
Rania membulatkan matanya mendengar teriakkan keras kakaknya. Lebih-lebih keterkejutannya melihat minibus mulai oleng melaju ke arahnya. Rania perlahan mundur dengan kedua kakinya yang terasa lemas dan perlahan penglihatannya mulai tak jelas hingga tak mampu menopang tubuhnya.
Sebuah tangan kekar segera menarik tubuhnya menepi. Rania sudah hilang kesadaran dalam pelukan seorang pria. Sementara pengemudi minibus banting stir hingga menabrak pembatas jalan.
"Rania..... bangun!!! Maafin kakak" ucap Pria tersebut yang tidak lain adalah Raka.
Raka berusaha menopang tubuh adiknya dengan perasaan khawatir.
"Tolong, selamatkan adikku" teriak Raka meminta tolong.
Raut wajah Raka berubah menjadi panik melihat adik kesayangannya terbaring lemah. Jika kurang dari satu menit, nyawa adiknya tak tertolong yang baru saja berada diambang kematian. Dengan sekuat tenaga Raka berlari menghampiri adik nya untuk menyelamatkannya.
Sinta bersama dokter Nisa berlari menghampirinya. Raka segera menggendong adiknya kembali ke klinik tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Mas Raka" ucap Dokter Nisa khawatir yang masih syok melihat kejadian barusan.
Raka sama sekali tak menggubris ucapannya dan memilih berjalan menuju klinik. Dokter Nisa dan Sinta kembali menyusulnya.
Di klinik, Ziva dan Sarah menjadi khawatir karena Rania tak kunjung kembali bersama Raka. Mereka segera keluar dari ruangan tersebut untuk menyusulnya.
Terlihat Raka begitu terburu-buru membawa adiknya masuk ke dalam klinik. Dokter Nisa segera mengarahkannya menuju ruang perawatan untuk segera menangani pasiennya.
Ziva dan Sarah terkejut melihat kedatangan Raka. Mereka segera menghampirinya. Namun sayangnya, dokter Nisa tak membiarkan mereka masuk ke ruangan tersebut.
Kini Raka sudah bergabung dengan mama nya. Sementara Rania sedang menjalani pemeriksaan di dalam sana.
"Semua ini gara-gara aku ma" ucap Raka yang menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidak nak, semuanya akan baik-baik saja. Kita doakan saja semoga Rania tidak kenapa-kenapa" ucap Sarah sambil menyentuh pundak putranya.
Kemudian mereka saling berpelukan dengan perasaan campur aduk. Apalagi melihat sosok tersayangnya sedang terbaring lemah. Ziva hanya diam duduk di kursi tunggu yang tengah memanjatkan doa untuk keselamatan menantu bersama calon bayinya.
Pintu ruang perawatan Rania terbuka lebar yang menampilkan dokter Nisa diambang pintu.
"Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Nona Rania sudah siuman dan janin dalam perutnya baik-baik saja. Akibat kelelahan yang dialaminya membuatnya jatuh pingsan. Dan kurangnya imun dalam tubuhnya membuatnya jadi drop. Tekanan darahnya juga cukup rendah. Saya sudah menyuntikkan vitamin untuk menormalkan kembali kondisinya" ucap Dokter Nisa menjelaskan perihal kondisi pasiennya.
"Terima kasih dok" ucap Ziva yang merasa lega atas kondisi menantunya.
"Sama-sama nyonya. Silahkan masuk. Kalau begitu saya permisi" ucap Dokter Nisa dengan ramahnya.
Sarah, Raka, Ziva bergegas masuk ke dalam ruangan tersebut. Terlihat Rania bersandar di kepala tempat tidur. Raut wajahnya terlihat pucat hingga senyuman terpancar di bibirnya saat melihat kedatangan keluarganya.
"Rania maafin kakak karena kakak kamu hampir celaka" ucap Raka menyesal sambil mengatupkan kedua tangannya di hadapan adiknya.
"Tak perlu meminta maaf, aku juga salah kok kak. Kemarilah, aku sangat merindukanmu" ucap Rania tersenyum hangat.
