
Arka semakin menarik gas sepeda motornya hingga mengaum membuat Melati juga Iyan refleks menutup telinga. Wajah Arka memerah dengan mata berkilat tajam, ia tak mau menatap Iyan secara langsung tapi lebih kepada berperangai masam, namun Melati jelas sekali melihat kilatan mata Arka sangat mengerikan.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya!" Iyan berpamitan kepada Melati, ia tetap memasang senyum dan pembawaan yang tenang, meskipun dia tahu Arka sedang marah.
"Iya Mas Iyan, terimakasih." jawab Melati halus dan sopan. Tentu ucapan seperti itu semakin membakar dada Arka.
"Mari Mas Arka!" Iyan menyapa juga membunyikan klakson sebagi tanda saling menghormati, tapi tidak bagi Arka, ia tersenyum sinis dan menatap tak suka.
"Mari masuk Mas!" begitupun Melati, sepertinya ia banyak belajar dari cara Iyan memperlakukan orang.
Arka melangkah dengan wajah kesal, wajah yang membuat Melati mual tanpa harus mabok kendaraan terlebih dahulu. Lucu sekali sikap Arka yang sudah jauh dewasa itu masih selalu saja seperti balita, harus di elus dan di rayu berulang-ulang untuk membujuknya, lalu setelahnya harus tetap mengalah dan menuruti keinginan yang tak ada habisnya, barulah dia kembali tersenyum dan wajahnya kemudian menjadi ringan.
"Mau minum Mas Arka!" tanya Melati biasa saja, kali ini tak menunjukkan kekhawatiran atas merajuknya Arka.
Arka tak menjawab, menyulut sebatang rokok lalu menghisapnya dengan memejamkan mata. Lagi-lagi, bibir tebalnya seperti sedang berkomat-Kamit namun pelan tak terdengar bahkan jika menempel di dekatnya.
"Mas Arka!" Melati kembali menanyai, gadis belia itu juga tak duduk di sebelahnya, ia bertahan berdiri di dekat meja kayu tempat ia biasa meletakkan tas kecil miliknya.
Tentu saja Arka semakin kesal dengan ulah Melati yang mengacuhkan menurutnya.
'Sialan! Beraninya Melati tidak mempedulikan aku.'
Lama berdiam akhirnya Melati mengalah juga. Hari sudah sore ia harus masak dan mandi, sebentar lagi ibunya akan pulang.
"Mas Arka marah?" tanya Melati mendekati Arka, niat hati ingin menjawab skak mati setiap semua yang akan didengarnya.
"Aku tidak suka kau terlalu dekat dengan Iyan, aku tidak ingin kau memberi harapan!" kesal Arka.
"Aku tidak memberi harapan, aku hanya sedang belajar berteman dengan orang luar selain hanya mengenal dirimu Mas Arka." jawab Melati sopan.
__ADS_1
"Tapi tidak dengan laki-laki itu Mel! Kau tahu dia menyukai mu!" suara Arka meninggi.
"Lalu siapa yang tidak menyukaiku? Kalau paman Adi yang datang, kau juga mengatakan aku tidak boleh terlalu dekat dengannya. Aku harus berteman dengan siapa Mas Arka, apa kau tidak menyadari jika saat ini aku seperti orang bodoh yang tidak mengenal dunia." jawab Melati, entah mengapa kali ini ia memiliki banyak keberanian.
"Kau berbeda Mel, kau melawan!" Arka menatap wajah Melati dengan heran. Ia tidak menyangka Melati menjawab kata-katanya, itu sama sekali tidak seperti biasanya.
"Aku tidak melawan Mas Arka, aku hanya sedang berpikir jika aku ini bukanlah siapa-siapa untukmu. Aku tak punya hak lebih atas dirimu, kau pun demikian sama seperti diriku!"
"Melati!" marah Arka.
Melati hanya tersenyum, ia merasa hari ini matanya sedang terbuka, mengapa tidak sejak kemarin-kemarin ia melihat sisi buruk Arka, juga perangai yang harusnya bisa membuat Melati dengan mudah meninggalkannya.
