
Adelia yang dan Malfin tampak bersiap-siap di dalam kamarnya. Hari ini adalah hari keberangkatan mereka ke negara B. Adelia kembali memperhatikan barang bawaannya dan memastikan semuanya benar-benar lengkap.
"Semuanya lengkap, jangan kelupaan oleh-oleh untuk mama dan papa" ucap Adelia tersenyum.
"Iya sayang, semuanya aman" ucap Malfin tersenyum sambil mengelus puncak kepala istrinya.
"Kak Malfin, kira-kira berapa lama kita berbulan madu di negara kelahiran mu?" tanya Adelia sambil memeluk lengan suaminya.
"Sebulan, dua bulan, setahun dan selama-lamanya."
Malfin tersenyum sambil mencolek gemas hidung mancung Adelia.
"Iih bukan seperti itu, maksudku berapa lama? aku bahkan izin nya hanya dua minggu. Sahabat ku Reva bahkan sudah meminta oleh-oleh spesial dari negara B, kalau kelamaan bisa-bisa bukan lagi bulan madu tapi menetap itu namanya" ucap Adelia sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Apa kamu ingin menetap di negara B?" tanya Malfin.
Adelia berpikir sejenak mendengar pertanyaan suaminya.
"Aku tidak tahu, kak Malfin tahu sendiri aku sedang berkarier di negara A, jadi_"
Adelia tidak melanjutkannya ucapannya karena sang suami dengan cepat memotong ucapannya.
"Aku bisa mewujudkan impian mu. Membangun rumah sakit untukmu sama sekali tak masalah bagiku, yang jelas kamu harus setuju untuk menetap di negara B, bagaimana?" ucap Malfin sambil memeluk erat tubuh istrinya.
"Terima kasih kak Malfin mau mewujudkan impian ku. Tapi, aku harus pikir-pikir dulu sebelum memutuskannya" ucap Adelia tersenyum yang sama sekali belum yakin menetap di negara B.
"Jangan terlalu dipikirkan, ayo kita harus berangkat" ucap Malfin sambil melepaskan pelukannya.
Adelia hanya mengangguk sebagai jawabannya. Setelah itu, mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan menuju lantai dasar. Dua pelayan wanita mengekor di belakangnya yang tengah membawa dua koper miliknya.
Sementara Rania dan Adelio terlihat keluar dari kamarnya. Mereka sama sekali tak pernah kompak. Adelio sudah berjalan lebih dulu, sedangkan Rania hanya mampu mengekor di belakangnya.
"Hei, mengapa jalanmu sangat lambat" tegur Adelio kepada Rania.
"Jalanku memang seperti ini" balas Rania sambil berdengus kesal.
"Kau pintar sekali mengelak, cepat berjalan di samping ku gadis gila!" ucap Adelio dengan mimik wajah kesalnya.
__ADS_1
"Berhenti mengataiku gadis gila! kamu ingin memiliki istri gila hah!" bentak Rania yang tak terima dengan ucapan Adelio.
Adelio menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menatapnya.
"Terus aku harus memanggil mu sebutan apa?" tanya Adelio dengan tatapan dindingnya.
"Panggil aku sayang" ucap Rania sambil berkacak pinggang.
"Jangan mimpi kau! aku tidak akan pernah memanggil mu seperti itu" ejek Adelio.
"Terserah kamu saja, yang jelas aku tidak akan membiarkan tubuh ku di sentuh oleh mu tuan Adelio" ucap Rania tersenyum sinis, kemudian melenggang pergi meninggalkannya.
"Hei tunggu!, jangan coba-coba mengancam ku" teriak Adelio sambil menyusul Rania.
Rania bergegas meninggalkan Adelio. Dia tak ingin Adelio selalu saja menang di atas penderitaannya.
Kini mereka sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Tak henti-hentinya tuan Alvin dan nyonya Ira tersenyum bahagia, bahkan akan betah berlama-lama di kediaman menantunya.
"Emm...sayang sekali kamu akan pergi. Tak ada lagi dong yang akan menemani ku berkeliling di kediaman mu" bisik Rania kepada Adelia.
"Tenang kakak ipar, ajak saja kak Lio untuk menemani mu" timpal Adelia.
Rania melirik Adelio lewat ekor matanya. Membuat Adelia tersenyum melihat tingkah menggemaskan kakak iparnya.
