Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Kau harus membayarnya


__ADS_3

Adelia melepaskan pelukannya dan kembali menangkup wajah Rania yang berderai air mata.


"Sudah, lupakan saja, anggap semuanya berlalu. Jangan terus terbebani. Aku selalu memaafkan mu apapun terjadi" ucap Adelia sambil menghapus air mata Rania.


"Kamu gadis baik hati, aku merasa malu berdiri di hadapan mu."


Rania menunduk mengatakannya dengan rasa sesak di dada.


"Kakak ipar, jangan lagi membahasnya. Aku ngambek nih" ucap Adelia yang berpura-pura kesal.


"Bolehkah aku memelukmu, aku ingin menjadi teman mu" ucap Rania sambil mengatupkan kedua tangannya.


Adelia langsung memeluknya. "Aku senang bisa menjadi teman kakak ipar" ucap Adelia sambil memeluk erat Rania.


"Bisakah kamu mengajariku tentang agama, aku ingin sekali belajar agama dengan mu" ucap Rania tertunduk malu.


"Ayo, aku siap menjadi guru agama untukmu kakak ipar."


Adelia tertawa renyah sambil merangkul pundak Rania. Mereka berjalan beriringan menuju perpustakaan di lantai dua.


Terlihat deretan buku tentang agama tersusun di meja Rania, mulai dari tuntunan sholat, Rukun iman, Kisah Nabi dan Rasul dan masih banyak lainnya. Sedangkan Adelia terus berjalan mencari buku yang belum lengkap menurutnya.


"Akhirnya dapat juga."


Adelia segera menghampiri Rania.


"Kita belajar dari tata cara berwudhu. Setelah kakak ipar paham, kita lanjutkan tata cara sholat lalu mempraktekkannya dengan benar" ucap Adelia menjelaskan.


Rania manggut-manggut mendengar ucapan Adelia. Kedua gadis bercadar itu terlihat begitu akrab, yang satu dengan tulus mengajarinya dan yang satu lagi begitu bersyukur bisa diajari oleh gadis berhati malaikat.


Dengan bantuan Adelia, Rania belajar bersungguh-sungguh tentang tata cara sholat seharian ini. Rania bahkan sedikit tahu tentang tata cara sholat, mereka pun mulai sholat dhuhur dan Ashar bersama di ruang mushola rumah utama.


Sholat bersama, makan bersama dan bercanda gurau, terlihat keduanya menjalin hubungan dengan baik layaknya kakak beradik.


"Terima kasih, sudah mengajariku sholat seharian ini" ucap Rania tersenyum.


"Sama-sama, aku sudah meminta Bu Lastri untuk membawa beberapa buku di kamar kakak ipar. Semoga kakak ipar lebih giat lagi belajarnya."


"Iya, aku akan mempelajarinya sebelum tidur. Sebaiknya kamu istirahat. Tinggal menghitung hari acara pernikahan mu akan segera dilaksanakan."


"He he he iya, aku ke kamar dulu kak" ucap Adelia dan mulai melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Rania hanya mampu menatap punggung Adelia hingga semakin menjauh. Kemudian dia pun melangkahkan kakinya menuju lantai tiga.


Malam harinya.....


Adelia duduk bersama dengan kedua orang tuanya untuk makan malam bersama. Hanya mereka bertiga duduk di meja makan. Mengingat Adelio berada di negara C dan kemungkinan besar malam ini baru pulang. Dan Rania sudah tak berani lagi makan malam bersama dengan keluarganya.


Sementara keluarga Malfin juga beberapa hari ini memilih menginap di kediamannya yang terletak di pusat kota negara A. Maklum ayah Malfin memiliki banyak aset di negara A.


Selesai makan malam bersama dengan kedua orang tuanya. Adelia kembali bersantai bersama mereka di ruang keluarga.


"Ayah lihat seharian ini kamu bersama Rania. Sepertinya ada proyek yang kalian kerjakan" ucap Darren yang tengah bersandar di kursi malasnya.

__ADS_1


"Biasa yah, kami seharian ini mengobrol bersama dan berbagi pengalaman bersama. Kebetulan kakak ipar sudah menjadi seorang istri, jadi sedikit membantu Lia belajar kedepannya" ucap Adelia tersenyum.


