
Tampak pria duduk di kursi kebesarannya yang tengah bersantai menikmati sebatang rokok hingga kepulan asap mengepul di udara.
"Apa semuanya berjalan lancar?" tanya nya pada seorang pria bertubuh kekar yang tidak jauh dari nya.
"Adox tak berhasil menghabisinya tuan. Namun, satu tembakan berhasil bersarang di tubuh musuh kita" ucapnya.
"Hemm, bagus, itu salah satu peringatan untuknya. Persiapan dengan baik hadiah terindah untuk keluarga Alexander. Pastikan pesta pernikahannya hancur, aku sudah tidak sabar bertemu dengan wanita ku, oh Rania aku sangat merindukanmu honey" ucap Pria itu dan kembali menghisap rokoknya.
"Baik tuan, seluruh anggota tuan sudah turun tangan. Kita hanya perlu menunggu waktunya dan bom yang akan menghancurkan keluarga Alexander" ucap pria bertubuh kekar dengan seringai licik diwajahnya.
"Hemm bagus bagus. Jangan lupa, pastikan benalu kecil itu ikut hancur setelah aku mendapatkan ponakan tersayang nya...ha ha ha ha. Kamu boleh pergi!."
Pria itu kembali mengepulkan asap rokoknya sambil menatap langit malam tanpa bintang.
"Siap tuan" ucapnya lalu bergegas keluar dari ruangan atasannya.
ššššš
Keesokan harinya.....
Adelio terbangun lebih awal dari biasanya. Semalaman Adelio susah tidur membuat mood nya sangat buruk pagi ini . Hal pertama yang mampu dia lakukan keluar dari markas ternyaman nya.
Mengedarkan pandangannya menyapu tempat tidur yang sudah tak ada penghuninya. Sudah hampir sebulan dia tak menggunakan tempat tidur tersebut.
"Apa gadis gila itu kabur" gumamnya.
Adelio segera melangkah mencari keberadaannya, masuk ke dalam kamar mandi yang tidak terkunci dan mendapati......
"Aaaahhhhh"
Suara teriakan histeris seorang wanita di dalam kamar mandi membuat Adelio bergegas keluar.
"Aish, benar-benar gila, masuk kamar mandi tak di kunci apa coba, mau perlihatkan tubuh kurus kering nya... arrgghhh."
Adelio semakin kesal saja, bangun pagi-pagi kembali di suguhkan istri jadi-jadiannya yang tengah mandi di bawah shower. Rania semakin malu saja, pagi-pagi sudah membuat masalah dengan Adelio.
Rania bergegas memakai pakaiannya di ruang ganti. Setelah selesai, Rania hanya bisa bersandar di lemari pakaian sambil menutup wajahnya, dia benar-benar malu bertemu dengan Adelio.
Adelio tampak segar dengan rambut basahnya yang masih melilitkan handuk di pinggang nya begitu santai melangkahkan kakinya masuk di ruang ganti. Saat mendapati Rania masih berdiri di dalam sana, Adelio mendekat lalu menggebrak lemari pakaian yang disandari Rania.
"Ampun, aku memang salah. Aku selalu saja cari masalah dengan mu. Tolong bebaskan aku" ucap Rania sambil membungkukkan badannya dengan hormat dan berulang kali mengulangi nya.
Adelio mengerutkan keningnya melihat gelagat Rania.
"Kau memang pembuat onar! sebagai hukuman? Bersihkan seluruh lantai tiga beserta seluruh ruangan di dalamnya seharian ini. Dan satu lagi, jangan harap kau akan datang di acara siraman dan pengajian Adelia. Apa kau mengerti?" ucap Adelio dingin.
__ADS_1
Rania mengangguk dengan wajah memelas yang masih saja membungkukkan badannya. Sedangkan Adelio memilih mengambil pakaiannya di lemari dan kembali melirik Rania yang tak bergeming di tempatnya.
"Apa kau masih ingin terus disini melihat ku berpakaian. Ooh atau jangan-jangan kau ingin membantu ku berpakaian karena kau boneka mainanku..ayo lakukan lah."
"Ahh tidak tidak, baiklah aku akan segera keluar" ucap Rania cepat dan segera berlari kecil keluar dari ruang ganti.
"Bodoh!" gumam Adelio lalu memakai pakaiannya.
Pasangan suami istri itu terlihat rapi dan siap-siap untuk turun sarapan bersama dengan lainnya di lantai dasar. Adelio lebih dulu keluar kamar, lalu diikuti Rania dibelakangnya. Langkah Adelio terhenti lalu berbalik badan menatap Rania dengan terpaksa Rania juga menghentikan langkahnya.
"Aku harus mengatakan kepada kedua orang tua ku bahwa kita tak jadi bercerai. Jadi jangan tunjukkan sikap bodoh mu, bersikaplah bahwa kau tak ingin berpisah dari ku. Ingat baik-baik, jika kau masih ingin bernafas di dunia ini maka lakukan lah apa yang ku perintahkan untuk mu" ancam Adelio.
"Baik, aku bersedia mengikuti perintah mu, apapun itu" ucap Rania pelan sambil menundukkan pandangannya.
"Bagus. Ayo, semua orang pasti menunggu kita."
Adelio kembali melangkah lebih dulu lalu masuk ke dalam lift kemudian di susul oleh Rania. Rania memilih berdiri di belakang tubuh Adelio.
"Tuan."
"Hemm."
Rania menghela nafas panjang dan mulai angkat bicara. "Bolehkah aku menemui kakakku setiap hari?" tanya Rania sambil meremas jemarinya.