"Ehemm"
Adelio berdehem mendengar bisik-bisik tetangga mereka berdua. Seketika Adelia dan Rania segera menghentikan obrolannya. Semuanya tampak tenang menikmati sarapannya. Selesai sarapan bersama, mereka semua mengantar Adelia ke teras depan.
Adelia dan Malfin kemudian berpamitan kepada keluarganya. Tampak Rania memeluk erat tubuh Adelia tak ingin berpisah dengannya, keberaniannya selama ini dia dapatkan berkat bantuan adik iparnya.
"Janji ya, kalau aku kembali, kakak ipar sudah bisa membuat kak Lio jatuh cinta kepada kakak ipar" bisik Adelia tersenyum.
"Itu sangat mustahil, sepertinya aku tidak bisa mengabulkan janjimu" bisik Rania dengan wajah murungnya.
Sangat mustahil Lia, bahkan kembaran mu masih saja meragukan kehamilan ku dan pernah berucap lemah lembut kepadaku. Batin Rania.
Rania lalu melepaskan pelukannya dan sangat terlihat dengan jelas bahwa dirinya begitu murung ditinggal pergi oleh Adelia. Malfin segera menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Jaga kesehatan mu, jika kamu membutuhkan sesuatu, panggil saja Kendrick untuk membantumu" ucap Malfin tersenyum.
Malfin jelas tahu bagaimana hubungan Adelio dan Rania selama ini yang terlihat saling bermusuhan. Namun mau tak mau Adelio harus menerima Rania dalam kondisi apapun, karena saat ini Rania tengah mengandung cucu pertama di keluarga Alexander.
Rania hanya mengangguk sebagai ucapannya. Pasalnya dia tak ingin merepotkan orang lain atas kehamilannya.
"Kami pergi dulu, ayah, bunda, kak Lio, kakak ipar, Oma, opa, pokoknya semuanya. Assalamualaikum" ucap Adelia berpamitan.
"Waalaikumsalam, hati-hati nak" ucap kedua orang tuanya dengan kompaknya.
Malfin tersenyum sambil melambaikan tangannya, kemudian segera menuntun istrinya masuk ke dalam mobil. Setelah itu, Malfin berlari kecil masuk ke dalam mobil. Semuanya sudah lengkap, mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan kediaman Alexander.
Kemudian Adelio juga bergegas masuk ke dalam mobilnya, di mana Kendrick sedari tadi menunggunya. Tak ada drama berpamitan yang dilakukan pasangan suami istri itu.
Rania hanya mampu menatap punggung suaminya hingga tak terlihat lagi. Sementara Adelio selalu saja bersikap dingin kepadanya.
"Ayo nak, kita masuk" ucap Ziva tersenyum sambil menuntun menantunya masuk ke dalam rumah.
Rania hanya mampu mengikuti langkah kaki ibu mertuanya. Sedangkan mobil Adelio mulai melaju meninggalkan kediaman nya.
"Saya turut bahagia atas kehamilan nona Rania, semoga bayi dalam kandungan nona Rania tetap sehat dan lahir dengan selamat serta bisa membanggakan tuan nantinya ucap Kendrick tersenyum yang mulai angkat bicara.
"Apa kamu yakin jika janin yang dia kandung darah daging ku?" tanya Adelio.
"Tidak seharusnya tuan berpikiran seperti itu. Saya sangat yakin jika janin di dalam perut nona Rania adalah darah daging tuan. Tuan dan nona Rania pasangan suami istri, jadi wajar jika nona Rania mengandung anak tuan" ucap Kendrick hati-hati.
"Tapi, gadis gila itu sudah tinggal bersama pria itu cukup lama dan tak mungkin mereka tidak berbuat apa-apa" ucap Adelio dengan kesalnya.
"Itu hanya tuduhan tuan kepada nona Rania tanpa bukti nyata. Sepertinya tuan sudah peduli dengan nona Rania. Cobalah mulai sekarang tuan menerima nona Rania dengan janinnya, mereka sangat membutuhkan tuan" ucap Kendrick tersenyum.
Adelio berdengus kesal mendengar ucapan bawahannya. Adelio merasa bawahannya juga memihak kepada Rania.
"Lebih cepat lagi, kau sudah membuatku kesal" ucap Adelio sambil memijit pelipisnya.
Sepertinya aku harus menangkap Alfhat untuk membuktikan keraguanku kepada gadis gila itu. Batin Adelio.
Bersambung....
__ADS_1
Mohon maaf baru update ššš