Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Kejutan untuk Malfin


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, seluruh pekerja di kediaman Alexander mulai beraktivitas. Kekompakan sang majikannya pun patut diajukan jempol.


Ziva dan Milan ikut turun tangan mengobrak-abrik dapur untuk membuat menu sarapan pagi, termasuk menantu tercintanya turut hadir di dapur. Walaupun hanya duduk diam sambil memberikan semangat untuknya.


Sementara pasangan suami istri yang selalu saja harmonis masih bersiap-siap di dalam kamarnya untuk berangkat kerja. Terlihat Malfin mulai bersiap mengenakan kemejanya, sedangkan Adelia masih berada di dalam kamar mandi entah apa yang sedang dilakukan di dalam sana.


Kurang lebih hampir satu jam Adelia berada di dalam kamar mandi dan terlihat wajahnya begitu was-was.


"Bismillah, semoga doaku diijabah oleh Allah, aamiin" gumam Adelia sambil bersandar di dinding.


Adelia kemudian mengeluarkan testpack yang sempat di beli di apotik. Wadah kecil yang berisi urine miliknya sudah tertampung, kemudian Adelia dengan hati-hati memasukkan testpack tersebut, lalu menunggu hasilnya.


Harap-harap cemas Adelia memejamkan matanya sambil memanjatkan doa menunggu hasil dari testpack tersebut. Sudah dua minggu dia telat datang bulan, namun Adelia begitu takut untuk mengeceknya, takutnya mengecewakan, sehingga dia terus menundanya.


Namun, pagi ini entah apa yang merasukinya hingga Adelia bersedia untuk mengeceknya lewat testpack yang beberapa hari yang lalu sempat dia beli.


Adelia melipat bibirnya sambil mondar-mandir di dalam kamar mandi. Setelah merasa yakin sudah waktunya, Adelia segera mengeluarkan testpack tersebut lalu mengibas-ngibaskan di udara.


Mata Adelia berkaca-kaca melihat dua garis merah terpampang nyata di testpack tersebut. Adelia menutup mulutnya yang langsung diselimuti perasaan haru.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah" ucap Adelia penuh syukur hingga air mata bahagianya ikut luruh.


Adelia terisak, namun senyuman terpancar di bibirnya. Adelia segera menghapus air matanya, kemudian mengelus perut ratanya. Adelia berusaha mengontrol dirinya dan tak ingin terlihat mencurigakan yang habis nangis.


Tak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi. Adelia segera memasukkan testpack tersebut di kotak kecil, kemudian bergegas keluar dari kamar mandi.


"Sayang, mengapa kamu belum juga bersiap?" ucap Malfin sambil memakai jasnya.


"Kak Malfin, aku tidak jadi ke rumah sakit" ucap Adelia memasang wajah memelas.


Malfin segera mendekatinya lalu menyentuh kening istrinya. Suhu tubuh Adelia normal-normal saja.


"Kenapa sayang, apa kamu kurang enak badan?" tanya Malfin khawatir. Seminggu yang lalu Adelia jatuh sakit dan tak beraktivitas selama tiga hari.


"Aku baik-baik saja kak" ucap Adelia tersenyum sambil menyentuh pundak suaminya.


"Syukurlah, ya sudah kamu istirahat saja sayang" ucap Malfin sambil mengelus puncak kepalanya.


Adelia mengangguk patuh. Malfin kemudian mencium keningnya lalu mengambil tas kerjanya. Adelia terus saja senyum-senyum sendiri.


Malfin mulai melangkahkan kakinya untuk keluar kamar, namun Adelia kembali menghentikan langkahnya.


"Kak Malfin" ucap Adelia dengan senyuman menghiasi bibirnya.


"Hemm" ucap Malfin sambil berbalik badan menatap ke arahnya.


"Kejutan untukmu" ucap Adelia sambil mengeluarkan kotak hadiah kecil yang sempat dia sembunyikan di saku bajunya.


Malfin mengerutkan keningnya melihat kotak hadiah tersebut. Malfin menghela nafas panjang lalu berjalan mendekati istrinya.


Semoga kejutannya tidak aneh-aneh seperti yang dulu-dulu. Batin Malfin.


Malfin mengambil hadiah tersebut sambil menatapnya sekilas.


"Kak Malfin, ayo buka kejutannya" ucap Adelia antusias dengan senyuman manis selalu saja terpancar.


Malfin sedikit ragu membuka hadiah yang merupakan kejutan untuknya. Lagi-lagi Malfin mengerutkan keningnya melihat benda tersebut, yang ibarat seperti bolpoin yang sering dia gunakan.


