
Malam harinya......
Adelio merasa aneh dengan sikap kedua orang tuanya yang begitu memanjakan Rania. Adelio menjadi iri karena perhatian kedua orang tuanya teralihkan kepada Rania.
"Makan yang banyak nak, bunda masak makanan kesukaan kamu."
"Bagian ayah untuk Rania saja bunda."
"Bagian aku juga, untuk kakak ipar saja. Kakak ipar makan yang banyak ya biar sehat dan kuat."
Seperti itulah keanehan yang terjadi di meja makan. Biasanya suasana di meja makan tak pernah ada obrolan, hanya saling diam-diaman yang sering terjadi saat makan malam bersama dengan keluarganya.
Adelio masuk ke dalam kamarnya yang selalu saja memasang wajah datar. Dan kembali terkejut melihat keberadaan Rania yang tengah berbaring di atas tempat tidur.
" Apa lagi rencana gadis gila ini kepada kedua orang tua ku sampai-sampai mereka begitu memperhatikannya!" gumam Adelio kesal, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih.
Rania menggeliat hebat mengubah posisinya ke kiri ke kanan yang sedang diselimuti perasaan bahagia. Bagaimana tidak, semua orang begitu memperhatikannya, menyayanginya dan begitu menjaganya.
Hampir saja dia menangis tersedu-sedu di meja makan melihat perhatian seluruh anggota keluarga Adelio kepadanya, namun dia berusaha untuk tersenyum dan tak in'gin merusak momen penting itu.
"Aku benar-benar bahagia, semua orang begitu memperhatikan ku. Ayah dan bunda dengan penuh kasih sayang kembali mengantar ku ke kamar. Mereka sangat baik, aku benar-benar bersyukur menjadi bagian dari keluarga Alexander" ucap Rania dengan mata berkaca-kaca.
Rania kembali mengelus perut ratanya sambil tergelak tawa bahagia. Rania tak bisa membayangkan jika perutnya sudah menonjol.
"Penampilan ku pasti berubah seratus delapan puluh derajat jika perutku sudah menonjol. Tubuh ku pasti melebar, pipiku menjadi chubby dan bayi dalam kandungan ku akan bergerak-gerak, aaaahhhhh, aku tak bisa membayangkannya... ha ha ha" ucap Rania sambil tergelak tawa.
Adelio keluar dari kamar mandi yang sudah mengenakan piyama tidur nya. Adelio mengerutkan keningnya melihat tingkah laku Rania yang tampak aneh membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan tak lupa menutup wajahnya menggunakan bantal.
"Dasar gadis gila!" gumam Adelio, kemudian berjalan mendekati tempat tidur.
Adelio bersikadap menatap tajam Rania yang tengah asyik dengan dunianya.
"Ha ha ha ha, aku jadi gemes jika memilikinya" ucap Rania sambil tergelak tawa yang tengah menutup wajahnya dengan bantal.
Adelio membungkukkan badannya lalu menarik bantal yang digunakan Rania menutup wajahnya. Raut wajah Rania berubah masam melihat Adelio. Sedangkan Adelio menyeringai yang tengah menatap Rania.
"Apa yang sudah kamu perbuat sampai-sampai kedua orang tua ku begitu memperhatikan mu hah!" ucap Adelio dingin.
Rania memilih tak menimpali ucapan Adelio, dia masih kesal kepada Adelio yang hampir mencelakai janinnya. Rania memeluk guling sambil menyembunyikan wajahnya yang tak ingin menatap wajah Adelio.
"Hei aku sedang berbicara dengan mu, mengapa kamu menjadi bisu" ucap Adelio kesal dan kembali mengambil guling Rania.
__ADS_1
Rania terus saja diam dan kembali menutup wajahnya dengan selimut, membuat Adelio tambah kesal. Adelio kembali menarik selimut yang menutupi tubuh Rania lalu membuangnya di lantai.
Rania memilih duduk di tempat tidur sambil berusaha menggeser tubuhnya untuk turun dari tempat tidur, namun Adelio kembali menghentikannya sambil mencengkram tangannya yang sudah berada di tempat tidur.
"Lepas, aku mau turun" ucap Rania pelan saat tangannya kembali di cengkram kuat.
"Ayo jawab!" bentak Adelio sambil melepaskan cengkraman tangannya.
"Aku sudah malas berdebat dengan mu, tolong jangan menyakiti ku. Aku sudah capek terus dibentak-bentak olehmu, aku hanya ingin tenang dan damai berada di dalam kamar mu. Jika kamu memintaku untuk tidur di luar, baiklah aku akan melakukannya tuan Adelio" ucap Rania sambil mengatupkan kedua tangannya.
Adelio hanya menatapnya dengan tatapan membunuhnya.
"Aku hanya ingin bahagia bersama janinku, jika kamu sudah tak ingin melihat kami di dunia ini, ya sudah angkat pistol mu lalu bunuh kami" ucap Rania dengan isak tangisnya sambil menundukkan pandangannya.
