
Adelio tak peduli dengan Rania yang meringis kesakitan, dia pun memilih berlalu masuk ke dalam mobil nya. Sementara kedua orang tuanya berbondong-bondong menghampiri Rania.
"Kamu kenapa nak?" tanya Ziva panik yang mendengar jelas rengekan kesakitan Rania.
Rania terlonjat kaget melihat keberadaan kedua mertuanya.
"Emm perutku sedikit kram bunda, mungkin karena efek kekenyangan" elak Rania yang berusaha menyembunyikan kesakitan yang dialaminya.
"Mari nak, biar bunda bantu kamu" ucap Ziva tersenyum sambil memapah Rania.
Wajah Rania terlihat memerah yang masih saja meringis kesakitan. Darren pun terlihat khawatir dengan kondisi menantunya.
"Sebaiknya kita bawa Rania ke klinik untuk memeriksakan kondisi nya, ayah tak ingin sesuatu terjadi kepada Rania" ucap Darren yang mencoba memberikan solusi untuk Rania.
"Tak perlu ayah, aku baik-baik saja kok" tolak Rania cepat yang masih berusaha mengelak.
Astaga, bisa-bisa ayah dan bunda mengetahui kehamilan ku. Batin Rania.
"Benar yang dikatakan ayah mu, sebaiknya kita segera membawa kamu ke klinik" ucap Ziva yang juga menyetujui ucapan suaminya.
"Bunda, ayah.. aku_"
"Bunda tidak ingin kamu kenapa-kenapa, sebaiknya kita ke klinik saja" ucap Ziva dengan lemah lembut yang sedang memapahnya.
Mau tak mau Rania mengikuti ucapan ayah mertua dan ibu mertua nya, harusnya dia bersyukur masih ada memperhatikannya. Rania hanya bisa berserah diri kepada Tuhan jika kehamilannya ikut terbongkar.
Ziva dengan hati-hati membantunya masuk ke dalam mobil, kebetulan mereka hanya pergi ke klinik di kediamannya. Tak efisien jika hanya berjalan kaki, sedang Rania tidak baik-baik saja.
Kurang lebih lima menit mereka tiba di klinik Alexander. Terlihat para perawat sedang berlalu lalang membantu para pekerja dikediaman Alexander yang juga ingin memeriksakan kondisinya.
Rania hanya mampu menatap bangunan tiga lantai itu, hingga konsentrasi nya teralihkan dengan suara lembut ibu mertuanya.
"Ayo nak, kita sudah sampai" ucap Ziva tersenyum yang sudah lebih dulu turun dari mobil.
"Iya bunda" ucap Rania dengan perasaan campur aduk.
Rania bergegas turun dari mobil dan kembali di papah oleh ibu mertuanya. Mereka berjalan bersama-sama menuju pintu masuk klinik.
Tampak dokter dan tiga perawat sedang berdiri di depan pintu masuk klinik yang sedang menyambut kedatangan orang yang diseganinya.
"Selamat datang tuan dan nyonya, senang rasanya kami bisa membantu anda" ucap Dokter wanita yang terlihat muslimah menyambut kedatangan mereka.
"Tolong dok, periksa kondisi menantu saya" ucap Ziva yang begitu mengkhawatirkan kondisi Rania.
"Baik nyonya, mari" ucap Dokter tersebut kemudian segera membawa Rania ke sebuah ruangan khusus untuk anggota keluarga Alexander.
__ADS_1
Kini Rania sudah berbaring di atas brankar untuk melakukan pemeriksaan. Ziva ikut menemaninya di dalam ruangan tersebut, sedangkan Darren memilih menunggunya di luar.
Dokter segera menangani Rania dan mulai memeriksa kondisi Rania.
"Apa saja keluhan anda nona?" tanya dokter tersebut dengan ramahnya.
"Tak ada dok, perutku hanya sedikit kram akibat terbentur di pintu" ucap Rania pelan yang tak ingin suaranya didengar oleh ibu mertuanya.
Dokter wanita itu tersenyum memeriksanya, sementara Rania sudah gugup sedari tadi hingga testpack di saku bajunya ikut muncul. Dokter wanita itu tersenyum melihat testpack yang muncul di saku bajunya yang tengah memeriksanya, hingga senyuman terpancar di wajahnya.
"Bagaimana dokter Nisa?" tanya Ziva harap-harap cemas.
"Tak ada yang mengkhawatirkan nyonya" jawab dokter Nisa dengan ramahnya.
"Kapan anda telat datang bulan?" ucap Dokter Nisa tersenyum menatap Rania
"Saya kurang tau dok" ucap Rania pelan yang memang tak memperhatikan waktu suburnya.
Dokter Nisa kembali tersenyum menatap Ziva hingga kembali angkat bicara.
"Selamat atas kehamilan nona Rania. Sebentar lagi anda akan menjadi seorang ibu. Untuk lebih jelasnya kita harus melakukan USG, untuk dapat melihat kondisi janin anda" ucap Dokter Nisa dengan diagnosis nya.
Ziva langsung menutup mulutnya mendengar kabar bahagia itu hingga matanya ikut berkaca-kaca kemudian langsung berhambur memeluk Rania.
