
Perjalanan yang memakan waktu hingga satu jam lamanya, akhirnya seluruh rombongan Adelio tiba di kediamannya. Lima unit mobil mewah terparkir di halaman rumah utama. Kedua orang tuanya begitu antusias menyambut kedatangannya bersama dengan para pelayan.
Para penjaga berbondong-bondong membukakan pintu mobil untuk mereka. Adelio bergegas turun dari mobil sambil mengedarkan pandangannya ke arah mobil Malfin.
Terlihat Adelia dan Rania turun dari mobil. Malfin sudah terlebih dahulu turun dari mobil dan kembali berdiri di samping mobilnya untuk menunggu Adelia. Kemudian Malfin segera menggandeng tangan Adelia untuk selalu berada di sampingnya. Rania tersenyum melihat kemesraan mereka.
Rania masih setia berdiri di samping mobil. Pandangannya tertuju di sekelilingnya dan sama sekali tak ada yang berubah. Hingga suara bariton seseorang membuatnya terkejut.
"Kau ingin terus berdiri semalaman disitu, menjadi tukang parkir di halaman rumah ku hah!" ucap Adelio dingin yang juga berdiri bersebelahan dengannya.
Rania menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu melangkah menghampiri orang-orang yang tengah bercengkrama di teras rumah utama. Adelio terlihat ikut menyusulnya hingga dengan terpaksa menggenggam tangan Rania membuat Rania menoleh ke arahnya.
"Jalankan sandiwara mu. Kedua orang tua ku sangat menanti kedatangan mu. Bersikaplah seperti pasangan sesungguhnya" ucap Adelio dingin yang tak ingin di bantah.
Rania menatapnya malas lalu segera mengalihkan pandangannya pada ibu dan ayah mertuanya. Mereka melangkah bersama saling bergandengan tangan.
"Alhamdulillah, bunda sangat bersyukur kepada Tuhan, Akhirnya menantuku kembali. Kita bisa berkumpul bersama lagi" ucap Ziva dengan penuh syukur.
Ziva segera menghambur memeluk Rania, menantu yang sangat dia rindukan selama ini. Darren yang berada di sampingnya hanya mampu tersenyum melihat tingkah istrinya. Adelio segera melepaskan genggaman tangannya.
"Selamat datang kembali nak, bunda sangat merindukanmu" ucap Ziva dengan mata berkaca-kaca yang diselimuti perasaan haru sambil memeluk Rania dengan penuh kasih sayang.
Rania hanya tersenyum yang tidak bisa berkata-kata dengan mata berkaca-kaca yang juga membalas pelukan ibu mertuanya.
Darren tersenyum sambil mengelus puncak kepala menantunya. Rania benar-benar bahagia menjadi bagian dari keluarga Alexander.
"Ayah senang melihat mu kembali. Rumah ini selalu terbuka untuk mu nak. Kamu menantu di keluarga kami dan kami akan terus menjagamu" ucap Darren tersenyum.
"Terima kasih, aku juga merindukan kalian" ucap Rania tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Alhamdulillah, aku sangat bersyukur bisa diterima kembali di dalam keluarga Adelio. Ayah mertua dan ibu mertua begitu menyayangi ku, mereka seperti orang tua ku tanpa membedakan kasih sayang nya. Batin Rania.
Adelio hanya diam melihat kedua orang tuanya begitu memperhatikan Rania layaknya anak sendiri, sementara dirinya hanya diacuhkan.
Malfin dan Adelia selalu saja bergandengan tangan dan terlihat begitu romantis yang menatap kedua orang tuanya yang tengah melepas rindu dengan Rania.
"Sebaiknya kita masuk, bunda sudah memasak makanan enak untuk kalian" ucap Ziva tersenyum lalu menggandeng tangan Rania untuk ikut bersamanya.
Yang lainnya hanya mampu mengikuti langkahnya. Ziva begitu senang menantunya kembali berkumpul bersama nya.
Kini mereka sudah berkumpul di meja makan. Ziva begitu antusias mengambil makanan untuk Rania, Rania juga begitu bahagia menunjuk makanan yang diinginkannya.
Sementara piring Adelio masih saja kosong yang belum juga terisi makanan. Sedangkan yang lainnya sudah menikmati makanannya. Sungguh keberadaan Adelio tak dianggap.
__ADS_1
Rania tak sengaja mengedarkan pandangannya menatap ke arah Adelio hingga membulatkan matanya melihat piring Adelio masih kosong.
Oh...Sungguh kasihan, tak ada yang melayaninya. Batin Rania.
Gadis gila ini mulai ngelunjak! semua orang begitu peduli kepadanya. Awas saja! kau bukan ratu di rumah ini. Batin Adelio kesal.
Rania begitu bimbang ingin mengambilkan makanan untuk Adelio, namun mengingat sikap Adelio kepadanya ada rasa kesal dan tak ingin memperdulikannya.
Seluruh keluarganya begitu baik kepada ku tidak seharusnya aku bersikap acuh kepadanya. Batin Rania.
Rania menurunkan egonya lalu mengambilkan makanan untuk Adelio. Sedangkan Adelio mengerutkan keningnya melihat sikap Rania yang sedikit perhatian kepadanya.
"Masakan bunda sangat lezat, kamu harus mencicipinya" ucap Rania lalu kembali memakan makanannya.
Adelio menatap piringnya yang sudah terisi makanan beserta lauk pauk kesukaannya. Mau tak mau Adelio segera memakan makanannya. Rania tersenyum tipis meliriknya yang tengah mengunyah makanannya.
