Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Pertengkaran Adelia dan Malfin


__ADS_3

Hubungan Adelio dan Rania semakin meningkat dari biasanya dan jauh dari sikap acuh yang sehari-hari sering terjadi. Adelio mulai memperhatikan Rania sebagai istrinya dan perlahan mulai memperdulikan janin di dalam perut Rania.


Walaupun belum sepenuhnya sembuh total dari sikap dingin yang dimilikinya. Namun, cara mengekspresikannya lumayan baik yang mampu membuat Rania semakin klepek klepek.


Sayangnya berbanding terbalik dengan hubungan rumah tangga Adelia dan Malfin. Hubungan Malfin dan Adelia semakin renggang. Kesalahpahaman akhir-akhir ini yang terjadi menyebabkan sikap pasangan suami istri itu menjadi-jadi.


Malfin lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri, bekerja dan terus bekerja tanpa mempedulikan lagi Adelia. Sedangkan Adelia hanya mampu bersabar menghadapi sikap Malfin.


Berada di negara kelahiran Malfin, membuat Adelia tak berkutik dengan sikap Malfin ke padanya. Ingin rasanya Adelia memperbaiki semuanya, namun sayangnya tak ada kesempatan baginya untuk berbicara dengan Malfin.


Malfin terang-terangan menjauhinya dan sama sekali tak memberikan ruang baginya untuk menyelesaikan permasalahan yang tak kunjung usai dan sama sekali tak tahu apa permasalahannya.


Sudah seminggu lebih Adelia berada di negara B. Tak ada hari yang bahagia selama berada di negara tersebut, namun Adelia tetap berusaha membuat dirinya bahagia selama berada di sana.


Malfin hobinya pergi pagi pulang larut malam yang sengaja menghindari Adelia. Namun malam ini Adelia tak ingin tidur lebih dulu. Adelia harus menunggu Malfin pulang. Dua gelas kopi susu sudah dia habiskan demi membuat dirinya terjaga.


"Aku harus bicara dengan kak Malfin. Dia sudah kelewatan sudah mendiamkanku selama berhari-hari" gumam Adelia yang berbicara sendiri di dalam kamar yang begitu sunyi.


Adelia menghela nafas panjang melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam waktu setempat. Adelia termenung sejenak yang tak sengaja mendengar pembicaraan Morgan bersama teman-temannya.


Flashback on


Adelia berolahraga kecil di teras depan ditemani kedua pelayan sore tadi. Saat melihat kedatangan Morgan bersama kawan-kawannya, Adelia bergegas masuk ke dalam rumah.


Morgan dan kedua kawannya memilih duduk bersama di kursi teras depan sambil bercanda gurau. Morgan, Nino dan Gery tertawa terbahak-bahak bersama.


"Aku sangat betah dan lebih semangat bekerja di kantor. Apalagi melihat karyawan baru yang super cantik dan seksi. Bikin karyawan pria tambah enjoy bekerja termasuk aku" ucap Morgan entengnya sambil menaikkan alisnya.


Adelia yang masih berdiri di balik pintu mematung mendengar ucapan Morgan.


"Benar bro, karyawan baru yang super cantik menjadi primadona kantor. Siapa ya kira-kira yang akan merebut hatinya. Aku lebih takut jika kak Malfin yang memenangkannya" timpal Nino sambil menopang dagu.


Adelia langsung membulatkan matanya dengan raut wajah menjadi murung. Adelia segera berjalan menuju kamarnya, jika terus mendengar pembicaraan mereka bisa-bisa dia menjadi emosional.


"Jangan berkata yang tidak tidak, kak Malfin sangat mencintai istrinya" tegas Morgan sambil menunjuk wajah Nino.


"Aku hanya menebaknya bro" ucap Nino cengengesan.


Morgan dan Gery sama-sama berdengus kesal menatap tajam Nino.

__ADS_1


Flashback off


Adelia menghela nafas panjang sambil beristighfar dalam hati yang tengah bersandar di sofa.


Ceklek


Adelia langsung mengedarkan pandangannya menatap ke arah pintu. Tampak sosok yang dia tunggu-tunggu sedang berdiri di ambang pintu.


Malfin terkejut melihat Adelia belum juga tidur. Malfin menutup pintu kamarnya dan tak lupa menguncinya. Adelia mulai bangkit dari duduknya dan segera menghampirinya.


Tak ada sapaan yang dilontarkan Malfin kepadanya. Malfin memilih berlalu masuk ke kamar mandi. Adelia melipat kedua tangannya melihat gelagat Malfin yang terus menjauhinya.


Di dalam kamar mandi, Malfin tengah membersihkan tubuhnya sambil berpikir keras menyadari istrinya menunggunya pulang. Malfin segera menyelesaikan ritual mandinya.


"Kak Malfin, aku ingin bicara" ucap Adelia yang kembali menghampiri Malfin yang baru saja keluar dari ruang ganti.


"Hemm, katakan saja" ucap Malfin acuh sambil bersikadap.


"Mengapa kamu terus menjauhiku dan hampir setiap malam pulang larut malam begini" tegas Adelia yang terlihat tak main-main.


"Aku sibuk akhir-akhir ini, tak perlu mencampuri urusanku" ucap Malfin dingin sambil berjalan menuju tempat tidur.


