
Sebelum Maghrib Aryo sudah tiba kembali di rumahnya, seperti rencana sebelumnya Aryo membawa Ibu Nur kerumahnya.
"Ibu." panggil Melati memeluk tubuh lemas ibu dan membantunya masuk ke dalam.
"Biar Iyan yang bawa tasnya Paman." Iyan mengambil tas berisi pakaian Ibu mertuanya dari tangan Aryo, kemudian meletakkan di kamar depan bersama Melati dan Bule Astri.
"Ini bajunya Ibu Mel." Iyan meletakkan di samping ranjang.
"Iya Mas." jawab Melati mengangguk.
Iyan beranjak keluar meninggalkan mereka yang sedang menata bantal agar Ibu lebih nyaman.
"Yan." Aryo memanggil Iyan seraya duduk di sofa, mengisyaratkan bahwa dia ingin bicara.
"Ya." Iyan mendekat dan ikut duduk berhadapan.
"Arka mendatangi rumah istrimu tadi siang, dia sangat marah karena Melati tak ada di rumah. Dan sepertinya dia sudah curiga bahwa kalian sedang bersama, atau bisa jadi dia sudah mengetahui bahwa kalian sudah menikah." jelas Aryo menatap wajah Iyan.
"Aku tahu Paman, cepat atau lambat Mas Arka pasti tahu." Iyan tidak sedang takut, tapi sedikit khawatir jika sasaran Arka saat ini adalah Melati, mengingat Melati sudah berjanji untuk membatalkan pernikahan mereka.
"Ya sudah, kita sholat ke mesjid saja. Sekalian nanti kita menjemput Ustadz Ahmad." Aryo menunda pembicaraan mereka, mendengar suara adzan sudah berkumandang.
Keadaan ibu Nur yang bertingkah semakin aneh, lebih banyak diam dan tidur membuat Bule Astri sholat bergantian. Ibu Nur bukan tak mau bicara, tapi sekalinya bicara hanya menangis dan menyebut nama Arka.
"Ingat Bu, bukankah sebelumnya Ibu rajin sholat dan sering mengingatkan Melati agar tidak lupa sholat?" Melati mengelus tangan Ibu.
"Ibu tidak lupa, hanya sedang bersedih." jawab Ibu lalu kembali melamun.
Lelah Melati berusaha meyakinkan dan mengingat Ibu bahwa Arka tak harus di tangisi, kali ini Melati lebih memilih diam, mungkin kedatangan ustadz Ahmad akan bisa membantu Ibu mengingat Allah.
Tak berapa lama setelah suara lantunan doa dari toa masjid berakhir, tandanya para jamaah sholat sudah selesai.
"Assalamualaikum." suara Aryo membuka pintu dan mengucap salam.
"Wa'alaikum salam. Silahkan." suara Bule Astri menjawab dan mempersilahkan seseorang masuk, Melati yakin jika Paman Aryo sudah membawa ustadz Ahmad.
__ADS_1
Melati keluar dari kamar Ibu, melihat ke depan memastikan siapa yang datang. Merasa tak enak dengan penampilan yang tak memakai kerudung, Melati mengambil selendang Bule dan memakainya di kepala, meskipun tak tertutup sempurna tapi menutup rambut dan sangat serasi dengan gaun panjang yang dipakainya.
"Itu keponakanku, istri dari Iyan Rahendra ini, anak dari Mbak Nur yang sedang butuh bantuan mu." jelas Aryo memperkenalkan Melati.
"Ya." ustadz Ahmad memperhatikan Melati, lalu kemudian Iyan yang duduk tenang di samping Aryo.
"Maaf sudah merepotkan Pak Ustadz." Melati menyapa.
"Tidak apa-apa, panggil aku sama seperti Pamanmu." jawab ustadz Ahmad tersenyum ramah.
Sejenak hening, Melati beranjak ke dapur membuatkan minuman untuk mereka.
"Paman, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tiba-tiba Iyan memecah keheningan.
"Tanyakan saja, tidak usah sungkan." jawab Ustadz Ahmad santai.
