Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Identitas Rania


__ADS_3

Malfin menatap tajam adiknya yang tengah duduk berhadapan dengannya. Walaupun selalu bersikap acuh kepadanya, tapi dia begitu menyayangi adiknya.


“Dari mana kamu mendapatkan kabar murahan itu”ucap Malfin yang terdengar acuh.


“Rahasia, yang jelas kakak harus bertindak cepat. Jangan sampak Kak Adelia di ambil orang lain” ucap Morgan tersenyum mengejek.


Malfin berdengus kesal sambil mengibaskan tangannya ke arah sekretarisnya. Sedangkan Niko sangat tahu betul maksud atasannya. Niko segera membawa paksa Morgan keluar dari ruangan atasannya.


“Apa-apaan ini, aku bisa sendiri Nik. Ingat ya kak, kamu bakal nyesel kalau tidak pikirkan ucapanku.”


Morgan menunjuk-nunjuk kakaknya hingga benar-benar keluar dari ruangan itu. Nino ikut membantu kembarannya menyeret Morgan keluar dari ruangan itu.


“Boss lagi banyak masalah, jadi jangan mengganggunya.”


Nino mengingatkan Morgan untuk tidak berbuat macam-macam kepada atasannya. Morgan sama sekali tak ambil hati dengan segala tindakan yang dilakukan kakaknya.


Morgan langsung tertawa bersama dengan Nino. Entah apa yang di pikirkan kedua sahabat itu, lalu mereka saling merangkul bersama. Nino menaikkan alisnya melihat reaksi Morgan, kemudian mereka berjalan bersama-sama memasuki lift.


“Saya rasa tuan Morgan begitu peduli dengan anda” ucap Niko yang tengah merapikan berkas penting di atas meja atasannya.


“Anak itu terlalu melankolis dan banyak bicara tak masuk akal.”


Malfin tampak kesal mengucapkannya yang tengah menandatangani berkas penting yang di sodorkan Niko untuknya. Malfin tak terlalu mempermasalahkan ucapan adiknya.


“Temukan gadis yang sesuai dengan kriteria yang ku minta” ucap Malfin sambil mendongak menatap bawahannya.


“Baik tuan, saya akan segera menemukan gadis yang anda minta” ucap Niko dan kembali menutup berkas penting dipegangnya.


“Kamu boleh keluar” ucap Malfin yang kembali sibuk berkutat dengan komputer di hadapannya.


Niko mengangguk, lalu segera meninggalkan ruangan atasannya.


Sementara di kediaman Alexander….


Baik Adelio dan Rania begitu kerepotan membersihkan tubuhnya. Rania sudah lima kali bolak-balik masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.


Dari luluran, berendam hingga berendam lagi dengan air hangat, sudah dia lakukan berulang kali.


Kulit putih keduanya sudah bentol-bentol berwarna merah akibat terkena iritasi dari air di gorong-gorong yang berasal dari kolam ikan.

__ADS_1


"Astaga, kulitku jadi bercak-bercak merah seperti ini. Semua karena ulah si aligator" ucap Rania sambil berdengus kesal.


Rania memilih mengakhiri ritual mandinya. Dia segera keluar dari kamar mandi dan segera memakai pakaiannya. Karena tubuhnya sudah kedinginan terlalu lama di dalam kamar mandi.


Rania tak lupa mengoleskan krim wajah untuk menutupi bercak merah di permukaan kulit wajahnya yang tampak seperti jerawat. Lanjut mengoleskan lotion ke seluruh permukaan kulitnya.


Semua peralatan kosmetik itu sudah disiapkan untuknya. Setelah selesai, Rania kembali mengeringkan rambut panjangnya menggunakan hairdryer.


"Tak ada celah bagiku untuk kabur dari rumah Alexander."


Rania menatap kasihan wajahnya di pantulan cermin.


"Aku terlihat menyedihkan."


Rania kembali menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Maafkan aku ma, sampai sekarang aku masih menjadi anak nakal dan terus membohongi mama, kak Raka dan Oma. Aku benar-benar banyak dosa kepada kalian" ucap Rania dengan mata berkaca-kaca yang kembali teringat dengan keluarganya.


"Astaga, mengapa aku jadi sedih sih" ucap Rania sambil menghapus kesal air matanya yang berhasil lolos dari pelupuk matanya.


