
βPertama-tama, saya sangat berterima kasih atas kedatangan anda semua di ruangan ini. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu, bahwa acara ini merupakan acara lamaran untuk kedua anak saya, Adelio dan Adelia. Perihal maksud kedatangan sahabat dan kerabat terdekat sekalian, kita akan bicarakan setelah iniβ ucap Darren dengan pidato singkatnya.
Semuanya tampak tenang mendengarkan pidatonya. Setelah selesai, Ziva kemudian mempersilahkan para tamunya menikmati kue kering, cake, cemilan dan minuman yang tersaji di atas meja. Milan juga ikut membantunya mengurusi tamunya.
Sarah yang duduk tidak jauh darinya hanya tersenyum ramah menatap Ziva yang meladeninya.
"Aku tidak menyangka kita akan menjadi keluarga" ucap Sarah tersenyum.
"Alhamdulillah ya, lewat anak-anak kita jadi besanan. Seringlah berkunjung di kediaman kami, karena kita sudah menjadi keluarga" ucap Ziva yang tersenyum di balik cadarnya.
Raka tersenyum tipis mendengar pembicaraan ibunya. Karena sebentar lagi, dia akan menjadi menantu di keluarga Alexander.
"Benar, sekali lagi aku minta maaf atas kesalahan ku di masa lalu. Aku gagal menjadi sahabat mu" ucap Sarah, lalu meminum minumannya.
"Sudah jangan lagi mengungkitnya. Aku sudah memaafkan mu, yang lalu biarlah berlalu" ucap Ziva dengan tulus.
"Syukurlah, aku sangat senang mendengarnya" ucap Sarah yang juga ikut tersenyum.
Tak berselang lama kemudian, muncullah Adelia dan Rania yang berjalan beriringan menuju ruang tamu. Rania menghentikan langkahnya dan terlebih dahulu mengintip di kejauhan melihat suasana ruang tamu.
"Astaga, benar yang dikatakan Min. Mama dan Raka ada di sana" ucap Rania sambil mengintip mereka.
Bagaimana ini, kak Raka pasti marah besar jika melihat ku berada di rumah musuh kami.
Tunggu, mereka pasti tidak mengenaliku berpakaian ninja seperti ini. Batin Rania sambil menggigit bibir bawahnya.
Ya Rania selalu menganggap pakaian yang dikenakan saat ini adalah pakaian ninja.
"Mengapa berhenti di sana, ayo...seluruh keluarga sudah menunggu kita."
Adelia berbalik badan memperingatkan Rania untuk berjalan bersamanya.
"Iya, tunggu sebentar" ucap Rania dengan suara serak nya.
Awas kamu gadis manja! aku tidak sabar untuk mengerjaimu. Batin Rania.
Adelia dan Rania berjalan beriringan hingga akhirnya mereka bergabung dengan tamu lainnya.
Keynand dan Raka tampak menggulung senyuman melihat kedatangan gadis-gadis bercadar itu. Sementara Malfin sama sekali tak melirik mereka.
"Kakak, siapa gadis di samping kak Adelia. Aku seperti pernah melihatnya. Tapi dimana ya?" ucap Morgan yang pandangannya terus tertuju kepada Rania.
"Aku tak tau" ucap Malfin acuh.
Mata gadis itu, mengingatkan kepada Rania. Batin Raka yang juga ikut menatap Rania.
Ziva langsung menyambut mereka dan menyuruhnya duduk di kursi khusus yang disediakan untuk mereka berdua.
__ADS_1
"Masya Allah, kalian berdua cantik-cantik dan sholehah"puji Milan dengan senyuman.
"Terima kasih mama Milan" ucap Adelia malu, karena menjadi pusat perhatian.
"Baiklah, semuanya sudah berkumpul. Saya mempersilahkan kepada putra saya Adelio untuk mengutarakan niat baiknya melamar gadis pilihannya" ucap Darren yang terlebih dahulu mempersilahkan putranya untuk melamar Rania.
Adelio segera bangkit dari duduknya dan langsung menatap ke arah Rania yang tengah duduk tenang di kursinya.
"Pertama-tama, aku mau ucapin terima kasih kepada kedua orang tuaku. Dialah yang selalu mendoakan yang terbaik untukku dan memintaku untuk segera menikah"
Adelio mengatakannya dengan tenang dan tatapannya tak beralih dari tempat Rania duduk.
Mengapa terus menatap kesini sih, aku jadi gerah ingin menghajar wajahnya. Mau lirik ke kanan, takutnya kak Raka mengenali ku.
Dengan terpaksa Rania menundukkan pandangannya sambil membersihkan kuku-kukunya.
"Awal pertemuan kami begitu tak disengaja. Aku tidak pernah terpikirkan untuk menikah secepat ini. Namun melihat ketulusan hati gadis yang menjadi pilihan ku kali ini, begitu terang-terangan mengambil hati kedua orang tuaku."
Adelio kesulitan merangkai kata-kata dihadapan keluarganya dan para tamu. Tampak jelas, raut wajahnya menandakan bahwa dirinya bingung dan agak gugup.
"Rania Putri Ibrahim, bersedia kah kamu menikah dengan ku, menjadi pendamping ku hingga maut memisahkan?" ucap Adelio dengan entengnya dengan sekali tarikan nafas.
