
Kurang lebih lima jam perjalanan, akhirnya Malfin dan Adelia tiba di negara B. Malfin dengan perhatiannya menggandeng tangan Adelia dan selalu saja membuat istrinya tetap berada di sampingnya. Mereka berjalan bersama-sama keluar dari bandara.
Min dan Niko yang merupakan orang kepercayaannya selalu saja melakukan pengawalan untuk atasannya. Mereka berdua tengah membawa koper miliknya.
Tampak keluarga Malfin sudah menunggu kedatangan Malfin dan Adelia di halaman bandara. Morgan mulai berteriak memanggil nama Adelia sambil terus melambaikan tangannya.
"Kak Adelia, selamat datang di negara tercinta kami" teriak Morgan dengan hebohnya bersama Nino.
Adelia hanya mampu tergelak tawa melihat tingkah kocak adik iparnya. Malfin hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik kesayangannya.
Milan segera menyambut kedatangan menantunya, memberikan pelukan hangat dan saling cipika-cipiki.
"Selamat datang sayang, mama sangat merindukanmu" ucap Milan tersenyum bahagia.
"Iya ma, Lia sangat merindukan mama" ucap Adelia yang tersenyum di balik cadarnya.
Sementara Malfin melepas rindu kepada papa tercintanya dan juga adik kesayangannya.
"Kapan kamu akan memberikan kado istimewa untuk papa" bisik Fino kepada putranya.
"Sabar pa, doakan saja. Aku masih berusaha untuk mewujudkan kado istimewa untuk papa" timpal Malfin tersenyum tipis.
"Gasskan, jangan mau kalah sama Adelio. Kamu itu kebanggaan papa, jadi berikan papa cucu yang banyak biar masa tua papa semakin sejahtera" ucap Fino tersenyum.
"Oke pa, tenang aja" bisik Malfin sambil merangkul pundak papa nya.
Setelah selesai melepas rindu, mereka semua bergegas masuk ke dalam mobilnya masing-masing. Terdapat tiga unit mobil terparkir di halaman bandara yang sedang menunggu kedatangan Malfin dan Adelia.
Mobil pun melaju meninggalkan bandara menuju kediaman orang tua Malfin. Disepanjang perjalanan mereka selalu saja bercanda gurau hingga tak terasa tiba di kediaman Fino Alexander.
"Mama yang akan membantu Adelia turun dari mobil" ucap Milan antusias.
Adelia hanya mampu tersenyum sambil menerima uluran tangan ibu mertuanya.
"Sudah hampir lima tahun aku tak pernah berkunjung di rumah mama. Ternyata tak ada yang berubah ya" ucap Adelia sambil memperhatikan bangunan tiga lantai dengan desain interior modern.
"Ayo sayang, kita masuk ke dalam. Mama sudah menyiapkan sesuatu untukmu"ucap Milan tersenyum sambil menggandeng tangan menantunya.
Mereka berjalan bersama-sama masuk ke dalam rumah. Kemudian disusul Fino, Malfin dan Morgan yang hanya mengikuti langkah kaki orang tersayangnya.
"Ma, aku harus bawa Lia ke kamar. Kami butuh istirahat, nanti kita bertemu setelah jam makan malam" ucap Malfin yang kembali mengambil alih istrinya.
Malfin dengan mesra memeluk Adelia dari belakang. Sementara Morgan hanya mampu membulatkan matanya sambil berdengus kesal melihat kemesraan kakak nya.
__ADS_1
"Hemm, sana bawa kakak ipar ke kamar, jangan tebar kemesraan di hadapan jomblo seperti kami" ucap Morgan sambil tersenyum sinis.
Adelia hanya mampu tersenyum mendengar ucapan adik iparnya.
"Makanya cepat cari pasangan, biar kamu bisa bermesraan dengan pasangan halal mu" ejek Malfin, kemudian segera membawa istrinya ke kamarnya.
"Dasar bucin....budak cintanya kak Lia" teriak Morgan.
Milan dan Fino kompak menertawakan anak bungsunya. Morgan segera undur diri dari hadapan kedua orang tuanya, jika masih berada di sana bisa-bisa dia mendapatkan ceramah gratis dari kedua orang tuanya.
Malfin berjalan beriringan menaiki anak tangga menuju lantai tiga dimana kamarnya berada.
"Sayang, kamu harus menutup matamu sebelum masuk ke dalam kamar kita" ucap Malfin sambil membuka dasi nya.
"Tutup mata, nggak perlu. Aku tak bisa berjalan dengan benar jika_....akhhhh...kak Malfin_" ucap Adelia kesal karena Malfin sudah menutup matanya.