Raka melangkah lebih dekat. Rania segera menghambur memeluknya.
__ADS_1
"Aku sangat senang mendengar suara kakak" ucap Rania dengan mata berkaca-kaca.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sembuh nak" ucap Sarah dengan penuh haru.
Pasalnya Rania sudah menceritakan kondisi yang dialami Raka. Mereka bertiga saling berpelukan bersama yang cukup lama bisa berkumpul kembali.
Ziva tersenyum melihat kebersamaan mereka. Tak berselang lama kemudian, terlihat seorang pria membuka pintu ruangan tersebut.
Semua orang yang berada di ruangan itu segera mengalihkan pandangannya. Rania langsung tersenyum lebar melihat pria tersebut sambil merentangkan kedua tangannya.
Terlihat sorot mata pria itu begitu tajam dengan raut wajah datar dan terlihat kesal menatap satu persatu orang dalam ruangan tersebut. Setelah itu barulah menghampirinya. Dan tetap saja langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu Ani" ucapnya sambil mengelus punggung istrinya. Adelio begitu mengkhawatirkan kondisi istrinya setelah mendapat kabar dari anak buahnya.
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja bersama calon bayi ku" ucap Rania tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya.
Raka terkejut melihat keakraban pasangan suami istri itu. Pikirannya mulai kemana-mana dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Adelio melepaskan pelukannya kemudian menunduk menatap perut buncit Rania. Adelio segera mencium perut buncit Rania berulang kali untuk memberikan semangat janinnya. Sedangkan Rania tersenyum sambil mengelus lembut rambutnya.
Raka membulatkan matanya melihat tingkah Adelio kepada adiknya. Sementara Sarah dan Ziva hanya tersenyum melihat kekhawatiran Adelio kepada calon bayinya.
Adelio menghentikan aksinya kemudian menatap tajam Raka yang tengah berdiri tidak jauh darinya. Kemudian meminta ibunya dan mertuanya keluar dari ruangan tersebut. Ziva dan Sarah memakluminya, memang mereka butuh bicara.
"Kau hampir saja mencelakai istriku!" ucap Adelio dingin sambil menunjuk wajah Raka dengan sorot mata tajam. Rania segera memeluk lengannya.
"Tidak suamiku, kak Raka yang sudah menyelamatkanku. Akibat kejadian ini, kak Raka sudah mampu berbicara" ucap Rania menjelaskan dengan penuh syukur.
Adelio mengepalkan tangannya mendengar ucapan Raka yang tidak mampu membalasnya dengan kata-kata, karena ucapan Raka memang benar. Sementara Rania memilih menundukkan pandangannya.
"Lambat laun adikku mulai mengatakan bahwa dirinya hamil. Dia terus mengatakan menyukaimu dan akan mendapatkanmu, suami yang selalu menyakitinya!.
"Cukup kak, jangan mengatakannya" ucap Rania dengan mata berkaca-kaca.
"Lanjutkan, aku ingin mendengar semuanya" pinta Adelio sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Raka menghela nafas panjang kemudian kembali melanjutkan ucapannya.
"Walaupun dirinya sakit hati dengan sikapmu. Tapi, tetap saja dia tak pernah berhenti menyukaimu dan akan terus membuatmu jatuh cinta kepadanya. Semangatnya tak pernah padam, dia kembali berusaha untuk membuat keluarganya berkumpul bersama seperti dulu. Adikku Rania wanita hebat dan jangan pernah menyia-nyiakannya, ingat itu!!!" ucap Raka dengan nafas memburu yang berhasil mengatakan semuanya.
Adelio hanya mampu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Maafkan aku atas segala dosa yang pernah ku perbuat kepada keluarga mu. Aku benar-benar minta maaf dan menyesali semua perbuatanku. Dan maaf pernah merepotkan kalian. Rania, berbahagialah dengan pria yang kamu cintai. Kakak akan pergi sejauh mungkin dari kehidupanmu" ucap Raka sambil mengatupkan tangannya.
"Tidak Kak, jangan tinggalkan aku. Kakak harus tinggal bersama kami" ucap Rania hingga air matanya ikut luruh membasahi pipinya.