"Hemm, baguslah. Tapi, ada baiknya jika kamu berbagi pengalaman kepada Bunda" ucap Darren sambil melirik istrinya.


"Itu sudah pasti yah, bunda sosok wanita hebat Lia, bunda mampu berperan apapun untuk Lia, termasuk berperan sebagai sahabat Lia" ucap Adelia sambil memeluk lengan ibu nya.


Ziva hanya tersenyum sambil mengelus puncak kepala putrinya.


"Iya sayang, karena bunda mampu membaca pikiran kamu. Jadi bunda bisa berperan apapun untuk kamu."


Ziva tak lupa mencium puncak kepala putrinya.


"Aku jadi sedih dengan kakak ipar, masih pengantin baru tapi sudah ditinggal beberapa hari sama kak Lio" ucap Adelia lirih.


"Jangan ikut campur urusan rumah tangga mereka. Memangnya setelah menikah kamu tak ingin ditinggal pergi oleh Malfin...hemm" goda Ziva kepada putrinya.


"Ak-akuu... tidak akan membiarkan kak Malfin pergi seorang diri. Kemana pun dia pergi, aku akan ikut bersamanya" ucap Adelia gugup yang merasa terjebak sendiri dengan ucapannya.


"Bunda setuju dengan pendapat mu, seorang istri wajib mengikuti kemana pun suaminya pergi. Jangan pernah membantah ucapannya, layani dengan baik segala kebutuhannya, dan usahakan miss komunikasi kalian berjalan baik, demi membuat rumah tangga yang harmonis" ucap Ziva dengan nasihat nya.


"Insyaallah, Lia akan berusaha menjadi istri yang baik untuk kak Malfin" ucap Adelia tersenyum tipis, membayangkan nya saja membuatnya jadi senyum-senyum.


Selesai berbincang bersama, mereka memilih ke kamarnya masing-masing. Sedangkan gadis yang berusaha untuk hijrah tampak duduk di atas sajadah di dalam kamarnya. Kedua tangannya di angkat tinggi-tinggi untuk memanjatkan doa.


"Ya Allah, ampuni dosaku yang selama ini ku perbuat, dosa dalam arti perbuatan, ucapan baik secara lisan maupun tulisan dan sering terucap di dalam relung hatiku. Bukakan pintu hatiku untuk terus mengingat namamu. Selamatkan aku di dunia maupun di akhirat, dan jauhkan aku dari api neraka mu, hanya engkau yang maha pengasih lagi maha penyayang dan tempat kami meminta pertolongan aamiin....aamiin ya rabbal Al-Amin."


Rania berderai air mata memohon pengampunan pada sang pencipta atas dosa yang telah diperbuat selama ini. Sholat taubatan nasuha sudah dilaksanakannya dengan baik dan menjadi kunci utama untuk melangkah ke jalan yang benar.


Sementara Adelio dan sekretaris nya sedang dalam perjalanan pulang ke negara A. Adelio menggunakan jet pribadi keluarga nya selama melakukan perjalanan bisnis ke berbagai negara. Sekitar setengah jam perjalanan mereka tiba di bandara internasional negara A.


Tampak pramugari cantik mulai menghampirinya membawa minuman ginseng dan cemilan sehat.


"Silahkan di nikmati tuan" ucapnya dengan lirikan mata.


Adelio mengibaskan tangannya untuk menyuruh nya pergi. Namun Kendrick segera mengambil minuman ginseng tersebut.


"Sebaiknya anda meminum minuman ini. Sangat bagus untuk kondisi tubuh anda tuan" ucap Kendrick, lalu membukakan penutup botol minuman tersebut.


Adelio tanpa banyak bicara segera meneguk minuman ginseng itu. Rasa manis terasa menyapu tenggerokannya.


"Air."


Pramugari cantik tadi kembali memberikan air mineral untuknya. Tanpa curiga, Adelio segera membuka penutup botol air mineral itu yang sudah tidak tersegel lalu meneguknya perlahan hingga tandas.


