
Adelio keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang nya. Rambut basahnya dia kibaskan ke belakang. Pandangannya dia edarkan mencari sosok wanita yang mengatainya bau.
"Kemana perginya gadis gila itu, aku harus memberinya hukuman" gumam Adelio tersenyum sinis.
Adelio melangkahkan kakinya menuju ruang ganti tampak di dalam sana Rania tengah memilih hijab yang cocok untuknya.
"Rupanya kau disini. Kemari! kau harus mencium aroma tubuhku seharian ini sebagai hukuman mu" ucap Adelio dengan entengnya.
Rania segera mengalihkan pandangannya ke arahnya.
"Tuan Adelio, kamu tidak berangkat ke kantor?" tanya Rania sambil memasang wajah imutnya.
"Tidak, aku sakit" ucap Adelio dingin. Kemudian membuka lemari pakaiannya.
"Sakit, kamu terlihat baik-baik saja. Apa seperti ini yang dikatakan orang sakit" ucap Rania ketus.
"Pokoknya aku sakit dan tak ingin kemana-mana hari ini. Jangan lupa bawakan sarapan untukku di kamar" ucap Adelio sambil mengambil pakaian santainya.
"Aneh, harusnya aku yang dipertanyakan sedang sakit bukan kamu. Karena saat ini aku sedang mengandung" ucap Rania sambil memasang hijabnya.
"Sana pergi siapkan sarapan untukku dan jangan lupa katakan kepada ayah dan bunda bahwa aku sedang sakit" ucap Adelio, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku akan siapkan sarapan untukmu, tapi aku tidak ingin berbohong pada ayah dan bunda jika kamu hanya pura-pura sakit" ucap Rania sambil tersenyum.
Rania bergegas keluar dari kamarnya, dia perlu sarapan bersama dengan keluarga Adelio, setelah itu barulah menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya.
Semuanya sudah berkumpul di meja makan, Oma dan Opa Adelio juga ada di sana. Dengan langkah lambat Rania menghampiri mereka.
"Pagi semuanya" sapa Rania tersenyum.
"Pagi nak, ayo duduk" ucap Ziva antusias dan segera menarik kursi untuk Rania.
"Tak perlu bunda, aku bisa sendiri" ucap Rania tak enak hati dengan sikap ibu mertuanya.
"Oma sudah menyiapkan sarapan untukmu. Kamu harus makan yang banyak nak, ini lihat irisan buah apel, pepaya, jeruk dan sayur lodeh buatan Oma yang cocok untuk ibu hamil" ucap nyonya Ira yang begitu antusias.
"Terima kasih Oma, Rania akan menghabiskan makanan ini" ucap Rania tersenyum.
Wajah Rania berseri-seri yang kembali mendapatkan perhatian dari Oma Adelio.
"Kak Lio mana kakak ipar?" tanya Adelia.
"Emm suamiku masih di kamar, dia memintaku untuk membawakan sarapan untuknya di kamar" ucap Rania sambil menundukkan pandangannya.
"Ooh..apa kak Lio sakit?" tanya Adelia kembali.
"Tidak, hanya kurang enak badan" ucap Rania cepat.
"Sudah.. sudah, sebaiknya habiskan sarapan kalian. Biar pelayan yang membawakan sarapan untuk Lio" ucap Ziva yang menengahi mereka.
__ADS_1
Semuanya tampak khidmat menikmati sarapannya pagi ini. Selesai sarapan bersama, Adelia dan Malfin kembali berpamitan untuk berangkat ke tempat kerja mereka masing-masing.
"Kami pergi dulu ayah, bunda, opa dan Oma, insyaallah Lia pulang cepat kok" ucap Adelia tersenyum di balik cadarnya.
"Hati-hati sayang" ucap opa dan Oma nya kompak.
Adelia dan Malfin hanya mampu tersenyum kemudian berjalan sambil bergandengan tangan menuju pintu utama.
Sementara para orang tuanya mulai menyiapkan syukuran atas kehamilan Rania yang akan dilangsungkan sore hari.
Rania kembali membawa nampan berisi sarapan untuk Adelio. Sementara pelayan sedari tadi sudah membawakan sarapan untuk majikannya.
Dengan pelan Rania membuka pintu kamarnya. Tampak Adelio sedang berada di atas tempat tidur sambil bersandar santai menyaksikan channel TV yang tak dikenal salurannya.
Rania bergegas masuk ke dalam kamarnya dan tak lupa menguncinya. Rania membulatkan matanya mendengar suara-suara yang tidak asing baginya.
Matanya melotot sempurna dan hampir saja menjatuhkan nampan yang sedang dipegangnya.
"Matikan! apa yang sedang kamu tonton" teriak Rania dengan wajah merona.
Adelio tak menggubris ucapannya dan malah asyik menonton sambil senyum-senyum sendiri.
Rania segera menyimpan nampan tersebut di tas meja lalu berlari kecil menghampiri Adelio.
"Matikan TV nya, kamu harus menghapus video itu" ucap Rania dengan wajah merona yang begitu kesal melihat rekaman video antara dirinya dengan Adelio.
