
Malam harinya…..
Adelio masih bersiap-siap di dalam kamarnya. Mengamati penampilannya yang tampak sempurna, membuat kaum hawa di luaran sana menjerit histeris ingin memilikinya menjadi pasangan sehidup semati. Kembali menyirir rambutnya ke belakang yang sudah mengkilap sempurna.
Pandangannya teralihkan saat mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar. Adelio segera mempersilahkan sang empunya masuk.
Tampak wanita paruh baya yang begitu disayanginya masuk menghampirinya.
“Apa kamu sudah selesai nak?”tanya Ziva kepada putranya.
Adelio hanya tersenyum sambil mengganggukan kepalanya. Ziva kembali merapikan setelan jas putranya dan menata ulang dasi hasil karya putranya.
Adelio tak menghiraukan ibunya kembali memakaikannya dasi. Dia bahkan teringat beberapa tahun yang lalu saat pertama kali memasuki dunia bisnis, dimana ibunya yang menyiapkan segala perlengkapan kantornya bahkan tidak segan-segan memakaikan dasi untuknya.
“Bunda sangat bahagia, sebentar lagi kamu ada yang urusin segala kebutuhanmu. Bunda sangat yakin Rania gadis yang baik dan bisa menjadi istri yang sempurna untukmu nak. Mantapkan hatimu untuk melamar Rania malam ini”ucap Ziva yang tengah memasangkan dasi putranya.
Adelio mengerutkan keningnya, bagaimana bisa ibunya menyebut dengan jelas nama Rania. Sementara Rania begitu menyembunyikan identitasnya selama ini.
Sungguh Adelio sama sekali tak percaya dengan semua ini. Apakah dia ketinggalan informasi? Hingga ibunya pun dapat mengetahui dengan jelas nama panggilan Rania.
Adelio kembali tersenyum hangat menatap ibunya.
Gadis yang bunda anggap baik adalah gadis licik dan penuh tipu muslihat. Semoga bunda tidak syok mengetahui sifat asli gadis yang akan ku nikahi.
“Selesai, ayo kita turun ke bawah. Yang lainnya sudah berkumpul di ruang tamu.”
Ziva tersenyum lalu menggandeng tangan putranya keluar dari kamar tersebut. Adelio hanya mampu mengikuti langkah ibunya.
Sementara Adelia masih saja betah di dalam kamarnya. Kali ini Adelia terlihat sangat berbeda, dengan balutan muslimah berwarna peach yang melekat sempurna di tubuh proporsionalnya. Adelia sangat cantik dan anggun malam ini, walaupun tak merias wajahnya, adelia tetap saja cantik natural.
Adelia duduk di kursi meja riasnya sambil menatap dirinya di dalam cermin. Sesekali Adelia menarik nafas dalam-dalam lalu di hembuskan dengan perlahan. Adelia mengalihkan pandangannya saat mendegar sebuah pesan masuk di ponselnya.
Adelia langsung membuka pesan masuk tersebut.
‘Selamat sayangku, semoga lamaranmu berjalan lancar’
Seperti itulah pesan masuk di ponselnya, pesan tersebut dari sahabat karibnya siapa lagi kalau bukan Reva. Adelia tersenyum membaca pesannya, lalu segera membalasnya.
‘Terima kasih va, aku doakan kamu segera menyusulku’
Hanya Reva yang mengetahui masalah pribadinya kali ini, karena tak sengaja Reva membaca pesan masuk di ponselnya dari sang bunda, yang memintanya pulang cepat perihal lamarannya malam ini. Sebenarnya Adelia dan Reva selalu berbagi cerita bersama. Jika Reva mendapatkan masalah tentang pekerjaan, dia segera meminta solusi kepada Adelia, begitu pula sebaliknya. Namun Adelia begitu tertutup mengenai masalah pribadinya, hanya urusan pekerjaan yang sering mereka curhatkan bersama.
Tok
Tok
Tok
“Permisi nona, tuan dan nyonya meminta anda turun ke bawah”ucap Bu Lastri yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
Adelia segera membuka pintu kamarnya dan langsung menyapa kepala pelayan.
__ADS_1
“Iya bik, sebentar lagi saya akan turun” ucap Adelia.
”Saya permisi dulu nona” ucap Bu Lastri dan segera undur diri.
Adelia mengagguk lalu menutup kembali pintu kamarnya. Adelia melangkah mendekati tempat tidurnya.
“Aku jadi gugup, siapakah pria pilihan ayah?”
Adelia kembali duduk di kursinya. Banyaknya rumor yang beredar bahwa dirinya sedang menjadi incaran para pengusaha untuk dijadikan sebagai istri.
Terlahir dari keluarga terpandang yang begitu disegani di kalangan pebisnis, membuat namanya menjadi topik pembicaraan. Banyak dari mereka membuat gossip miring tentang Adelia yang terlahir cacat hingga menyembunyikan wajahnya. Ada juga yang memuji-muji hanya untuk mencari muka dihadapan keluarganya dan masih banyak lainnya.
Untuk Rania sendiri belum juga bersiap-siap. Dia masih saja bermalas-malasan diatas tempat tidur. Membalut tubuhnya dengan selimut dan berulang kali gadis itu bersin-bersin. Tampaknya Rania terkena flu.
“Aduhh, aku sangat benci jika harus sakit begini. Mama, aku merindukanmu. Sungguh malang nasib anak gadismu sekarang."
Rania mengomel tak karuan sambil memegang erat selimut yang membalut tubuhnya.
Huachiiimm
Huachiiimm
“Kepala ku sangat berat, tubuhku terasa lemas badai”
Rania begitu malas dengan kondisi tubuhnya yang kurang fit.