Pramugari cantik itu menyeringai sambil menggigit bibir bawahnya menatap ke arah Adelio.


Pesawat jet pribadinya mendarat sempurna di bandara internasional negara A. Terlihat Adelio memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Kendrick tampak khawatir melihatnya.


"Apa anda baik-baik saja?" tanya Kendrick.


"Hemm, aku sedikit pusing, mungkin lelah seharian bekerja" ucap Adelio dan segera menuruni anak tangga pesawat.


Tampak di halaman bandara sudah ada dua unit mobil menjemput nya. Adelio berjalan beriringan dengan Kendrick sedangkan Pramugari cantik tadi kembali mengikutinya.

__ADS_1


"Aku sudah bersamanya" ucapnya pada erphone yang tertancap di telinga.


"Giring dia ke hotel terdekat."


"Ok"


Adelio masih saja memegangi kepalanya yang terasa berat hingga tak sengaja tersandung.


"Sebaiknya kita cari hotel terdekat saja. Saya khawatir dengan kondisi tuan."


"Pulang ke rumah utama" ucap nya.


"Serangggg..."


Entah dari mana asalnya, tiba-tiba sekelompok orang mulai menyerangnya. Anggota The Lion X yang berlalu-lalang di bandara segera turun tangan, sedangkan Kendrick segera membawa tuannya masuk ke dalam mobil.


"Bereskan mereka, jangan biarkan satu pun lolos" teriak Kendrick, lalu segera masuk ke dalam mobil dan langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut.


"Lebih cepat lagi Ken, aku bisa terbakar di dalam mobil ini" ucap Adelio yang terlihat lusu, keringat bercucuran di keningnya, raut wajahnya memerah bahkan matanya ikut memerah.


"Tenang tuan, sebentar lagi kita akan sampai."


"Minuman gila itu yang membuat ku seperti ini" ucap Adelio yang merasakan tubuhnya terbakar. Kendrick merasa curiga dengan ucapan ketua nya, sepertinya dia harus menyelidiki nya.


Hanya 15 menit mereka tiba di rumah utama. Entah seperti apa cara berkendara ugal-ugalan Kendrick. Adelio segera turun dari mobil, tampak pelayan wanita sudah berdiri di dekat pintu masuk.


Adelio segera berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai tiga. Tak butuh waktu lama, dia pun sudah berada di depan pintu kamarnya. Adelio berdengus kesal saat pintu kamarnya terkunci dari dalam.


Adelio segera menggedor pintu kamarnya dengan kesal. Namun tak kunjung di buka.


"Hei gadis gila buka pintunya" teriak Adelio dari luar sambil membuka beberapa kancing kemejanya, karena tubuhnya seperti terbakar.


Rania yang baru saja habis dari kamar mandi terkejut dengan gedoran pintu kamarnya. Rania melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12.00 waktu setempat.


Dengan langkah hati-hati, Rania membuka pintu kamarnya dengan ragu. Adelio berdiri di ambang pintu dengan mata memerah membuat Rania takut dan segera menundukkan pandangannya.


Adelio segera masuk dengan wajah ditekuk. Rania bergegas menutup pintu itu dan tak lupa menguncinya. Belum juga selesai, tubuh Rania langsung di dorong hingga membentur pintu itu.


"Apa kau ingin menguasai kamarku gadis gila!" bentak Adelio sambil mengurung tubuh Rania di pintu.


"Aku tak...._"


Adelio langsung membungkam bibir Rania dan mencium nya dengan r***s. Mata Rania melotot sempurna dengan serangan mendadak Adelio. Rania berusaha memberontak hingga ciumannya terlepas.


Adelio semakin kesal dengan penolakan Rania, dia pun langsung mengangkat tubuh Rania lalu menghempaskan nya di tempat tidur. Rania tampak ketakutan dengan sikap Adelio.


"Kau harus membayarnya." ucap Adelio dengan mata memerah sambil membuka satu persatu kancing kemejanya dan sepertinya sedang diselimuti nafsu birahi.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak šŸ™šŸ™šŸ™


Aku jadi gugup nulis bab selanjutnya 🤭

__ADS_1


__ADS_2