
Tiga bulan kemudian.....
Suasana kediaman Alexander kembali ramai dengan berkumpulnya keluarga Fino.
Tepat tanggal 15 November menjadi hari kehilangan sosok orang terkasih mereka, yakni kedua orang tuanya, almarhum tuan Alexander dan almarhumah nyonya Ratu.
Seluruh keluarga mulai bersiap-siap untuk melakukan ziarah ke makam almarhum. Pakaian dengan warna hitam yang senada mereka kenakan.
Rania tidak diperbolehkan untuk melakukan ziarah, mengingat kondisinya sedang berbadan dua. Sehingga Rania memilih berdiam diri di rumah atau mengunjungi kakak nya yang sudah mengalami peningkatan untuk sembuh.
Adelio dan Rania berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Terlihat jelas perut Rania sudah membuncit membuatnya susah untuk bergerak dan berjalan cepat. Adelio mulai terang-terangan memperhatikan Rania, mengabulkan segala permintaannya.
Namun, sampai sekarang Adelio belum pernah mengungkapkan perasaannya. Apakah dia menyukai Rania atau tidak. Sikapnya yang dingin dan kaku masih dia tunjukkan kepada Rania.
"Jangan lupa belikan aku manisan buah ya" ucap Rania tersenyum sambil mengelus perut buncitnya.
Mereka baru saja keluar dari lift dan memilih berhenti sejenak di dekat tangga.
"Hemm" hanya deheman yang dilakukan Adelio yang juga ikut mengelus lembut perut buncit Rania.
"Apa kau tidak sakit perut? lihatlah semakin hari perutmu membesar" tanya Adelio yang pengetahuannya begitu minim tentang ibu hamil.
"Hah ha ha ha...perutku akan terus membesar sampai janinnya membentuk seperti bayi, kemudian aku melahirkannya. Sekitar lima bulan lagi kita akan melihat anakku" ucap Rania diiringi gelak tawa.
Adelio kembali berpikir keras sambil menopang dagu mendengar ucapan Rania.
"Jangan terus menanyakan aku sakit perut, bisa-bisa sulit menyembuhkannya, karena anakku di dalam sini bisa saja ikut sakit dan akan susah dilahirkan" ancam Rania dengan tatapan melotot.
"Melahirkan? kau akan melahirkan seperti kuda balap di Savana" tebak Adelio yang baru saja menyambungkan ingatannya pada kejadian di Savana beberapa tahun yang lalu, dimana lima ekor kuda balap melahirkan bersamaan.
Plakkk
Rania langsung memukul kepala Adelio menggunakan tangannya, sedangkan Adelio dengan sigap menangkis tangannya untuk menghentikan aksinya.
"Kamu membandingkan aku dengan kuda balap mu hah" ucap Rania dengan bibir bergetar yang mulai emosi.
"Kira-kira seperti itu, karena kau akan lahiran" ucap Adelio dingin yang tak merasa bersalah dengan ucapannya.
"Arrgghhh" Rania melototi Adelio sambil mengepalkan kedua tangannya lalu bergegas pergi.
"Hei ada apa dengan mu, kau tak boleh berjalan cepat. Hentikan langkahmu bodoh!" teriak Adelio sambil menyusul Rania.
"Apa-apaan dia, masa bandingkan aku dengan kuda. Dasar menyebalkan, selalu saja membuat ku kesal" ucap Rania sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan berjalan cepat.
"Mau kemana kau, tidak boleh sekalipun kau menjauh dariku" ucap Adelio sambil mendekap hangat tubuh Rania dari belakang.
Rania hanya diam di dekap hangat oleh Adelio. Perasaan kesalnya perlahan sedikit reda.
"Aku tak bermaksud membandingkan mu dengan penghuni Savana!. Kau tahu sendiri, aku tak tahu menahu tentang orang hamil. Sekarang kau tengah mengandung anak pertama kita, jadi jangan banyak tingkah" ucap Adelio yang mencoba membujuk istrinya.
"Coba ulangi lagi ucapanmu kalimat terakhir" tegas Rania sambil menyentuh lengannya.
Malfin dan Adelia yang berada di ujung tangga tersenyum melihat kemesraan pasangan suami istri itu.
"Yang mana?"
Adelio tersenyum tipis sambil mengelus manja perut buncitnya.
__ADS_1
"Kalimat terakhir!"
"Baiklah, tapi cium dulu."