“Si alligator dan seluruh keluarganya harus membayar rasa sakit yang ku alami.”ucap Rania kesal sambil meninju bantal guling dipeluknya.
“Obat, mana obatnya? aku harus meminum obat.” Rania mengulurkan tangannya menjangkau laci di sampingnya.
Pintu kamarnya terbuka lebar, tampak seseorang tengah berdiri di ambang pintu kamarnya. Dengan perlahan Rania mengerjapkan matanya untuk melihat orang tersebut. Namun pandangannya tak jelas, hanya bayangan remang-remang yang tengah berdiri di ambang pintu kamarnya.
“Siapa disana?”ucapnya dengan suara parau yang lagi terkena flu berat.
Orang itu segera mengunci pintu kamarnya, setelah itu mulai melangkah mendekatinya.
“Tuan putri, hiks hiks hiks, aku pikir tuan putri sudah tiada”ucap orang itu yang tidak lain adalah Min, bodyguardnya.
“Min”
Rania mengulurkan tangannya meraba tubuh Min, membuat Min kegelian.
“Hiks hiks jangan pegang-pegang saya seperti ini. Ha ha.. nanti anda salah pegang”ucap Min yang berusaha menahan tangis dan tawanya.
Bugh
“Bodoh, tak perlu menangisiku, sudah berapa kali aku katakan jangan memanggilku seperti itu”ucap Rania dengan kesalnya.
Rania kembali meninju perut bodyguarnya. Min menjadi bungkam dengan pukulan keras ketuanya dan segera menjaga jarak darinya.
“Kemari bodoh, aku jadi merindukanmu.”
__ADS_1
Rania meneriaki bodyguarnya dan sama sekali tak terlihat bahwa saat ini dirinya tengah sakit.
Min melangkah pelan mendekati tempat tidur lalu membungkukan badannya memeluk ketuanya.
“Nona”
“Min”
Mereka berpelukan bersama dengan suasana hati yang lagi mellow.
“Huaaa.. sebentar lagi aku akan menikah, aku bahkan belum menepati janji kepada paman. Dan papa pasti sangat kasihan kepadaku, karena aku akan menjadi istri dari musuhku” ucap Rania yang merengek kepada bodyguardnya. Layaknya seorang anak yang lagi merengek kepada ibunya.
“Sabar nona. Sepertinya pria itu memang jodoh anda. Sebenarnya saya tidak sengaja melihat tuan Raka dan Paman anda memasuki kediaman Alexander” ucap Min yang tengah membalas pelukan ketuanya.
“Apa! Kakak dan paman ada di rumah ini?” tanya Rania.
Min hanya mampu mengangguk sebagai jawabannya. Sedangkan Rania terlonjat kaget dan segera melepaskan pelukannya. Rania langsung melompat dari tempat tidur dan segera bersiap. Min hanya mampu membantunya bersiap.
Di ruang tamu….
Adelio dan keluarganya sudah berkumpul di ruang tamu. Adelio mengobrol bersama dengan oma dan opanya. Sementara Darren dan Ziva sedang menyambut kedatangan tamu nya yakni keluarga Rania. Tampak Raka, ibu dan pamanya saling bersalam-salaman dengan keluarga Alexander.
Raka terkejut melihat kehadiran Adelio di rumah itu, sosok yang selalu dihindarinya selama ini. Dia pikir Adelio takkan hadir di acara keluarganya sendiri. Adelio dan Raka sama sekali tak bertegur sapa, apalagi bersalaman. Ziva kemudian mempersilahkan mereka untuk duduk bersama.
Adelio hanya menatapnya sekilas dan terlihat acuh. Raka menyeringai melihat sikap Adelio kepadanya.
Kita lihat saja, setelah aku berhasil memiliki adikmu. Sudah kupastikan adikmu akan menderita.
Tak berselang lama kemudian, datanglah kerabat dekatnya, yakni keluarga Gamal. Ziva dan Darren menyambut hangat tamu-tamunya. Adelio, Tuan Alvin dan istrinya ikut menyambut hangat keluarga Gamal. Adelio dan Keynan Wijaya saling merangkul bersama. Mereka berteman baik dan menjadi rekan bisnis.
Raka dan pamannya mengerutkan keningnya melihat kehadiran keluarga Gamal. Namun mereka tampak tenang dan tak ingin gegabah.
Darren yang merupakan kepala keluarga mulai mempersilahkan mereka duduk bersama. Mereka mulai mengobrol bersama sebelum memasuki acara inti.
“Mohon maaf sebelumnya, kami masih menunggu kerabat dekat kami” ucap Darren yang mengigatkan mereka.
Tak berselang lama kemudian, datanglah kerabat dekatnya sekaligus tamu yang ditunggu-tunggu oleh mereka, siapa lagi kalau bukan keluarga Fino.
“Assalamualaikum, mohon maaf kami datangnya agak terlambat” ucap wanita paruh baya yang begitu ramah.
“Waalaikum salam. Mari, silahkan masuk mbak Milan” ucap Ziva yang langsung menyambut kedatangan keluarga Fino.
“Maaf bunda Ziva, kami agak telat. Kak Malfin dandanya kelamaan”ucap Morgan dengan candaannya yang tengah menyapa bibi nya.
Mereka lalu duduk di kursi yang sudah di sediakan untuk masing-masing keluarga. Malfin terkejut melihat kehadiran Raka dan Keynan di kediaman pamannya.
Apa mereka berdua ingin melamar Adelia?.
Bersambung....
Kira-kira siapa yang akan dipilih Adelia 😂
__ADS_1
Jangan lupa, like, love komen dan vote yang banyak 🤗
Terima kasih 🙏🙏🙏