
Adelio mengambil kunci mobilnya di atas nakas. Pandangannya dialihkan ke arah kamar mandi yang masih tertutup rapat. Setelah yakin bahwa gadis itu masih bersembunyi di dalam sana, dia pun memilih keluar dari kamarnya.
Adelio berencana ke markas besarnya. Beberapa menit yang lalu, Kendrick mengabarinya bahwa misinya berhasil. Seluruh keluarga Rania sudah diamankan. Raka dan Min sudah ditangkap dan sedang berada di markas besar The Lion X. Ibu tercinta Rania dan pamannya akan diasingkan sejauh mungkin dari negara C. Kebetulan pagi tadi ibu tercinta dan pamannya kembali ke negara C.
Saat tiba di negaranya, segerombolan orang yang merupakan anggota The Lion X langsung membawanya paksa untuk diasingkan sejauh mungkin dari negara C. Namun sayangnya, sang paman berhasil kabur dari orang-orang yang ingin membawanya pergi. Sehingga hanya ibu Rania yang mereka bawah sejauh mungkin dari kota negara C.
Mereka tidak melakukan tindak kekerasan kepada ibu dua anak itu. Memisahkan dari keluarganya seumur hidup, akan dijalani oleh ibu dua anak itu. Semua yang dialaminya akibat dari perbuatan anak-anaknya.
Adelio membanting pintu kamarnya dan segera melangkahkan kakinya menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Lagi-lagi langkahnya terhenti saat mendengar ponselnya berdering.
Adelio segera mengambil ponselnya dari saku celananya, dan langsung melihat nama panggilan masuk yang tertera di ponselnya.
Hanya mengacuhkan panggilan masuk tersebut dan sama sekali tak ingin mengangkat panggilan dari pria yang akan menikahi kembarannya. Namun lagi-lagi si penelpon terus menerus menelpon Adelio hingga beberapa kali. Dengan terpaksa Adelio mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Untuk apa menelpon ku!" ucap Adelio dingin.
"Aku minta maaf tidak bisa melindungi calon istri ku. Berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahanku. Biar aku yang bertindak menghancurkan orang-orang yang sudah membuat Lia ku celaka" ucapnya lirih di ujung telepon yang berusaha keras mengontrol emosinya.
"Tak perlu, aku_"
Adelio tidak melanjutkan ucapannya, Malfin kembali memotong ucapannya.
"Aku sudah berada di markas mu. Aku sendiri yang akan menyiksanya secara perlahan. Selama Lia ku koma!, selama itu pula penyiksaan yang akan dia rasakan sampai ajal menjemput nya" ucap Malfin menggebu-gebu dan saat ini juga akan memberikan kehidupan seperti neraka bagi seorang Raka dan wanita kepercayaan Rania, yaitu Min Min.
"Kamu pikir_"
"Percayalah kepadaku, berikan titah mu untuk menghukumnya, bukankah kita keluarga" potong Malfin yang tidak akan tinggal diam, sebelum tangannya sendiri yang menghukumnya.
Adelio berfikir sejenak, hingga pada akhirnya menyetujui ucapan Malfin.
"Baiklah, lakukanlah yang ingin kau lakukan kepada penjahat itu. Sedari dulu, dia berusaha untuk membunuh kembaran ku. Dan satu lagi, aku setuju dengan pendapat mu, jangan membunuhnya terlebih dahulu, sebelum mendapatkan penyiksaan dari mu" ucap Adelio dingin lalu memutuskan panggilan secara sepihak.
__ADS_1
Kini Malfin sudah berada di markas besar Adelio. Satu jam yang lalu dia baru tiba di negara A, sekitar 3 jam perjalanan ke negara A, akhirnya mampu menginjakkan kakinya di tanah kelahiran calon istrinya.
Malfin mendapatkan kabar kecelakaan Adelia dari ibu tercinta nya. Sungguh dia begitu syok mengetahui bahwa calon istrinya sedang terbaring koma di rumah sakit.
Kepulangannya sungguh memberikan kepedihan mendalam baginya, dengan kabar buruk yang menimpa Adelia, calon istrinya. Tanpa menunggu lama, dia kembali melakukan perjalanan pulang ke negara A menggunakan jet pribadi milik orang tuanya.
Setibanya di negara A, Malfin kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit tempat Adelia di rawat. Dari kejauhan, tepatnya di depan pintu ruang perawatan Adelia, dia mampu menyaksikan calon istrinya terbaring koma di atas tempat tidur yang didampingi oleh kedua orang tuanya.
"Sabar nak, ini semua ujian. Kita hanya perlu mendoakan kesembuhan Adelia" ucap Milan sambil mengelus punggung putranya.