"Ini apa sayang, aku belum pernah melihatnya" ucap Malfin bingung melihat benda asing tersebut.


Adelia tepok jidat melihat reaksi suaminya, namun dia berusaha untuk tersenyum. Ternyata kejutannya sama sekali tidak dimengerti oleh suaminya

__ADS_1


"Kak Malfin.....benda ini menunjukkan bahwa_" ucap Adelia menjeda ucapannya.


"Katakan yang jelas sayang" ucap Malfin cepat yang mulai penasaran.


"Aku hamil" ucap Adelia tersenyum lebar.


Malfin menjatuhkan benda tersebut lalu berhambur memeluknya. Adelia tersenyum sambil membalas pelukannya. Malfin tak bisa berkata-kata mendengar kabar bahagia atas kehamilan Adelia.


Kehamilan Adelia merupakan anugerah terindah di dalam rumah tangganya.


"Terima kasih sayang, ini salah satu bukti cintaku padamu. Aku mencintaimu istriku, sangat mencintaimu" ucap Malfin dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tahu kak, aku juga sangat mencintaimu. Kita sudah dipercayakan oleh Tuhan memiliki momongan" ucap Adelia sambil mengelus punggungnya.


Mereka terus berpelukan mesra yang diselimuti perasaan haru. Doa, usaha dan kerja keras selalu mereka panjatkan setiap hari. Dan akhirnya membuahkan hasil sesuai yang mereka inginkan


Sementara di meja makan keluarganya sudah berkumpul. Adelio dan Rania begitu kompak memilih makanan kesukaannya. Tak berselang lama kemudian datanglah Malfin dan Adelia dengan wajah berseri-seri sambil bergandengan tangan.


Malfin dengan perhatiannya menarik kursi untuk diduduki istrinya, setelah itu barulah dirinya duduk. Semuanya sudah lengkap, seluruh keluarga Alexander mulai menikmati sarapannya dengan diam tanpa adanya pembicaraan.


Selesai sarapan bersama, Malfin mengumpulkan seluruh keluarganya di ruang keluarga. Malfin ingin menyampaikan pengumuman penting untuk keluarganya.


"Baiklah, ada satu hal yang ingin aku sampaikan" ucap Malfin sambil menatap ke arah Adelia yang duduk di pojokan.


Seluruh keluarganya mulai penasaran perihal pengumuman penting yang ingin disampaikan Malfin kepada mereka.


"Adelia hamil" ucap Malfin dengan bangganya mengumumkan kehamilan istrinya.


Seluruh keluarganya bersorak gembira dengan penuh syukur. Mereka berlomba-lomba memberikan selamat untuk Adelia.


"Alhamdulillah, selamat nak atas kehamilan mu" ucap Ziva dengan mata berkaca-kaca yang berhambur memeluk putrinya.


Adelia hanya mampu tersenyum melihat bahagianya keluarganya atas kehamilannya.


"Selamat sayang, akhirnya mama jadi Oma" ucap Milan tersenyum bahagia.


Darren dan Fino merangkul bersama, mereka sangat bersyukur atas kehamilan putri tercintanya.


Adelio juga melakukan hal yang sama merangkul Malfin. Malfin hanya mampu tersenyum menepuk pundak Adelio.


"Selamat, akhirnya kau membuat kembaran ku hamil" ucap Adelio sambil tersenyum tipis.


Malfin tersenyum sambil manggut-manggut dengan mata berbinar. " Asal kamu tahu, aku bekerja keras setiap malam demi menghamili Adelia" ucap Malfin dengan entengnya.


Adelio menyeringai sambil memukul punggung Malfin.


"Bagus, kerja keras mu tak sia-sia" timpal Adelio diiringi gelak tawa. Malfin ikut tergelak lalu berpelukan bersama.


Rania dan Adelia duduk bersama dan tersenyum melihat kekompakan suaminya.


"Selamat ya Lia atas kehamilanmu. Akhirnya aku punya teman bumil" ucap Rania dengan riang gembira sambil memeluk lengan Adelia. Karena tak mungkin baginya memeluk Adelia, mengingat perutnya sudah buncit.


"Hehehehe iya ya kakak ipar" timpal Adelia dengan mata berbinar sambil mengelus perut buncit kakak iparnya.


Terima kasih ya Allah atas anugerah terindah mu. Semoga kebahagiaan selalu menghampiri keluarga ku. Berikanlah kesehatan bagiku dan janinku, dan semoga kehamilan ku berjalan lancar. Batin Adelia.


Semoga aku selalu diberikan kesehatan biar bisa menjemput mama. Dan semoga persalinan ku berjalan lancar, aamiin. Batin Rania.


