Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Sambutan untuk Adelia


__ADS_3

Lima hari berlalu......


Adelio sudah menjalankan aktivitasnya dengan baik beberapa hari ini, lebih giat bekerja di kantor mengurus perusahaannya. Malfin juga melakukan hal yang sama, kembali ke negara B untuk mengurus perusahaannya, dan akan kembali ke negara A untuk melihat kondisi Adelia.


Kondisi Adelia semakin membaik beberapa hari ini, rasa nyeri di kepalanya sudah tidak lagi menyerangnya. Adelia mulai menikmati makanan dengan asupan gizi bernutrisi tinggi setiap harinya.


Seluruh keluarganya begitu sabar menjaganya dan mendoakan kesembuhan nya. Berkat kegigihan keluarga nya yang selalu memprioritaskan dirinya, alhamdulillah akhirnya kondisi Adelia semakin membaik


Dan Tepatnya hari ini, Adelia sudah di perbolehkan untuk pulang. Adelia tampak bersemangat ingin pulang ke rumahnya dan selalu saja memancarkan senyuman bahagianya. Ibunya dengan telaten membantunya bersiap, memasangkan hijabnya dan juga cadar yang selama beberapa hari terakhir tidak pernah dia gunakan, berhubung karena sakit. Padahal cadar tersebut selalu saja menutupi wajah cantiknya.


Bu Lastri mulai membereskan pakaian dan perlengkapan nona mudanya ke dalam koper untuk di bawah pulang.


“Bunda, aku sangat rindu dengan suasana rumah. Kamar yang sering ku tempati, ruang keluarga yang sering kita gunakan berkumpul bersama, meja makan dan ruangan lainnya ingin aku jelajahi bersama bunda” ucap Adelia tersenyum.


“Iya sayang” ucap Ziva sambil membelai lembut kepala putrinya.


“Semuanya sudah selesai nyonya, saya akan membawa koper ini terlebih dahulu ke mobil” ucap Bu Lastri tersenyum.


“Iya bik nanti saya menyusul”ucap Ziva lalu menggandeng tangan putrinya keluar dari ruang perawatan.


Bu Lastri menggangguk hormat dan segera undur diri dari hadapan majikannya untuk membawa koper tersebut keluar dari ruang perawatan.


Tampak dokter Tias dan dua suster tersenyum melihat mereka yang tengah bersiap-siap untuk pulang.


“Terima kasih dok, sudah merawat saya beberapa hari ini, salam sejawat” ucap Adelia tersenyum di balik cadarnya.


“Sama-sama nona, jangan lupa istirahat yang cukup dan perbanyak minum air putih, juga mengonsumsi buah dan sayur. Jangan stress-stres dulu dengan masalah pekerjaan dan satu lagi seminggu sekali harus rutin cek up untuk mengetahui dengan detail kondisi anda” ucap Dokter tias ramah dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


“Baik dok” ucap Adelia mengerti, lalu menyalimi dokter wanita paruh baya itu dengan kedua susternya.


Ziva juga tak henti-hentinya berterima kasih kepada dokter dan suster yang sudah merawat putrinya dengan baik. Tak lupa Ziva juga menyalimi mereka. Setelah selesai, dokter Tias bersama kedua perawat memlih undur diri.


“Ayo sayang kita siap-siap pulang ke rumah” ucap Ziva antusias sambil merangkul pundak putrinya.

__ADS_1


“Iya bun.”


Mereka lalu bergegas keluar dari ruang perawatan tersebut, yang sudah beberapa hari ini di tempati Adelia.


Darren dan Kendrick sudah menunggu mereka di luar yang siap mengantarnya pulang ke rumah. Saat melihat ibu dan kembarannya keluar dari ruangan tersebut, Adelio segera mendekat dan ikut membantu kembarannya.


“Gunakan kursi roda ini, aku tidak tega melihatmu berjalan keluar rumah sakit” ucap Adelio khawatir.


“Benar yang dikatakan Lio sayang” ucap Ziva cepat yang setuju dengan ucapan putranya.


Adelia sama sekali tak membantah, dia pun membiarkan kembarannya membantunya duduk di kursi roda yang sudah di siapkan untuknya.


Sementara Darren sibuk mengurus administrasi putrinya terlebih dahulu sebelum pulang bersama-sama dengan orang terkasihnya. Setelah selesai, Darren bergegas untuk menemui istri dan putrinya di ruang perawatan.


“Kalian sudah mau pulang rupanya” ucap Darren yang melihat mereka sudah siap untuk pulang.


“Iya mas, dari tadi kita nungguin mas” ucap Ziva sambil mengelus punggung tangan suaminya.


“Ya sudah, tunggu apa lagi, ayo kita pulang. Lia pasti merindukan suasana rumah” ucap Darren antusias dengan tebakannya, lalu menggandeng tangan istrinya.


Adelio segera mendorong kursi roda kembarannya keluar dari rumah sakit. Ayah dan ibunya hanya mampu mengikuti langkahnya dengan perasaan bahagia. Begitu halnya dengan Kendrick yang segera berjalan lebih dulu memberikan pengawalan untuk mereka.