Arka segera meraih tangan Melati, menggenggamnya erat dan mengecupnya sejenak. "Mas mohon jauhi Iyan, dia tidak akan bisa mencintaimu seperti aku mencintaimu. Percayalah tidak ada orang lagi yang mencintaimu seperti aku, hanya aku Mel!" ungkapnya memelas.
"Aku tahu Mas Arka, tapi jangan terlalu curiga atau tak suka dengan orang lain, belum tentu mereka sama seperti apa yang kau pikirkan." Melati merasa menang, sungguh ternyata menaklukkan Arka bisa di mulai dengan cara seperti itu.
"Mas sangat mencintai, Mas takut kehilanganmu Melati." ungkap Arka lagi.
"Kau masih mencintaiku 'kan Mel?" tanya Arka menguji reaksi dari mantera yang sudah di bacakan berkali-kali.
"Tentu saja Mas Arka, hanya aku tidak suka kau terlalu cemburu." jawab Melati halus.
"Itu sebab Mas terlalu mencintaimu." jawab Arka lembut, setengah merayu Melati.
"Aku tahu Mas Arka." Melati tak berdaya jika sudah begini, Arka selalu saja bisa menemukan celah untuk membuat Melati tunduk padanya.
"Kalau begitu Mas pulang dulu, nanti malam mas datang." wajah Arka kembali berseri-seri. Dia senang sekali dengan perubahan sikap Melati, tadinya terlihat tangguh dan melawan, tapi kini ia kembali menurut, Arka ingin dia selalu seperti itu.
"Ibu!" Melati melihat ibu sudah pulang, seperti biasa wanita paruh baya itu akan masuk rumah lewat belakang.
__ADS_1
"Bawa apa Bu?" Melati meraih kantong plastik yang di bawa ibunya.
"Metik bayam tapi cuma sedikit, mungkin tiga hari lagi baru panen semua." jawab ibu Nur masuk ke kamar mandi.
Melati mulai sibuk memasak, menanak nasi dan memasak sayur bersamaan. Ia sangat terbiasa perihal masak memasak, namun hanya sebatas masakan kampung, maklum saja dia tidak pernah keluar daerah.
"Tadi Arka datang ke sini?" tanya Ibu Nur.
"Iya Bu, tapi sebentar. Tadi Melati pulangnya diantarkan Mas Iyan." jujur Melati.
"Iyan anaknya si Yanto itu kan?" tanya Ibu menatap wajah Melati.
Melati mengangguk, sambil terus melanjutkan aktivitas memasaknya.
"Ibu lebih setuju sama Iyan daripada sama Arka Mel!" Ibu malah duduk di bangku kayu dekat kamar mandi, sepertinya ia tertarik untuk membahas Iyan.
"Itu kalau Mas Iyan mau Bu!" jawab Melati pelan sambil sedikit tersenyum, jujur saja hatinya belum yakin.
"Ya, kalau jodoh. Ibu lebih suka sama keluarga Pak Yanto, sederhana dan apa adanya."
Melati menoleh ibu, sepertinya Ibu tengah memberikan dukungan. Ada sedikit keinginan untuk menjadi istri Iyan saat ini, pria sederhana, baik dan Soleh. Melati jadi tersenyum-senyum sendiri membayangkannya.
"Sebenarnya, ibu lelah dengan hubungan kalian. Entah benar atau tidak, perihal ibunya Arka tak setuju denganmu sudah menjadi rahasia umum. Sebagian mereka mengira kita yang membujuk Arka untuk tetap berhubungan dengan kamu Mel! Terkadang ibu tersinggung." ungkap Ibu dengan wajah kecewa.
Ceklek
Melati mematikan kompornya, duduk mendekati Ibu. "Aku juga bingung Bu, mengapa sampai hati mereka membuat gosip seperti itu, sedangkan saat aku datang ke rumah mas Arka ibunya tidak bersikap buruk." ungkap Melati merasakan resah yang sama.
"Sebenarnya, Arka punya niat untuk menikah atau tidak Mel? Ibu malu dia terus datang setiap hari. Tentu prasangka orang sudah berbeda!" Ibu mulai terbawa perasaan kesal ketika mengingat Arka.
__ADS_1
"Aku akan bicarakan lagi pada Mas Arka."