
“Apa kau sebahagia ini ingin menjemput orang tua mu?” tanya Adelio sambil memperhatikan istrinya memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Rania kembali menambahkan pakaian hangat untuknya.
“Tentu, aku sangat bahagia dan sangat berterima kasih kepadamu. Karena akhirnya aku bisa menjemput mama” ucap Rania tersenyum manis sambil menyentuh lengannya.
Adelio tersenyum lalu memeluk Rania dari belakang. Sungguh kesenangannya memeluk tubuh wanita yang sebentar lagi akan melahirkan anaknya. Dan mau tak mau Adelio harus mengabulkan permintaannya.
Pasalnya semenjak bangun pagi Rania terus saja memancarkan senyuman manis dan penuh kebahagian. Adelio jarang melihat senyuman Rania seperti itu. Memang dirinya tak begitu memperhatikan Rania selama ini. Namun lambat laun Adelio sedikit demi sedikit mulai tertarik kepada Rania dan mulai menerimanya menjadi istrinya. Sampai-sampai Adelio susah tidur memikirkan permintaan Rania.
Dari semalam Adelio memerintahkan kepada Kepala pelayan dan pelayan senior untuk mempacking beberapa pakaiaan dan barang-barang yang akan dia bawa bersama istrinya menuju tempat tinggal mertuanya.
Sampai-sampai Adelio susah tidur memikirkan permintaan Rania. Tidak mungkin baginya tak mengabulkan permintaan Rania. Bisa-bisa Rania berlarut dalam kesedihan dan menganggapnya pembohong.
Tidak hanya itu, sikap keras kepalanya akan menjadi-jadi yang berakibat mempengaruhi janin dalam perutnya. Dan seluruh keluarganya akan menyalahkan dirinya atas keputusan yang diambil secara sepihak.
“Hadiah apa yang akan kau berikan kepadaku setelah membawa mama mu pulang?” tanya Adelio sambil mengelus manja perut buncitnya.
“Hadiah apa ya? Kamu bahkan sudah mendapatkan segalanya dariku” ucap Rania mengejek lalu mengelus rambut Adelio. Menurutnya tidak ada lagi hadiah istimewa untuk suaminya selain dirinya sendiri.
“Tubuhmu tidak termasuk Ani, karena kau sudah menjadi milikku. Pikirkan hadiah terbaik untukku. Nanti aku akan menagihnya kembali” ucap Adelio lalu mencium gemes pipi Rania berulang kali.
“Ha ha ha..baik suamiku. Sudah, jangan terus mencium pipiku, geli tau” ucap Rania diiringi gelak tawa. Adelio ikut tertawa puas yang sudah candu mencium Rania.
Kemudian Adelio menggandeng tangan Rania lalu membawanya keluar dari ruang ganti. Terlihat kepala pelayan dan dua pelayan wanita berdiri di depan pintu kamarnya yang sedang menunggu tuan mudanya keluar kamar.
Rania menghentikan langkahnya di depan cermin. Pandangannya tertuju pada pantulan cermin yang memperlihatkan dirinya sendiri. Perutnya semakin buncit, semua orang sudah jelas tahu bahwa dirinya tengah hamil. Adelio ikut berdiri di belakangnya lalu menyentuh perut buncitnya.
“Selama aku masih bernafas, aku akan menjaga kalian sampai kapanpun” ucap Adelio tulus dan penuh keyakinan.
“Terima kasih, aku akan terus percaya kepadamu, kamu adalah kebanggaan kami” ucap Rania tersenyum dibalik cadarnya sambil mengelus lengannya.
“Ayo, kita harus berangkat. Kendrick sudah mempersiapkan keberangkatan kita” ucap Adelio dengan tatapan hangatnya.
Adelio kemudian menggandeng tangan Rania lalu berjalan bersama-sama keluar kamar.
Ketiga pelayan membungkukkan badannya melihat kedatangannya. Hanya lewat sorot mata Adelio, kepala pelayan mengerti maksud tuan mudanya. Kepala pelayan bersama dua pelayan wanita bergegas masuk ke dalam kamar lalu mengambil dua koper dan barang-barang bawaan tuan mudanya beserta istrinya.
Kini Adelio dan Rania berpamitan kepada keluarganya. Dengan alasan ingin menemui orang tua Rania di negara C. Ziva dan Darren hanya mampu memberikan restu untuk anak dan menantunya, serta mendoakannya selamat sampai tujuan. Begitu halnya, oma dan opa nya beserta keluarga Fino.
