Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
RANIA!!!


__ADS_3

Kebahagiaan kata sederhana yang menggambarkan suasana hati seseorang. Kadang kala kebahagiaan begitu sulit untuk diwujudkan, banyaknya rintangan yang dihadapi untuk menggapainya akan terbayarkan sudah jika kita berhasil memilikinya.


Seperti halnya yang dialami oleh pasangan suami istri Adelio dan Rania. Mereka tak pernah yakin bisa hidup bahagia di bawah tekanan keegoisannya masing-masing.


Lambat laun waktu membawanya ke zona nyaman. Mereka mulai saling menerima dan melengkapi satu sama lain. Walaupun sampai detik ini Adelio tak pernah mengungkapkan perasaannya kepada Rania, namun sikap yang ditunjukkan kepada Rania sudah membuktikan bahwa dia juga mencintai wanita yang akan menjadi ibu anak-anaknya.


Adelio menghubungi kedua orang tuanya bahwa dirinya sudah tiba di negara A bersama istri dan mertuanya dan memilih menginap di kediamannya.


Kedua orang tuanya sama sekali tak masalah dengan keputusannya yang memilih hidup mandiri bersama istri tercintanya.


Adelio duduk di sisi kanan tempat tidur sambil memperhatikan Rania yang tertidur pulas. Adelio tersenyum menatap wajah cantik Rania, sedang tangannya terus mengelus rambut panjang Rania.


"Kau sangat cantik dan imut. Gadis gila penggoda selalu melekat dalam dirimu. Bagaimana bisa aku tertarik kepadamu Ani, padahal aku sangat benci wanita tipikal penggoda. Tapi, aku malah terjebak dengan pesonamu" ucap Adelio tersenyum tipis yang tidak menyangka jatuh dalam pesona Rania.


"Semoga anak kita mirip denganmu. Yakin dan percaya anak kita pasti imut dan sangat menggemaskan" ucap Adelio dengan perasaan bahagia jika ucapannya terkabulkan.


Adelio mencium kening Rania dengan penuh kasih sayang, lalu menarik selimut untuk menyelimuti tubuh wanita yang berstatus sebagai istrinya. Kemudian Adelio ikut berbaring di samping istrinya.


Sementara di kediaman Alexander.....


Adelia belum juga tertidur padahal sudah larut malam. Adelia masih mondar-mandir di dalam kamarnya. Sedangkan Malfin duduk di pinggir tempat tidur sambil memperhatikannya, sedari tadi Malfin menguap dengan rasa kantuk yang tak bisa di tahan.


"Kak Malfin, aku mau menginap di Savana" ucap Adelia merengek sambil menggoyangkan lengan Malfin.


"Lain kali saja, aku sudah mengantuk sayang" ucap Malfin sambil menguap tak karuan.


"Iih kak Malfin, padahal aku maunya menginap di sana. Ini juga karena jabang bayi dalam perutku, anak kita" ucap Adelia manja sambil memasang wajah seimut mungkin.


Malfin menghela nafas panjang lalu mengangguk setuju. Adelia langsung bersorak gembira kemudian berhambur memeluknya. Malfin tersenyum sambil mengelus punggung istrinya.


"Apa perlengkapanmu sudah lengkap di dalam tas ini?" tanya Malfin yang menenteng dua tas besar.


"Iya kak, baju ganti, perlengkapan sholat dan sebagainya sudah lengkap. Saatnya kita berangkat" ucap Adelia tersenyum sambil menggandeng tangannya keluar kamar.


Terlihat Min sudah menunggu kedatangannya di ujung tangga. Min segera mengambil barang bawaannya, lalu mengikuti langkahnya.


"Kak Malfin, kita belum berpamitan pada ayah, bunda, mama, papa dan_" ucap Adelia tidak melanjutkan ucapannya.


"Tak perlu, mereka sudah tidur" potong Malfin cepat lalu membawanya keluar rumah.


"Emm baiklah, aku juga tidak tega membangunkan tidurnya" ucap Adelia yang mengurungkan niatnya.


Mereka bersama-sama masuk ke dalam mobil. Min duduk di kursi kemudi yang akan membawa majikannya ke Savana.


Hanya 15 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di Savana. Malfin dan Adelia bergegas turun dari mobil. Kemudian Malfin segera membawa Adelia masuk ke dalam mes keluarganya.


"Besok-besok jika kamu ingin menginap di Savana rencanakan sebelumnya Lia. Jangan mendadak seperti ini" ucap Malfin terdengar tegas.


