
Setiba di kediamannya, Adelia turun lebih dulu lalu diikuti Malfin. Adelia dan Malfin berjalan beriringan masuk ke rumah utama. Tampak keluarga besar mereka sudah menunggu kedatangannya di ruang tamu.
“Assalamualaikum, halo semua.”
Adelia tersenyum melihat mereka berkumpul.
“Waalaikumsalam. Akhirnya kalian datang juga, ayo duduk bareng kami” ucap Ziva yang mempersilahkan duduk kedua insan yang sebentar lagi akan terikat dalam hubungan pernikahan.
Adelia bergegas duduk di kursi, mata Adelia sempat menelisik kearah Rania yang lagi duduk di pojokan. Baru kali ini, Rania ikut bergabung dengan kelaurga besar Alexander, dan Rania terlihat duduk di pojokan. Perubahan sikap keluarga Alexander terhadapnya semakin terang-terangan tidak menyukainya, kelicikannya perlahan mulai terbongkar dan diketahui oleh beberapa anggota kelaurga Alexander. Terutama Fino beserta anak dan istrinya tidak menyukai gadis licik seperti Rania yang ingin menghancurkan kehidupan keluarganya.
Sementara Darren tak tahu harus bersikap apa kepada menantunya. Tak ada yang harus di salahkan di sini, dirinyalah yang patut di salahkan atas musibah yang menimpa putrinya, dimana ada asap, di situ ada api. Api yang anda nyalakan untuk musuh anda, sering kali membakar diri anda sendiri lebih dari mereka. Begitulah yang selalu dipikirkan Darren saat ini.
“Bagaimana kabarmu kakak ipar” ucap Adelia tersenyum yang tengah menatap Rania.
“Alhamdullihah baik” ucap Rania sambil menundukkan pandangannya.
“Tentu saja kak ipar mu akan selalu baik, bukan begitu Rania!” ucap Malfin dengan penekanan menyebut nama Rania.
Rania mengangguk pelan di tempatnya. Semua orang pasti membenciku, hanya tuan Darren dan nyonya Ziva yang sedikit simpati kepadaku. Sepertinya tidak ada lagi tempat bagiku di rumah ini. Baiklah, aku rasa keluarga mereka sudah berkumpul, walaupun Adelio tidak ada di sini, aku rasa ini saatnya untuk berpamitan kepada keluarganya. Batin Rania.
“Ada yang ingin ku sampaikan kepada kalian. Izinkan aku mengatakan isi hatiku yang tersiksa ini. Jujur aku banyak salah kepada kalian, maka dari itu, Aku meminta maaf jika banyak kekurangan selama menjadi bagian dari keluarga Alexander. Untuk Adelia, maaf sudah membuat_”
Rania tak mampu melanjutkan ucapannya, karena ayah mertua kembali memotong pembicaraannya.
“Ini hari special untuk Adelia dan Malfin, jadi kita hanya perlu fokus kepada mereka perihal pernikahan yang akan di selenggarakan bulan ini” ucap Darren antusias yang tak ingin merusak suasana kekeluargaan menjadi api membara.
Jika Rania terus mengutarakan isi hatinya dan membuka semua kebenaran, maka semua akan menjadi rumit. Namun pada dasarnya sekecil apapun kejahatan yang disembunyikan maka akan tercium juga baunya.
Tatapan Rania terlihat memohon kepada ayah mertuanya untuk mengatakan semuanya dengan jujur. Namun gelagat ayah mertuanya terlihat acuh, sehingga dia pun memilih menundukkan pandangannya.
“Ayah, kakak ipar belum menyelesaikan ucapannya malah dipotong segala. Untuk kakak ipar jangan galau-galau, aku sudah maafin kakak ipar kok” ucap Adelia tersenyum di balik cadar nya.
“Ayah cuman ingin berbicara ke intinya. Sekarang kamu tahu bahwa Malfin sudah melamar mu. Jadi, ayah ingin kalian segera melangsungkan pernikahan. Tak baik jika terus di undur” ucap Darren tersenyum tipis.
__ADS_1
“Benar yang dikatakan paman, aku sudah siap menikahimu Adelia” ucap Malfin mantap dan tanpa ragu menikahi Adelia.
Adelia langsung tersipu malu, rona wajahnya memerah. Untungnya masih ada cadar yang menutupinya, jadi tak ada yang bakal tahu bahwa wajahnya merona.
“Baiklah, aku rasa kalian sudah besar. Seminggu dari sekarang pernikahan kalian akan di langsungkan di hotel Alexander. Jadi mulai sekarang persiapkan diri kalian dengan baik” timpal Fino sambil menyilangkan kedua tangannya.
“Iya sayang, mama cuman doain yang terbaik untukmu dan semoga lancar sampai hari H tiba” ucap Milan dengan raut wajah bahagia.
“Makasih ma, aku sangat sayang mama”pinta Malfin dengan raut wajah berseri-seri.
“Selama beberapa hari ini, kalian tidak boleh bertemu. Hanya pada hari pernikahan kalian boleh bertemu dan insyaallah kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri” ucap Ziva memperingatkan.
