Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Masakan Rania


__ADS_3

Keesokan harinya...


Kehebohan terjadi di kediaman Alexander khususnya area dapur. Tampak pelayan wanita dan ketiga chef profesional hanya bisa memperhatikan seorang wanita tengah sibuk berkutat di dapur.


Mereka sama sekali tak diberi kebebasan di dapur tersebut. Hanya wanita itu yang menjadi patokan mereka, mengambil bahan-bahan dapur yang diinginkan wanita tersebut.


"Penyedap rasa dan buah tomat" ucapnya sambil mengaduk masakannya.


"Baik nyonya Rania" ucap salah satu pelayan wanita dan segera mengambil bahan dapur yang diinginkan Rania.


Ya rupanya wanita itu adalah Rania. Baru kali ini Rania menginjakkan kakinya di area dapur. Biasanya hanya mampu menikmati masakan ibu mertuanya atau masakan chef profesional di rumah utama.


"Emm yami, sepertinya sangat lezat" ucap Rania tersenyum sambil menaburi masakannya bumbu penyedap rasa dan potongan tomat.


Rania memasak masakan rumahan, sop iga sapi dan ayam goreng kremes mentega. Rania menyendok sedikit masakannya lalu meminta pelayan wanita dan chef profesional untuk mencicipi masakannya.


"Bagaimana, sangat Lezat bukan" ucap Rania antusias.


Sementara pelayan wanita dan chef profesional hanya mampu manggut-manggut dengan raut wajah sulit diartikan hingga memilih minta izin ke kamar mandi.


Rania tersenyum senang bisa memasakkan keluarga Adelio, ini pengalaman pertama baginya memasak dua menu makanan tersebut untungnya buku resep chef profesional mampu dia aplikasikan dengan baik. Rania berharap masakannya di sukai keluarga Adelio.


"Tolong mbak, bantu saya bawa masakan ini di meja makan" ucap Rania antusias.


"Baik nona" ucap Pelayan wanita dan segera berhamburan membantu Rania menyajikan masakannya.


Dua menu makanan berat pagi ini, sop iga sapi dan ayam goreng kremes mentega. Rania tersenyum melihat masakannya berada di atas meja.


"Wah kamu yang masak semua ini nak?" tanya Ziva tersenyum yang baru saja duduk di kursinya.


"Iya bunda, kebetulan pagi ini cuaca sangat mendung pertanda akan turunnya hujan, makanya Rania memasak dua menu makanan ini" ucap Rania tersenyum sambil mengambil semangkuk sop iga sapi.


"Sepertinya sangat lezat, kalau begitu bunda cicipi dulu ya" ucap Ziva tersenyum.


Ziva mengerutkan keningnya mencicipi sop iga sapi buatan menantunya.


Huh sangat asin. Ziva berusaha mengunyah makanan tersebut.


"Rasanya bagaimana bunda?" tanya Rania sambil mengaduk makanannya.


"Enak, lumayan enak. Kamu pintar banget masaknya" ucap Ziva yang tetap memberikan pujian untuk menantunya.


"Alhamdulillah, kalau begitu aku ke kamar dulu bunda untuk membangunkan suamiku" ucap Rania tersenyum dengan wajah berseri-seri.


Ziva hanya mengangguk, setelah melihat Rania benar-benar pergi, Ziva bergegas meminum segelas air putih.


"Ahhh sangat asin. Aku harus menambahkan air di masakannya, bisa-bisa yang lainnya mencela masakan Rania" ucapnya


Ziva bersama pelayan wanita kembali merenovasi masakan Rania. Ziva tidak ingin menantunya bersedih dengan masakannya sendiri.


Sementara Rania berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Tak sengaja Rania berpapasan dengan Adelia dan Malfin yang juga menuruni anak tangga sambil berpegangan tangan.


Rania tersenyum dan segera menepi.


"Pagi kakak ipar"sapa Adelia dengan mata berbinar.