“Ayah cuma ingin berpesan kepadamu! Kemanapun kamu membawa istrimu, kamu harus menjaganya. Jangan sekali-kali menyakitinya selama di sana. Ingat Lio, istrimu tengah mengandung anakmu. Dan Ayah hanya bisa mendoakanmu, semoga kalian sampai di tempat tujuan dengan selamat dan kembali ke rumah dengan selamat dan sehat wal'afiat” ucap Darren sambil memegang kedua pundak putranya yang sedang menasihati dan mendoakan kepergian putranya.
“Iya ayah, aku akan terus mengingat pesan ayah. Jangan khawatir, aku akan senantiasa menjaga istriku” ucap Adelio dengan tatapan hangatnya tanpa keraguan sekalipun.
Sedangkan Adelia menjadi murung ditinggal oleh kakak iparnya, tak ada lagi teman mengobrolnya selama tinggal di rumah. Rania hanya mampu tersenyum melihat tingkah adik iparnya yang hanya diam dan tak berbicara panjang lebar.
“Ayah, bunda, oma, opa, bibi, paman dan semuanya, aku pergi. Sampai jumpa lagi” ucap Rania tersenyum di balik cadarnya sambil melambaikan tangannya yang sudah berdiri di samping mobil.
Adelio ikut melambaikan tangannya menatap kearah keluarganya yang sedang berdiri di teras rumah.
Setelah itu, Adelio menuntun istrinya masuk ke dalam mobil. Rania sudah duduk tenang di dalam mobil, kemudian kembali melambaikan tangannya kearah keluarga Adelio hingga mobil terus melaju menuju gerbang utama dan mulai meninggalkan kediaman Alexander.
Adelio segera menarik tubuh Rania bersandar di dadanya, dia harus membuat Rania nyaman selama perjalanan ke negara C. Kebetulan anak buahnya sudah mendapatkan informasi keberadaan ibu Rania yang berada di daerah perbatasan negara C.
__ADS_1
Sedang Rania tersenyum sambil menatap lurus ke depan. Kendrick yang mengemudikan mobil atasannya hanya mampu tersenyum yang tak sengaja melihat kemesraan atasannya bersama istrinya. Kemudian Kendrick segera menutup tirai penghubung di kursi belakang, agar dia tak menjadi penguntit pasangan suami istri itu.
Dua unit mobil mengikutinya dari belakang. Mereka adalah anggota The Lion X yang sedang melakukan pengawalan. Terdapat dua pelayan wanita yang berada di salah satu mobil tersebut yang akan ikut bersama majikannya. Tidak dapat dipungkiri pelayan itu akan melayani majikannya dengan baik, salah satu menyiapkan keperluan Rania selama berada di sana.
Sementara di klinik Alexander.....
Dokter Nisa sedikit canggung masuk di ruang perawatan Raka. Mengingat tempo hari, pasiennya begitu lancang memeluk nya. Walaupun dia memaklumi pasiennya, tapi, tetap saja dirinya harus waspada dalam menangani pasien nya, mengingat dirinya sudah memiliki tunangan.
Dengan hati-hati Dokter Nisa membuka pintu ruang perawatan Raka.
Ceklek
Raka yang tengah duduk di kursi menghadap jendela segera mengalihkan pandangannya. Raka segera bangkit dari duduknya dan terlihat mematung melihat kedatangan dokter Nisa hingga bibirnya membentuk senyuman.
Tak ingin terlihat kaku dengan pasiennya, Dokter Nisa ikut tersenyum ramah lalu mendekati Raka.
"Jangan terus berada di dalam ruangan, sekali-kali anda harus menikmati udara segar di taman klinik" ucap Dokter Nisa dengan ramahnya.
Raka sama sekali tak menimpali ucapan Dokter Nisa. Raka malah mengalihkan pandangannya ke arah jendela untuk melihat suasana di luar sana. Akibat penyiksaan yang dialaminya membuatnya trauma mendalam dan tak mampu berbicara.
"Baiklah, saya pikir anda harus berjalan-jalan di sekitar klinik ini. Ners, tolong bantu saya membawa mas Raka" ucap Dokter Nisa kepada perawat yang selalu mendampinginya.
Perawat itu bernama Sinta dan merupakan orang pertama yang akrab dengannya.
Nisa dan Sinta membawa Raka keluar ruangan untuk berjalan-jalan di sekitaran klinik.
🍁🍁🍁🍁
Setibanya di bandara, Adelio dan Rania bergegas naik ke pesawat jet pribadi Adelio. Setelah semuanya lengkap, pesawat jet pribadinya mulai terbang ke negara C.
Sepanjang perjalanan Rania terus saja tertidur pulas di dalam pesawat. Adelio selalu memperhatikan gerak-geriknya sambil menggenggam tangan Rania.
