
Orang-orang mulai mengerumuni korban kecelakaan tersebut. Semua orang tampak berusaha membantu para korban yang terjebak di dalam mobil. Dengan aksi penyelamatan yang begitu dramatis hingga mampu mengeluaran seluruh korban yang terjebak di dalam mobil. Namun diluar dugaan salah satu mobil korban kecelakaan langsung meledak sempurna. Semua orang tampak menjauh dan segera melarikan para korban kecelakaan ke rumah sakit terdekat.
Ziva yang sedang membuat kopi untuk suami tercinta, tiba-tiba menjatuhkan cangkir dipegangnya.
“Astaghfirullah, aku tak hati-hati” ucapnya dengan keterkejutan bahkan perasaanya mendadak jadi khawatir kepada anak-anaknya. Memang ikatan seorang ibu kepada anak-anaknya begitu kuat, seperti halnya yang dialami Ziva saat ini.
Pelayan yang tidak jauh darinya segera membersihkan kekacaun yang terjadi itu. Ziva memilih duduk sejenak sambil meminum segelas air putih. Milan yang melihatnya segera mendekat dan menarik kursi tepat di sampingnya.
“Kamu taka pa-apa?” tanya Milan yang melihat Ziva tampak termenung.
“Aku jadi kepikiran anak-anakku mbak” ucap Ziva sambil meletakkan gelas nya di atas meja.
“Jangan terlalu dipikirkan, mereka sudah besar dan pastinya bisa jaga diri” ucap Milan tersenyum yang mencoba menenangkannya.
“Iya, aku terlalu menyayangi anak-anakku. Jadi sering kepikiran mereka” ucap Ziva tenang.
Milan kembali mengobrol bersama dengannya sambil membicarakan masa kecil anak-anak mereka.
Tak berselang lama kemudian obrolan mereka terpaksa terhenti saat pelayan wanita membawa telepon rumah untuk Ziva.
“Nyonya dari rumah sakit” ucap pelayan wanita itu sambil menundukkan pandangannya.
Ziva segera meraih telepon rumah itu dan mulai mengobrol dengan si penelpon. Air mata Ziva langsung luruh dengan sendirinya, hingga telepon rumah di pegangnya ikut terjatuh di lantai. Ziva langsung luruh di tempatnya sambil memegangi dada nya yang terasa sesak.
Milan yang melihatnya segera meraih tubuhnya agar tidak terjatuh di lantai.
“Ziva ada apa?” tanya Milan kepada adik iparnya.
“Lia, Lia kecelakaan!” ucap Ziva diiringi isak tangisnya.
Milan hanya mampu menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Ziva segera bangkit dan berlari keluar menuju pintu utama.
__ADS_1
“Tunggu Ziva” teriak Milan dan ikut mengejar Ziva.
Darren yang berada di teras depan tampak bersantai sambil membaca Koran bersama kakak nya Fino.
“Sayang, kamu mau kemana” ucap Darren yang melihat istrinya tampak buru-buru.
“Adelia mas” ucap Ziva dengan air mata bercucuran membasahi wajahnya.
“Iya kenapa dengan Lia sayang?” ucap Darren sambil melipat Koran yang habis dibacanya.
“Adelia kecelakaan mas” ucap Ziva sambil memegangi dadanya yang begitu sesak.
“Apa, innalilah” ucap Darren yang terkejut bukan main dan langsung mengkhawatirkan kondisi putri tersayangnya.
Fino juga terkejut dan langsung mengkhawatirkan kondisi ponakannya.
“Ayo, kita harus segera ke rumah sakit pelita terang” ucap Milan yang tak sengaja menanyakan kembali rumah sakit ponakannya menjalani perawatan.
Mereka semua bergerak cepat menuju rumah sakit yang di maksud. Darren duduk bersama istrinya di kursi belakang yang berusaha menenangkan Ziva untuk terus bersama dan mendoakan kondisi putrinya. Fino yang mengemudikan mobilnya tampak tenang bersama istri tercintanya, mereka berharap kondisi Adelia baik-baik saja.
Adelio yang bersiap-siap untuk mengadakan rapat tahunan perusahaannya harus membatalkannya secara mendadak saat mengetahui kabar kecelakaan kembarannya. Adelio tampak marah besar dilihat dari raut wajahnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata kepada sekretarisnya, Adelio segera berlari menuju Lift yang akan membawanya di lantai dasar.
Kendrick ikut mengejar atasannya, jangan sampai melakukan hal gila setelah ini. Mobil tampak siap di area parker. Adelio segera masuk kedalam mobilnya dan langsung menancap gas meninggalkan perusahaannya. Kendrick pun ikut menyusul kepergian atasannya. Mereka seperti saling kejar-kejaran di jalan Raya.