"Begini Paman, belakangan aku baru tahu jika aku bukanlah anak kandung ayah ibu yang sudah membesarkan aku, tapi aku merupakan anak dari seorang dukun yang tinggal jauh dari desa karena kecewa dengan kepergian ibuku. Dan belakangan pula aku menyadari jika aku memiliki kemampuan yang tak biasa, meskipun aku tidak menginginkan tapi mau tak mau aku menggunakannya, termasuk di akhir-akhir ini saat aku berurusan dengan seseorang yang memakai ilmu hitam untuk menghabisi aku, yaitu pemuda yang juga menyukai Melati istriku. Yang aku ingin tahu, apa yang harus aku lakukan dengan semua yang ada dalam diriku ini? Aku sendiri tidak tahu, tapi aku juga merasa ini berguna untuk melindungi Melati." ungkap Iyan atas kebingungannya.
"Ya, sebaiknya manusia memang tidak mempunya kekuatan diluar nalar, tapi semua terjadi karena kehendak yang maha kuasa. Kau ikuti saja kata hatimu, karena sebuah rumput yang tumbuh bukan tanpa manfaat, begitulah Allah menciptakan segala sesuatu di bumi ini. Tapi jika kau sudah yakin, kau bisa datang padaku." jelas Ustadz Ahmad.
Tapi, Iyan masih penasaran dengan sosok ayahnya.
"Baiklah, sepertinya sudah waktunya bertemu Mbak yu." Ustadz Ahmad meminta Aryo untuk membawa Ibu Nur keluar.
"Apa tidak minum dulu Paman?" Melati baru saja meletakkan minum juga beberapa potong kue di meja tamu.
"Nanti saja, mumpung belum batal wudhu." jawab Ahmad berdiri, mulai mendekati Astri yang sudah mengajak ibu Nur duduk di ruang tamu.
"Assalamualaikum Mbak." sapa Ustadz Ahmad, menunduk menyapa Ibu Nur.
Ibu Nur menatap Ustadz Ahmad, matanya yang terlihat kosong itu kini terfokus kepada sang Ustadz.
"Apa kabar Mbak?" tanya Ustadz Ahmad lagi.
"Baik." jawab Ibu Nur datar.
__ADS_1
"Siapa itu Mbak?" tanya Ustadz Ahmad menunjuk Melati.
"Melati."
"Lalu kalau yang itu siapa?" Ustadz Ahmad menunjuk Iyan.
Ibu Nur tak mau menjawab, wajahnya datar dan tak mau menatap Iyan.
"Dia menantu Ibu, orang yang bersungguh-sungguh menyayangi dan ingin menjaga kalian, Melati dan Mbak Nur." jelas Ustadz Ahmad kemudian menarik sebuah kursi agar bisa duduk berhadapan dengan sofa tempat Ibu Nur duduk menyandar.
Ibu Nur menangis.
"Ada apa Mbak, apa yang membuat mbak bersedih."
"Aku kasihan sama Arka, Tiga tahun menjaga dan menyayangi Melati tapi malah di tinggal begitu saja, dia sangat sedih, dia kecewa, aku takut Nak Arka bunuh diri." Ibu Nur terisak sedih.
"Kata siapa dia mau bunuh diri, yang ada di mau membunuh menantu Mbak Nur, atau bisa menyakiti Melati, dan sudah nyata menyiksa batin Mbak Nur. Apa Mbak tidak merasa? Mbak sedih sampai kurus kering, tidak mau makan dan lupa sholat."
"Tidak! Nak Arka tidak begitu?" Ibu Nur menantang tatapan Ustadz Ahmad.
"Siapa yang bilang?" Ustadz Achmad memancing kesadaran Ibu Nur.
Benar saja Ibu Nur menoleh bingung, dia mencari-cari tapi seolah tak menemukan apapun.
"Ada?" tanya Ustadz lagi.
Ibu Nur semakin bingung.
"Itu makhluk halus, yang sengaja menemani Mbak Nur atas permintaan seseorang." Ustadz Ahmad semakin membuat Ibu Nur bingung.
"Aku tahu Mbak lelah, capek, nyesek dan sedih. Mbak harus lupakan rasa seperti itu, ingat dan lihat, ada Melati juga menantumu, mereka tidak bisa bahagia kalau Mbak seperti ini." Ustadz tersebut mulai membaca dzikir di dalam hati, bahkan sejak tadi tangannya tak berhenti menghitung manik bernama tasbih di tangannya.
"Mbak mau bahagia?" tanya Ustadz Ahmad lagi.
Ibu nur mengangguk.
__ADS_1
"Kita berdoa sama-sama." Ibu ucapkan istighfar banyak-banyak, Jagan putus."