Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Aku tak peduli dengannya


__ADS_3

Para tamu undangan mulai histeris ketakutan sambil berlarian mencari tempat yang aman. Ada juga anak kecil menangis histeris mencari keberadaan orang tuanya di tengah-tengah orang yang melakukan perkelahian.


Untungnya Adelio segera mengamankan anak kecil itu ke tempat yang aman. Namun seseorang kembali menghadang Adelio dari belakang dengan sebuah pistol.


Tanpa basa-basi Adelio berbalik badan dan langsung melayangkan tendangannya ke wajah si pelaku penyerangan. Orang itu langsung terkapar di lantai. Adelio kembali menghajar nya habis-habisan dengan kemarahan berapi-api.


Beberapa orang kembali berdatangan untuk menghajar Adelio dengan membawa pistol masing-masing. Anak kecil yang bersembunyi tidak jauh darinya segera memperingatkan Adelio.


"Awas paman!" teriaknya yang melihat beberapa orang kembali menodongkan pistol ke arah Adelio.


Adelio segera melompat meringkus salah satu orang tersebut dan langsung mengambil alih pistolnya.


"Tak ada ampun bagi penjahat seperti kalian" ucap Adelio dingin sambil mengunci lehernya menggunakan lengan kekar nya hingga orang tersebut tewas di tangan Adelio.


Ketiga rekannya kembali menembaki Adelio, untungnya Adelio mampu berlindung di tubuh orang yang baru saja dia lenyapkan. Sementara anak kecil tadi segera berlari menghampiri ibunya yang juga bersembunyi tidak jauh dari nya.


Dor


Dor


Dor


Adelio tak tinggal diam, dia pun saling baku tembak dengan orang tadi. Begitu halnya Malfin juga turun tangan untuk melawan para pelaku penyerangan.


Sementara Keluarga Alexander begitu shock dengan serangan tiba-tiba dari orang tak dikenal, mereka semua berkumpul di ruang VIP. Tampak Adelia berpegangan tangan bersama ibu nya yang terlihat masih shock.


Darren dan Fino hanya mondar-mandir di dalam ruangan tersebut. Opa dan Oma mereka duduk bersama di sofa yang juga berpegangan tangan dengan perasaan khawatir.


Milan, Lexa dan David hanya mampu berdiam diri di sudut ruangan. Mereka baru menyadari bahwa beberapa anggota keluarga nya tidak bersamanya.


"Mana Etha, Rania, Rissa dan anak-anak lainnya?" tanya Lexa yang tidak melihat keberadaan anak-anaknya.


"Mungkin di ruang sebelah, Malfin pasti membawanya di sana" ucap Milan sambil menghembuskan nafasnya kasar.


Lexa hanya mampu mengangguk mendengar ucapan Milan.


"Huhh mengapa semua ini harus terjadi, harusnya ini menjadi hari bahagia di keluarga kita, tapi Tuhan kembali_" ucap Milan dengan mata berkaca-kaca.


"Sabar mbak, semua sudah menjadi takdir yang maha kuasa. Semoga seluruh keluarga kita tetap dalam lindungan Allah SWT, aamiin" ucap Lexa yang tidak ingin menyalakan kehendak Tuhan.


Milan hanya mampu memijit pelipisnya dengan musibah yang kembali menimpa keluarganya. Sementara di ruang sebelah, Rissa bersama beberapa tamu undangan tampak bersembunyi di sana.


Morgan, Dilan, Niko dan Nino tampak kompak melawan sekelompok orang pelaku penyerangan. Mereka semua tak akan membiarkan semuanya lolos yang sudah memporak-porandakan pesta pernikahan saudaranya.


Dua buah bom berada di dalam hotel tersebut. Satu berada di ballroom hotel dan satunya berada di halaman hotel. Bom tersebut belum diledakkan sebelum tiba waktunya.


Tampak Alfhat berusaha membawa Rania keluar dari hotel tersebut yang selalu saja di hadang oleh anggota The Lion X, namun Alfhat tetap melakukan perlawanan di bantu kedua bodyguard tangguhnya.

__ADS_1


Sementara Etha yang baru saja mengambil hadiah di dalam mobilnya di kejutkan dengan para tamu undangan berlarian keluar hotel. Etha segera mendekati mereka dan tak sengaja pandangannya tertuju pada seorang pria yang sedang membawa seorang wanita yang cukup dikenalinya.


"Bukankah itu Rania, istri Adelio" gumam Etha yang mampu mengenali gaun Rania yang persis dengan warna gaunnya.


Walaupun Etha sempat insecure dengan Rania, karena mampu mendapatkan pria yang di sukai nya selama ini. Tapi Etha tidak memiliki sikap iri dan dengki kepada orang-orang yang lebih unggul dari nya.


Ya ternyata Etha diam-diam menyukai Adelio selama ini dan Etha hanya mampu mencintai dalam diam. Etha percaya bahwa jodoh sudah ada yang atur dan dia berharap bisa mendapatkan jodoh yang terbaik untuknya.


Etha segera menghampiri mereka tanpa kenal takut yang hanya menggunakan tangan kosong.


"Lepaskan gadis itu!" teriak Etha sambil menghadang jalan Alfhat yang tengah membawa Rania.


"Minggir, jangan halangi jalanku" ucap Alfhat dengan tatapan dingin.


Etha segera melepaskan high heels nya lalu mengangkat gaunnya hingga sebatas lutut yang memperlihatkan celana panjang nya, itu semua dilakukan agar membuatnya leluasa untuk melawan pria tersebut.


