
Rania keluar dari persembunyiannya dengan mata memerah yang sedang menahan amarahnya. Rania menuruni anak tangga dengan langkah gontai. Hingga mampu membuat kedua orang yang tengah mengobrol santai di kejutkan dengan langkah kakinya yang masih berada di pertengahan anak tangga.
Zayn dan Alfhat terlonjat kaget, namun mereka sesegera mungkin terlihat biasa-biasa saja dan tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kedatangan Rania.
"Kemarilah Nia, Paman sangat merindukanmu" ucap Zayn yang bangkit dari duduknya.
Rania berhenti tepat di ujung tangga sambil menatap tajam mereka. Alfhat tersenyum hangat menatap nya, seolah tak melakukan apa-apa kepada Rania.
"Kamu pasti lelah melakukan perjalanan jauh, kemari bergabung bersama kami. Ada sesuatu hal yang ingin disampaikan paman mu" ucap Alfhat sambil tersenyum hangat menatap Rania.
"Tidak! kalian tak perlu bersikap baik kepada ku. Aku tak menyangka kalian begitu licik! Dan paman, aku benar-benar kecewa kepada mu. Ternyata kamu seorang pembunuh! kamu seorang pembunuh!" teriak Rania dengan mata memerah yang diselimuti amarah.
Zayn terlonjat kaget mendengar ucapan Rania. Zayn segera menghampiri ponakannya.
"Rania, jangan salah paham semua itu tak benar. Paman tak mungkin melakukan hal gila seperti itu" ucap Zayn yang kembali membujuknya.
"Kamu yang membunuh Papa! jika saja kak Raka tahu pasti tak akan mengampuni mu. Kamu bahkan menjadikan ku sebagai imbalan dari kesepakatan mu, kamu seolah menjual ku kepada Alfhat. Aku membencimu! dan tak ingin lagi mengenal mu" tunjuk Rania yang sudah tak ingin lagi memiliki hubungan keluarga dengan paman nya.
Alfhat tersenyum tipis mendengar ucapan Rania. Dia seolah acuh dengan masalah keluarga Rania.
Berdebat lah sepuas mu, aku tak ingin ikut campur dengan urusan kalian. Zayn, terima lah kenyataan bahwa kamu memang yang membunuh Papa Rania ku. Batin Alfhat.
Alfhat bangkit dari duduknya dan memilih berlalu menuju kamarnya. Sementara Zayn sedang berusaha membujuk ponakannya.
"Pergi!, aku tak ingin lagi melihat mu" ucap Rania kesal.
"Yang kamu dengar semuanya tak benar. Rania maafkan Paman. Paman melakukan semua ini demi kebaikanmu. Paman hanya ingin keluarga kita tetap utuh dan bahagia lagi tanpa gangguan keluarga Alexander" ucap Zayn yang berpura-pura bersedih, agar Rania simpati kepada nya.
Rania ingin menuruni anak tangga namun Zayn masih saja menghadangnya di ujung tangga. Zayn ingin menjelaskan kembali kebohongan nya, agar Rania kembali mempercayai nya.
"Rania percaya sama Paman, semua yang kamu dengar itu bohong. Paman sangat menyayangi mu nak" ucap Zayn sambil menaiki anak tangga.
"Kamu jahat, aku membencimu" ucap Rania hingga air matanya mengalir membasahi pipinya. Rania segera berbalik badan untuk menghapus air mata bodohnya. Lalu Rania segera menaiki anak tangga.
"Rania dengarkan Paman!" ucap Zayn yang mencoba mengejar Rania menaiki anak tangga.
Zayn berhasil memegang tangan Rania membuat Rania semakin marah saja.
"Lepaskan, kamu bukan lagi Paman ku."
Rania mencoba menarik tangan nya membuat Zayn mencengkeram nya erat.
"Ha ha ha..... ingat baik-baik aku tipikal orang yang tidak suka membujuk ponakan pembangkang seperti mu. Kamu hanya perlu menjalani kehidupan mu di bawah tekanan ku" ucap Zayn diiringi gelak tawa.
__ADS_1
Rania berusaha memberontak untuk melepaskan tangannya.
"Ya memang benar, aku lah yang membunuh Ayah mu dan aku juga yang menukar mu dengan harta Alfhat, mungkin sebentar lagi kamu akan menikah dengannya. Bukankah semua yang ku lakukan itu benar, dibandingkan kamu harus mengais-ngais di keluarga Alexander yang jelas-jelas musuh mu " ucap Zayn dingin, lalu mendorong Rania hingga membentur pegangan tangga.
Rania berusaha berdiri dengan kepalan tangannya. Terlihat jelas keningnya berdarah karena benturan keras dari pegangan tangga stainless.
"Ayo ikut denganku! aku akan membawamu ke kamar Alfhat. Biar Alfhat yang memberi mu hukuman" bentak Zayn yang kembali menarik tangan Rania untuk mengikutinya.
Terjadi aksi tarik-menarik antara Rania dan Paman nya. Rania berusaha mempertahankan dirinya sambil berpegangan di pegangan tangga. Sementara Zayn terus mencengkeram tangannya untuk membawanya turun. Mereka berada di pertengahan tangga yang melingkar sempurna.
"Ayo ikut denganku"
"Lepas, kamu seorang pembunuh"
Rania dengan sekuat tenaga memberontak hingga pijakan kaki Zayn tergelincir. Rania langsung menarik tangannya, sementara keseimbangan tubuh Zayn oleng dan langsung jatuh terguling-guling dari atas tangga.