Adelio kembali mencengkeram dagunya. Jelas sekali, dia mampu melihat air mata Rania bercucuran membasahi wajahnya.
Deg!
Adelio kembali teringat kenangan bersama kembarannya.
"Jangan pergi kak Lio hiks hiks hiks.... jangan tinggalkan aku...hiks...hiks..hiks."
Adelio segera melepaskan cengkeraman tangannya dan memilih membelakangi Rania. Bayangan masa lalunya bersama Adelia kembali mengingatkannya melalui sosok Rania.
Adelio memilih berdiam diri di balkon kamarnya sambil menikmati udara dingin di malam hari. Pikirannya kembali terganggu dengan bayangan masa lalu yang selalu dia kubur selama ini.
Sementara Rania dengan kesalnya menghapus air matanya dan kembali meringkuk di tempat tidur. Rania masih saja terisak, dia menjadi mewek jika kembali mengingat ucapan Adelio yang membuatnya sakit hati.
Cukup lama Adelio menatap langit malam, hingga akhirnya dia memilih masuk ke dalam kamar nya.
Adelio masih saja mendengar isak tangis Rania. Adelio berjongkok mengambil selimut yang masih berserakan di lantai, kemudian menyelimuti tubuh Rania.
"Hentikan tangis mu atau aku menghentikannya dengan cara lain" ancam Adelio yang tengah duduk di pinggir tempat tidur.
Rania berbalik badan lalu memilih duduk di atas tempat tidur, dengan nyali hebat Rania memukul punggung Adelio.
"Kamu jahat, pria kejam, aku bahkan sudah mengandung darah daging mu, tapi tetap saja kamu kejam kepadaku. Keluarga mu bahkan begitu bahagia atas kehamilan ku, sedangkan kamu ingin berusaha membunuh kami" ucap Rania dengan isak tangisnya sambil memukul punggung Adelio, sedangkan Adelio hanya diam tanpa melakukan perlawanan.
Setelah melihat Rania sudah puas memukuli nya, Adelio segera menarik tubuh Rania masuk ke dalam pelukannya. Rania langsung terlonjat kaget hingga membulatkan matanya dengan tingkah laku Adelio.
Adelio memeluknya dengan eratnya, membuat Rania bertanya-tanya dalam hati dengan sikap aneh suaminya. Cukup lama Adelio memeluk Rania hingga terdengar suara Rania yang meringis kesakitan.
__ADS_1
"Awwww, lepaskan pelukan mu, perutku menjadi sakit" gumam Rania sambil meringis kesakitan.
Adelio segera melepaskan pelukannya.
"Mana yang sakit" ucapnya dingin.
Rania dengan ragu menunjuk perutnya yang tadi terbentur pintu.
Adelio dengan hati-hati menyentuh perut Rania. Namun, Rania memilih menghindarinya.
"Tolong, jangan menyentuh ku" ucap Rania yang tak ingin perutnya di sentuh Adelio.
Rania segera membaringkan tubuhnya, Adelio tampak diam seribu bahasa melihat penolakan Rania. Namun Adelio kembali mencobanya. Adelio mengambil salep luka yang sangat diyakini milik Rania.
"Aku akan mengoleskan salep luka ini. Jadi jangan membantahku" ucap Adelio dingin, kemudian kembali menyentuh perut Rania.
Rania hanya diam saat jemari tangan Adelio mengibaskan piyama tidurnya lalu mulai mengolesi salep luka di perutnya. Pandangan mata Rania terus saja tertuju pada wajah Adelio hingga pandangan mata mereka bertemu.
Rania tersipu malu dan segera buang muka. Adelio tersenyum tipis melihat gelagat Rania yang diam-diam curi pandang kepadanya.
Mengapa dia jadi berubah seperti ini. Aku jadi bingung dengan sikapnya. Batin Rania.
"Sudah, dan ini bayaran ku."
Cup
Adelio mengecup bibir ranum Rania, membuat Rania melotot tajam menatap Adelio.
"Dan satu lagi aku ingin melakukannya sebelum tidur" ucap Adelio sambil mengelus pinggang Rania.
"Tidak, perutku masih sakit dan aku mau tidur!" ucap Rania dengan rona wajah memerah mendengar ucapan Adelio yang kembali meminta jatah darinya.
Rania segera menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Adelio tersenyum sinis lalu ikut berbaring di sampingnya. Rania lagi-lagi dibuat stok jantung saat mendapati tangan Adelio melingkar sempurna di perutnya.
"Pelukan hangat untukmu" bisik Adelio di telinga Rania.
Rania tak menggubris ucapannya yang sedang berpura-pura tidur sambil mengatur debaran jantungnya. Tak ada jawaban, Adelio memilih ikut memejamkan matanya. Tidur sambil berpelukan membuat pasangan suami istri itu begitu nyaman.
Bersambung....
Jangan lupa, like love komen dan vote ya teman-teman ššš
__ADS_1
Terima kasih ššš¤