"Iya suamiku tersayang, kalau aku mengingatnya" ucap Adelia tersenyum sambil mengelus lengan Malfin.


Malfin membawa Adelia masuk ke dalam kamar yang selalu dia tempati selama berkunjung di Savana. Min meletakkan tas yang berisi barang bawaannya di dekat pintu kamarnya.


Kamar yang mereka tempati kebersihannya selalu terjaga. Setiap hari para pekerja Savana membersihkan kamar tersebut beserta seluruh mes yang terdapat di Savana. Semua itu demi kenyamanan bersama saat berkunjung di Savana.


"Kamu boleh beristirahat, besok pagi temui kami seperti biasa" ucap Malfin yang kembali memperingatkan bodyguard istrinya.

__ADS_1


"Baik tuan, selamat beristirahat. Saya permisi" ucap Min sambil membungkukkan badannya dengan hormat lalu melenggang pergi.


Malfin mengunci pintu kamarnya kemudian mendekati istrinya yang tengah berdiri di depan jendela. Malfin langsung mendekap hangat tubuh istrinya.


"Bagaimana, kamu sangat senang sayang bisa menginap di Savana" ucap Malfin sambil menghirup aroma tubuh istrinya.


"He he he he, sepertinya di kamar kita lebih nyaman" ucap Adelia cengengesan yang kembali memperhatikan suasana kamarnya.


"LIA! jangan menguji kesabaranku" tegas Malfin yang tak main-main.


"Iya kak Malfin, aku tidak akan macam-macam. Sebaiknya kita tidur, besok pagi kita kembali berkemas pulang" ucap Adelia diiringi gelak tawa.


Malfin geleng-geleng kepala melihat sikap istrinya yang berubah total semenjak berbadan dua.


Malfin dan Adelia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Malfin segera menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya.


"Selamat malam sayang" ucap Malfin sambil memejamkan matanya.


"Selamat malam suamiku" gumam Adelia dengan mata terpejam yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya.


Pada akhirnya mereka tertidur pulas saling berpelukan memberikan kehangatan satu sama lain.


šŸšŸšŸšŸ


Keesokan harinya.....


Di kediaman Adelio....


Selesai sarapan bersama, Adelio membawa istri dan ibu mertuanya ke kediaman orang tuanya. Pasalnya Rania ingin menemui Raka bersama mama nya.


"Aku ke kantor, jangan pulang sebelum aku sendiri yang datang menjemputmu" tegas Adelio lalu mendaratkan ciuman di keningnya.


Adelio segera menuntun istrinya masuk ke dalam rumah utama, diikuti ibu mertuanya.


"Bunda tolong jaga istriku, aku akan berangkat ke kantor" ucap Adelio kepada ibunya yang tengah menyambut kedatangannya di ambang pintu masuk.


"Iya, percayakan sama bunda. Mari jeng Sarah" ucap Ziva dengan ramahnya kemudian menggandeng tangan menantunya.


Sedangkan Adelio berpamitan kepada ibu nya lalu melenggang pergi. Rania terus memancarkan senyuman berjalan bersama dengan ibu mertuanya. Mereka mulai bergabung dengan anggota keluarga lainnya yang sedang duduk bersama di ruang keluarga.


Adelia dan Malfin tak terlihat di tengah-tengah keluarga mereka. Sepertinya mereka belum juga kembali dari Savana.


Selesai melakukan silaturahmi dengan besannya. Sarah meminta izin untuk menemui Raka, putranya. Walaupun anak tiri, Sarah tak pernah membeda-bedakannya dengan anak kandungnya. Sarah tetap menganggap Raka sebagai anak kandungnya.


"Sudah beberapa hari, aku tak pernah menemui kak Raka. Bunda, aku ingin mengantar mama menemui kak Raka" ucap Rania menjelaskan perihal keinginannya untuk menemui kakak nya.


"Iya nak, bunda akan ikut kalian menemui saudaramu" ucap Ziva tersenyum di balik cadarnya. Pasalnya hanya dua tiga kali dia menjenguk saudara menantunya.


Sarah ikut tersenyum, kemudian mereka bersama-sama menjenguk Raka yang sedang dirawat di klinik Alexander. Sarah merindukan putranya yang sudah beberapa bulan tak pernah berjumpa dengannya.


Setibanya di ruang perawatan Raka. Mereka tak mendapati Raka berada di ruangannya. Sehingga mau tak mau Rania segera mencari keberadaannya.


"Mama, bunda...tunggu disini ya, aku akan menemui dokter Nisa" ucap Rania yang begitu yakin bahwa kakak nya bersama dokter Nisa.