Adelia kembali mengikutinya dari belakang.


Malfin berbalik badan sambil menatap dingin Adelia.


"Aku berhak memutuskan apapun. Aku suamimu! kamu harus patuh kepada ku. Kita akan tinggal disini selama berminggu-minggu!" tegas Malfin yang mulai terpancing emosi.


"Hah...kak Malfin betah tinggal di sini ya? pantas saja karena kak Malfin sedang mengincar primadona kantor" ucap Adelia dengan ketusnya yang sedang diselimuti api cemburu.


"Adelia! jaga ucapan mu. Apa kamu pernah mengerti aku sedikit pun. Aku menginginkanmu, tapi tidak sekalipun kamu mengerti tentang keinginanku. Pernahkah kamu melayaniku selama ini menunaikan tugasmu sebagai istriku hah!" bentak Malfin yang diselimuti amarah.


Untungnya kamar Malfin kedap suara, sehingga suara-suara keras pertengkaran pasangan suami istri itu tidak kedengaran di luar.


Adelia menundukkan pandangannya dengan mata berkaca-kaca mendengar bentakan suaminya.


"Kamu memang suamiku dan berhak atas diriku. Tapi, pernahkah kak Malfin menjadi imam sholat ku? pernikahan kita sudah berjalan dua bulan tapi tak sekalipun kamu menjadi imam sholat ku" Adelia kembali menyindir Malfin, memberikan pukulan telak untuk pria yang berstatus sebagai suaminya.


"Ya... jadi ini alasan mu sampai sekarang tidak melayaniku!. Aku sadar bukan imam yang terbaik untukmu. Tapi mulai sekarang aku sudah yakin dan percaya diri untuk menjadi imam sholat mu" tunjuk Malfin yang tidak terima dengan ucapan istrinya.

__ADS_1


"Kalau seperti itu lakukan sekarang juga. Aku siap melayanimu malam ini!" ucap Adelia yakin yang tak terima tuduhan suaminya. Adelia kemudian membuka hijabnya.


"Aku tidak bisa melakukannya jika keadaan terpaksa" ucap Malfin lalu berbalik badan.


"Berarti kamu belum yakin menjadi imam sholat ku" ucap Adelia tersenyum pilu.


"Aku yakin seratus persen Adelia Alexander! Aku tidak ingin melakukannya tanpa dasar cinta" ucap Malfin dengan penekanan sambil menatap tajam Adelia.


"Siap atau tidak siap aku wajib melayani mu. Kamu berhak atas diriku! sedari dulu aku mencintaimu dalam diam. Aku mencintaimu kak Malfin....aku menmmm_"


Adelia membulatkan matanya saat mulutnya sudah dibungkam Malfin. Adelia hanya mampu berpegangan di lengan Malfin hingga ciumannya terlepas.


"Aku sangat mencintaimu Adelia, istriku" ucap Malfin sambil menangkup wajah istrinya.


"Aku juga sangat mencintaimu kak Malfin" ucap Adelia tersenyum lalu berhambur memeluknya.


Malfin dan Adelia berpelukan erat dan tak ingin melepaskan satu sama lain. Mereka benar-benar saling merindukan, mengingat hubungannya renggang beberapa hari ini.


Malfin kemudian melepaskan pelukannya. Malfin menatap hangat istrinya. Begitu halnya yang dilakukan Adelia.


"Jadi kita baikan" ucap Malfin tersenyum tipis.


Adelia hanya mengangguk sebagai jawabannya. Malfin kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Adelia, begitu halnya yang dilakukan Adelia. Mereka kembali berciuman mesra, tangan Malfin memegang erat pinggang Adelia, sedangkan Adelia mengalungkan kedua tangannya di leher Malfin.


Malfin kembali melepaskan ciumannya saat menyadari istrinya sudah kewalahan mengimbangi ciumannya.


"Bolehkah aku melakukannya?" tanya Malfin yang kembali memperjelas nya.


Lagi-lagi hanya anggukan kepala yang dilakukan Adelia dengan rona wajah memerah. Malfin tersenyum tipis lalu kembali mencium bibir ranum istrinya. Tanpa melepaskan ciumannya, Malfin menggendong Adelia dan membawanya ke tempat tidur.


Dengan hati-hati Malfin membaringkan tubuh istrinya. Nafas mereka sudah memburu yang kembali saling tatap tatapan.


"Aku akan melakukannya dengan lembut, jika kamu kesakitan aku tidak akan melanjutkannya" ucap Malfin sambil membelai wajah istrinya.


"Lakukanlah, aku percaya kepadamu" ucap Adelia tersenyum.


Tak ingin membuang kesempatan, Malfin segera melancarkan aksinya. Memberikan nafkah batin untuk istri tercinta nya. Di bawah selimut pasangan suami istri itu memadu kasih yang sama-sama sudah mengakui perasaannya.


Tak habis pikir, mereka baru saja menyelesaikan pertengkaran hebatnya selama berumah tangga dan berakhir melakukan malam pengantinnya yang baru terlaksana.

__ADS_1


Bersambung.....


Terima kasih atas dukungannya teman-teman šŸ™šŸ™šŸ™


__ADS_2