
Dokter baru saja memeriksa kondisi Adelia secara keseluruhan. Dokter wanita itu tersenyum dengan kemajuan yang dialami pasiennya. Melihat reaksi yang dilakukan gadis koma itu mulai menggerakkan jemari tangannya, hingga samar-samar mata indahnya perlahan terbuka yang berarti pasiennya sadar dari koma nya.
Cahaya dunia kembali terang-terangan menyapa gadis cantik itu. Mata indahnya masih berusaha berkelana menatap langit-langit ruangan itu. Perlahan tangan kanannya dia gerakkan, namun beberapa saat, dia pun meringis kesakitan saat jarum infus menekan permukaan kulitnya.
Tiba-tiba kepalanya kembali berputar hebat, dia pun merasakan pusing atau nyeri kepala, hingga akhirnya gadis itu memilih memejamkan matanya. Gejala tersebut sering dialami oleh penderita geger otak (amnesia) yang saat ini tengah dia derita.
"Syukurlah, anda sudah sadar. Jangan terlalu dipaksakan nona , rileks aja, kondisi anda saat ini belum stabil" ucap Dokter wanita itu memperingatkan sambil memancarkan senyuman ramah.
Sementara seluruh keluarga Adelia tampak harap-harap cemas di depan pintu ruang perawatan, mereka berharap kondisi Adelia segera membaik.
Adelio terus saja menghembuskan nafasnya dengan kasar melirik jendela kaca transparan itu. Sedangkan Malfin duduk tenang di kursi tunggu yang terus saja mendoakan kesembuhan Adelia.
Dokter wanita yang bernama Tias, kembali mengecek mata, denyut jantung dan denyut nadi pasiennya, karena hal tersebut berakibat pada naiknya tekanan darah pasien saat mengalami gejala pusing dan bisa saja berakibat fatal dengan kembali terjadinya pendarahan pada otak pasien.
Adelia berusaha tenang dengan tubuhnya yang masih lemas. Setelah itu, dia pun kembali berpikir sejenak, mengapa dirinya berada di sebuah ruangan bernuansa putih dan dirinya pun tengah memakai baju pasien, ditambah tangannya juga sedang diinfus.
Banyaknya alat medis tampak menghiasi ruangan itu, hati kecilnya meyakinkan bahwa dirinya sedang dalam perawatan di rumah sakit.
"Apa yang terjadi pada ku dok?" tanya Adelia dan kembali berusaha mengingat kejadian yang menimpa dirinya.
"Anda habis mengalami kecelakaan hingga harus dirawat di rumah sakit ini nona. Selama seminggu anda mengalami koma, dan Alhamdulillah hari ini, akhirnya anda terbangun dari tidur panjang. Kami akan berusaha memberikan yang terbaik untuk nona " ucap Dokter Tias ramah.
Adelia terdiam sejenak, dengan kondisi yang belum juga stabil. Dia kembali berusaha mengingat kejadian yang terjadi pada dirinya, namun lagi-lagi nyeri kepala nya kembali menyerangnya.
"Akkhhhh"
Dokter kembali mengobservasi pasiennya untuk mengamati keluhan dan tanda-tanda vital nya. Setelah selesai, dokter meminta keluarga pasien untuk menjenguknya.
Bunda Ziva dan ayah Darren terlebih dahulu masuk ke ruang perawatan Adelia. Sekaligus dokter yang menangani Adelia ingin menyampaikan perihal kondisi pasiennya kepada orang tua yang bersangkutan.
Kini ayahnya sedang mengobrol bersama dokter tias di sofa ruangan tersebut. Darren hanya manggut-manggut mendengar seluruh penjelasan dokter Tias perihal kondisi putrinya.
"Saat ini, kondisi nona Adelia belum stabil. Kemungkinan besar hanya beberapa hal yang mampu dia ingat. Jadi tolong jangan membuatnya terus berpikir keras mengingat kembali ingatannya. Teruslah berikan kasih sayang kepadanya bahwa dirinya baik-baik saja" ucap Dokter Tias menjelaskan.
"Baik dok" ucap Darren serius dengan kondisi putrinya.
__ADS_1
"Ya sudah, saya permisi dulu" Ucap Dokter Tias tersenyum, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
“Ayah, bunda” ucap Adelia dengan tatapan sendunya yang masih mengingat kedua orang tuanya.
“Alhamdulillah, syukurlah, kamu sudah sadar sayang” ucap Ziva penuh syukur lalu segera berhambur memeluk putrinya.
Darren segera menghampiri putrinya, dia pun menarik kursi di samping tempat tidur putrinya dan segera duduk. Mereka pun mulai melepas rindu dan mengobrol bersama.
Darren dan Ziva begitu bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan putrinya. Pasangan suami istri itu begitu terharu dan dilanda perasaan bahagia.
Dokter tias tersenyum ramah melihat kedua pemuda tampan yang tengah mondar-mandir di depan pintu ruang perawatan Adelia.
“Bagaimana kondisi Adelia dok?” tanya Malfin yang dengan cepat menghentikan langkah dokter tersebut.