Rania berkali-kali menarik nafas dalam-dalam kemudian dihembuskannya perlahan. Dia tidak ingin air mata bodohnya kembali keluar.


Sehingga tak salah jika pemuda tampan ini memiliki tubuh yang super bagus, six pack dengan otot perut seperti roti sobek yang menjadi idam-idaman kaum wanita.


Keringat mulai bercucuran membasahi tubuh Adelio, tapi Adelio masih asyik mengangkat barbel yang akan membentuk otot-ototnya.


Terdengar langkah kaki seseorang memasuki ruangan gym nya. Adelio sangat tahu siapa orangnya.


"Bagaimana, apa kau sudah menemukan identitas gadis gila itu."


Adelio tampak ngos-ngosan yang masih menggunakan alat fitness itu.


"Sesuai yang anda minta."


Kendrick meletakkan amplop coklat di meja bundar di tengah-tengah ruangan itu.


Adelio segera mengakhiri olahraga sorenya. Mengambil handuk kecil lalu melap wajahnya. Kendrick kembali menyodorkan air mineral untuk atasannya.


Adelio mengambil air mineral itu lalu meneguknya hingga tandas. Adelio segera membuka amplop cokelat itu. Tampak seluruh identitas Rania sudah berada di tangannya.

__ADS_1


"Jadi dia_"


Adelio terkejut bukan main dengan identitas Rania.


"Benar tuan, Gadis itu bernama Rania Putri Ibrahim. Putri dari Malik Ibrahim dengan Sarah Anastasia, saudara tiri tuan Raka Ibrahim."


Kendrick kembali memperjelas semuanya. Sesuai bukti yang dia dapatkan.


"Rania Putri Ibrahim!"


Adelio menyebutkan nama lengkap Rania dengan penuh penekanan bahkan meremas amplop cokelat tersebut.


"Rahasiakan identitas gadis gila ini. Jangan sampai yang lainnya mengetahui identitas gadis gila ini. Berpura-pura tidak tahu tentang identitas nya. Tetap ikuti rencana awal kita. Aku tidak ingin dia menjadi serigala berbulu domba di dalam keluarga ku" ucap Adelio sambil mengepalkan tangannya, hingga amplop cokelat itu sudah koyak.


"Baik tuan, saya akan tetap berhati-hati mulai sekarang" ucap Kendrick sambil menundukkan pandangannya.


"Hemm bagus. Saya hanya perlu mengikuti permainan gadis gila itu. Oh iya, batalkan janji pertemuan ku dengan si racau" ucap Adelio dengan seringai licik diwajahnya.


"Tapi tuan, bukankah anda ingin_"


"Jangan khawatir, dia sendiri yang akan datang menemui ku" potong Adelio cepat.


Adelio mampu membaca gerak-gerik musuhnya. Dia hanya perlu menunggu tanggal mainnya. Sehebat apa musuhnya kali ini, yang sudah terang-terangan memasuki kehidupan keluarganya.


Sementara di area dapur, para pelayan beserta chef tampak sibuk mempersiapkan makanan spesial nanti malam. Ziva memantau pekerjaan mereka sambil mencicipi setiap masakannya.


"Ini sangat lezat. Buat kembali makanan penutupnya" ucap Ziva yang memuji masakan para pekerjanya.


"Siap nyonya" ucap mereka kompak.


Kebetulan malam ini akan kedatangan tamu penting yang akan melamar Adelia dan sekaligus membicarakan perihal pernikahan Adelio dengan Rania. Ziva mempersiapkan dengan matang acara nanti malam. Berharap semuanya berjalan dengan lancar tanpa adanya kendala.


Untuk pendamping putrinya, Ziva hanya menyerahkan seluruhnya kepada suami dan putrinya. Jika keduanya sudah yakin bahwa pria itu benar-benar yang terbaik untuk putrinya, maka dia hanya perlu merestuinya.


Ziva tidak ingin berbeda pendapat dengan suami dan putrinya. Ziva hanya ingin keluarganya tetap bahagia dan rukun. Cita-citanya kali ini, untuk wanita paruh baya sepertinya ialah? melihat anak-anaknya menikah dan hidup bahagia.


Bersambung.....


Jangan lupa like, love, komen dan vote yang banyak 🤗

__ADS_1


Terima kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2