
Adelio membulatkan matanya dengan sikap Rania yang begitu berani menciumnya. Adelio dengan kasar mendorong Rania.
“Sial! Dasar gadis gila penggoda!" ucap Adelio kesal sambil mengusap bibirnya dengan jemarinya.
Wajahnya pun ikut memerah, entah memerah karena marah atau merona karena Rania begitu berani menciumnya.
Rania merutuki kebodohannya, tidak seharusnya dia mengikuti rencana Adelia yang memintanya untuk mencium Adelio. Rania segera mundur selangkah dan berencana untuk kabur dari hadapan Adelio.
Namun Adelio segera menarik tangannya hingga tubuh mereka kembali bersentuhan. Pandangan keduanya kembali bertemu dan salah satu tangan Adelio sudah mendekap mesra pinggang Rania.
Adelio dengan santainya mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Rania. Rania yang menyadari itu segera memalingkan wajahnya dengan rona wajah memerah dan jantungnya kembali memompa lebih cepat seperti mau copot.
Rania memejamkan matanya berharap Adelio tidak melakukan hal yang sama sepertinya.
Pletakkkk
Rania meringis kesakitan mendapati keningnya di jitak keras oleh Adelio.
“Kau terlalu lancang memancing amarah ku. Apa kau berharap aku ingin mencium mu hah!” ucap Adelio dingin.
Rania mengatupkan bibirnya sambil menggeleng cepat.
“Maaf, aku..emmphh…”
Adelio tanpa basa-basi kembali membungkam bibirnya, Rania hanya mampu mematung di tempatnya, bahkan tangan Adelio bergerak cepat memegangi tengkuknya untuk memperdalam ciumannya.
Rania hanya pasrah seolah Adelio menenggelamkannya di dasar lautan. Adelio segera menghentikan ciumannya karena gelora aneh kembali menjalar di tubuhnya. Dengan kesal Adelio mengusap bibirnya menggunakan hijab Rania.
Adelio lalu berbalik badan membelakangi Rania, sedangkan Rania masih mematung ditempatnya sambil mengatur debaran jantungnya.
“Itu salah satu hukuman untukmu karena berani mencium ku dan bekerja sama dengan kembaran ku untuk menggagalkan perceraian kita. Baiklah, jika itu pilihan mu maka aku tidak akan menceraikan mu_” ucap Adelio dingin sambil menjeda ucapannya.
“Tapi, bersiaplah menjadi boneka mainanku” ucap Adelio menyeringai lalu melenggang pergi menuju ruang kerjanya.
Rania hanya diam mematung di tempatnya, tangannya mulai terulur mengusap bibirnya yang tampak bengkak akibat ulah suaminya.
Tidak, bukan seperti ini, Aku hanya ingin pernikahan ini berakhir dan terbebas dari keluargamu, mengapa jadi rumit begini sih. Batin Rania.
Rania bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan tak lupa menguncinya. Rania segera membasuh wajahnya berulang kali dari air wastafel lalu mengusap wajahnya dengan kesal. Rania kembali membayangkan ucapan Adelia yang sangat masuk akal.
Kakak ipar bisa melakukan cara ampuh ini, kak Lio sangat membenci wanita penggoda jadi kakak ipar bisa menggodanya lewat ciuman mesra, he he he aku tidak bermaksud menggurui kakak ipar, toh kakak ipar sah-sah saja jika mencium kak Lio, semoga cara ini berhasil.
Rania kembali mengusap wajahnya dengan kebodohannya sendiri.
__ADS_1
“Aku tidak ingin menjadi boneka kakak mu. Adelia, kamu membawaku dalam masalah, aku bahkan sangat berharap bisa terbebas dari kakak mu dan bisa hidup tenang di luaran sana bersama kak Raka. Tapi sekarang semua nya semakin rumit. Aku hanya bisa berserah diri kepada Tuhan semoga aku bisa melalui semua ini dengan kesabaran” gumam Rania dan kembali menghela nafas panjang.
Sementara Adelia sudah tertidur pulas di dalam kamarnya, gadis itu begitu bahagia hari ini. Bisa menggagalkan perceraian kembarannya, mengakali kakak ipar nya untuk mengikuti rencananya, semua itu Adelia lakukan demi mempertahankan rumah tangga Adelio dan Rania.
Sedangkan calon suaminya sedari tadi menghubungi nya namun tak kunjung di angkat.
Mode silent yang aktif di ponselnya membuat Adelia tak mendengar panggilan masuk Malfin di ponselnya yang sudah puluhan kali menghubunginya.
Sehingga membuat Malfin susah tidur malam ini karena seharian tak mendengar suara calon istrinya. Malfin menghela napas berat dengan wajah ditekuk yang seharian ini diacuhkan oleh Adelia.
“Awas ya Lia, setelah kita menikah takkan kubiarkan kamu mengacuhkan ku seperti ini” gumam Malfin sambil menatap langit-langit kamarnya.
Malfin memilih mengubah posisi tidurnya dan kembali memandangi deretan foto Adelia yang tertera di layar ponselnya. Ternyata diam-diam dia meminta pelayan untuk memotret keseharian Adelia di rumah utama.
Setelah puas memandangi foto gadis pujaan hatinya, Malfin mulai memejamkan matanya, namun baru beberapa detik ponselnya kembali berdering. Malfin terlonjat kaget dan langsung meraih ponselnya berharap nama Adelia yang yang tertera di layar ponselnya.