Mobil berwarna hitam legam sudah terparkir tepat di depan pintu masuk rumah sakit. Kendrick berlari kecil untuk membukakan pintu mobil bagian kursi penumpang. Adelia mulai menggerakkan kakinya untuk turun dari kursi roda, namun lagi-lagi kembarannya menggendongnya dan segera memasukkannya ke dalam mobil.


“Makasih kak Lio” ucap Adelia yang sudah duduk tenang di kursi penumpang.


“Hemm”


Adelio segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Kemudian di susul ayahnya yang memilih duduk di samping kemudi, sedangkan ibunya duduk di samping Adelia.


Setelah memastikan semuanya lengkap, Kendrick langsung menutup pintu mobil atasannya dengan sopan, lalu dia bergerak masuk ke dalam mobilnya yang juga terparkir tepat jauh dari mobil atasannya, diaman sudah ada kepala pelayan dan dua pelayan wanita di dalam mobilnya.


Dua unit mobil berwarna hitam mulai melaju meninggalkan rumah sakit menuju kediaman Alexander.

__ADS_1


Sementara di kediaman Alexander, seluruh pelayan wanita begitu antusias untuk menyambut kedatangan nona muda mereka yang akan pulang hari ini. Seluruh pelayan wanita sangat merindukan nona muda mereka yang terkenal baik dan sangat penyayang itu.


Rania yang baru saja mengunjungi kakaknya di kejutkan dengan antusiasme seluruh pelayan yang tengah berbaris di teras rumah utama kediaman Alexander. Rania melangkah mendekat dan mencoba cari tahu kepada salah satu pelayan yang tidak jauh darinya.


“Mengapa semua pelayan berbaris di sini?” gumamnya.


Rania ingin bertanya kepada salah satu pelayan itu, namun pelayan lainnya mulai heboh bahwa mobil majikannya sudah memasuki gerbang utama. Seluruh pelayan wanita mulai berbaris rapi untuk menyambut kepulangan nona mudanya. Rania segera menepi, dia tidak ingin Adelio kembali melihatnya yang sedang berkeliaran di rumah utama.


Tampak dua unit mobil memasuki kediaman Alexander. Seluruh pelayan dan penjaga segera menundukkan pandangannya dengan hormat. Adelio segera memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk rumah utama. Kedua penjaga yang bertugas segera membukakan pintu mobil untuk majikannya.


Adelio turun dari mobil dengan gaya coolnya membuat beberapa pelayan wanita yang masih jomblo terpesona sambil menyembunyikan senyumannya yang diam-diam mengidolakannya. Adelio kembali membantu kembarannya turun dari mobil dengan hati-hati, semua pelayan tersenyum melihat sikap tuan mudanya yang begitu menyayangi kembarannya.


“Selamat datang kembali nona, silahkan masuk” ucap pelayan kompak menyambut kedatangan nona mudanya.


Adelia hanya mampu tersenyum sambil mengatupkan kedua tangannya melihat antusiasme mereka yang menyambut kepulangannya.


“Terima kasih sudah menyambut kepulangan ku.”


Aku jadi terharu dengan sambutan para pelayan rumah ini. Batin Adelia.


Rania diam-diam memperhatikan mereka di balik tanaman hias tempat dia bersembunyi.


Syukurlah, akhirnya dia sembuh. Aku benar-benar menyesal sudah membuat mu terluka gadis baik. Semoga kamu selalu diberikan kesehatan dan kebahagian selalu menghampirimu. Maaf..maaf sudah membuatmu terluka. Batin Rania.


Dan tatapannya terlihat sendu, hingga sudut matanya kembali berair, entah mengapa akhir-akhir ini gadis itu gampang menangis dan terlihat lemah, bukan lagi Rania si gadis pemberani.


Ziva dan sang suami hanya mampu tersenyum bahagia melihat tingkah para pelayannya, lalu pasangan suami istri segera membawa putri cantiknya masuk ke dalam rumah. Adelia menggenggam tangan ayah dan ibunya dengan perasaan bahagia yang tengah berjalan bersama . Adelio tersenyum tipis mengikuti langkah mereka dengan sikap Adelia yang terlihat manja kepada orang tuanya.


Adelio memilih berbelok arah menuju lift yang akan membawanya menuju lantai tiga, dimana kamarnya berada. Saat akan memasuki lift, Adelio dikejutkan dengan kehadiran gadis yang sangat dibencinya ikut masuk ke dalam lift bersamanya.


Tatapan Adelio begitu tajam menatapnya sambil berdengus kesal, sedangkan gadis tak tahu malu itu hanya mampu menundukkan pandangannya dengan ketakutan yang menyerangnya.


Keduanya hanya saling diam. Adelio terus saja mengepalkan tangannya dengan amarah yang berusaha di tahan, ditambah dia begitu muak melihat gadis yang kini berstatus sebagai istrinya satu lift bersamanya. Adelio sangat membenci gadis itu sampai kapan pun. Rania menghelas nafas panjang, dia akan berbicara baik-baik kepada Adelio untuk mengakhiri hubungannya.

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak 🙏🙏🙏


__ADS_2