Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Mencari Adelia


__ADS_3

Kediaman Alexander.....


Adelio duduk bersama keluarganya di meja makan. Seluruh keluarga tampak menikmati makan malamnya dengan diam. Selesai makan malam bersama, Adelio segera undur diri lalu diikuti Malfin yang mengekor di belakangnya.


"Mengapa kamu hanya berdiam diri di rumah. Apakah kamu tidak menghawatirkan kembaran mu?" tanya Malfin yang berhasil menghentikan langkah Adelio.


Adelio hanya meliriknya, lalu bergegas menuju lift yang akan membawanya ke lantai 3.


"Bisa saja Adelia dalam bahaya. Bibi begitu mengkhawatirkan Adelia sedari tadi. Apa seperti ini sikapmu kepada keluarga kita" Malfin terlihat tegas mengutarakan kekhawatirannya.


Adelio hanya melipat kedua tangannya di dalam lift hingga lift tertutup rapat.


Malfin hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar melihat gelagat Adelio.


"Kakak sungguh mengkhawatirkan kondisi Kak Adelia?" tanya Morgan yang mampu membaca pikiran kakaknya.


Malfin hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar tanpa menjawab pertanyaan adiknya. Morgan yang mengerti hal itu, hanya mampu menopang dagu.


"Sebaiknya kita susul kak Adelia sebelum terlambat" ucap Morgan tersenyum.


Malfin hanya berdengus kesal mendengar ucapan adiknya. Kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.


"Tunggu dulu kak. Kalau kakak terus seperti ini, bisa saja kak Adelia di ambil orang lain. Membayangkannya saja begitu mengerikan" Morgan mulai memanas-manasi sang kakak.


"Kamu sangat cerewet. Berhenti berbicara omong kosong" Malfin sedikit kesal mengatakannya.


Namun Morgan tidak tinggal diam, dia kembali menggoda sang kakak untuk mengikuti idenya.


Belum selesai adu mulut kakak beradik ini, Adelio kembali keluar dari lift dan terlihat berbeda dengan pakaian santainya. Malfin dan Morgan langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang mencuri perhatiannya.


"Jaga seluruh anggota keluarga selama aku pergi. Benar yang kamu katakan, aku tak pantas berdiam diri di rumah tanpa menyusul kembaran ku di desa terpencil" ucap Adelio, lalu melenggang pergi.


"Tunggu, aku akan ikut bersamamu ke desa terpencil."


Malfin tidak ingin membuang kesempatan kali ini untuk menyusul Adelia.


"Hemm, baiklah" ucap Adelio.


"Aku mau...." ucap Morgan yang tidak melanjutkan ucapannya.


"Kamu tetap tinggal di rumah. Jaga mama, bibi dan lainnya" potong Malfin cepat.


Morgan hanya mampu memasang wajah memelas mendengar ucapan kakaknya. Hingga bertolak pinggang melirik kepergian mereka.


Kini Adelio dan Malfin sudah berada di dalam helikopter yang digunakan menuju desa terpencil. Keduanya terlihat berdiam diri yang begitu fokus melihat pemandangan malam yang begitu gelap gulita.


*******


Sementara di tempat lain.....


Raka bersorak gembira mendengar laporan anak buahnya yang berhasil menculik Adelia.

__ADS_1


"Bagus, sekap gadis itu di markas tersembunyi kita di tengah hutan yang tidak diketahui oleh siapapun. Besok, aku akan menemui langsung mangsaku dan menghabisinya" ucap Raka dengan seringai licik diwajahnya.


"Baik bos" ucap anak buahnya.


"Pastikan gadis itu tidak kabur. Jangan lakukan sesuatu kepadanya, karena aku sendiri yang akan melakukannya sebagai penghangat ranjang ku. Setelah itu, barulah aku menghabisinya..ha ha ha ha" ucap Raka diiringi gelak tawa.


Anak buahnya hanya mampu mengangguk patuh dan segera menghubungi rekannya untuk tidak melakukan macam-macam kepada gadis tawanannya.


"Apa kau sudah menemukan keberadaan Rania?" tanya Raka yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


"Belum tuan, saya masih tahap menyelidiki" ucap Victor yang menundukkan pandangannya.


"Anak itu selalu saja pergi tanpa memberitahu ku. Jika mama Sarah sampai mengetahuinya, habislah aku."


Itulah kelemahan Raka yang tidak ingin membuat ibunya marah, jika sampai anak gadisnya tidak tinggal bersamanya.


"Kamu boleh pergi" ucap Raka yang kembali menopang dagu.


Setelah kepergian Victor, Raka lalu menghubungi wanita bayarannya untuk menemaninya tidur malam ini.


šŸšŸšŸšŸ


"Aku dimana, mengapa tempat ini begitu gelap."


Adelia mulai meraba di dekatnya. Adelia kembali mengingat kejadian yang baru saja menimpanya layaknya sebuah kaset berputar dengan cepatnya.


"Astaghfirullah, berarti aku di culik para penjahat tadi" ucap Adelia lirih.


"Tolong, ku mohon buka pintunya" ucap Adelia lirih."Ya Allah, tolong lindungi hamba mu dari segala marah bahaya."


Adelia mulai takut berada di ruangan gelap. Hingga dia merasa sesak nafas.


"Ayah, bunda, kak Lio, tolong aku."