"Kamu benar-benar mesum, menonton tontonan tak berakhlak" ucap Rania kesal lalu memukul Adelio menggunakan bantal nya.
"Hei, apa yang kau lakukan gadis gila!" ucap Adelio sambil menahan bantal tersebut.
"Otakmu harus di refresh biar tak berpikiran mesum melulu" ucap Rania ketus.
Sehingga terjadilah perang bantal di atas tempat tidur antara Adelio dan Rania. Pasangan suami istri itu persis anak kecil yang sedang bertengkar hebat. Sementara rekaman video mereka masih saja berlanjut.
Rania begitu semangat memukuli Adelio menggunakan bantal nya hingga keseimbangan tubuhnya kembali oleng...
"Akkhhh"
Rania hampir saja terjatuh, untungnya dengan sigap Adelio menarik tangannya hingga tubuh mereka terjerambah di pinggir tempat tidur.
Adelio melingkarkan tangannya di pinggang Rania, sedangkan Rania memeluk lengan kekar Adelio begitu eratnya. Mereka kembali saling tatap-tatapan, Adelio segera menarik cadar Rania hingga terlihat jelas wajah Rania merona.
Adelio mendekatkan wajahnya ke wajah Rania, wajah keduanya terlihat semakin dekat dan semakin dekat. Adelio menelan saliva nya dengan kasar melihat bibir ranum Rania yang selalu saja menggodanya. Adelio terus saja mendekatkan wajahnya, membuat Rania segera memejamkan matanya. Adelio merasa mendapatkan lampu hijau untuk menggapai bibir ranum istrinya.
Namun suara dering ponsel mengangetkan konsentrasi mereka. Adelio menjadi gelagapan dan segera menjauh dari tubuh Rania.
"Sial, menggangu saja" gumam Adelio dengan wajah kesalnya.
Adelio menyambar ponselnya dan segera mengangkat panggilan masuk tersebut dari orang kepercayaannya.
__ADS_1
"Saya menunggu tuan_" ucap Kendrick diujung telepon yang tidak melanjutkan ucapannya.
"Aku sakit, dan jangan menggangguku. Urus kantor dengan baik" ucap Adelio tegas.
"Baik tuan" ucap Kendrick hati-hati.
Adelio langsung mematikan sambungan telepon tersebut. Kendrick hanya mampu mengelus dada dan begitu terkejut tuan nya sedang sakit.
"Tak ada sejarahnya tuan Adelio sakit, pertanda apa ini" gumam Kendrick dan segera masuk ke dalam mobil nya dan langsung menancap gas menuju perusahaan Lion Group.
Masih di kamar Adelio, Rania segera mematikan tv tersebut, dia begitu malu melihat rekaman videonya bersama Adelio.
"Kamu harus beristirahat, tak boleh menonton saluran dewasa seperti tadi" ucap Rania sambil bertolak pinggang.
Adelio memilih duduk di sofa sambil selonjoran menatap Rania.
"Mana sarapannya?" ucap Adelio dingin.
"Di atas meja, habiskan dua piring sandwich dan dua gelas kopi hitam, setelah itu beristirahatlah. Soalnya, aku mau keluar jalan-jalan bersama oma" ucap Rania bersorak gembira.
"Hei kau, aku tidak menyuruhmu berkeliaran di luar, kau harus menjalani hukuman mu" teriak Adelio.
Sementara Rania sudah berlalu keluar dari kamarnya.
Sore harinya....
Keluarga Alexander sudah berkumpul di vavilium bersama anak panti asuhan guna melakukan syukuran atas kehamilan Rania.
Rania begitu bersyukur atas anugerah terindah yang dikarunia Tuhan untuknya. Rania duduk bersama Adelio yang tengah mendengarkan siraman kalbu dari toko agama yang sempat di undang oleh orang tuanya.
Adelia dan Malfin selalu saja kompak dengan pakaian couplean.
"Sayang, aku jadi iri dengan kembaran mu. Bukankah mereka saling benci, bisa-bisanya dia menghamili Rania secepat itu" bisik Malfin yang sedang melirik ke arah Adelio.
"Kak Malfin, semua sudah diatur oleh Tuhan. Jodoh, rezeki, maut semuanya sudah diatur oleh Tuhan. Kita hanya mampu menerimanya dengan lapang dada. Benci dan cinta beda tipis, mungkin mereka sudah sama-sama suka hingga kakak ipar cepat diberikan momongan" ucap Adelia tersenyum.
"Aku juga ingin segera menghamili mu" bisik Malfin tersenyum tipis.
"Semoga ucapan kak Malfin segera diijabah oleh Tuhan" bisik Adelia sambil mencium pipi Malfin.
"Kamu sudah pintar ya" ucap Malfin tergelak tawa sambil mencolek gemas pipi Adelia.
Pasangan suami istri itu selalu saja terlihat harmonis. Sedangkan Adelio dan Rania hanya saling diam-diaman dengan pikiran masing-masing.
Semuanya tampak bahagia atas kehamilan Rania, syukurannya pun berjalan dengan lancar.
Bersambung....
Terima kasih atas dukungannya teman-teman ššš
__ADS_1