"Paman!."
Rania berteriak lalu menutup mulutnya melihat Paman nya terjatuh dari atas tangga. Rania segera berlari menuruni anak tangga. Tampak kepala Zayn sudah berlumuran darah akibat benturan keras dan sekujur tubuhnya berlumuran darah.
"Paman bertahanlah, tolong" teriak Rania meminta tolong yang begitu panik melihat pamannya berlumuran darah. Rania segera memangku kepala Pamannya.
"Raniaaa.... maaf......maafkan Paman_" ucap Zayn hingga menghembuskan nafas terakhirnya.
Dua pelayan wanita segera menghampiri nya. Salah satu dari mereka memeriksa denyut nadinya.
"Innalilahi Wainnailaihi Raji'un" ucapnya.
"Tidak!, Paman bangun... Paman jangan tinggalkan aku hiks hiks hiks."
Tangis Rania semakin pecah, dia terus memukul kecil wajah Paman nya. Rania kembali menangis histeris yang tidak menyangka Paman nya meninggalkan nya secepat ini.
"Yang sabar non, ikhlaskan saja. Semoga Paman non Husnul khatimah dan diterima disisi Tuhan" ucap Pelayan wanita sambil mengelus punggung Rania.
Rania kembali diselimuti duka. Cobaan silih berganti kembali dialami nya. Semua orang yang disayanginya pergi meninggalkan nya, walaupun Paman nya yang membunuh Ayah nya, tapi tetap saja dia memiliki rasa kasih sayang kepadanya, karena selama ini dia begitu di manja oleh Paman nya.
Kini Rania hanya mampu melihat pusara Paman nya, sudah tiga hari berlalu semenjak pemakaman Paman nya di lakukan di sebuah pemakaman umum. Hampir setiap hari Rania mengunjunginya.
Sebulan kemudian.....
Rania menjalani hari-hari nya dengan kesendirian di kediaman Alfhat. Alfhat tak membiarkan nya keluar dari kediamannya tanpa pengawasan orang terpilihnya.
Alfhat tak pernah menyakiti nya, apalagi berbuat macam-macam kepada nya. Sudah sebulan Rania menempati rumah Alfhat. Rania merasa sedih karena tak ada satu pun orang yang mencari keberadaannya hingga detik ini.
__ADS_1
Rania begitu berharap suaminya mencari keberadaan nya, namun angan-angan nya terlalu tinggi. Jelas-jelas Adelio begitu membencinya, mengapa masih berharap kepadanya.
Rania terbangun dari tidurnya tepat pukul 5 pagi. Entah mengapa beberapa hari ini kondisi tubuhnya kurang fit. Setiap bangun tidur rasa aneh di tenggorokan nya membuatnya mual-mual.
Rania bergegas turun dari tempat tidur dan berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi.
Hoeek
Hoeek
Rania terus mual-mual memuntahkan isi perutnya. Setelah selesai, Rania membersihkan mulutnya dari air wastafel. Rania memandangi wajahnya yang pucat pasih dan tampak kurusan.
Lama memandangi wajahnya, bayangan Adelio kembali terlintas di benak nya. Rania tersenyum menatap dirinya di pantulan cermin. Memang dia begitu merindukan Adelio dan sangat menantikan kehadirannya. Setelah itu, Rania bergegas membersihkan tubuhnya.
ššššš
Sementara di negara A.....
Usaha Malfin dan Kendrick belum juga membuahkan hasil. Sampai detik ini, mereka belum juga menemukan keberadaan Rania. Memang sosok Alfhat bukanlah orang main-main, Alfhat begitu misterius dan sangat tak diketahui keberadaannya.
Sementara Adelio tampak menikmati kesendirian nya yang sibuk bekerja mengembangkan bisnisnya. Namun tetap saja ada yang mengganjal di pikiran nya, yakni kedua orang terkasih nya yakni ibunya dan Adelia.
Adelio menghentikan pekerjaannya dan memilih untuk pulang cepat hari ini, mengingat kondisi ibunya kurang sehat. Tampak Kendrick berdiri di depan pintu ruangan nya, ekor matanya menelisik untuk meminta penjelasan terhadap bawahannya..
"Saya belum menemukannya tuan, keberadaan Alfhat sama sekali tak_" ucap Kendrick yang tidak mampu melanjutkan ucapannya.
Adelio memotongnya sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Dasar bodoh!, banyaknya anggota The Lion X sama sekali tak berguna bersamamu. Hanya satu orang, tapi sampai detik ini kau belum juga menemukan nya!" bentak Adelio lalu melenggang pergi.
Kendrick hanya mampu memijit pangkal hidungnya lalu bergegas mengikuti atasannya. Sebuah mobil sudah siap membawanya pulang ke kediamannya.
"Minggu ini aku akan turun tangan mencarinya. Alfhat... Alfhat orang ini cari masalah denganku" ucap Adelio dingin lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Disusul Kendrick yang sudah pusing tujuh keliling mencari keberadaan istri atasannya.
Demi bunda dan Adelia. Ya demi mereka, aku harus mencari gadis gila itu. Batin Adelio.
Mobil melaju kencang membelah jalanan kota menuju kediaman nya.
Bersambung...
Jangan lupa like love komen dan vote ya teman-teman ššš¤
__ADS_1
Terima kasih š šš