Kurang lebih tiga jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di bandara internasional negara C. Rania masih tertidur pulas, dengan cepat Adelio menggendongnya turun dari pesawat. Dikarenakan perjalanan mereka masih panjang.
"Mobil yang menjemput tuan dan nyonya sudah siap" ucap Kendrick cepat sambil berjalan di samping atasannya sebagai penunjuk jalan.
"Hemm, waktu kita tak banyak. Apa helikopter yang akan membawa kita ke perbatasan sudah siap?" ucap Adelio sambil berjalan keluar bandara yang tengah menggendong istrinya.
"Sudah tuan, saat ini helikopter tersebut berada di halaman perusahaan cabang" ucap Kendrick menjelaskan.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 20 menit. Adelio kembali berganti menggunakan helikopter lalu segera memasukkan istrinya ke dalam helikopter, kemudian dia pun bergegas masuk. Dua buah helikopter siap membawanya ke daerah perbatasan negara C.
Sekitar dua jam perjalanan akhirnya mereka tiba di daerah perbatasan negara C. Dua unit helikopter mendarat sempurna di lapangan luas daerah perbatasan.
Adelio dengan hati-hati menggendong Rania turun dari helikopter. Rania sedikit linglung turun dari helikopter. Sepertinya dia sangat lelah melakukan perjalanan jauh.
Terlihat gubuk reyot di pinggir jalan, Adelio segera membawa Rania untuk beristirahat.
"Cepat cari rumah mertuaku!" teriak Adelio kepada seluruh anak buahnya.
Kendrick bersama rekan mafianya mulai berpencar mencari rumah yang ditempati ibu Sarah.
__ADS_1
Rania bersandar di dada Adelio sambil mengatur nafasnya. Adelio begitu mengkhawatirkannya.
"Aku sangat senang tiba di tempat mama" ucap Rania tersenyum dengan peluh keringat bercucuran di keningnya.
"Sebentar lagi, kau akan bertemu dengannya. Sebaiknya minum dulu, jangan sampai kau dehidrasi lalu habiskan makanan ini" ucap Adelio dengan perhatiannya.
Rania segera meminum air mineral hingga tandas.
"Aku tak lapar, taruh saja" tolak Rania.
Pelayan wanita yang baru saja menyajikan untuknya segera membereskannya kembali.
"Tempat ini sangat indah. Gunung-gunung menjulang tinggi, kicauan burung saling sahut-sahutan dan udaranya sangat sejuk" ucap Rania tersenyum sambil menghirup udara segar.
Kini Adelio dan Rania sudah berdiri di depan gubuk bambu yang diyakini tempat tinggal mama nya.
Adelio mengetuk pintu gubuk tersebut. Namun tak kunjung ada jawaban. Tak berselang lama kemudian, datanglah dua wanita paruh baya sambil memikul kayu bakar.
Salah satu penghuni gubuk tersebut terkejut melihat sosok yang dirindukannya.
"Rania!" teriaknya sambil menjatuhkan kayu bakarnya.
Rania segera mengalihkan pandangannya dan langsung tersenyum melihat orang terkasih nya.
"Mama" ucap Rania dengan mata berkaca-kaca lalu segera mendekati mama nya.
Sarah tersenyum bahagia melihat putrinya dan langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Rania, kamu hamil nak" ucap Sarah yang menyadari perut buncit putrinya.
Rania hanya mengangguk sebagai jawabannya. Sarah segera melepaskan pelukannya lalu menyentuh perut Rania.
"Masya Allah, syukurlah, selamat nak akhirnya kamu menjadi ibu" ucap Sarah dengan mata berkaca-kaca.
Rania hanya mampu tersenyum dengan perasaan campur aduk yang kembali dipertemukan dengan mama nya. Adelio ikut bahagia melihat istrinya bahagia.
"Oh iya, Raka dan paman mu mana" tanya Sarah.
"Nanti kita bicarakan ya ma" ucap Rania pelan.
"Iya nak. Ayo masuk, sebentar lagi petang" ucap Sarah antusias.
Adelio dan Rania bergegas masuk ke dalam gubuk tersebut. Yang lainnya memilih berjaga-jaga di luar. Sedangkan dua pelayan wanita menginap di gubuk Suma, rekan kerja Sarah.
Hari berganti malam, Adelio duduk bersama dengan istri dan mertuanya di atas tikar untuk makan malam bersama. Mereka menikmati makan malamnya dengan khidmat.
Hanya ada satu kamar di gubuk tersebut. Adelio meminta Rania untuk tidur bersama mama nya. Sedangkan dirinya akan tidur di atas lantai tanah yang beralaskan tikar.
Bersambung.....
Mohon maaf baru update, author kurang fit kemarin dan tak bisa nulis part selanjutnya🙏🙏🙏
__ADS_1