Mereka bersama hanya bisa melihat Adelia lewat jendela kaca transparan di samping pintu ruang perawatan Adelia. Berhubung hanya keluarga terdekat saja yang boleh menjaganya, yakni kedua orang tua Adelia.
Malfin tak mampu berkata-kata melihat kondisi Adelia saat ini. Dia berharap Adelia segera sembuh dan bisa mendengar kembali rengekan dan tawa dari gadis itu. Dia ingin Adelia selalu diberikan kebahagiaan.
Cukup lama Malfin menatap Adelia di dalam sana. Dia merasa bersalah tak mampu menjaga calon istrinya, sampai-sampai Adelia harus menanggung penderitaan dari balas dendam musuh orang tuanya.
"Sebaiknya papa membawa mama pulang ke rumah. Lihatlah, mama sangat lelah dan butuh istirahat, aku tidak ingin kalian jatuh sakit. Kita hanya perlu bersabar dengan musibah ini. Semoga Adelia cepat sembuh dan kembali berkumpul bersama kita" ucap Malfin yang juga mengkhawatirkan kondisi orang tuanya.
"Baiklah nak, besok pagi kami akan kembali menjenguk Adelia dan terus memberikan dukungan kepada kedua orang tuanya untuk tetap bersabar menjalani ujian ini" ucap Fino yang merasa putranya sudah dewasa dalam menyikapi masalah keluarganya.
Setelah itu, barulah Malfin bergegas masuk ke dalam mobilnya.
"Niko, ke markas The Lion X. Aku sendiri yang akan menghukum orang yang sudah membuat Lia ku celaka"ucap Malfin sambil mengepalkan tangannya.
Beberapa menit yang lalu, orangnya memberinya kabar bahwa ketua mafia The Lion X menggila menghancurkan seluruh keluarga musuhnya. Yakin dan percaya, dia sangat tahu betul tabiat sepupunya seperti apa. Tak mungkin langsung menghabisi nyawa musuhnya secepat itu.
Kini Malfin sudah berada di markas The Lion X. Seluruh anggota The Lion X sama sekali tak mempermasalahkan kehadirannya. Terlihat Kendrick baru saja keluar dari ruang bawah tanah tempat Raka ditahan saat ini.
"Buka pintunya, aku sendiri yang akan menghukumnya!" ucap Malfin dengan raut wajah sulit diartikan.
"Apa anda sudah_"
__ADS_1
"Ketua The Lion X yang memberikan titah untukku menghukumnya" ucap Malfin dengan suara lantang.
Kendrick segera menundukkan pandangannya dan memberi kode kepada anak buahnya untuk membuka pintunya. Malfin segera masuk ke dalam ruang bawah tanah dengan wajah beringasnya yang sudah haus darah untuk menghajar dua insan di dalam sana.
Sementara Adelio kembali masuk ke dalam kamarnya. Rania baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kemarilah, kau akan menyaksikan tontonan gratis di kamar ini" ucap Adelio menyeringai.
Adelio duduk di sofa sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Tangannya menekan remote tv yang berada di atas meja. Tak berselang lama muncullah tontonan yang ingin dipertontonkan kepada istrinya.
Rania yang masih berdiri di tempatnya hanya mampu menutup mulutnya melihat tontonan gratis Adelio.
Tampak Raka dan Min sudah disiksa habis oleh ketua The Tiger. Jika kedua Raja mafia itu beraksi maka habislah kalian. Rania langsung merosot ke bawah melihat tontonan gratis itu.
Adelio mengalihkan pandangannya melihat kearah gadis itu yang sepertinya sudah tak mampu melawannya.
"Mengapa kau harus menghukum mereka. Biar aku saja yang menanggung nya. Tolong hentikan, jangan menghukum kak Raka seperti itu" ucap Rania sambil menundukkan pandangannya.
Raka sudah babak belur dihajar habis-habisan oleh ketua The Tiger. Cambukan pukulan terus melayang di tubuhnya.
"Aku akan bersedia melakukan apapun demi membebaskan hukuman mereka" ucap Rania yang terdengar memohon.
"Kau pikir akan bebas dari ku, kau juga akan menanggung akibatnya" ucap Adelio dingin lalu bangkit dari duduknya.
"Tolong hentikan, jangan menyiksa kak Raka. Apapun yang ingin kau lakukan kepadaku, aku siap menanggung nya" ucap Rania yang mulai bersimpuh di kaki Adelio.
Aku rela melakukan hal gila ini demi kak Raka. Kalian memang kejam. Batin Rania.
Rania terus memohon-mohon dibawah kaki Adelio. Seumur hidupnya, dia tak pernah melakukan hal gila itu untuk membebaskan orang disekitarnya.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like, love komen dan vote yang banyak
Terima kasih šš š