
Ting tong
Pintu lift terbuka, Adelio bergegas keluar dan kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya. Rania mengekor di belakangnya sambil memegangi dadanya yang begitu sesak nafas satu lift dengan suaminya.
Rasa takut masih saja menyerangnya, dia menjadi kesusahan bernafas, apalagi mengatakan sesuatu kepada Adelio. Saat di ambang pintu kamar, Rania merasa enggan untuk masuk di dalam sana.
Adelio membuka jasnya dan melemparnya ke sofa, kemudian melangkahkan kakinya membuka kulkas untuk mengambil minuman dingin.
Dengan langkah ragu, Rania masuk ke dalam kamar dan langsung mengedarkan pandangannya mencari pemilik kamar tersebut. Tampak Adelio duduk tenang sambil menikmati minuman isotonik yang tengah bersandar di sofa.
"Hei kau! aku mau berendam, cepat siapakan aku air!" bentak Adelio yang melihat Rania diambang pintu.
"Baik."
Rania bergegas menuju kamar mandi menyiapkan air untuk Adelio. Gadis itu terlihat telaten menyiapkan air untuk sang suami. Tanpa dia sadari, Adelio sudah berdiri di belakangnya, hingga Rania berbalik badan malah menubruk tubuh Adelio.
Rania terkejut, refleks dia pun mundur selangkah sambil membungkukkan badannya dan tak lupa meminta maaf.
"Maaf" ucapnya sambil menundukkan pandangannya.
Adelio kembali mencengkeram lengannya lalu dengan kasar mendorong tubuhnya hingga terjerambah di dinding.
"Ingat batas mu, tak ada maaf untuk orang seperti mu. Dan sekali lagi, jangan pernah muncul di hadapan kembaran ku, karena kalau itu terjadi, aku tidak segan-segan untuk membunuh mu bersama kakak tersayang mu!" ancam Adelio dan segera masuk ke dalam bathtub untuk berendam.
Rania hanya menunduk dan tak berani menatap, apalagi menimpali ucapan Adelio.
"Keluar! aku muak melihat wajah serigala licik seperti mu" bentak Adelio.
Rania bergegas keluar dari kamar mandi, dia pun tak lupa menutup pintu kamar mandi dengan hati-hati. Rania kembali memunguti dasi dan jas Adelio yang di taruh di sembarang tempat. Rania lalu menyimpan nya di keranjang kotor.
"Aku memang tak pantas dikasihani, aku akan berusaha untuk membawa kak Raka keluar dari rumah ini. Satu-satunya orang yang bisa membantuku adalah tuan Darren" gumam Rania.
Sementara di kamar Adelia, Adelia tampak mengamati sekeliling kamarnya. Senyuman indah kembali terpancar dibibirnya manakala melihat deretan foto yang terpajang di dinding yang menampilkan dirinya beserta keluarganya.
Adelia mendekat sambil menyentuh beberapa barang koleksinya, dua kotak music dan miniature boneka panda tersusun rapi dalam rak lemari khusus untuk barang hias nya.
__ADS_1
Tak sengaja pandangan Adelia tertuju pada sebuah foto keluarga yang tampak unik, di mana dirinya tampil berbeda sambil memamerkan sebuah cincin bersama seorang pria. Seluruh keluarganya terlihat rapi layaknya ke pesta. Tunggu, bukankah foto tersebut merupakan foto lamarannya beberapa minggu lalu. Adelia tercengang melihat foto tersebut.
“Bukankah pria ini Kak…siapa ya kak..kak Malfin..ya benar dia kak Malfin lantas apa hubungannya dengan ku. Mengapa kami sangat bahagia di foto ini? Sepertinya aku harus cari tahu tentang foto ini”gumam Adelia yang tengah memperhatikan foto tersebut.
“Sebaiknya kamu istirahat sayang, bunda mau masak yang enak buat kamu” ucap Ziva yang mengagetan putrinya.
“Iya bunda, emm Bunda...bolehkah Lia bertanya?”
Adelia menatap bundanya dengan wajah memelas, berharap bundanya memberikan pencerahan tentang foto tersebut.
“Katakan saja sayang?” ucap Ziva tersenyum.
“Mengapa di foto ini aku dan Kak Malfin memamerkan sebuah cincin, dan cincin nya masih berada di jari manis ku? Tolong jelaskan bunda?” tanya Adelia yang merasa janggal dengan semua ini.
Ziva menghela nafas panjang lalu membawa putri nya duduk di pinggir tempat tidur.
“Bunda belum bisa menjelaskannya sekarang, yang jelas kamu dan Malfin sudah terikat dengan cincin ini” ucap Ziva sambil menghembuskan nafasnya kasar. Ziva belum bisa memjelaskan semuanya secepat ini, biarlah waktu yang bicara hingga semuanya terbongkar.
Adelia hanya diam sambil mengelus permata cincin yang melingkar di jari manisnya dan terus bertanya-tanya dalam hati.
“Jangan terlalu dipikirkan foto itu. Bunda ke dapur dulu” ucap Ziva sambil mengelus pundak putrinya lalu bergegas keluar.