Adelia kembali memukul dadanya yang secara spontan mengalami sesak nafas. Adelia mulai meraba di dekatnya sambil berteriak minta tolong, hingga bumi pun berputar dengan cepatnya yang membuat Adelia kembali tak sadarkan diri.


Siapakah yang akan menyelamatkannya di tempat gelap itu, yang sama sekali tak bisa di prediksi keberadaannya.


Sementara Adelio dan Malfin sudah setengah perjalanan menyusul Adelia di desa terpencil. Sinyal yang tidak mendukung membuatnya tidak bisa berkomunikasi dengan baik orang kepercayaannya.


Adelio terus saja memasang wajah datarnya dengan kemarahan berapi-api yang baru beberapa menit lalu mengetahui kabar penculikan kembarannya.


Sialan, aku tidak akan mengampuni kalian. Sehelai rambut saja menyakiti kembaran ku, kalian semua akan tamat riwayatmu.


Pantas saja, aku jadi kepikiran Lia, semoga dia baik-baik saja. Batin Adelio.


Sedangkan Malfin hanya mampu memijit pangkal hidungnya. Berkali-kali dia berdengus kesal yang sedang menahan amarahnya saat mengetahui Adelia diculik.


Takkan kubiarkan mereka menyakiti Adelia. Aku bersumpah akan membunuhmu jika sampai menyakiti Adelia ku. Batin Malfin.


Adelio dan Malfin kembali larut dalam pikirannya. Kedua pemuda tampan itu begitu mengkhawatirkan Adelia. Bagaimana tidak, Adelia sosok kesayangan keluarga Alexander yang begitu dijaga dan sangat disayanginya.

__ADS_1


Tak terasa perjalanan yang ditempuh dua jam lebih, akhirnya mereka tiba di desa terpencil itu.


Lima buah Helikopter mulai mendarat sempurna di area lapangan luas di desa terpencil itu. Adelio dan Malfin bergegas turun, lalu diikuti beberapa anak buahnya.


"Dimana letaknya" ucap Adelio dingin yang mulai menapaki jalan desa terpencil itu.


Anggota The Lion X dan anggota The Tiger mulai dikerahkan untuk menyusuri seluruh penjuru desa terpencil untuk mencari Adelia.


Malfin bersama anggotanya mulai bergerak mencari keberadaan Adelia. Mereka semua menelusuri desa terpencil itu di larut malam yang tampak gelap gulita tanpa bintang bersinar di langit.


Dengan turunnya kedua kelompok mafia itu, sudah dapat dipastikan akan kembali terjadi sebuah tragedi penumpasan darah untuk para musuhnya.


Mereka semua begitu berpengalaman menyusuri jalan setapak daerah persawahan tanpa menggunakan penerangan. Hingga mereka semua kembali memasuki sebuah hutan belantara.


Adelio bersama anggotanya memilih berpisah dengan Malfin dan bergerak menuju arah timur, sedangkan Malfin dengan anak buahnya bergerak di bagian barat.


"Aku menemukan sesuatu" ucap salah satu anggota The Lion X.


Adelio langsung menghentikan langkahnya.


"Saya menemukan sebuah ponsel ketua" ucapnya dengan hormat sambil menyerahkan ponsel tersebut ke tangan ketuanya.


Adelio mulai memperhatikan ponsel tersebut dengan seksama.


"Ini ponsel Adelia, cepat telusuri hutan ini" teriak Adelio sambil menggenggam erat ponsel tersebut.


"Baik ketua."


Seluruh anggota The Lion X yang merupakan anggotanya, kembali bergerak menelusuri hutan belantara.


"Ayo, lanjutkan kembali pencarian nona Adelia" ucap anak buahnya.


Sementara Kendrick bersama kelima anak buahnya sedari tadi menelusuri hutan belantara yang juga mencari keberadaan Adelia.


"Ini sangat aneh, terakhir kali titik keberadaan Adelia berada di tempat ini. Mengapa sekarang sudah tidak bisa dilacak" ucap Kendrick bingung.


"Mohon maaf tuan jika saya lancang. Menurut rumor yang pernah saya dengar, terdapat sebuah markas kelompok mafia yang begitu tersembunyi di dalam hutan belantara ini" ucap anak buahnya bernama Tio.


Kendrick hanya menghembuskan nafasnya dengan pelan mendengar ucapan anak buahnya.


"Kalau tidak salah, markas mereka tidak jauh dari air terjun dalam hutan ini. Terdapat gua besar yang memiliki mata air yang bisa terhubung dengan lautan neirina. Konon katanya, jika nelayan ingin mencari....."


"Bicara apa kamu, jangan cuma mendongeng tak jelas" ucap temannya sambil memukul kepala Tio dengan keras.


"Aku tidak mendongeng bodoh" ucap Tio yang juga memukul kepala temannya.


"Lanjutkan pencarian ke tempat yang kau maksud" ucap Kendrick dan kembali melangkahkan kakinya menyusuri hutan belantara ini.


Setelah cukup lama perjalanan, Kendrick dan lainnya menghentikan langkahnya saat menemukan sebuah bangunan tua di dalam hutan tersebut. Tampak penjagaannya begitu ketat, masing-masing orang menggunakan senapan panjang yang sedang berjaga.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak šŸ™šŸ™ šŸ™


__ADS_2