"Pagi Adelia, tetap langgeng ya" ucap Rania tersenyum melihat kemesraan mereka.

__ADS_1


Adelia tersipu malu sambil menggandeng mesra tangan suaminya.


"Aku ke kamar dulu" ucap Rania dan bergegas meninggalkan pasangan suami istri itu.


"Ayo sayang" ucap Malfin yang tak sengaja memanggil Adelia sebutan sayang.


"Coba ulangi lagi kak Malfin" ucap Adelia tersenyum yang begitu senang dipanggil sayang.


"Ada apa Lia" ucap Malfin yang berpura-pura tak menyadari ucapnya.


"Tadi kak Malfin mengatakan sesuatu kepada ku" ucap Adelia pelan.


"Maksudnya, aku sama sekali tak mengerti ucapan mu sayang" ucap Malfin tersenyum.


"Nah itu, kamu mengatakan sayang. Coba ulangi lagi" ucap Adelia tersenyum sambil bergelayut manja di lengan kekar suaminya.


"Ayo sayang ku" ucap Malfin tersenyum sambil mengelus puncak kepalanya.


"Ayo suamiku, ha ha ha aku seperti Kaka ipar saja" ucap Adelia sambil tergelak tawa.


"Kamu sudah pintar ya menirukan orang lain" ucap Malfin gemes sambil mencium puncak kepala istrinya.


"Soalnya kak Malfin yang duluan, makanya aku juga ingin memanggil kak Malfin dengan sebutan suamiku" ucap Adelia sambil mendongak menatap suaminya.


"Kamu sangat menggemaskan, aku ingin sekali mencium mu. Ayo ke kamar kita selesaikan dulu perdebatan ini" ucap Malfin sambil menaikkan alisnya.


"Tak boleh, ayah dan bunda sudah menunggu kita di meja makan" ucap Adelia dengan rona wajah memerah lalu menarik tangan suaminya.


Malfin hanya mampu tersenyum mengikuti langkahnya.


"Tau ah" ucap Adelia tersenyum tipis yang selalu saja tersipu malu jika suaminya menggoda nya.


Keduanya melangkah bersama dengan wajah berseri-seri dan hati berbunga-bunga menuju ruang makan.


Sementara Rania dengan hati-hati membuka pintu kamarnya lalu mencodongkan kepalanya melihat situasi dalam kamarnya.


"Aman, sepertinya dia berada di dalam kamar mandi" ucap Rania tersenyum.


Rania masuk ke dalam kamarnya sambil mengendap-endap menuju ruang ganti karena tak mendapati keberadaan Adelio. Lagi-lagi Rania terlonjat kaget melihat kehadiran Adelio di ruang ganti yang tengah memakai pakaiannya.


"Apa kau mencari ku" ucap Adelio sambil membelakangi Rania yang tengah mengancing kemejanya.


"Aah iya, aku hanya ingin memastikan bahwa kamu sudah bangun apa belum" ucap Rania sambil meremas tangannya.


"Hei kau kemari!" ucap Adelio dingin dengan suara seraknya.


"Aku! untuk apa?" ucap Rania bingung.


"Aku bilang kemari, tak perlu banyak bicara hah! dasar gadis gila" ucap Adelio dengan suara meninggi.


Rania mengepalkan tangannya sambil melangkah lambat mendekati Adelio. Suara deheman Adelio membuat nyali Rania selalu saja menciut.


"Pasangkan kaos kaki di kakiku" ucap Adelio dingin yang terdengar memerintah.


"Aku, tidak tidak...cari saja pelayan wanita yang bersedia memasangkan kaos kaki di kakimu" tolak Rania cepat dan segera berbalik badan untuk meninggalkan Adelio.


"Kau membantah ucapan ku hah!"

__ADS_1


Suara Adelio sudah terdengar satu oktaf.


"Iya memangnya kenapa! aku tidak suka lagi di perintah oleh tuan Adelio pemarah dan super menyebalkan seperti mu" ucap Rania ketus dan bergegas keluar dari ruangan tersebut.