Rania menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu segera menyusul Adelio. Lagi-lagi Rania terlonjat kaget saat seseorang memegangi tangan nya.
"Pagi kakak ipar, bagaimana dengan rencana kita apa berjalan lancar" bisik Adelia sambil menggandeng tangan Rania.
"Gagal total, semuanya menjadi rumit. Kakak mu tidak ingin menceraikan ku dan aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa" ucap Rania sambil menundukkan pandangannya.
Baguslah, semoga kalian saling jatuh cinta. Sepertinya aku harus membuat kakak ipar lebih dulu jatuh cinta kepada kak Lio. Batin Adelia.
"Yang sabar kakak ipar mungkin ini jalan yang terbaik Tuhan untuk kakak ipar. Apa kakak ipar tidak bangga menikah dengan kak Lio. Kakakku pria idaman loh dan kakak ipar wanita yang paling beruntung bisa menikah dengan Kak Lio" ucap Adelia sambil merapikan cadar Rania.
Wanita paling beruntung! heh akulah wanita yang paling terburuk menikah dengan musuhku. Batin Rania.
"Terima kasih kamu selalu menghibur ku, insyaallah aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik untuk kakak mu" ucap Rania pasrah.
"Aamiin, cepat buat kak Lio jatuh cinta kepada mu kakak ipar. Maka apapun yang kakak ingin kan akan terwujud dengan cepat, semuanya bisa dikabulkan kak Lio." ucap Adelia antusias yang kembali memberikan ide bagus untuknya.
Benarkah, aku sangat merindukan mama, aku ingin kami berkumpul bersama-sama, mama, kak Raka, aku sangat menyayangi mereka. Apapun akan kulakukan demi bisa berkumpul bersama kalian.
Baiklah, aku akan membuat kakak mu jatuh cinta kepada ku, semoga Tuhan selalu memberiku jalan terbaik, aamiin. Batin Rania.
"Benarkah, dia akan mewujudkan keinginan ku?" tanya Rania dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Seribu yes, kak Lio jika mencintai seseorang maka apapun akan dia korbankan termasuk nyawanya sendiri demi orang yang dicintainya. Jadi kakak ipar bisa mendapatkan apapun dengan syarat jika kak Lio sudah jatuh cinta kepada kakak ipar" ucap Adelia tersenyum.
"Baiklah, aku akan mencobanya. Tapi, aku tak bisa bergerak tanpa bantuan mu" ucap Rania sambil memegang pundak Adelia.
"Insyaallah, aku akan membantumu kakak ipar. Tapi tidak untuk sekarang, karena aku harus mengikuti serangkaian acara pernikahan ku."
"Oke calon pengantin." ucap Rania lalu berhambur memeluk Adelia.
Mereka saling berpelukan bersama layaknya sahabat akrab. Setelah itu mereka berjalan bersama-sama menuju ruang makan untuk sarapan bersama dengan anggota keluarga lainnya.
Selesai sarapan, Adelio mengajak Rania untuk ikut bersamanya menemui orang tuanya yang tengah bersantai di halaman belakang melihat para pekerja mempersiapkan acara nanti sore.
"Ayah bunda ada sesuatu hal yang ingin ku sampaikan_" ucap Adelio yang menjeda ucapannya karena menyadari Rania tak berada di samping nya
"Duduk dulu" ucap Darren tersenyum.
Adelio mengedarkan pandangannya dan melihat Rania tengah membantu pelayan wanita yang kesusahan membawa barang bawaannya. Setelah itu, barulah Rania menghampiri mereka.
"Ada apa nak?" tanya Ziva penuh curiga karena masih melihat keberadaan Rania di kediamannya pagi ini.
"Kami memutuskan untuk tidak bercerai." ucap Adelio yakin.
"Alhamdulillah, syukurlah, ayah dan bunda senang mendengarnya" ucap Darren tersenyum begitu halnya dengan istri tercintanya.
"Kami mencoba untuk introspeksi diri dengan kesalahan yang pernah kami perbuat. Tidak menjamin semuanya akan kembali seperti sedia kala manakala kami mengorbankan pernikahan yang seumur jagung ini. Kami akan mencoba belajar dari kesalahan dan mencoba menerima kekurangan satu sama lain. Insyaallah, aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik untuk suamiku" ucap Rania sambil menundukkan pandangannya yang berhasil membuat Adelio tercengang mendengar ucapannya.
Lumayan juga akting gadis gila ini. Pandai juga bersilat lidah di hadapan orang tuaku. Kita lihat saja, apa ucapan mu bisa dibuktikan atau tidak. Batin Adelio.
"Ayah setuju dengan ucapan Rania, kalian perlu introspeksi diri dan saling bermaafan. Apa kalian tidak ingin ikut merayakan resepsi pernikahan kalian?" tanya Darren.
Adelio dan Rania saling pandang mendengar ucapan ayahnya lalu mereka segera buang muka.
"Tak perlu ayah" tolaknya dengan kompak
Ziva dan Darren tertawa bersama mendengar kekompakan mereka.
Mereka lalu undur diri sambil bergandengan tangan dari hadapan orang tuanya.
"Ingat hukuman mu!" ucap Adelio geram sambil menghempaskan tangan Rania lalu berjalan ke halaman depan.
"Iya-iya, sana pergi" gumam Rania lalu berbelok arah masuk ke rumah utama.
Bersambung.....
Terima kasih atas dukungannya teman-teman ššš
__ADS_1