"Apa yang sedang kamu lakukan kak_" ucap Adelia sambil meraba-raba di sekitarnya.
Malfin segera menggendongnya dan membawanya ke kamar nya.
"Kak Malfin, turunkan aku" ucap Adelia sambil meraba tubuh suaminya.
Malfin hanya mampu tergelak tawa sambil menggendong istrinya menuju kamarnya. Saat di depan pintu kamarnya, dengan hati-hati Malfin membuka pintu kamarnya, kemudian segera membawa Adelia masuk ke dalam kamar.
Adelia berpegangan erat di leher suaminya yang tak mampu melihat apa-apa.
"Di markas ternyaman kita sayang" bisik Malfin dengan suara menggoda. Kemudian menurunkan Adelia di atas tempat tidur.
Adelia tersipu malu dengan rona wajah memerah mendengar tutur kata suaminya. Tangan Adelia masih mengalung sempurna di leher suaminya dan tak ingin melepaskannya
"Lia, kamu ingin terus berada di bawahku?" tanya Malfin dengan seringai licik diwajahnya.
"Tidak, Kak Malfin harus membuka penutup mataku sebelum aku bisa melepaskan kak Malfin" ucap Adelia memberikan penawaran.
"Aku lebih suka berada di atas tubuhmu, jadi aku tidak akan melepaskan penutup matamu" goda Malfin sambil membelai wajah istrinya.
"Iih kak Malfin, tak bisa diajak kompromi. Cepat lepaskan penutup mataku, nanti malam aku akan memberikan hadiah spesial untuk mu" ucap Adelia sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Cup
Malfin tersenyum kemenangan mencium kening Adelia.
"Baiklah sayang, apapun akan kulakukan untukmu" bisik Malfin dan segera melepaskan penutup mata istrinya.
__ADS_1
Adelia memilih duduk di samping Malfin sambil mengamati suasana kamar suaminya. Ini kali pertamanya menginjakkan kaki di kamar suaminya.
"Persiapan dirimu nanti malam, aku ingin menagih hadiah spesial mu" ucap Malfin tersenyum kemudian memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Iya kak Malfin, aku sudah menyiapkan hadiah spesial untuk mu jauh-jauh hari. Jadi jangan khawatir"gumam Adelia sambil tersenyum tipis.
Adelia kembali berkeliling mengamati suasana kamar Malfin.
"Suasana kamar nya hampir mirip kamar kak Lio. Terlihat kaku dan sama sekali tak berwarna" ucap Adelia sambil bersikadap.
Adelia menggulung senyuman saat melihat foto masa kecilnya terpajang rapi dengan deretan foto suaminya semasa kecilnya.
"Rupanya kak Malfin diam-diam menyimpan fotoku" ucap Adelia sambil tergelak tawa melihat foto masa kecilnya bersama Malfin.
"Sedari kecil kak Malfin sudah berwajah dingin namun tetap saja tampan rupawan" ucap Adelia tersenyum. "Kalau kakak ipar melihat foto ini, sudah dipastikan kakak ipar akan tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut. Ah sepertinya aku ada ide" ucap Adelia cengengesan.
Adelia segera memotret deretan foto masa kecil suaminya. Dan tak butuh lama, Adelia segera mengirimkan deretan foto tersebut pada kakak iparnya.
"Yes, semoga kakak ipar segera melihatnya" gumam Adelia.
"Lia cepat bersihkan tubuhmu, setelah itu beristirahatlah bersamaku" ucap Malfin tersenyum hangat.
"Baik kak Malfin" ucap Adelia tersenyum dan segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara Malfin berlalu masuk ke ruang ganti untuk mengenakan pakaian santainya.
"Aku sudah tidak sabar menagihnya dari Adelia. Semoga malam ini semuanya berjalan lancar" gumam Malfin sambil mengenakan pakaiannya.
Senyuman terpancar di wajahnya, beberapa jam lagi dia akan memiliki Adelia seutuhnya.
Sementara di dalam kamar mandi...
"Semoga kak Malfin menyukai hadiah spesial ku. Sudah jauh-jauh hari aku bersusah payah mencari hadiah langka nan spesial itu" gumam Adelia senyum-senyum sambil berendam di dalam bathtub.
Adelia begitu rileks menikmati acara berendam nya. Dengan suasana hati yang mulia tumbuh benih-benih cinta kepada suaminya.
Bersambung.....
Kira-kira hadiah seperti apa yang disiapkan Adelia untuk Malfin?
Untuk visual nya, author masih cari-cari ya teman-teman š¤
Jangan lupa tinggalkan jejak šš¤
__ADS_1