tersebut, sungguh aksinya benar-benar sang petarung sejati yang patut diajukan jempol.
Sementara Adelio tak bergeming di tempatnya. Rania sudah berada di atas tubuh Adelio dan sedang berusaha untuk melenyapkan nya. Dengan kesalnya Rania pun menusukkan pisau dapur itu ke bantal yang digunakan menutup wajah Adelio.
“Rasakan ini, aku harus mencabik-cabik wajahmu di balik bantal ini!”
Rania terus menancapkan pisau dapur itu ke bantal yang digunakan menutup wajah Adelio.
Namun tanpa disadari tangannya langsung di cekal oleh sang empunya. Rania terlonjat kaget sambil berusaha melepaskan cekalan tangan tersebut.
“Ha ha ha ha”
Terdengar gelak tawa seseorang yang begitu misterius di balik bantal.
“Hei lepas.”
Rania berusaha melepaskan cekalan tangannya dan betapa terkejutnya dirinya melihat bantal tersebut terhempas ke lantai.
“Ha ha ha ha, ayo lawan aku” ucap Adelio dengan tawa misteriusnya.
__ADS_1
“Kau!”
Rania dengan kesalnya kembali menancapkan pisau dapur itu ke wajah Adelio. Namun sayangnya diluar nalar, pisau itu sama sekali tak melukai wajah Adelio. Rania langsung menjatuhkan pisau itu, dengan sendirinya tubuhnya ikut terhempas ke samping, Dengan cepat Adelio langsung menindihnya dan kembali mencekal kedua tangannya di atas kepalanya.
Adelio langsung menekan remote lampu kamarnya. Hingga pencahayaan di kamarnya terang benderang, hingga semut kecil mampu terpampang nyata.
Rania menatap tidak percaya wajah Adelio, sedangkan Adelio juga tengah menatapnya dengan tatapan membunuhnya. Adelio meraba disekelilingnya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri, hingga menemukan kembali pisau dapur tadi.
Adelio memperlihatkan cara kerja pisau dapur yang dipegangnya sambil memainkannya di wajah Rania. Rania menatap tak percaya hingga melipat bibirnya rapat-rapat melihat pisau dapur itu yang kembali masuk kedalam persembunyiannya saat digunakan.
“Ha ha ha ha, apa kau sudah percaya gadis gila” ucap Adelio diiringi gelak tawa.
Rania tampak ketakutan mendengar tawa misterius Adelio, hingga keringat dingin mulai bercucuran di keningnya. Adelio memainkan pisau dapur itu meneliti setiap inci wajah istrinya.
“Kau lumayan cantik kalau sedang ketakutan.”
Adelio menyeringai mengatakannya sambil menyapu bibir ranum Rania menggunakan pisau dapur yang tak berfungsi itu. Rania memejamkan matanya, berharap pisau bodoh itu tidak berulah hingga melukai bibirnya.
“Kau sangat takut hingga memejamkan matamu” bisik Adelio hingga deru nafasnya menerpa wajah Rania.
Bagaimana ini, mengapa aku jadi penakut. Batin Rania.
“Ha ha ha, aku hanya terkejut suamiku.” Rania kembali tertawa renyah yang berusaha menyembunyikan ketakutannya.
Entah mengapa Adelio begitu geli mendengar ucapan Rania jika memanggilnya dengan sebutan suami.
Adelio dengan kasar merobek piyama tidur Rania, hingga dalaman gadis itu terpampang nyata dan gunung kembarnya ikut menyembul dan terlihat begitu menantang. Rania segera memalingkan wajahnya dan begitu malu+marah diperlakukan kasar oleh Adelio.
Adelio ikut memalingkan wajahnya dan langsung melepaskan cekalan tangannya.
Rania segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Adelio memilih duduk di pinggir tempat tidur sambil membelakangi Rania yang terlihat ketakutan.
“Gunakan piyama tidur itu sebagai bukti bahwa kita habis melakukan malam 1” ucap Adelio dingin.
Rania membulatkan matanya mendengar ucapan Adelio. Mengapa malah membahas hal sensitive itu. Jelas-jelas dirinya berusaha untuk membunuhnya, pikirnya.
“Besok, kau harus pura-pura habis malam 1 denganku” ucap Adelio dingin.
Adelio berlalu meninggalkan Rania yang masih meringkuk di atas tempat tidur yang terbengong-bengong.
Bersambung…..
Jangan lupa like, love komen dan vote yang banyak 🤗
__ADS_1
Terima kasih 🙏🙏🙏