"Alhamdulillah, selamat nak. Bunda sangat bersyukur kepada Tuhan atas kehamilan mu. Pokoknya bunda sangat bahagia dengan kabar menggembirakan ini" ucap Ziva dengan mata berkaca-kaca yang diselimuti perasaan haru.
Ziva sangat bahagia sambil mencium kening menantunya. Perasaannya sudah campur aduk yang sudah tidak bisa digambarkan seperti apa. Rania hanya mampu diam mematung, dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia begitu bahagia atas kehamilannya, namun dilain sisi dia bersedih karena sosok ayah janinnya dengan terang-terangan meragukan kehamilannya.
"Ya sudah dok tolong lakukan pemeriksaan USG, saya ingin sekali melihat janinnya, calon cucu saya" ucap Ziva antusias hingga air mata bahagianya ikut menyaksikan kebahagiaannya.
Rania tersenyum melihat antusiasme ibu mertuanya. Lagi-lagi Ziva memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Bunda, kamu adalah sosok malaikat tak bersayap. Maaf pernah mengecewakan mu. Aku berjanji akan memberikan kebahagiaan di dalam keluarga mu lewat janin ini. Batin Rania.
Rania kembali lanjut melakukan pemeriksaan USG. Tampak perut ratanya terlihat memar sedikit dan sudah membiru akibat benturan keras di daun pintu yang sudah tertutupi gel.
Namun kebahagiaan kembali terpancar di wajah Rania saat melihat janin yang masih berbentuk gumpalan darah terlihat di layar monitor. Tak henti-hentinya Ziva tersenyum dan bersyukur kepada Tuhan melihat sosok yang bernyawa di dalam perut Rania.
Dokter Nisa juga tersenyum dan ikut merasakan kebahagiaan mereka.
"Usia kandungan nona Rania sudah memasuki empat minggu, yang berarti masih dalam trimester pertama. Tolong perhatikan asupan gizinya dan perbanyak mengkonsumsi makanan bernutrisi tinggi dan perlu diperhatikan perbanyak minum air putih" ucap Dokter Nisa menjelaskan.
"Baik dok, insyaallah mulai sekarang kami akan memperhatikan makanan yang perlu di konsumsi Rania" ucap Ziva tersenyum.
"Iya nyonya, kita tunggu hasil USG nya sebentar lagi" ucap Dokter Nisa tersenyum yang baru saja selesai melakukan USG.
__ADS_1
"Sekali lagi selamat nona Rania, jaga kesehatan dan semoga kehamilan anda berjalan lancar" ucap Dokter Nisa tersenyum ramah.
"Makasih dok."
Rania kembali mengelus perut ratanya.
Dokter Nisa memilih undur diri dari hadapan mereka.
Tak berselang kemudian, Darren masuk ke dalam ruangan tersebut. Ziva bergegas berlari menghampiri suaminya. Darren terlonjat kaget dengan sikap istrinya yang langsung berhambur memeluknya.
Sementara Rania yang melihat kemesraan mereka hanya mampu tersenyum.
"Ada apa sayang" bisik Darren di telinga istrinya.
"Rania mas....Rania hamil. Sebentar lagi kita akan menimang cucu, aku masih tak menyangka kita bakal menjadi kakek nenek" ucap Ziva riang gembira.
"Alhamdulillah, ini benar-benar kabar bahagia. Ayah ikut terharu" ucap Darren dengan mata berkaca-kaca sambil mengalihkan pandangannya menatap Rania bersandar di kepala tempat tidur.
"Aku sangat bahagia mas" ucap Ziva sambil mengeratkan pelukannya.
"Iya sayang, aku juga sangat bahagia. Ini anugerah terindah untuk keluarga kita" ucap Darren tersenyum.
Setelah selesai saling mencurahkan kebahagiaannya. Ziva dan Darren menghampiri Rania.
Ziva kembali memeluk Rania dan tak henti-hentinya memberikan selamat untuknya. Darren juga ikut memeluk mereka berdua. Rania sudah tak mampu berkata-kata lagi, kedua orang tua Adelio begitu menyayanginya dengan tulus.
"Rania butuh istirahat, sebaiknya kita kembali ke rumah" ucap Darren tersenyum yang sudah melepaskan pelukannya.
"Benar mas, ayo nak" ucap Ziva yang masih saja merangkul pundak Rania.
Rania hanya mengangguk patuh yang kembali bergandengan tangan dengan ibu mertuanya. Rania kembali menghentikan langkahnya saat melihat ruang perawatan kakaknya. Rania tak bisa mengunjunginya jika bersama mertuanya.
Kak Raka, aku hamil, semoga kamu ikut bahagia atas kehamilan ku. Batin Rania.
Tampak dokter Nisa bersama dua perawat kembali menghampiri mereka.
"Tuan dan nyonya, ini hasil USG nona Rania" ucap Dokter Nisa yang menghampiri mereka sambil menyerahkan hasil USG Rania.
"Terima kasih dok" ucap Ziva tersenyum bahagia yang dengan cepat mengambil hasil USG tersebut.
Mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar, senyuman kebahagiaan selalu saja terpancar di wajah mereka masing-masing dengan kabar bahagia yang menghampiri keluarga nya, kehamilan Rania memberikan kebahagiaan terindah di keluarga Alexander.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak ššš¤
__ADS_1