Adelio tidak tega melihat istrinya menangis, apalagi Raka mulai melangkah menuju pintu keluar. Sehingga Adelio langsung buka suara.
__ADS_1
"Benar yang dikatakan istriku. Tinggallah bersama kami" ucap Adelio yang menurunkan egonya.
Raka menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menatapnya.
"Aku juga meminta maaf atas segala kesalahanku yang pernah ku perbuat kepada keluargamu. Maaf sudah membuat kalian sengsara, aku sangat menyesalinya" ucap Adelio dengan tulus. Untuk pertama kalinya mengatakan kata maaf kepada orang lain.
Rania menutup mulutnya mendengar ucapan suaminya yang berderai air mata. Sedangkan Raka hanya mampu diam seribu bahasa.
"Maaf sudah menuduh mu mencelakai istriku. Asal kau tahu, Istriku sangat berharga bagiku, aku akan berusaha membahagiakannya. Apapun yang diinginkannya, dengan senang hati aku mengabulkannya. Aku sadar, tanpa keluarga kita bukanlah siapa-siapa, aku berusaha mempersatukan kembali keluarga kalian lewat kegigihan istriku" ucap Adelio sadar akan sikapnya selama ini.
Raka sedikit tersentuh mendengar ucapan Adelio yang masih tak bergeming di tempatnya.
Adelio dengan penuh kasih sayang menghapus air mata Rania.
"Jangan pernah menangis. Kau berhak bahagia bersamaku" ucap Adelio tersenyum hangat yang begitu bahagia memiliki istrinya. Kemudian menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya.
"Aku bahagia bersamamu. Tolong, jangan memelukku terlalu erat, perutku sesak nafas" ucap Rania dengan perasaan haru sambil tersenyum tipis.
Raka tersenyum mendengar ucapan Adiknya.
"Baiklah, seperti ini."
"Hemm."
Rania tersenyum menatap ke arah kakaknya. Bahwa saat ini dirinya sangat bahagia bersama pria yang dicintainya.
"Ehemm"
Raka berdehem yang sudah tidak nyaman melihat keromantisan pasangan suami istri itu yang tidak ada habisnya. Adelio dan Rania tersentak kaget kemudian segera melepaskan pelukannya.
" Sebagai permintaan maaf ku, kau berhak memiliki apa yang pernah menjadi milikmu. Aku menghadiahkan kembali rumah yang pernah kau miliki di negara ini. Untuk perusahaan mu masih dalam tahap renovasi oleh pihak asuransi. Kemungkinan besar sebulan kedepannya sudah dapat beroperasi. Jadi, kabulkan permintaan istriku" ucap Adelio sambil merangkul pinggang istrinya.
"Aku sudah memaafkan mu. Terima kasih, kamu masih peduli kepada saudara istrimu. Dan tenang saja, aku pasti mengabulkan permintaan adikku" ucap Raka sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Alhamdulillah, akhirnya kalian saling memaafkan. Tidak sah hukumnya, jika kalian tak berpelukan, ayo lakukanlah" ucap Rania antusias dengan mata berbinar.
Adelio mencium puncak kepala istrinya yang begitu gemes melihat tingkahnya yang begitu pandai memprovokasi nya. Sedangkan Raka tergelak tawa sambil mengusap rambutnya.
Dengan terpaksa Adelio dan Raka mengabulkan permintaan Rania. Mereka langsung berpelukan sambil tertawa terbahak-bahak. Rania tersenyum manis dan begitu bahagia melihat mereka baikan.
"Bagaimana, apa kau puas bumil" ucapnya kompak yang masih saja saling merangkul.
Rania tersenyum manis sambil menaikkan jempolnya, sedang perut buncitnya dia elus-elus manja dengan bangganya. Kemudian mereka tertawa bersama di dalam ruangan tersebut.
Ziva dan Sarah yang berada di luar ruangan ikut tersenyum mendengar suara tawa mereka di dalam sana.
Bersambung.....
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya teman-teman ššš
Mohon maaf, terkadang typo masih bertebaran ššš