"Hiyaaa"


Etha langsung melayangkan tendangannya ke wajah Alfhat, namun secepat kilat Alfhat mampu menghindarinya yang tengah merangkul pundak Rania.


"Kamu membuang waktu ku!" ucapnya kesal lalu menendang perut Etha hingga membuat Etha terjungkal ke belakang.


Etha tak tinggal diam, dia pun kembali berjongkok mengambil high heels nya lalu melempari Alfhat dan lemparannya tepat juga hingga mengenai kepala Alfhat.


"Sial, gadis ini" ucap Alfhat kesal lalu segera memasukkan Rania ke dalam mobilnya.


Etha terus memberontak hingga dengan kesalnya Alfhat mendorong nya hingga terjatuh. Alfhat segera masuk ke dalam mobilnya dan sang supir langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


Etha juga segera berlari masuk ke dalam mobilnya dan langsung menancap gas untuk mengikutinya.


šŸšŸšŸšŸ


Terdengar suara stop watch yang terus berjalan pada bom rakitan yang berada di tempat berbeda. Para tamu undangan kembali berteriak histeris melihat bom rakitan yang berada di halaman hotel dan sebentar lagi pasti akan meledak.


Morgan dan rombongannya segera mendekati bom tersebut.


"Gawat! sisa setengah jam lagi bom ini akan meledak" ucap Morgan panik sambil mengusap wajahnya.


"Ayo, bawa bom ini keluar dari gedung" ucap Dilan antusias.


Niko yang sangat pemberani di antara mereka segera membawa bom rakitan itu keluar dari hotel. Morgan, Dilan dan Nino hanya mengekor di belakangnya.


"Gila, bom nya ada dua. Orang itu benar-benar ingin menghancurkan keluarga kita" ucap Morgan terkejut yang juga melihat bom satunya berada di halaman hotel. Mereka kembali menatap dua buah bom yang beberapa menit lagi akan meledak.


Sementara Adelio, Malfin dan Kendrick berhasil menghabisi para pelaku penyerangan tanpa sisa. Kendrick segera menghampiri anak buahnya yang terluka untuk segera mendapatkan perawat dan kembali mencari menyelidiki dalang penyerangan tersebut


Baju Adelio dan Malfin tampak berlumuran darah. Bahkan wajah tampan Adelio terdapat percikan darah yang sudah mengering. Kedua ketua mafia itu hanya mampu saling pandang dengan deru nafas ngos-ngosan lalu mereka saling menghampiri dan langsung merangkul bersama.

__ADS_1


"Awwww"


Malfin meringis kesakitan mendapati tangan Adelio menyikut dadanya yang terluka.


"Ada apa" ucap Adelio bingung tanpa rasa bersalah.


"Kamu melukai nya " ucap Malfin sambil menunjuk bagian tubuhnya yang terluka.


"Itu hanya luka kecil, yang jelas kau sudah menikahi kembaran ku" ejek Adelio dan kembali meninju nya.


"Lio!" ucap Malfin yang meringis kesakitan dan segera melepaskan texudo nya yang penuh darah.


Adelio segera melangkah keluar meninggalkannya, sedangkan Malfin memilih untuk menemui istri dan keluarganya. Adelio berlari ke halaman hotel saat mendapati suara-suara histeris oleh orang-orang yang dikenalinya.


Morgan, Dilan, Niko dan Nino hanya mampu menutup kedua telinganya yang sedang memandangi dua bom yang sebentar lagi akan meledak.


Adelio mendekati mereka dan langsung berjongkok di hadapan bom tersebut untuk menjinakkannya. Adelio begitu teliti mencari kabel yang harus dia putuskan, sekitar lima menit lagi bom tersebut akan meledak.


Setelah merasa yakin, Adelio segera memutus salah satu kabel penghubung di bom tersebut. Lalu Adelio berpindah ke bom yang satunya. Adelio langsung menemukan kabel penghubung nya dan kembali memutusnya dengan cepat. Alhasil bom tersebut sudah tak berfungsi lagi.


Semua orang hanya mampu bernafas lega, mereka saling merangkul bersama dan begitu bangga dengan kepiawaian Adelio yang mampu menjinakkan bom.


"Kak Malfin" teriak Adelia penuh khawatir melihat kedatangan Malfin dengan baju berlumuran darah.


Adelia segera berlari menghampirinya dan ingin memeluk nya, namun Malfin segera menghentikan nya.


"Jangan memelukku, aku tidak ingin gaun mu kotor" ucap Malfin dengan tatapan hangat.


Adelia memilih patuh dengan ucapan suaminya. Seluruh keluarga merasa lega mendengar ucapan Malfin bahwa semuanya sudah aman.


Tak berselang lama kemudian mobil Etha kembali memasuki area hotel. Etha terlihat kesal turun dari mobil.


"Kak Etha dari mana saja" ucap Dilan khawatir kepada saudarinya.


Etha mengedarkan pandangannya dan mendapati Adelio duduk bersama dengan Morgan dan kawan-kawan.


"Adelio, istrimu.... istrimu di bawa kabur oleh penjahat" teriak Etha.


Adelio berdengus kesal mendengar ucapan Etha.


"Aku tak peduli dengannya! mereka adalah sekutu. Jangan pernah membahasnya di hadapan ku" teriak Adelio kesal dan memilih pergi.


Etha dan Dilan hanya terbengong mendengar ucapan Adelio. Sementara Morgan dan kawan-kawan nya memilih bangkit untuk menyusul Adelio.


Bersambung......


Jangan lupa, like love komen dan vote ya teman-teman šŸ™šŸ™šŸ™

__ADS_1


Terima kasih šŸ™šŸ™šŸ™


__ADS_2