
"Kasihan bagaimana Bu, kalau Ibu lebih kasihan Mas Arka, lalu bagaimana dengan Mas Iyan?" kesal Melati, semakin tak percaya dengan cara berpikir ibunya. Bagaimana mungkin disaat setelah Iyan menunjukkan sikap serius, malah Ibu lebih memikirkan Arka. Itu benar-benar aneh dan membingungkan.
Hari libur yang galau, begitu tepatnya yang sedang dirasakan Melati. Menyetrika pakaian untuk beberapa hari, dan sisanya hanya berdiam diri.
Sesekali melihat ponsel yang tergeletak namun tak juga berdering, bahakan notifikasi pesan pun tak ada.
"Mas!" isi pesan Melati, dikirimkan kepada Iyan.
Menit-menit berikutnya membuat gadis itu semakin gelisah menunggu. Entah kemana laki-laki tampan yang baru semalam memeluknya itu, tak biasanya tak membalas pesan Melati.
"Mungkin Mas Iyan sibuk." gumamnya berusaha tenang, tapi hingga malam tak juga mendapat balasan.
Rasanya sungguh aneh, Melati tidur dengan gelisah, memikirkan Iyan yang tanpa kabar, juga Arka yang masih tak menyerah.
Pagi itu Melati berangkat lebih awal, gelisah semalaman tak juga usai dan sepertinya tak akan sembuh kecuali sudah bertemu dengan Iyan.
"Paman!" Melati memanggil Adi yang ternyata juga datang lebih pagi.
"Mel, kamu sudah datang." Adi menoleh keponakannya sedikit.
"Iya." Jawabnya singkat, duduk di mejanya dengan tidak bersemangat.
"Kenapa?" tanya Adi tahu jika keponakannya sedang memikirkan sesuatu.
"Mas Iyan tidak membalas pesanku, juga tidak menghubungiku." dengan wajah di tekuk.
Adi tersenyum sedikit. "Mungkin sibuk Mel."
"Sebenarnya ada yang perlu Melati sampaikan Paman." Melati menatap Adi serius.
"Apa?" Adi masih sibuk menggulung kertas yang tidak berguna di atas meja lalu membuangnya.
"Soal Ibu." jawab Melati.
Adi menarik kursi plastik untuk tamu, lalu membawanya ke depan meja Melati. Duduk dengan serius, sepertinya Adi juga ingin bicara. "Ceritakan." ucapnya kemudian.
"Ibu melarangku bertemu Mas Iyan untuk sementara waktu. Terus Melati diminta berobat dengan temannya Paman Aryo. Ibu mengatakan jika aku sedang kena pelet." ucapnya bingung.
Adi mengusap wajahnya, memandang Melati dengan rumit. "Ibumu kali yang kena pelet!" Adi menggeleng.
Melati menunduk, memang sikap Ibu terlalu aneh.
__ADS_1
"Begini saja, kamu turuti apa maunya Mbak Nur. Jangan dibantah nanti malah bertengkar sama ibumu." saran Adi namun masih terlihat berpikir.
"Tapi Mas Iyan tidak mungkin memakai pelet, Melati sama sekali tidak percaya."
"Paman tahu." Adi ikut pusing dengan urusan keponakannya yang semakin hari semakin bertambah saja masalahnya. "Mel, apa sebaiknya kamu tunda dulu untuk menikah dengan Iyan, kasihan dia harus menghadapi banyak hal yang terkadang juga diluar akal sehat. Arka tak mungkin mengalah Mel, dan sekarang Ibumu ikutan aneh."
"Mengapa harus pernikahan Melati yang di korbankan? Bukanya Mas Arka sudah tahu jika Melati sudah tidak mau." kesal Melati.
"Tentu dia tahu, dan justru itu dia semakin nekat. Arka bisa melakukan apa saja untuk menggagalkan pernikahanmu."
"Tapi?" Melati mengusap wajah cantiknya, dia benar-benar pusing memikirkan jalan keluar dari masalahnya.
"Rumit Mel, Rumit! kalau dilanjutkan bukannya pernikahan yang tenang dan bahagia, malah rusuh! Itu sudah pasti." Jelas Adi meminta keponakannya memikirkan ulang.
"Entahlah Paman, aku tidak mau putus sama Mas Iyan." masih menunduk dan menekuk wajahnya.
"Sikapmu juga bikin orang curiga kalau Iyan benar-benar memeletmu." Adi tak habis pikir dengan perubahan diri Melati.
