
Malfin dan Adelia baru saja menyelesaikan urusan malamnya. Kini mereka tengah bersandar di kepala tempat tidur sambil beristirahat sejenak. Malfin dan Adelia saling menebar senyuman. Kemudian Malfin menarik tubuh Adelia masuk ke dalam pelukannya.
"Kak Malfin, katakan yang sejujurnya mengapa terus menjauhi ku?" tanya Adelia sambil mendongak menatap suaminya.
Malfin tersenyum tipis sambil membelai wajah istrinya.
"Karena kamu membuatku jatuh cinta. Maka dari itu, aku berusaha keras belajar agama agar bisa menjadi imam sholat mu. Kurang lebih seminggu aku terus lembur demi bisa belajar sholat. Kamu tahu, aku malu dan tersindir dengan hadiah istimewa mu tempo hari" ucap Malfin sambil memberikan kehangatan untuk istrinya.
"Iiih kak Malfin, kamu membuatku khawatir dan sedih tau. Aku takut jika kamu terus menjauhiku" ucap Adelia sambil mendongak menatapnya.
"Maaf sayang sudah membuatmu khawatir. Aku tidak akan mengulanginya lagi" timpal Malfin sambil mencium puncak kepala istrinya.
Adelia hanya mampu tersenyum dan merasa lebih baik, setelah permasalahan rumah tangganya teratasi.
"Terima kasih sayang, aku sangat beruntung memilikimu. Setiap malam aku akan melakukannya biar kamu cepat hamil" ucap Malfin sambil membelai lembut punggung istrinya.
"He he he... kak Malfin bisa aja. Baik, aku siap melayanimu yang terpenting jangan ngambek lagi ya" goda Adelia sambil menusuk dadanya.
"Jangan membahasnya lagi, sebaiknya kita tidur" ucap Malfin tersenyum tipis. Adelia segera menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya, dia tak menyangka melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
Mereka kembali berpelukan mesra memberikan kehangatan satu sama lain, hingga akhirnya terbuai dalam mimpi.
Tepat pukul 5 pagi, pasangan suami istri yang baru saja merayakan malam pengantinnya mulai terbangun. Adelia mengerjapkan matanya sambil mengumpulkan kesadarannya, sedangkan Malfin meregangkan otot-ototnya yang kaku karena semalaman lengannya dijadikan bantal oleh istrinya.
Malfin tersenyum menatap istri tercintanya. Begitu halnya Adelia yang tersipu malu tak habis pikir sudah menunaikan kewajibannya.
Adelia segera turun dari tempat tidur, namun Malfin segera menghentikannya lalu segera menggendongnya.
"Kak Malfin, turunkan aku" rengek Adelia sambil berpegangan erat di leher Malfin.
"Kamu sudah melayaniku semalaman, sekarang aku yang akan melayani mu" tegas Malfin sambil menaikkan alisnya yang tak ingin dibantah.
Adelia memilih patuh, memang tubuhnya saat ini pegal-pegal dan kemungkinan besar dia akan kewalahan berjalan menuju kamar mandi. Mereka pun bergantian membersihkan tubuhnya. Kemudian bersiap-siap untuk melaksanakan sholat subuh bersama.
Adelia tak henti-hentinya meneteskan air matanya yang diselimuti perasaan haru saat Malfin menjadi imam sholat nya. Selesai sholat bersama, Adelia langsung berhambur memeluk Malfin.
"Terima kasih kak, kamu sudah membuktikannya" ucap Adelia diiringi isak tangis.
Malfin menghela nafas panjang sambil tersenyum mengelus punggung istrinya.
"Aku yang harusnya berterima kasih sayang, karena berkat dirimu aku kembali ke jalan yang benar" ucap Malfin dengan mata berkaca-kaca.
Mereka pun kembali berpelukan yang sama-sama diselimuti perasaan haru. Bagaimana tidak, momen tersebut sangat penting bagi nya. Bukan perkara mudah membuat seseorang bisa kembali ke jalan yang benar tanpa doa, dan hidayah dari Allah SWT.
ššššš
Sementara di kediaman Alexander.....
Rania tampak bermalas-malasan di atas tempat tidur. Sehabis melaksanakan sholat subuh, Rania memilih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pagi ini moodnya kurang baik sehabis mual-mual di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Adelio hanya diam melihat tingkah laku istrinya yang tengah bersiap-siap untuk ke kantor. Adelio kembali melirik ke tempat tidur saat melihat Rania terus membolak-balikkan tubuhnya mencari posisi yang nyaman.
Pikiran Adelio mulai tertuju kepada Rania. Entah mengapa dia merasa curiga kalau Rania sedang tidak baik-baik saja. Adelio memilih menghampirinya.
"Mengapa kamu masih bermalas-malasan di tempat tidur! apa perutmu kembali sakit?" tanya Adelio yang selalu saja mempertanyakan perut Rania.
Rania menggeleng dengan raut wajah memelas. Adelio segera duduk di pinggir tempat tidur untuk memastikan kondisi tubuh Rania. Adelio menyentuh kening Rania yang sama sekali tidak menandakan efek orang sakit.
"Ada apa dengan mu? cepat katakan" tegas Adelio dengan sorot mata tajam, namun tetap saja mengkhawatirkan kondisi Rania.
"Aku hanya malas dan pingin buah manggis" ucap Rania pelan sambil memeluk guling.
"Tanyakan saja kepada Bu Lastri, dia yang akan mencarikan untukmu. Cepat bangun, kita harus sarapan bersama" ucap Adelio dan merasa tak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Tidak mau, aku tidak berselera makan, aku pingin kamu yang memetik langsung buah manggis nya" rengek Rania dengan raut wajah imutnya.
Adelio menghembuskan nafasnya dengan kasar dan sedikit kesal dengan sikap manja Rania.
"Tak perlu makan buah manggis kalau aku yang memetiknya" ucap Adelio kesal dengan suara lantang lalu bangkit dari duduknya.
"Ya sudah, aku tidak mau sarapan bersama dengan mu, sana pergi. Kamu tak pernah sekalipun peduli kepada ku. Satu lagi, kamu tidak boleh menyentuhku nanti malam dan siap-siap kamu harus tidur di luar" ucap Rania ketus sambil membelakangi Adelio. Rania berhasil mengeluarkan ancaman mematikannya.
"Apa! hanya ingin buah manggis. Kau mengancam ku" kesal Adelio yang tak terima ucapan Rania.
Adelio berdengus kesal sambil menyilangkan kedua tangannya. Sementara Rania sangat kesal dengan ucapan Adelio sambil menyembunyikan wajahnya di balik guling.
"Haisshhh, baiklah, aku akan mengabulkan keinginan mu."
"Bangunlah, ayo sarapan bersama" ucap Adelio sambil menyentuh lengan Rania.
Rania segera berbalik badan dengan senyuman manis terpancar di bibirnya lalu berhambur memeluk Adelio. Adelio tersenyum tipis dan merasa lucu melihat tingkah Rania.
"Kau semakin berani memelukku" tegas Adelio dengan senyuman tipis menghiasi bibirnya.
"Kamu juga sudah hobi menciumku, jadi apa bedanya" bantah Rania.
"Dasar cerewet."
"Dasar pemarah."
"Kau!"
"Kamu suamiku." Rania menusuk-nusuk perut Adelio menggunakan jemari tangannya.
Adelio tak habis pikir Rania terus menimpali ucapannya dan begitu pandai adu mulut dengannya.
"Aku harus memberimu pelajaran!" ucap Adelio dengan suara lantang.
"Nanti malam saja, bawakan saja buah manggis untukku" ucap Rania dengan suara tak kalah jauh dari Adelio, bahkan senyuman manis menghiasi bibirnya sambil mendongak menatapnya.
__ADS_1
Adelio menundukkan pandangannya sambil mencubit gemas hidung mancung Rania. Kemudian langsung menggendong Rania. Gelak tawa memenuhi kamar tersebut.
Pasangan suami istri itu mulai saling terbuka dan menerima satu sama lain. Adelio bahkan tidak canggung lagi jika menginginkan Rania sedangkan Rania sudah pasti selalu memberikan kepuasan untuknya.
Sebelum berangkat ke kantor Adelio mengerahkan anak buahnya untuk mencari pohon manggis yang berbuah sebelum dia petik buahnya. Semua itu dia lakukan demi keinginan Rania, tak habis pikir dirinya menjadi penurut.
"Bagaimana, apa kalian sudah menemukan pohon manggis yang berbuah?" tanya Adelio dengan pandangan lurus ke depan yang tengah duduk tenang di dalam mobilnya.
"Maaf tuan, kami belum menemukan pohon manggis yang berbuah" ucap anak buahnya dengan hati-hati.
"Cari terus sampai dapat. Aku beri kalian waktu satu jam mulai dari sekarang!" tegas Adelio tak main-main seperti sedang berburu musuh bebuyutannya.
"Siap tuan" ucapnya kompak bersama kelima rekannya. Kemudian undur diri dari hadapan tuannya.
Kendrick hanya mampu diam di kursi depan mendengarkan pembicaraan atasannya.
"Istriku mulai banyak maunya. Bunda dan ayah bahkan mendukung ngidamnya. Baru kali ini aku di buat pusing begini. Kerjaan kantor mulai terbengkalai" gumam Adelio kesal sambil memijit pelipisnya.
Kendrick tersenyum mendengar ucapan atasannya.
Nona Rania ngidam, tuan Adelio yang dapat getahnya. Baru juga permulaan mulai pusing tujuh keliling. Batin Kendrick.
Setelah kurang lebih lima belas menit menunggu di dalam mobil, akhirnya mobil Adelio melaju menuju lokasi yang akan di tuju. Adelio yang akan turun tangan memetik buah manggis yang sedang diidamkan oleh istrinya.
Sementara Rania begitu lahap menikmati cake buatan ibu mertuanya. Ziva dan nyonya Ira tersenyum melihatnya. Ziva dengan penuh kasih sayang kembali membersihkan sisa-sisa cake yang belepotan di wajah Rania.
"Makasih bunda, cake buatan bunda sangat enak" ucap Rania sambil menaikkan jempolnya.
"Alhamdulillah, ya sudah habiskan saja. Setelah selesai, bunda dan Oma akan menemanimu memeriksa kandungan mu" ucap Ziva lemah lembut.
Rania mengangguk patuh sambil mengunyah cake yang super enak buatan ibu mertuanya. Kemudian kembali menghabiskan jus wortel.
Tak berselang lama kemudian, datanglah Adelio sambil menenteng kantong kresek berisi buah manggis keinginan Rania. Penampilan sangat berantakan, rambutnya acak-acakan dan terdapat serangga kecil yang berkeliaran di sana.
Adelio sama sekali tak menyadari dan terus saja berjalan masuk ke dalam rumah mencari keberadaan Rania.
Tampak Rania duduk bersama dengan bunda dan Oma nya. Rania begitu santai meminum jus buah wortel sambil melirik Adelio yang mulai berjalan menghampirinya.
"Ini buah manggis yang kau inginkan" ucap Adelio dingin sambil menyodorkan kantong kresek tersebut.
"Taruh saja di meja! aku sudah kenyang dan tak berselera lagi untuk mencicipinya" ucap Rania terdengar ketus.
Adelio mengepalkan tangannya mendengar ucapan Rania. Sedangkan Ziva dan nyonya Ira tersenyum dan sangat memaklumi Rania yang tengah hamil.
Adelio mendekati Rania dengan raut wajah sulit diartikan. Adelio langsung mendaratkan ciuman di kening Rania.
"Kau harus membayarnya nanti malam" bisik Adelio dengan kesalnya. Rania hanya cengengesan menatapnya.
Bersambung......
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya teman-teman ššš