Raka dan pamannya hanya mampu membulatkan matanya mendengar ucapan Adelio yang menyebut nama lengkap Rania. Mereka berdua bertanya-tanya dalam hati. Sedangkan Sarah tampak tersenyum dengan mata berkaca-kaca mendengar ucapan Adelio yang melamar putri tercintanya.
Astaga! bagaimana mungkin si aligator menyebut nama lengkap ku. Bagaimana ini, kak Raka, paman Zayn pasti kecewa kepadaku. Lebih-lebih mama pasti shock dengan lamaran ini. Batin Rania.
"He he he, aku sangat bersedia menikah dengan mu, ya sangat bersedia_"
Rania dengan entengnya bersedia menerima lamaran Adelio dan tengah tersenyum kikuk di balik cadarnya sambil meremas ujung hijabnya.
Adelio memalingkan wajahnya dan begitu malas mendengar ucapan yang penuh drama dari Rania, tidak.. tidak ucapan drama mereka berdua.
"Apa-apaan ini! aku tidak setuju adikku menikah dengan mu!."
Raka bangkit dari duduknya sambil menunjuk ke arah Adelio. Sarah segera menghentikan aksi anak sambungnya. Begitu halnya dengan Zayn yang segera memperingatkan Raka untuk tidak berbuat keributan.
"Tenang Raka." bisik Zayn kepada pria yang selalu ia anggap sebagai putranya.
Raka berdengus kesal dan kembali duduk di kursinya, dia tersulut emosi saat ini. Rania membelalakkan matanya melihat reaksi kakaknya. Sarah segera meminta maaf dan meminta izin untuk berbicara empat mata dengan anak-anaknya.
Ziva mengiyakan permintaan nya dan memberikan ruang kepada Sarah berbicara kepada anak-anaknya.
Rania segera membawa mama dan kakaknya masuk ke dalam kamar tamu. Rania langsung berhambur memeluk mamanya. Sedangkan Raka memijit pelipisnya dengan kesalnya.
"Maaf ma, tau-tau aku sudah di lamar orang. Aku tidak bermaksud menyembunyikan_"
Rania tak mampu melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Mama senang mendengar kabar bahagia ini, mama merestui hubungan kalian berdua" ucap Sarah yang masih memeluk putrinya.
"Mengapa semua ini harus terjadi Rania, jelaskan semuanya!" ucap Raka tegas.
"Ceritanya panjang kak, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang" ucap Rania menunduk yang sudah melepaskan pelukannya.
"Sudah Raka, jangan menyudutkan adikmu seperti ini. Sebaiknya kita keluar, tak enak dengan keluarga Alexander" ucap Sarah yang mengedarkan pandangannya.
Rania kembali berhambur memeluk saudara tirinya.
"Maafkan aku kak, aku belum bisa menceritakan semuanya" ucap Rania dengan raut wajah murungnya.
Raka memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang.
"Jangan pernah menyimpan rahasia kepada kakak. Jika Adelio menyakiti mu cepat hubungi kakak, kakak selalu siap membantumu" ucap Raka lalu mencium puncak kepala adiknya.
Raka tidak rela adiknya menikah dengan Adelio.
"Iya kak, tapi sekarang aku tidak punya ponsel" rengek Rania layaknya anak kecil yang butuh mainan.
Raka langsung memberikan ponselnya. Setelah selesai melepas rindu, mereka segera keluar bergabung dengan lainnya.
Suasana ruang tamu kembali tegang. Terdapat tiga pemuda yang sudah mantap melamar Adelia saat ini.
"Baiklah, saya ingin persilahkan ponakan saya untuk mengutarakan niat baiknya kepada anggota keluarga Alexander." ucap Zayn yang mulai angkat bicara.
"Tunggu sebentar, putra saya lebih dulu yang akan mengutarakan niat baiknya kepada nak Adelia" timpal Gamal.
Keynand tampak tersenyum di kursinya dan sesekali menarik nafas dalam-dalam.
"Maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud menyinggung perasaan saudara sekalian. Saya begitu tersanjung atas niat baik pemuda hebat seperti kalian yang ingin meminang putri saya. Tapi, saya selaku sebagai ayahnya, sudah memiliki calon pendamping untuk putri saya." ucap Darren dengan sedikit tersenyum.
Pemuda hebat ini bisa menjaga putri saya dengan baik dan terpilih menjadi calon suaminya.
Tampak Keynand tersenyum bangga mendengar ucapan ayah Adelia. Sedangkan Malfin hanya menjadi pendengar yang baik.
"Pemuda hebat ini adalah Malfin Alexander. Kami sudah jauh-jauh hari menjodohkan mereka berdua. Kami tak pernah membahasnya sampai waktunya tiba. Dan saat inilah waktu yang tepat untuk memperkenalkan calon suami putri saya" ucap Darren dengan bangganya.
Malfin dan Adelia langsung membulatkan matanya mendengar ucapan ayah Darren.
Kamulah pemenangnya yang akan menjaga kembaran ku. Batin Adelio.
Bersambung.....
Jangan lupa like, love komen dan vote yang banyak π€
Terima kasih πππ
__ADS_1