Malfin menghembuskan nafasnya kasar melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Malfin segera menggeser ikon berwarna hijau untuk menjawab panggilan masuk tersebut.
“Hemm, ada apa Niko?”
“Sekelompok orang menyerang mes perumahan anggota The Tiger di kawasan Menara. Tidak hanya itu tuan, beberapa anggota The Tiger beserta anak dan istri mereka di bawah paksa oleh sekelompok orang. Sepertinya mereka kelompok mafia the Posse yang mulai melakukan pemberontakan di setiap kelompok mafia di negeri ini tuan” ucap Niko di ujung telepon.
“Dimana posisimu sekarang?” tanya Malfin dingin.
“Oke tunggu di situ, aku akan menemui kalian” potong Malfin cepat lalu segera turun dari tempat tidur.
Malfin berjalan ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya, karena situasinya sangat genting untuk membereskan musuh yang mulai berdatangan menyerang anggota kelompoknya.
Malfin keluar dari ruang ganti mengenakan pakaian serba hitam jaket kulit menjadi pelengkap penampilannya. Membuka laci mengambil dua buah pistol yang di sembunyikan di dalam sana lalu menyelipkannya di pinggang dan di saku jaketnya.
Malfin segera melangkah keluar melewati balkon kamar nya, Malfin hanya ingin menggunakan tangga darurat keluar dari kediaman orang tuanya.
Tampak penjaga sudah menyiapkan mobil untuknya, saat melihat kedatangannya, penjaga langsung membukakan pintu mobil untuknya. Malfin bergegas masuk ke dalam mobil dan langsung menancap gas meninggalkan kediaman orang tuanya.
Di depan sana Malfin mampu menyaksikan perkelahian antara anggotanya dengan kelompok musuhnya.
“Ketua” ucap anggotanya yang melihat kedatangannya.
“Bawa mereka ke rumah sakit terdekat untuk menjalani perawatan. Untuk semua mayat itu bakar saja agar tidak bisa dijadikan bukti oleh pihak yang berwajib” ucap Malfin yang melihat beberapa anggota The Tiger yang terluka parah dan banyaknya mayat yang tergeletak di jembatan tersebut.
Dor
Dor
__ADS_1
Dor
Terdengar suara tembakan dari arah timur, Malfin dan beberapa anggotanya segera berlari mencari suara tembakan tersebut. Malfin mampu menyaksikan dari semak-semak belukar melihat beberapa orang dieksekusi mati di pinggir pantai.
Suara-suara anak kecil juga terdengar di sana yang menangisi orang tuanya mati di tempat. Malfin mengepalkan tangannya dan langsung membidik salah satu pelaku penembak dari jarak jauh.
Dor
Satu tembakan tepat mengenai kepala pelaku si penembak. Seluruh kawannya langsung siaga mencari penembak misterius tersebut. Malfin dan beberapa anggotanya segera keluar dari persembunyiannya dan mulai menyerang para penjahat yang berhasil melakukan pemberontakan pada keluarga anggota The Tiger.
Tak ada ampun bagi mereka yang sudah mengganggu ketenangan keluarga anggota The Tiger. Sehingga terjadi lah aksi perkelahian di pinggir pantai antara dua kelompok.
Tangisan anak kecil mulai menggema memeluk orang tuanya yang sudah tak bernyawa.
“Ayaaah!”
“Ibuuuu”
Tangisan anak kecil semakin histeris memanggil orang tuanya. Malfin semakin menggila menghabisi pemberontak tersebut yang sudah menghancurkan kebahagian anak kecil yang tak berdosa. Satu persatu para pemberontak mulai berjatuhan.
Sementara seseorang bertopeng tampak membidik mangsanya menggunakan senapan panjang dari atas kabin kapal yang sedang mengapung di pinggir laut. Orang bertopeng itu terus membidik ke arah Malfin menggunakan teropongnya, saat merasa targetnya sesuai dia pun segera menarik pelatuknya.
Dor
Tembakannya langsung mengenai dada kiri Malfin. Malfin begitu marah besar dengan peluru yang bersarang di tubuhnya. Malfin langsung menembak ke arah kapal mengapung itu. Sedangkan si penembak hanya menurunkan jempolnya yang sedang meremehkan Malfin dengan kapal yang ditumpanginya mulai melaju mengarungi lautan.
“Sial! takkan kubiarkan kamu bernafas di negara ini, kemana pun kamu pergi, aku akan menemukanmu” ucap Malfin dingin.
Malfin segera membawa ke tujuh anak kecil yang baru saja kehilangan orang tuanya menuju mobilnya.
“Niko, bawa anak-anak ini ke Yayasan Zivanna.”
“Baik tuan.”ucap Niko patuh.
Malfin segera masuk ke dalam mobilnya sambil memegangi dadanya yang terkena tembakan. Malfin membuka dashboard mobilnya lalu mengambil belati kecil di dalam sana. Malfin segera melepaskan jaketnya lalu merobek baju yang dikenakannya. Dengan perlahan Malfin mencungkil peluru yang bersarang di dada kirinya menggunakan belati kecil yang dipegangnya.
“Akkhhh”
Malfin meringis kesakitan yang berhasil mengeluarkan peluru tersebut, lalu segera membalut lukanya dengan alat seadanya, yakni baju sobek kembali dililitkan di lukanya. Setelah itu, dia pun menancap gas meninggalkan tempat tersebut menuju kediamannya.
Bersambung......
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🙏🙏
__ADS_1