Adelio menggulung senyuman agar tawanya tak pecah. Sedangkan Rania melototi nya.
"Sekarang kau tengah mengandung anak pertama kita, jadi jangan banyak tingkah. Terus jaga dia di dalam perutmu" bisik Adelio sambil mengelus perutnya. Kemudian mencium gemes pipi Rania. Senyuman kembali terpancar di balik cadar Rania.
"Kamu masih meragukan kehamilan ku?" tanya Rania penuh selidik sambil meliriknya.
"Baiklah, aku akan menjawabnya sekarang. Kau mengandung anakku!. Di dalam perutmu adalah anakku, darah daging ku. Jelas-jelas aku yang menghamili mu bodoh" pinta Adelio dengan suara lantang tanpa keraguan yang selama ini selalu dia tutupi.
"Baguslah kamu sadar juga, akhirnya kamu mengakui janin dalam perutku. Pasti anakku di dalam sini tersenyum mendengar ucapan ayahnya" ucap Rania tersenyum yang juga mengelus perutnya.
Adelio dan Rania tertawa bersama sambil mengelus-elus perut buncit Rania. Adelia dan Malfin hanya melewati mereka yang tidak ingin menggangu kemesraan yang jarang mereka lihat.
"Aku senang melihat Kak Lio dan kakak ipar makin mesra. Apalagi perut kakak ipar semakin buncit sampai-sampai Kak Lio begitu ekstra menjaganya" ucap Adelia tersenyum sambil bergandengan tangan dengan suaminya.
"Semoga kita bisa seperti mereka. Aku juga ingin kamu hamil secepatnya" ucap Malfin tersenyum dengan tatapan hangatnya.
Adelia hanya tersenyum karena belum memberikan kabar yang menggembirakan untuk suami dan keluarganya.
Setelah semuanya berkumpul, seluruh keluarga Alexander berangkat bersama ke pemakaman keluarganya yang berlokasi di jantung kota negara A, berkisar 30-40 menit perjalanan dari kediamannya menuju tempat pemakaman.
Sementara Rania memilih mengunjungi kakak kesayangannya di klinik. Rania terus saja tersenyum di balik cadarnya berjalan masuk ke klinik tersebut.
Raka sedang menjalani pemeriksaan. Dokter Nisa terus mengajak Raka berkomunikasi. Namun Raka hanya menatapnya yang selalu saja diam tanpa buka suara yang duduk di tempat tidur.
"Saya sedikit lega, kondisi anda semakin membaik. Anda sudah mampu memberikan ekspresi setiap hari, jika menyukai sesuatu atau tidak menyukainya" ucap Dokter Nisa tersenyum.
Dokter Nisa membungkukkan badannya untuk mensejajarkan kedua kaki Raka. Perawat yang selalu menemaninya ikut membantunya mengurus keperluan pasiennya.
Dokter Nisa berbalik badan sambil memancarkan senyuman manis.
"Anda harus istirahat. Tiga jam lagi saya akan kembali memeriksa kondisi anda" ucap Dokter Nisa ramah.
Tanpa basa-basi Raka langsung menghambur memeluknya. Dokter Nisa terkejut bukan main, sedangkan perawat yang bersamanya hanya mampu tersenyum melihatnya.
Rania yang baru saja tiba di ruangan perawatan kakaknya, ikut terkejut melihat tingkah laku kakaknya yang main peluk-peluk dokter Nisa.
"Anda harus sembuh demi keluarga yang menyayangi anda" ucap Dokter Nisa sambil menepuk pundaknya lalu melepaskan pelukan Raka. Raka mengangguk dan sama sekali tak pernah berbicara semenjak berada di klinik tersebut.
Dokter Nisa memaklumi sikap pasiennya. Tapi jika sampai kelewatan batas, dia tidak segan-segan untuk memberikan tindakan.
"Kalau begitu saya permisi" ucap Dokter Nisa yang tiba-tiba canggung, apalagi menyadari keberadaan Rania. Dokter Nisa bersama perawat nya bergegas keluar dari ruangan tersebut.
Sedangkan Rania tersenyum menghampiri kakaknya.
"He he he, kak Raka sudah main peluk-peluk dokter Nisa. Apa kakak menyukai dokter Nisa?" tanya Rania tersenyum sambil menggenggam tangan kakak nya.
Raka hanya meliriknya dengan tatapan kosong. Sedangkan Rania kembali menjawab pertanyaan sendiri.