Malfin mengangguk mendengar ucapan calon ibu mertuanya, dan lirikan matanya sempat tertuju ke arah Adelia. Sedangkan Adelia hanya mengatupkan bibirnya dan merasa senang tidak di gangguin melulu oleh Malfin.
“Bagaimana dengan opa dan oma, sudah beberapa hari ini tak pernah berkunjung ke rumah kita bunda?” tanya Adelia.
“Opa dan Oma kamu sedang liburan di negara B sekaligus ingin bertemu dengan mama Lexa yang sudah beberapa bulan tidak pernah mereka temui, dan juga ingin melakukan siarah ke makam eyang. Dan pastinya mereka sangat senang dengan kabar pernikahan mu sayang” ucap Ziva lalu menarik putrinya dalam pelukannya.
“Sudah lama ya, mama Lexa tak pernah berkunjung di rumah ini. Etha dan Dilan pasti sudah besar, aku ingin sekali bertemu dengan mereka.”
“Benarkah, aku jadi tak sabar untuk bertemu mereka” ucap Adelia sambil bersorak gembira, membuat Mafin hanya tersenyum melihat tingkah calon istrinya.
“Kapan Adelio pulang dari negara C?” tanya Malfin.
“Kemungkinan besar dua atau tiga hari ini bakal pulang, tenang, Lio sudah tahu tanggal pernikahan kalian” ucap Darren tersenyum.
“Syukurlah, tak mungkin dia melewatkan hari bahagia kami.”
Dan semoga Lio segera mendapatkan wanita yang terbaik untuknya, karena tidak menutup kemungkinan Lio akan berpisah dengan Rania, gadis licik yang sudah berhasil masuk di keluarga kami. Batin Malfin.
Rania memilih undur diri dari hadapan mereka, karena keberadaannya sama sekali tak dianggap. Rania berkali-kali menghela napas panjang, dua atau tiga hari lagi, dirinya resmi becerai dengan Adelio. Langkahnya begitu gontai memasuki kamarnya, Rania memilih masuk ke kamar mandi untuk meluapkan seluruh perasaannya. Gadis itu terlihat berdiri di bawah shower hingga air dari shower perlahan membasahi seluruh tubuhnya, penyesalan terus saja berakhir belakangan.
Air matanya ikut mengalir bersamaan dengan air shower yang membasahi seluruh tubuh dan raganya. Semoga di masa depan dirinya masih di berikan kebahagiaan. Cukup lama Rania menangisi hidupnya, dia pun memilih melanjutkan ritual mandi. Selesai mandi Rania bergegas keluar dari kamar mandi untuk memakai pakaiannya.
__ADS_1
Dua hari kemudian……
Wajah kedua gadis cantik tampak berseri-seri di taman belakang pagi ini. Terlihat keduanya sangat akrab yang sedang olahraga bersama. Tampak dari kejauhan sepasang mata sedang mengintai mereka berdua.
“Nona Adelia sedang olahraga bersama dengan gadis ular itu. Saya terus mengintainya tuan” ucapnya diujung telepon.
“Bagus, berikan terus kabar situasi di sana. Aku tidak ingin calon istriku kembali terluka kedua kalinya” ucap seseorang diujung telepon.
“Baik tuan” ucapnya hormat, lalu panggilan telepon mereka berakhir.
“Kakak ipar, kamu semakin cantik saja. Kak Lio pasti bahagia memiliki mu” puji Adelia.
Rania hanya tersenyum mendengar pujian Adelia. Namun dia tidak bisa terus menyembunyikan kebenaran itu.
“Adelia, maaf sudah membuatmu terluka. Aku ingin berterus terang kepadamu, bahwa aku lah…aku lah yang membuatmu celaka!” ucap Rania bersungguh-sungguh sambil menatap manik mata Adelia.
Adelia hanya menganggapnya sebagai candaan. “Kakak ipar ngomong apasih” ucap Adelia tersenyum.
“Aku tidak bercanda Lia, sekali lagi aku minta maaf sudah membuat mu terluka” ucap Rania dan tanpa ragu berlutut di hadapan Adelia.
“Apa yang kamu lakukan kakak ipar, ayo berdiri” ucap Adelia panic.
“Aku rela jika kamu ingin memukulku atau melakukan apapun demi bisa mendapatkan maaf darimu.”
“Berdirilah kakak ipar, aku sudah memaafkanmu. Seburuk-buruknya hamba Allah, Allah masih tetap mengampuni hambanya. Jadi jangan bersikap seperti ini. Berjalan lah di jalan yang benar dan bertobatlah selagi masih bisa, niscaya Allah pasti mengampuni kesalahan yang pernah kakak ipar perbuat.” Ucap Adelia dengan bijak tanpa ingin menaruh dendam.
Rania meneteskan air matanya mendengar ucapan Adelia, sungguh gadis itu benar-benar berhati malaikat, Rania sungguh menyesali perbuatannya. Adelia perlahan membantunya berdiri dan Rania segera menarik tubuh gadis baik hati itu masuk ke dalam pelukannya.
“Terima kasih Lia, aku akan selalu mengingat kata-katamu. Maaf membuatmu terluka.”
Ziva dan Darren hanya mampu menghembuskan nafas nya kasar melihat keduanya berpelukan bersama.
Bersambung…..
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏 🙏🙏