"Iya sayang, hati-hati" ucap Sarah dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Jangan lupa minta perawat untuk menemani mu" timpal Ziva sambil menatap kepergiannya.


Rania manggut-manggut yang tengah berdiri di ambang pintu. Dan kebetulan sekali perawat yang selalu bersama dokter Nisa berjalan ke arahnya.


"Kemana perginya pasien di kamar 185 mbak Sinta?" tanya Rania kepada perawat bernama Sinta. Kebetulan Rania sudah akrab dengan Sinta dan Dokter Nisa.


"Ooh..mas Raka sedang berada di taman bersama pasien lainnya. Dokter Nisa mengadakan penanaman pohon di area taman. Jika nona berkenan, saya bersedia mengantar nona untuk menemuinya" ucap Sinta dengan ramahnya.


"Kebetulan sekali, ayo mbak Sinta" ucap Rania antusias.


Mereka lalu berjalan bersama-sama menuju taman klinik. Dari kejauhan Rania mampu mengenali kakak nya tengah berbaur dengan beberapa pasien yang sedang jalan-jalan di area taman.


Rania tersenyum sambil melangkah menghampirinya. Namun sayangnya tiba-tiba Raka terlihat berjalan seorang diri meninggalkan teman pasiennya. Sementara Dokter Nisa tengah sibuk bersama rekan medisnya menanam pohon.


"Kak Raka berhenti!" teriak Rania untuk menghentikan kakak nya. Namun Raka sama sekali tak mendengar teriakannya.


"Mbak tolong bantu saya membawa kak Raka pulang" ucap Rania cepat sambil menyusulnya.


"Baik nona" ucap Sinta mengiyakan.


Hingga pandangan dokter Nisa tertuju kepada mereka. Dokter Nisa segera menyusul mereka untuk menghentikan aksi pasiennya.


Terlihat Raka dengan pandai nya memanjat pagar tembok.


"Mas Raka, tolong berhenti" teriak Dokter Nisa untuk menghentikan aksinya.


Para rekan medisnya juga berbondong-bondong membantunya menangkap pasien yang ingin kabur dari klinik.


Rania dan Sinta terus menyusulnya. Sinta dengan terpaksa membuka pintu pagar yang begitu rahasia di klinik tersebut. Raka semakin menjauh yang sudah keluar dari area klinik Alexander.


Rania terseok-seok menyusulnya dengan deru nafas ngos-ngosan.


"Nona sebaiknya anda beristirahat di sini. Biar saya yang menyusul mas Raka" ucap Sinta yang meminta Rania beristirahat di kursi kayu dibawah pohon rindang.


"Hah hah..tidak mbak, aku harus membawa kak Raka pulang. Lihat, kak Raka menghentikan langkahnya di pinggir jalan" ucap Rania sambil mengatur nafasnya.


Rania kembali berjalan dan sangat lambat sambil memegang pinggangnya. Sungguh kehamilannya membuatnya susah berjalan cepat.


Sinta memilih menghubungi rekannya untuk menemuinya di persimpangan jalan, di mana Raka berada.


"Kak Raka!" teriak Rania sambil melambaikan tangannya.


"Hei kak Raka, aku disini" teriak Rania begitu antusiasnya.


Lagi-lagi Rania berteriak heboh sambil melambaikan tangannya, agar Raka mendengar teriakannya.


Dan benar saja, teriakannya mampu di dengar oleh Raka. Tampak Raka terlihat linglung mengalihkan pandangannya ke arahnya.


Rania tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arahnya. Diluar dugaan sebuah mobil melaju kencang dan terlihat ugal-ugalan berlawanan arah melaju ke arah Rania.


Raka membulatkan matanya melirik ke arah Rania dan juga mobil yang semakin melaju kencang. Raka terus berulang-ulang menatap kedua objek di depan matanya hingga memilih memegangi kepalanya yang terasa berat.


"RANIA!!!....AWAS!!!" teriak Raka dengan suara lantang. Pertama kalinya mengeluarkan suaranya.


Rania membulatkan matanya mendengar teriakkan keras kakaknya. Lebih-lebih keterkejutannya melihat minibus mulai oleng melaju ke arahnya. Rania perlahan mundur dengan kedua kakinya yang terasa lemas dan perlahan penglihatannya mulai tak jelas hingga tak mampu menopang tubuhnya.

__ADS_1


Bersambung......


Terima kasih atas dukungannya teman-teman šŸ™šŸ™šŸ™


__ADS_2