Sementara Darren dan Ziva tersenyum melihat tingkah malu-malu putra dan menantunya. Adelio dan Rania mengingatkan kembali pada masa lalunya, yang awalnya saling benci hingga akhirnya saling mencintai.
Selesai makan malam bersama, seluruh keluarga kembali ke kamar mereka masing-masing.
Rania terus mengekori langkah kaki Adelio hingga mereka masuk ke dalam kamar.
"Siapkan air hangat untukku, aku ingin berendam" ucap Adelio dingin.
"Baik" ucap Rania dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
"Loh kok aku menjadi istri penurut sih. Tapi sudahlah, aku tidak ingin terus berdebat dengannya" gumam Rania sambil mengisi air di dalam bathtub.
Adelio sudah berdiri di belakangnya sambil menunggu Rania yang tengah mengisi air di dalam bathtub.
"Sudah selesai?" tanya Adelio sambil bersikadap menatap nya.
"Aah iya" ucap Rania sambil menundukkan pandangannya.
Adelio mulai membuka pakaian nya membuat Rania segera menutup matanya.
"Jangan buka disini, aku akan segera keluar" ucap Rania cepat dan berlari kecil keluar kamar mandi.
Adelio tersenyum tipis melihat tingkah bodoh Rania menurutnya. Mereka bergantian menggunakan kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tak ada lagi suara bass dan perdebatan hebat di antara mereka. Rania sudah berbaring di tempat tidur yang sudah sebulan lebih tak menempati nya.
Begitu halnya dengan Adelio yang sudah berada di ruang kerjanya. Adelio juga berbaring di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamarnya.
__ADS_1
"Mau dibawa kemana hubungan kami setelah ini. Aku meragukan kehamilan gadis gila itu, tapi aku tak bisa lepas dari nya. Pernikahan ini terus saja mengikat kami" gumam Adelio sambil mengusap wajahnya.
Sudah larut malam namun keduanya belum juga tertidur. Adelio dan Rania masih saja gelisah di atas tempat tidur. Adelio memiliki keluar dari ruang kerjanya, pandangannya langsung mengarah ke tempat tidur dimana Rania tengah bersandar di bantal.
"Mengapa kau belum tidur?" tanya Adelio sambil berjalan mendekati Rania.
Rania sama sekali tak menjawab pertanyaan nya dan malah memilih mengubah posisinya membelakangi Adelio.
"Gadis gila ini!" ucap Adelio kesal sambil mengepalkan tangannya.
Adelio ikut membaringkan tubuhnya di samping Rania membuat Rania terlonjat kaget dan segera menghadap ke arahnya.
"Turun, ini bukan lagi tempat tidur mu tuan Adelio" ucap Rania dengan mata melotot sambil memukul lengan Adelio membuat Adelio mencengkeram tangannya.
"Ini kamar ku, jadi terserah aku mau tidur di mana" ucap Adelio dingin lalu melepaskan cengkraman tangannya.
Rania menjadi diam seribu bahasa sambil mengubah posisinya tidur terlentang. Adelio kembali diam sambil menatap wajah Rania hingga turun menatap lekuk tubuh Rania.
Adelio lagi-lagi menelan saliva nya dengan kasar melihat tubuh menggoda Rania. Tanpa sengaja tangannya menyentuh gunung kembar Rania membuat Rania terlonjat kaget.
"Apa yang kamu lakukan tuan Adelio" ucap Rania panik.
"Aku menginginkan mu" ucap Adelio dingin dan langsung mendekap tubuh Rania. Rania langsung memberontak, namun aksinya segera dia hentikan. Rania kembali sadar akan statusnya yang menjadi istri sah seorang Adelio.
"Tolong jangan lakukan sekarang. Berhenti menyentuh ku, aku tak ingin terus tersakiti" ucap Rania sambil memejamkan matanya.
Adelio tak memperdulikan ucapannya, dan malah asyik menciumi punggungnya, tangannya juga mulai nakal menyentuh kesukaannya.
"Aku memiliki hak atas dirimu. Termasuk seluruh tubuhmu" ucap Adelio dan langsung menindih tubuhnya.
Tanpa basa-basi Adelio langsung membungkam mulut Rania. Rania sudah tak memiliki kekuatan untuk melawan Adelio, Adelio sudah memukul nya telak lewat kata-kata.
Sementara Adelio sudah beberapa hari ini hasratnya tak tersalurkan. Sekarang dia harus menuntaskannya kepada Rania. Rania gadis pertama yang sudah membuatnya candu.
Pasangan suami istri itu kembali melakukan aktivitasnya di malam hari dan ini sudah menjadi malam ketiga baginya beraktivitas hingga lembur. Benar-benar aktivitas yang membuat mereka ketagihan.
Bersambung...
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🙏🙏
Tak terasa sebulan penuh kita menjalankan ibadah puasa dan akhirnya kita bisa melalui nya hingga di penghujung Ramadhan.
Terima kasih untuk seluruh teman-teman yang selalu menempatkan waktunya mengikuti cerita Mafia vs Gadis Bercadar Season 2 selama bulan suci Ramadhan. Author banyak-banyak ucapin terima kasih🤧
__ADS_1
Dan mohon maaf jika selama ini author masih banyak kekurangan dalam menulis cerita ini. 🙏🙏🙏
Selamat hari raya idul Fitri mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏🤗