Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Hamil?


__ADS_3

Sepasang suami istri masih saja terlelap di atas tempat tidur. Mereka berpelukan mesra saling berbagi kehangatan, aktivitas semalaman membuatnya kelelahan. Pakaian mereka berserakan di lantai beserta beberapa bantal yang tidak terpakai.


Samar-samar cahaya matahari masuk di celah jendela kamarnya membuat keduanya saling mengerjapkan matanya yang masih mengumpulkan kesadarannya. Pandangan mereka kembali bertemu hingga tak sanggup berkata-kata, mereka kompak mengalihkan pandangannya dengan suasana canggung.


"Menjauh dari tubuh ku gadis gila penggoda!" ucap Adelio dingin, padahal jelas-jelas tangan kekarnya masih melingkar sempurna di pinggang istrinya.


Rania segera menggeser tubuhnya yang terasa remuk, ditambah kepalanya kembali pusing. Rania tak bisa meladeni ucapan Adelio. Karena tubuhnya saat ini tak bersahabat untuk adu mulut dengan Adelio.


Adelio segera turun dari tempat tidur untuk membersihkan tubuhnya dan seolah seperti tak terjadi apa-apa diantara mereka.


Rania masih menggulung tubuhnya dengan selimut, pandangannya mulai berkunang-kunang dengan kepala pusingnya. Rania memilih untuk melanjutkan kembali tidurnya.


Tak berselang lama kemudian Adelio keluar dari kamar mandi dan terlihat segar dengan pakaian santainya. Handuk kecil masih melingkar di lehernya yang tengah mengusap-usap rambutnya. Pandangan Adelio tertuju ke arah tempat tidur dimana Rania masih terlelap di sana.


Adelio melangkah mendekati tempat tidur. Adelio membungkukkan badannya menatap tajam wajah Rania. Adelio menggunakan telunjuknya menusuk pipi Rania untuk membangunkannya, namun Rania tak bergeming di tempatnya.


Adelio menghela nafas panjang sambil mengangkat tangannya untuk menjitak kening Rania namun aksinya kembali di urungkan mendengar rengekan Rania.


"Papa, mama, kak Raka aku merindukanmu... hiks hiks hiks."


Rupanya Rania ngingau dengan air mata yang terlihat menetes dari pelupuk matanya.


Adelio terdiam sejenak menatap wajah Rania. Tangannya kembali terulur menyentuh keningnya.


"Dia demam tinggi" gumam Adelio tanpa memindahkan tangannya.


Apa aku terlalu kebablasan melakukannya sampai-sampai gadis gila ini jatuh sakit. Batin Adelio.


Pikiran Adelio mulai berkelana kemana-mana yang merasa sedikit menyesal dengan perbuatannya. Adelio segera mengambil pakaian yang berserakan di lantai lalu memasukkannya di keranjang kotor.


"Sangat merepotkan, aku harus mengurus gadis gila ini" ucap Adelio kesal lalu segera menghubungi Kendrick untuk menyuruh pelayan menyiapkan sarapan untuknya dan segala keperluan untuk Rania. Dan tak lupa juga menghubungi kembarannya untuk memeriksa kondisi Rania.


Adelio membawa wadah berisi air dingin beserta handuk kecil lalu mendekati tempat tidur. Adelio duduk di pinggir tempat tidur sambil mengompres kening Rania.


Ada rasa iba melihat Rania terbaring lemah. Walaupun dirinya begitu membenci istrinya namun sikap kemanusiaannya masih ada di relung hatinya.


Adelio segera mengambil baju ganti untuk Rania. Dia tidak ingin gadis itu terus polos. Setelah itu Adelio segera membantu Rania memakaikan pakaian untuknya. Adelio menghela nafas panjang melihat perbuatannya semalaman, dengan tanda merah yang bertebaran di sekujur tubuh Rania.


Sayup-sayup mata Rania mulai terbuka saat merasakan tangan dingin seseorang mulai menyentuh permukaan kulitnya. Mata sayup Rania mulai menatap pelakunya.


"Aku tak berbuat macam-macam kepada mu. Lihat hanya membantumu berpakaian. Kau benar-benar merepotkan" ucap Adelio kesal yang tetap membantu Rania berpakaian.

__ADS_1


Rania hanya tersenyum tipis melihatnya membantunya. Tangan Rania terulur menyentuh lengan nya membuat Adelio menatapnya.


"Terima kasih" ucap Rania tersenyum dengan raut wajah pucat.


Adelio tampak acuh dan segera menyelesaikan kegiatannya.


Rania kembali merasakan gelenyar aneh di tenggorokannya. Rania segera menutup mulutnya dan ingin bergegas ke kamar mandi, namun tubuhnya tak sanggup turun dari tempat tidur. Adelio yang melihat tingkah lakunya berinisiatif membantunya.


Adelio langsung menggendong tubuh Rania sementara Rania sudah tak sanggup lagi hingga memuntahkan isi perutnya di pakaian Adelio.


Hoeek


Mata Adelio membulat sempurna menatap tajam Rania yang mengotori pakaiannya. Sungguh Rania benar-benar merepotkan nya, padahal Adelio sudah berada di depan pintu kamar mandi.


Dengan terpaksa Adelio membawa Rania masuk ke kamar mandi. Tampak Rania berdiri di wastafel yang kembali mual-mual dengan tubuhnya lemas nya.


Sementara Adelio kembali membersihkan tubuhnya di bawah shower. Rania diam-diam melihat punggung Adelio di balik cermin, senyuman manis terpancar di bibirnya.


Dengan langkah gontai Rania mendekati Adelio di bawah shower. Tanpa basa-basi Rania berhambur memeluk Adelio dari belakang hingga tubuhnya ikut basah dari air shower.


"Apa yang kau lakukan bodoh! kau sedang sakit" bentak Adelio sambil melepaskan tangan Rania yang melingkar di perutnya. Adelio menghadap menatap Rania.


"Aku menyukaimu" ucap Rania tersenyum hingga jatuh pingsan dalam pelukan Adelio.


"Hei bangun bodoh" ucap Adelio sambil menepuk pipi Rania, namun tak ada reaksi darinya.


Adelio segera mengangkat tubuh Rania lalu membawanya keluar dari kamar mandi. Setelah itu Adelio bergegas memakai pakaiannya lalu menghampiri Rania. Lagi-lagi Adelio menggantikan pakaian Rania dengan baju hangatnya.


Adelio begitu panik melihat Rania tak kunjung bangun. Terdengar suara ketukan pintu dari luar yang sudah kesekian kalinya, namun Adelio masih berusaha membangunkan Rania yang tengah pingsan.


Terlihat beberapa orang sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Diantaranya, Kendrick, Dua pelayan wanita dan pasangan pengantin baru Adelia dan Malfin.


"Apa yang terjadi di kamar kak Lio" ucap Adelia khawatir.


"Nona Rania jatuh sakit dan tuan Adelio tak kunjung membuka pintu kamarnya" ucap Kendrick yang juga khawatir kepada mereka.


"Ya sudah kita gebrak saja pintu kamarnya" ucap Malfin menengah.


Ceklek


Tampak Adelio sudah berdiri di depan pintu kamar nya dengan raut wajah yang terlihat panik.

__ADS_1


"Hanya Adelia dan dua pelayan wanita yang boleh masuk ke dalam kamar ku, selebihnya pergi" ucap Adelio dingin.


Adelia segera masuk ke dalam kamarnya diikuti dua pelayan wanita yang tengah membawa nampan berisi sarapan dan obat-obatan untuk Rania.


Brakk


Adelio menutup pintu kamarnya dengan kerasnya. Malfin dan Kendrick segera menjauh dari pintu kamar nya.


"Kakak ipar, apa yang terjadi kepada nya?" ucap Adelia khawatir yang sudah duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap Rania terbaring lemah di atas tempat tidur.


"Dia jatuh pingsan dan tak kunjung sadar. Cepat periksa kondisinya" ucap Adelio yang tengah berdiri di sampingnya.


Adelia segera memeriksa Rania menggunakan stetoskop nya. Tangan Rania mulai digerakkan pelan hingga sayup-sayup matanya mulai terbuka. Senyuman terpancar di bibir Adelia melihat kakak iparnya sadar.


"Apa saja gejala yang ditimbulkan kakak ipar sebelum pingsan" ucap Adelia tersenyum.


"Dia mual-mual hingga mengotori pakaian ku" ucap Adelio kesal sambil melirik Rania yang tengah memegangi kepalanya yang terasa berat.


"Ternyata benar dugaan ku, gejala seperti ini sering dialami wanita hamil dan sepertinya kakak ipar sedang hamil. Untuk lebih jelasnya kita harus periksakan pada dokter spesialis kandungan, atau kakak ipar bisa mengeceknya lewat testpack. Selamat kakak ipar akhirnya kamu akan menjadi seorang ibu" ucap Adelia menjelaskan lalu berhambur memeluk Rania.


Rania hanya bengong dan sama sekali tak tahu arah pembicaraan Adelia. Sementara Adelio sangat terkejut dengan ucapan Adelia.


"Hamil?" ucap Adelio kembali memastikan.


"Iya, kakak ipar hamil dan kak Lio akan menjadi seorang ayah" ucap Adelia antusias.


Tidak mungkin, gadis gila ini bisa hamil secepat ini, aku sangat meragukan kehamilan nya. Batin Adelio.


Adelio tak mampu berkata-kata lagi dengan raut wajah sulit diartikan. Sedangkan Rania langsung membulatkan matanya dan merasa tidak percaya dengan ucapan Adelia.


"Jangan mengada-ada, aku hanya masuk angin. Besok juga akan sembuh" ucap Rania tersenyum kikuk dan tak ingin membenarkan ucapan Adelia.


"Baiklah, nanti kita buktikan di rumah sakit jika kakak ipar tidak percaya" ucap Adelia tersenyum dan kembali memeluknya.


Hamil, aku mengandung anaknya, benarkah?. Kami hanya melakukannya satu kali, dan itu hanya sebuah kecelakaan. Dan semalam aku berinisiatif mengerjainya dan kembali terulang lagi. Batin Rania lemas badai.


Bersambung.....


Jangan lupa, like love komen dan vote ya teman-teman šŸ™šŸ¤—


Terima kasih šŸ™šŸ™šŸ™

__ADS_1


__ADS_2