"Berhenti, kau belum tahu siapa aku hah. Seluruh keluarga mu dengan mudah aku hancurkan, jadi jangan pernah membantah ucapan ku" teriak Adelio marah.


Sementara Rania sama sekali tak memperdulikan ucapan Adelio. Rania terus saja melangkah menjauh Adelio, tak peduli dengan amarah Adelio seperti apa saat ini. Yang jelas perutnya sudah keroncongan, jika meladeni Adelio bisa saja dirinya mati kelaparan.


"Gadis gila itu kembali ngelunjak, awas saja kau, takkan kubiarkan kau tersenyum sedikit pun di kediaman ku" gumam Adelio sambil mengepalkan tangannya.


Kini Adelio sudah rapi dan siap berangkat ke kantor nya. Adelio melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Tampak seluruh anggota keluarganya sudah menempati meja makan.


Adelio mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Rania. Dan betapa terkejutnya dia melihat mangkuk besar di depan seorang wanita berbaju merah yang tengah menunduk sambil menikmati sarapannya.


Adelio semakin mendekati meja makan hingga mampu mengetahui dengan jelas siapa wanita tersebut, bahkan wajah wanita itu tak terlihat.


Aku yakin dia itu si gadis gila. Batin Adelio.


"Ayo sarapan bersama kami kak Lio" ucap Adelia tersenyum yang begitu lahap menikmati makanannya.


Sementara Rania begitu asyik menikmati makanannya. Seolah hanya dirinya berada di meja makan.


Darren dan Ziva hanya mampu tersenyum melihat tingkah laku menantunya.


"Dasar rakus, porsi makanan mu tak sebanding dengan tubuh kecilnya" gumam Adelio kesal sambil menarik kursi di samping Rania.


Rania tak peduli dengan ucapan Adelio, saat ini dia begitu bahagia menikmati masakannya yang super enak berkat campur tangan ibu mertuanya. Semua orang begitu memuji masakannya membuat perasaan nya riang gembira.


Adelio ikut sarapan bersama mereka. Secangkir kopi dan sepotong sandwich menjadi sarapan primadona nya. Sementara yang lainnya memilih mencicipi masakan Rania.


Selesai sarapan, Adelia segera menarik tangan Rania dan membawanya ke teras depan.


"Kakak ipar, ini testpack untukmu. Semua petunjuknya sudah tertera di testpack ini. Jika kamu tak percaya dengan ucapan ku tempo hari maka buktikan sendiri dengan testpack ini" ucap Adelia sambil berbisik-bisik.


Rania mengamati testpack tersebut lalu segera memasukkannya ke dalam saku bajunya.


"Oke, aku akan mengeceknya kembali" ucap Rania tersenyum.


"Ya sudah, aku berangkat dulu, kak Malfin sudah menunggu ku" ucap Adelia tersenyum dan bergegas menuju mobil suaminya.


"Hati-hati Adelia" ucap Rania tersenyum.


Rania kembali berpapasan dengan Adelio di depan pintu masuk, mereka kembali tak saling memberi jalan. Rania memilih kearah kiri, begitu halnya yang dilakukan Adelio.


"Minggir kau menghalagi jalanku"ucap Adelio kesal dan langsung mendorong tubuh Rania hingga membentur pintu masuk.


"Awwww"


Rania meringis kesakitan memegangi perutnya yang terbentur daun pintu.


"Kamu ingin membunuh janin ku! kamu sangat kejam, aku tak akan memaafkan mu jika sesuatu terjadi pada janin ku" teriak Rania dengan mata berkaca-kaca yang meringis kesakitan.


Ziva dan Darren terkejut mendengar ucapan Rania yang sedang duduk bersama di ruang tamu. Keduanya kompak bangkit dari duduknya hingga menggulung senyuman bahagia.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak šŸ™ šŸ™šŸ™

__ADS_1


__ADS_2