Setibanya di rumah sakit pelita terang. Adelio segera memarkirkan mobilnya. Dan bergegas turun dari mobilnya dan kembali berlari kecil mencari ruang UGD. Tampak ayah dan pamanya terlihat mondar-mandir di depan pintu ruang UGD. Sementara ibu dan bibi nya sedang duduk bersama di kursi tunggu.
Adelio segera menghampiri mereka. Ayahnya yang menjadari keberadaannya hanya menatap nya sekilas dengan raut wajah sulit diartikan. Sementara pamannya hanya mampu bersandar di dinding menunggu pintu ruang UGD itu terbuka.
Adelio menyeret kakinya dan memilih duduk di samping ibunya. Terdengar suara isak tangis ibunya masih teramat jelas di indera pendengarannya. Entah mengapa hatinya ikut bersedih medengar isak tangis bundanya. Adelio berusaha menenangkan dirinya dan mencoba tegar dengan musibah yang menimpa kembarannya.
Pintu ruang UGD terbuka lebar seluruh keluarganya segera mendekat kearah pintu. Tampak dokter wanita di ambang pintu yang baru saja menangani Adelia.
__ADS_1
Terlihat raut wajah lelah dokter wanita itu menatap keluarga pasiennya.
“Bagaimana kondisi putri saya dok” ucap Darren dengan perasaan khawatir yang menyelimutinya.
Dokter wanita itu menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian mulai angkat bicara perihal kondisi pasien yang baru saja ditanganinya.
“Nona Adelia mengalami cedera aksonal difus yang disebabkan oleh goncangan otak bolak balik yang menghantam keras di area kepalanya, dari CT scan yang kami lakukan nona Adelia mengalami geger otak dan sampai sekarang pasien masih dalam keadaan koma. Kami akan terus berusaha menangani nona adelia dan mohon doanya untuk para keluarga demi kesembuhan Nona Adelia” ucap Dokter wanita itu perihal diagnosis pasiennya.
Ziva hanya mampu menutup mulutnya dengan suara tangis yang semakin pecah. Darren memukul keras dinding di sampingnya menerima kenyataan pahit yang terjadi pada putrinya. Adelio mengusap wajahnya dengan kasar dan begitu menyesal tidak mampu menjaga kembarannya. Milan hanya mampu memeluk suaminya dan begitu terpukul dengan kabar yang menimpa ponakannya.
“Lia, hiks hiks hiks” teriak Ziva histeris. Adelio segera menghambur memeluk ibunya untuk menenangkannya.
“Apa kami bisa melihatnya dok?” ucap Darren dengan mata berkaca-kaca.
“Untuk sementara hanya satu anggota keluarga yang bisa menjenguk pasien, Setelah itu, pasien harus di pindahkan terlebih dahulu di ruang perawatan dengan kesterilan terjaga” ucap Dokter wanita itu, lalu undur diri dari hadapan keluarga pasien.
Darren segera masuk ke ruang UGD untuk melihat kondisi putrinya. Tampak gadis yang disayanginya terbaring lemah di atas brankar yang berbalut perban di kepalanya. Cairan infus tergantung di samping putrinya yang menancap sempurnya di tangannya.
Darren berusaha memancarkan senyuman di hadapan putrinya yang terbaring lemah. Dia pun mulai mendekat dan duduk di kursi samping brankar putrinya. Darren tak mampu berkata-kata melihat kondisi putrinya, dia sekuat tenaga menahan air matanya untuk tidak tumpah itu juga.
“Lia, ayah sayang kamu, cepat sembuh nak” ucap Darren, lalu menutup mulutnya dengan perasaan pilu.
Sementara Adelio berusaha menenangkan ibunya dan terlihat kuat dengan masalah yang menimpa keluarganya saat ini.
Aku bersumpah, akan menghancurkan orang yang sudah membuat Lia celaka. Batin Adelio sambil memeluk ibunya.
Sementara di kediaman Alexander, Rania sedang terkurung di dalam kamarnya, karena kamar yang ditempatinya di kunci dari luar oleh sang suami. Rania duduk selonjoran di sofa sambil menonton drama musical. Sesekali gadis itu bernyanyi riang mengikuti lagu di saluran tv yang sedang berlangsung.
Rania seperti sedang berpesta akan musibah yang menimpa musuhnya. Cemilan, minuman dingin tampak memenuhi meja di dalam kamarnya. Gadis itu sesekali tertawa terbahak-bahak dengan kemenangan penuh.
Bersambung......
__ADS_1
Konfliknya mulai nongol, jangan bosan-bosan ya mengikuti cerita Mafia vs Gadis Bercadar 🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak 🙏🙏🙏