
Tak ada jawaban dari keduanya, mata mereka beradu dengan sorot berbeda, tampak Iyan berdiri tegak dengan ketenangan tak berubah dari dirinya.
Berbeda dengan Arka, pemuda itu tampak marah sebelumnya, tapi serba salah sejenak setelahnya. Matanya enggan beradu dengan Iyan, tapi tangannya gelisah entah karena ingin berbuat apa.
"Kita bicarakan di dalam saja ya Mas Arka." ajak Iyan setelahnya.
"Tidak perlu, aku tidak butuh bicara denganmu. Aku ingin kau tinggalkan Melati, aku tidak ingin kau dekat apalagi sampai menikah dengannya. Kau tahu jika Melati itu kekasihku sejak lama!" suara Arka sedikit meninggi.
" Aku tahu Mas Arka, tapi sebelum janur kuning melengkung Melati masih bebas memilih. Tak ada larangan untuk itu." jawab Iyan lagi.
"Tapi tidak dengan menikung aku! Harusnya kau mencari wanita yang belum memiliki kekasih. Masih banyak bukan, jangan Melati!" marah Arka.
"Tapi aku menyukai Melati Mas Arka, aku melamarnya dan Alhamdulillah dia menerima. Aku akan menjadikan Melati istriku, bukan hanya kekasih untuk menabung dosa." jawab Iyan, matanya sedikit menajam kepada Arka.
"Kurang ajar kamu!" Arka maju mendorong dada Iyan.
"Mas!" Melati berteriak mendekati keduanya, walau tak terlihat perlawanan dari Iyan, tapi Melati tetap saja takut, apalagi Arka tampak sudah benar-benar marah.
"Aku minta padamu, tinggalkan Melati. Dia milikku!" Arka menunjuk wajah Iyan, dadanya menantang.
Iyan tersenyum tipis, "Melati bukan milikmu atau milikku mas Arka, dia masih milik ayahnya. Dan sebentar lagi aku akan mengambil alih tanggung jawab ayahnya, tidak hanya mengaku sebagai milikku."
"Set*n kamu!" Arka kembali mendorong Iyan, dia benar-benar marah dan tersinggung dengan ucapan Iyan. Dada Arka naik turun dengan tangannya mengepal kuat.
"Mas! Sudah Mas!" Melati menengahi keduanya, berdiri diantara Iyan dan Arka. "Mas Arka harus terima jika aku sudah memilih Mas Iyan untuk menjadi suamiku." Melati mencoba berbicara baik-baik.
"Tapi kita sudah berpacaran sangat lama Mel, dan kau berubah dalam sekejap hanya karena dia! Harusnya kau juga berpikir ada apa dengan dirimu, bukankah itu aneh?" Arka menatap tajam Iyan.
"Tidak ada yang aneh Mas, aku menerima lamaran Mas Iyan karena hatiku memang sudah memilihnya, bukan karena terkena bujuk rayu, atau apapun yang sedang kau pikirkan itu." jelas Melati.
"Tapi itu aneh Mel!"
"Tidak Mas! Mas Iyan menunjukkan kesungguhannya dan Melati suka cara Mas Iyan yang pemberani."
"Jadi kau menganggap aku tidak berani! Pengecut begitu?" Arka menatap marah pada Melati.
__ADS_1
Iyan menarik Melati dan membuatnya berdiri di belakang. "Aku yang salah disini Mas Arka." ucap Iyan melindungi Melati.
"Ya, kau memang salah!" bentak Arka.
"Mas Arka mau bagaimana? Kita selesaikan berdua, jangan seperti ini, berkelahi di depan orang itu sama seperti ayam, hanya mendapat hore dan tepuk tangan saat berkelahi sudah selesai. Jika masih bisa bicara, mari kita bicarakan, tapi jika tidak? Aku juga akan mengikut apa keinginan Mas Arka."
"Sok sekali kamu!" Arka kembali meraih Melati, menarik tangannya dan menjauhkan Iyan.
"Kita perlu bicara!" geram Arka.
"Boleh bicara, tapi duduk di dalam dan tidak harus menarik-narik seperti ini!" Iyan mencolek tangan Arka yang sedang memegang erat pergelangan tangan Melati.