"Iya Rania, aku menyukai dokter Nisa. Makanya aku ingin segera sembuh biar bisa mendapatkan dokter Nisa" ucap Rania tersenyum diiringi gelak tawa dengan jawaban konyolnya.
Hanya lirikan mata yang dilakukan Raka. Rania kemudian berhambur memeluk lengannya.
"Kak Raka lihat, perutku semakin buncit. Sebentar lagi kak Raka akan punya ponakan. Cepat sembuh ya biar bisa bermain dengan ponakan mu" ucap Rania dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kakak harus sembuh biar kita bisa berkumpul lagi. Tidak lama lagi, aku akan menjemput mama, kita akan hidup bersama saling menyayangi dan melengkapi" gumam Rania yakin yang ingin keluarganya kembali bahagia seperti dulu.
Hanya satu impian Rania, berkumpul bersama keluarganya dan bisa hidup bahagia bersama suaminya.
Malam harinya.....
Adelio begitu sibuk di dalam ruang kerjanya. Sementara Rania sibuk membaca buku kisah teladan 25 nabi dan Rasul di tempat ternyamannya.
"Kisah-kisahnya sangat menginspirasi. Semoga kelak anakku bisa menjadi anak Sholeh dan Sholehah" gumam Rania yang begitu asyik membaca sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Adelio yang sudah berdiri di samping tempat tidur.
"Buatkan aku kopi hitam" ucap Adelio sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Kamu mau begadang?" tanya Rania tak beralih dari bacaannya.
"Hemm" ucap Adelio tersenyum tipis yang ingin beraktivitas malam bersama istrinya.
"Kalau begitu kamu harus memanggilku sayang atau memanggil ku dengan nama yang unyu-unyu misal Rania sayang atau Nia-Nia" ucap Rania tersenyum manis sambil menaikkan alisnya.
"Nanti aku pikirkan" ucap Adelio dingin sambil memijit keningnya. Tak habis pikir tingkah Rania semakin aneh-aneh dan menjadi-jadi.
Rania segera menyimpan buku bacanya, kemudian bergegas turun dari tempat tidur. Rania melangkah menuju pantry di lantai tiga untuk membuatkan kopi favorit suaminya.
Tak berselang kemudian, Rania membawa secangkir kopi hitam spesial untuk suaminya.
"Mana kopinya Ani" ucap Adelio sambil memainkan ponselnya.
Rania menghentikan langkahnya, tiba-tiba raut wajahnya berubah kesal mendengar ucapan Adelio.
"Siapa Ani, ayo jawab? Kamu kembali menyebut nama wanita lain di dalam kamar ini" ucap Rania kesal lalu meletakkan secangkir kopi buatannya di atas meja.
Adelio meletakkan ponselnya lalu menatap istrinya.
" Ani partner kerjaku, setiap malam kami menghabiskan waktu bersama" ejek Adelio yang sedang mengerjai Rania.
"Ani siapa hah!"
Rania bertolak pinggang dengan kepulan asap mulai menyelimuti tubuhnya.
"Ya Ani kamulah, masa Ani lain" timpal Adelio tersenyum sinis. Ingin rasanya Adelio tertawa terbahak-bahak melihat tingkah menggemaskan Rania.
"Namaku bukan Ani tapi Rania" tegas Rania sambil menunjuk Adelio.
Adelio kemudian bangkit dari duduknya lalu menggenggam kedua tangan Rania.
"Mulai sekarang aku akan memanggil mu Ani."
"Terlalu jadul, aku bukan ibu-ibu kompleks tetangga_" ketus Rania.
"Kau tahu, aku sangat sulit mendapatkan nama yang cocok untukmu! Ani itu bagian dari namamu. Aku menghilangkan huruf pertama dan terakhir namamu" ucap Adelio menjelaskan dengan sorot mata tajam.
Rania tergelak tawa mendengar penjelasan Adelio.
"Baiklah, kalau begitu aku juga mau memanggil mu dengan sebutan spesial. Namamu Adelio, jadi aku menghilangkan huruf A lalu huruf O jadinya Deli kan" ucap Rania tersenyum lalu tertawa terbahak-bahak.
"Kau sangat menggemaskan, aku tidak akan melepaskan mu" ucap Adelio tersenyum lalu mencium Rania.
Puas berciuman, mereka tertawa bersama-sama sambil saling sahut menyahut memanggil nama mereka masing-masing.
__ADS_1
Bersambung......
Jangan lupa, like, love, komen dan vote ya teman-teman š¤