“Saat ini pasien sudah sadar dan kondisinya sudah membaik, hanya saja, ingatannya tak bisa bekerja dengan normal. Beberapa ingatannya mungkin tidak bisa dia ingat dengan baik, jadi tolong jangan pernah memaksakan pasien untuk mengingat kembali masa lalunya” ucap dokter Tias menjelaskan.
"Syukurlah, pasti dok, kami tidak akan membuatnya terus mengingat masa lalunya" ucap Malfin dengan perasaan lega.
Dokter Tias bersama suster nya segera undur diri dari hadapan mereka.
Malfin dan Adelio merasa lega mendengar penjelasan dokter Tias, mereka pun bergegas masuk ke dalam ruang perawatan Adelia untuk melihat secara langsung kondisi kesayangan keluarga Alexander.
“Bunda, siapa mereka?” tanya Adelia yang tidak mampu mengenali kedua pemuda tampan itu.
“Ini Adelio kembaran kamu sayang, kamu sering memanggilnya kak Lio” ucap bunda Ziva tersenyum yang mencoba menjelaskan dengan pelan, berharap putrinya masih mengenalinya.
Adelio menatap kembarannya dengan penuh kasih sayang, antara seorang kakak terhadap adiknya. Pasalnya selama seminggu dia begitu mengkhawatirkan kondisi kembarannya.
“Lia” ucap Adelio, lalu segera mendekati kembarannya.
Adelia hanya tersenyum hangat. Dan tanpa basa-basi Adelio langsung memeluk kembarannya dengan penuh kasih sayang yang saat ini sedang diselimuti perasaan haru bercampur bahagia.
“Kak Lio” ucap Adelia tersenyum yang belum bisa membalas pelukan kembarannya, karena seluruh tubuhnya masih lemas.
“Aku sama sekali tidak bisa mengenali kak Lio, aku seperti tidak pernah melihat kak Lio hingga dewasa seperti ini. Kemana saja kak Lio selama ini? “ ucap Adelia tersenyum yang merasa asing dengan kembarannya.
__ADS_1
Adelio hanya tersenyum tipis tanpa menimpali ucapan nya. Saat ini dia merasa lega melihat kembarannya sudah sadar seperti sedia kala. Malfin hanya mampu tersenyum melihat kakak beradik itu, dia pun merasa lega bisa mendengar kembali suara lembut Adelia.
Adelio membelai wajah kembarannya dengan mata berkaca-kaca, hingga dia pun memilih menundukkan pandangannya, karena tiba-tiba air mata bahagianya ikut menetes dengan sendirinya.
Adelio tak ingin kembarannya dan keluarganya melihatnya meneteskan air mata. Sungguh dia akan terlihat lemah dihadapan mereka. Sementara kedua orang tuanya, Darren dan Ziva diam-diam juga meneteskan air mata bahagianya.
“Jangan sakit lagi, kakak tidak bisa melihatmu menderita” ucap Adelio yang masih menundukkan pandangannya dengan perasaan campur aduk.
“Jangan khawatir kak Lio, sekarang aku baik-baik saja. Oh iya, aku jadi rindu saat kita berkuda bersama ayah dan bermain voly di halaman belakang. Ha ha ha… pada saat itu bola voly nya mengenai hidung kakak hingga kakak menjadi mimisan” ucap Adelia antusias sambil tertawa renyah.
Seluruh keluarganya hanya mampu tersenyum mendengar suara Adelia yang begitu ceria. Mereka yakin bahwa ingatan Adelia hanya tertuju duabelas tahun yang lalu, dimana saat itu Adelio dan Adelia masih remaja dengan umur belasan tahun.
Adelio tersenyum tipis mendengar ucapan kembarannya. "Karena kamu curang saat itu" ucap Adelio sambil mencolek gemas hidung mancung Adelia.
"Lio!" ucap Ziva yang memperingatkan putranya untuk tidak menggangu adiknya.
Sedangkan Adelio hanya tertawa bersama dengan Adelia. Malfin ikut tersenyum melihat keakraban saudara kembar itu.
“Tunggu dulu, kak Lio siapa pemuda yang berdiri di samping ayah?” bisik Adelia yang tak sengaja pandangannya tertuju ke arah Malfin, dan parahnya sama sekali tidak mengenali Malfin.
“Dia Malfin, saudara kita” ucap Adelio yang juga melirik ke arah Malfin.
“Ooh, aku sering mendengar namanya, tapi aku sama sekali tak kenal orangnya” ucap Adelia dan kembali menatap ke arah Malfin.
Sedangkan Malfin hanya mampu tersenyum hangat menatapnya.
“Aku sangat senang melihatmu Adelia, semoga kamu cepat sembuh” ucap Malfin tersenyum ramah.
Adelia hanya diam sambil menundukkan pandangannya, entah mengapa dia merasa risih dengan senyuman hangat Malfin.
“Lia, kamu tidak ingat siapa pemuda di samping ayah?” tanya Darren.
“Mas, jangan membuat Lia kembali berpikir keras” cegah Ziva cepat.
Adelia hanya menggeleng bingung, pasalnya dia memang tidak tahu Malfin saat ini. Darren segera mengalihkan pembicaraan nya mengingat ucapan dokter dan istrinya ada benarnya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak 🙏🙏🙏