Melati menatap Iyan dengan lembut dan sendu, sungguh ia ingin bersama Iyan, bukan Arka. "Mas Iyan pulanglah, Melati memang harus bicara dengan Mas Arka." ucap Melati tak ingin membuat suasana semakin panas.
Tak rela, begitu tatapan Iyan bicara. Tapi benar sekali kata Melati, jika mereka butuh bicara.
"Mas pulang ya." Iyan berbalik dengan hati tak rela, tapi bersikeras di sana juga tak ada gunanya.
Arka tersenyum menang, tanpa melepaskan tangan Melati, ia masuk ke dalam rumah.
"Mel, aku hanya ingin kau memikirkan ulang keputusanmu. Ingat jika kita sudah dekat sangat lama!" Arka mengingatkan lagi.
"Justru karena sudah sangat lama, aku lebih memilih Mas Iyan yang tak perlu dekat terlalu lama, dia yakin akan melamarku untuk menjadi istrinya." jawab Melati.
"Itu tak menjamin Mel! Bisa saja di belakang dia malah tidak sebaik yang kamu pikirkan."
"Justru berpacaran sangat lama juga tak menjamin. Tiga tahun lho Mas! Kau tak juga melamar aku."
"Mel! Aku mohon, batalkan rencana menikahmu bersama Iyan. Aku janji akan memperbaiki semuanya, aku akan menjadi laki-laki seperti yang kamu mau, kita akan menikah." mohon Arka.
"Laki-laki yang aku mau adalah Mas Iyan, bukan kamu Mas!" jawab Melati semakin membuat Arka marah.
"Tidak Mel. Aku janji akan membongkar siapa sebenarnya Iyan, kau akan kecewa setelah mengetahui siapa dia yang sebenarnya.
"Justru aku kecewa mengetahui kau yang sebenarnya Mas."
__ADS_1
"Mel!" bentak Arka, tidak terima Melati meninggalkannya begitu saja. Wanita itu lebih memilih ke belakang dan tak kembali dalam waktu lama.
"Mel!" panggil Arka hingga ibu Nur pulang dari perkebunan sayur, Melati masih tak mau keluar juga.
"Ada apa Nak Arka?" Ibu yang masih lelah itu tampak heran dengan gelisahnya Arka di ruang tamu.
"Melati tidak mau berbicara denganku Bu!" Arka kembali mengadu.
Ibu menarik nafas, lelah rasanya mendengar mereka selalu bertengkar, dari dulu awal mereka dekat juga sering sekali bertengkar.
"Ya sudah sebaiknya Arka pulang dulu, biar Ibu yang membujuk Melati. Nanti setelah tenang baru bisa bicara lagi." Ibu masuk ke dapur meninggalkan Arka.
Lama, tetap saja Arka tak mau pulang. Hingga sudah pukul lima sore, barulah pemuda egois itu beranjak. Pulang dengan muka masam, kembali menyalakan sepeda motor dan melaju seperti peluru.
Ibu menggeleng kepala dengan kebiasaan Arka, dari dulu tak pernah berubah jika sedang kesal kerjanya mengebut seperti tak akan pernah kembali.
"Mel!" ibu mengetuk pintu kamar mandi.
Tak lama pintunya terbuka, tampak wajah kusut Melati dengan ponsel di tangannya.
"Ada-ada saja, sembunyi kok di kamar mandi? Dingin." Ibu mengomel.
"Ibu tahu sendiri jika Mas Arka itu keras kepala. Menghadapinya juga harus dengan keras kepala. Lagipula Melati sudah lelah berbicara dengan Mas Arka, kalau ada masalah tak pernah bertemu solusinya. Ujung-ujungnya Melati lagi yang harus mengalah." jelas Melati menuju meja makan dan duduk di sana.
"Ya kamu mengalah saja." jawab Ibu lelah.
"Tidak bisa Bu, kan dia minta Melati membatalkan rencana pernikahan Melati dengan Mas Iyan! Kalau mengalah berarti Melati gagal nikah!" kesal Melati, merasa ibu tidak tahu persoalannya.
"Terus?" Ibu Nur jadi penasaran.
"Tadi Mas Iyan mengantar Melati, dan hampir berkelahi dengan Mas Arka." jelas Melati lagi.
"Terus Iyan kemana?" tanya Ibu lagi.
"Melati suruh pulang."
__ADS_1