Adelia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan kembali memandangi cincin berlian yang sudah mempengaruhi pikirannya.
“Sebaiknya aku tanyakan langsung saja ke kak Malfin tentang cincin ini” ucap Adelia tersenyum.
Kembali di kamar Adelio, Adelio tampak mengenakan pakaian santainya, Kemeja berlengan pendek dipadukan celana pendek yang baru saja keluar dari ruang ganti. Tampak Rania berdiri mematung di samping jendela yang tengah menatap suasana halaman kediaman Alexander.
Adelio kembali mengagetkan gadis itu, melemparkan handuk basah hingga mengenai kepalanya. Refleks Rania terkejut dan langsung memegang handuk tersebut. Rania kembali menundukkan pandangannya melihat Adelio tengah menatapnya tajam.
“Apa kau sedang merencanakan sesuatu hingga melamun disana hah!” ucap Adelio dingin.
“Maaf, saya hanya melihat suasana halaman rumah” ucap Rania sambil menundukkan pandangannya.
Adelio berdengus kesal dan kembali melangkahkan kakinya menuju ruang kerja.
__ADS_1
“Bisakah kita bicara sebentar?” ucap Rania yang berhasil menghentikan langkah Adelio.
“Ada sesuatu yang ingin ku katakan kepadamu” ucap Rania kembali.
Adelio segera berbalik badan menghadap ke arahnya lalu berjalan mendekatinya. Rania berusaha mengatur nafasnya, berharap dia tidak membuat kesalahan di hadapan Adelio, apalagi sampai menyinggungnya.
“Cepat katakan, aku tak banyak waktu meladeni serigala licik sepertimu” sindir Adelio sambil menyilangkan kedua tangannya menatap tajam Rania.
Rania segera berlutut di hadapan Adelio sambil mengatupkan kedua tangannya.
“Kita akhiri saja pernikahan ini. Aku sangat tidak pantas menjadi bagian dari keluargamu. Aku sudah mencelakai kembaranmu dan seluruh keluargamu pasti membenciku. Tak ada tempat bagiku di rumah ini, izinkan aku pergi membawa kakak ku. Aku akan pergi sejauh mungkin dari keluargamu, aku berjanji tidak akan pernah lagi mengganggu keluargamu. Sekali lagi, aku minta maaf atas apa yang telah ku perbuat kepada keluargamu” ucap Rania sambil menundukkan pandangannya dengan rasa sesak di dada.
“Bagus, ayo kita akhiri pernikahan ini, rupanya kamu tahu diri juga. Kendrick yang akan mengurus perceraian kita, setelah itu angkat kaki dari rumahku dan pergi sejauh mungkin, karena jika aku menemukanmu kembali berkeliaran di negara ini tak main-main aku sendiri yang akan melenyapkan mu” ucap Adelio tegas, lalu melenggang pergi meninggalkan Rania.
“Terima kasih” ucap Rania dengan mata berkaca-kaca, dia tidak menyangka Adelio akan melepaskannya begitu mudah, mengingat apa yang telah dia perbuat kepada kembarannya walau pada akhirnya keluarganya yang menanggung akibatnya.
“Aku akan pergi sejauh mungkin untuk menebus dosaku.” Rania serasa mendapatkan angin segar mendengar ucapan Adelio, dia bahkan sudah berpikir ingin meminta bantuan kepada ayah mertuanya untuk membantunya keluar dari rumah mewah tersebut. Rania berjanji tidak akan pernah kembali ke negara A, negara yang memberinya banyak luka.
Malam harinya…..
Seluruh keluarga Adelio sudah burkumpul di meja makan. Adelio dan Rania duduk berdampingan, sedangkan Adelia duduk berdampingan dengan ibunya dan ayahnya menjadi kepala keluarga. Selama menikah, baru dua kali Rania ikut makan bersaama dengan keluarga Adelio.
Adelia sempat terkejut melihat Rania yang begitu asing baginya duduk bersama keluarganya di meja makan. Ya karena Adelia merasa tidak pernah melihat gadis itu, hingga dia pun tak sungkan bertanya kepada ayahnya.
“Ayah, siapa gadis yang duduk di samping kak Lio, aku belum pernah melihatnya sebelumnya?” tanya Adelia yang tengah berbisik-bisik tetangga kepada ayahnya.
“Dia kakak ipar mu, istri Adelio” ucap Darren yang mampu didengar oleh semua orang di meja makan.
“Benarkah, berarti aku lupa bahwa kak Lio sudah menikah” ucap Adelia cengengesan yang merasa dirinya pelupa.
Adelio dan Rania tak mempermasalahkan ucapan Adelia, mereka tampak menikmati makanannya dengan tenang, mengingat Adelia sedang tahap penyembuhan.
Jelas sekali tatapan dingin ayah mertuanya tertuju ke arah Rania. Tidak semudah itu dirinya di maafkan oleh ayah yang begitu menyayangi keluarganya. Walaupun bertanggung jawab kepada keluarganya, namun tetap saja ada rasa tidak suka terhadap perbuatan menantunya.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya teman-teman 🙏🙏