"Mengapa jadi serba salah, bukannya bagus kalau aku sangat mencintai laki-laki yang akan menikahiku!"
"Pusing ah, Mel. Gelap!" Adi beranjak dari kursinya, memilih membuka laptop dan mengecek data, itu tak seberapa membuat pusing, jauh lebih pusing memikirkan masalah percintaan keponakannya.
"Pelet,,,pelet,,pelet. Akhir-akhir ini sering sekali aku mendengar ucapan itu, terlebih lagi dari Mas Arka." Melati bersungut-sungut sendiri.
Hari sudah menunjukkan pukul 10:00 pagi, namun Iyan tak juga datang. Beberapa kali melihat keluar pintu, berharap banyak motor yang berhenti itu adalah Iyan, tapi nyatanya bukan.
"Lama-lama lehermu seperti jerapah." sindir Adi kepada Melati yang tak selang beberapa menit melihat keluar dengan memanjangkan lehernya.
"Aku butuh bicara sama Mas Iyan." jawabnya pelan.
"Sabar, sebentar lagi dia datang." jawab Adi tenang.
"Kalau Paman tahu dia akan datang, kenapa tidak di beritahukan dari tadi?" Melati semakin kesal.
"Sengaja." Adi terkekeh semakin mengerjainya.
Benar saja, tak sampai satu jam kemudian, Iyan datang dengan helm dan jaket terpasang di tubuhnya. Pria itu turun dengan wajah lelah ciri khas sehabis melakukan perjalanan lumayan jauh.
"Baru sampai Yan?" Adi lebih dulu menyapa.
"Iya, tadi jalannya licin." jawabnya membuka jaket menuju mejanya yang tidak jauh dari meja Melati.
__ADS_1
Melati yang memperhatikan langsung melihat sepatu Iyan yang memang sedikit berlumpur. Artinya dia tidak berbohong.
Duduk lalu membuka tas miliknya, menyerahkan banyak berkas kepada Adi.
"Wow, ini rejekinya orang yang yang mau nikah." Adi menatap berkas-berkas itu dengan tatapan kagum.
Iyan hanya tertawa, meraih air mineral dan meminumnya. Setelah selesai melepas dahaga barulah menoleh gadis yang dari tidak menyapa, tak bicara bahkan tidak bergerak mungkin.
"Hei." Iyan menyentuh lengan Melati dengan telunjuk.
Sengaja tak ada respon, pura-pura tak mendengar sekalian.
"Urusan ini biar aku yang menyelesaikan. Aku rasa urusanmu lebih rumit daripada pengajuan kredit ini." Adi membawa semua berkas itu masuk ke ruangan berkas, meninggalkan kedua orang keponakan mengobrol sebentar.
Iyan terkekeh geli, ternyata Melati yang manja juga bisa marah.
"Mel." panggil Iyan sedikit mendekat menatap wajah yang sangat cantik itu pura-pura serius dengan buku besar miliknya.
Hingga berkali-kali tak ada jawaban juga, Iyan sudah tidak tahan didiamkan selama itu, hingga meraih kursi yang di duduki Melati dan membuat tangan gadis itu memeluk Iyan karena takut terjatuh.
"Masih mau diem-dieman?" Iyan tersenyum jahil pada wajah cantik yang begitu dekat dengan wajahnya.
Melati menarik tangannya, kesal dan juga rindu membuatnya merajuk manja.
"Maaf!" ucap Iyan tahu jika Melati merajuk karena tak memberi kabar.
"Maafmu tidak berguna Mas." kesalnya masih tak mau menatap wajah Iyan.
"Terus bagaimana? Apa mau di peluk lagi?" goda Iyan tersenyum manis.
"Aku serius Mas!" Melati senang, tapi juga kesal Iyan masih saja bercanda.
"Mas juga serius?" Iyan memperhatikan kekasihnya yang sepertinya sedang bingung.
Melati memutar posisi duduknya menghadap Iyan, mata mereka beradu penuh rindu, namun banyak kerumitan setelahnya.
"Ibu melarangku bertemu denganmu Mas, dan nanti sore aku akan pergi kerumah paman Aryo di kecamatan sebelah, Ibu mengatakan jika aku harus di obati."
Iyan menautkan alisnya.
"Mas Arka mengatakan kepada Ibu aku perlu diobati. Dan yang membuatku takut, ibu berubah!"
__ADS_1