Seluruh keluarga Alexander begitu bahagia atas kehamilan Adelia. Mereka pun melakukan syukuran atas kehamilan Adelia.


Sementara di tempat lain....

__ADS_1


Seorang wanita paruh baya terlihat duduk termenung sambil merajut pakaian hangat menggunakan benang wol.


Pekerjaannya sehari-hari merajut pakaian hangat dari pesanan orang-orang dari kalangan atas. Sudah enam pesanan berhasil dia selesaikan. Wanita paruh baya itu menghapus peluh keringatnya yang terlihat letih bekerja seharian.


"Bu Sarah, cepat selesaikan pekerjaan mu, sebentar lagi akan petang" ucap Wanita paruh baya yang merupakan rekannya.


Ya wanita paruh baya itu adalah Sarah. Sarah diasingkan di tempat terpencil yang sangat tidak diketahui tempatnya. Minoritas masyarakat di sana bekerja sebagai tukang kebun dan peternak domba.


Bulu-bulu domba ternak masyarakat dijadikan sebagai benang. Kemudian diaplikasikan membuat hasil kerajinan, salah satunya karpet, taplak meja, pakaian hangat dan sebagainya.


"Iya Suma, aku akan segera menyelesaikannya" ucap Sarah tersenyum sambil menyelesaikan hasil rajutan nya.


Selesai bekerja, Sarah dan Suma kembali ke gubuk mereka masing-masing sambil membawa lampion dijadikan sebagai penerangan.


Tak ada lampu jalan di desa tersebut. Hanya orang-orang yang tergolong mampu memiliki aliran listrik tersembunyi.


Sarah berharap anak-anaknya masih hidup dan bisa kembali berkumpul bersama. Sarah selalu saja yakin jika suatu saat nanti anaknya akan datang menjemputnya.


šŸšŸšŸšŸ


Di kediaman Alexander.....


Selesai melaksanakan sholat isya, Rania memilih berbaring di tempat tidur sambil menunggu kedatangan Adelio yang masih berada di lantai dasar.


Kantuk Rania sudah tak bisa di tahan, Rania memilih memejamkan matanya. Tak mungkin baginya menunggu kedatangan Adelio. Tak berselang lama, Rania sudah tertidur pulas.


"Mama, kemarilah."


Rania mengigau terus memanggil nama mama nya.


Adelio yang baru saja masuk ke dalam kamarnya terkejut mendengar suara istrinya. Adelio segera menghampirinya.


"Hei bangun, Ani... Ani" ucap Adelio menepuk pipinya yang khawatir melihat istrinya terus mengigau.


Keringat Rania mulai bercucuran membasahi pipinya. Tiba-tiba Rania terbangun dan langsung duduk di atas tempat tidur. Rania langsung menangis tersedu-sedu.


"Mama, aku merindukanmu" tangis pecah Rania yang baru saja memimpikan mama nya.


Adelio menghela nafas panjang, kemudian segera memeluknya.


"Mama...mama..hiks hiks hiks"


"Hentikan tangis mu" ucap Adelio sambil menepuk punggungnya.


"Aku merindukannya, aku ingin bertemu dengannya" ucap Rania diiringi isak tangisnya.


"Jangan khawatir, aku akan meminta Kendrick menjemputnya. Hentikan tangis mu, aku tidak ingin janin mu bermasalah karena kau terus menangis" ucap Adelio membujuknya. Kemudian Adelio menghembuskan nafasnya dengan kasar. Semakin hari Rania semakin manja dan bawel.


"Aku tidak ingin orang lain yang menjemput mama, aku sendiri yang akan menjemputnya. Berikan alamatnya, agar aku tidak kesusahan mencarinya..hiks..hiks...hiks" rengek Rania dengan air mata terus bercucuran membasahi pipinya.


Adelio melepaskan pelukannya, kemudian menghapus air mata Rania. Ingin sekali Adelio menjitak kening Rania mendengar ucapannya. Dia pikir alamat ibunya bisa dijangkau, dirinya bahkan tidak tahu dimana alamatnya.


"Hemm, kita akan menjemput mama mu" ucap Adelio yang memilih mengiyakannya.


Rania kembali berhambur memeluknya, namun terhalang dengan perut buncitnya.


"Terima kasih, aku berhutang budi kepadamu" ucap Rania pelan sambil menyembunyikan wajahnya di dada Adelio.


Sementara Adelio memijit keningnya memikirkan cara untuk membatalkan rencananya. Membawa Rania yang tengah hamil membuatnya pusing tujuh keliling.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya teman-teman šŸ™šŸ™šŸ™


__ADS_2