
Iyan berhenti melangkah masuk, karena sepatu Arka ada di depan pintu, artinya dia masih ada di dalam.
"Mas pulang saja ya, daripada ribut sama Arka, Maghrib lagi." ucap Iyan setengah berbisik.
"Ya sudah, kita lewat belakang." Melati menarik tangan Iyan menuju pintu belakang.
"Tidak sopan lewat belakang Mel." Iyan mencoba menolak, tapi Melati tetap membawanya masuk lewat dapur.
"Duduk di sini Mas." Melati melonggarkan kursi di meja makan sederhana di dapur ibunya tersebut.
Iyan bingung sendiri dengan keadaan di rumah Melati, dia senang karena bisa ada di dapur bersama Melati, tapi juga merasa serba salah karena ada Arka di dalam, dan mereka seperti sedang main sembunyi-sembunyian alias petak umpet.
"Bangunkan Ibu Mel, tidak baik tidur di waktu Maghrib. Walaupun sedang sakit, akan lebih baik jika bangun dan menyandar kalau tak bisa duduk." Iyan meminta Melati untuk membangunkan Ibunya.
"Iya Mas." Melati menurut setelah menghidangkan kopi untuk Iyan.
Iyan tersenyum manis mendengar jawaban 'iya' dari Melati. Gadis itu berlalu menuju kamar Ibunya yang bersebelahan dengan dapur.
"Mel?" suara Adi memanggil, sepertinya atas permintaan Arka.
"Iya." jawab Melati dari kamarnya, sejenak kemudian ia keluar dari kamar Ibu, langsung ke ruang tamu.
"Siapa di dalam?" tanya Arka penuh selidik, telinga Arka memang sangat tajam jika menyangkut suara laki-laki, cemburu buta membuatnya bisa mendengar bahkan seorang lelaki yang sedang berbisik.
"Ibu Mas, Maghrib begini Ibu harus bangun agar tidak pusing di kepala." jawab Melati.
Arka tidak suka mendengar jawaban Melati, semenjak dekat dengan Iyan gadis polos itu menjadi banyak tahu tentang hal-hal yang di larang atau di bolehkan. Arka geram sekali mendengarnya.
"Aku harus pulang, nanti aku akan kembali lagi." ucap Arka tak juga menyerah setelah beberapa jam menunggu Melati membereskan rumah.
"Silahkan Mas, Paman Adi juga akan menginap di sini bersama Paman Aryo sebentar lagi akan datang. Jadi lebih ramai kalau Mas Arka mau datang nanti." Melati tersenyum manis, tak mau kalah dengan ancaman Arka, bersandiwara pun dia sudah tak merasa bersalah.
Arka mendengus kesal, sedikit melirik Adi yang tampak santai dan biasa saja, sepertinya Melati tidak berbohong. Arka keluar dan memilih pulang, mana mungkin dia akan berbaur dengan Pamannya Melati, terutama Aryo.
Tapi baru beberapa langkah Arka keluar dari rumah itu, ia melihat sepeda motor Iyan ada di depan halaman. Arka menoleh tajam, matanya kembali memerah menatap pintu rumah yang masih sedikit terbuka.
"Melati!" ucapnya sedikit berteriak.
__ADS_1
Adi dan Melati berpandangan, kemudian membuka lebar pintu dan melihat Arka.
Arka melihat Melati dan Adi bergantian, lalu menoleh sepeda motor Iyan.
"Ada apa Mas Arka?" tanya Melati halus.
"Iyan ada di dalam?" tanya Arka menatap tajam keduanya.
"Iyan memang akan kemari, tapi berama dengan Mas Aryo, karena dia memang sedang menjemput Kang Mas Aryo." jelas Adi meyakinkan Arka.
Arka menatap tajam, penuh selidik, dadanya naik turun menahan kekesalan.
"Tidak percaya?" tanya Adi meraih ponsel di saku celananya. Tanpa ragu Adi menghubungi Aryo di hadapan Arka.
"Halo Mas? Sudah sampai rumah apa belum?" tanya Adi sangat jelas di dengar Arka.
"Lagi ke mesjid ini, nanti sebentar lagi kalau mau bicara." jawab Aryo di seberang sana.
Arka berbalik dan langsung pergi dari halaman rumah Melati, beberapa langkah saja dia sudah jauh.
"Hehehe." Adi tertawa senang sambil memencet ponselnya.
"Kamu juga bohong, aku tahu kalau Iyan sudah ada di dalam." Adi langsung menutup pintu dan menuju dapur.
Melati tak membantah, memang itu benar adanya. Sampai di dapur ia semakin terpesona dengan Iyan Rahendra. Pemuda itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, tangan dan kaki yang celana jeans-nya terlipat hingga tiga puluh centi, dia baru saja selesai berwudhu.
"Sajadahnya di mana Mel?" Iyan melihat kiri kanan tak melihat benda yang di carinya.
"Sebentar Mas." Melati masuk ke dalam kamarnya mengambil sajadah yang di maksud. Dua lembar sekalian untuk Adi.
"Kita sholat di dapur Yan?" tanya Adi masuk ke kamar mandi.
"Bersih Di, di mana saja asal bukan di kamar mandi. Yang penting niatnya." Iyan langsung berdiri membaca niat sholat setelahnya. Tak menunggu Adi karena untuk berbaris seperti imam dan makmum tak cukup tempat.
Hanya beberapa menit saja, Iyan sudah selesai, kemudian bergantian Adi, dan Melati sudah sholat di kamarnya.
"Sudah sholat Mel?" tanya Iyan melihat Melati keluar dari kamarnya dengan rambut di kuncir rapi.
__ADS_1
"Sudah Mas." Melati mendekati Melati dan menyiapkan piring untuk mereka makan bersama.
"Mas bantu ya, kamu bangunkan Ibu." pinta Iyan lagi.
"Ibu sudah tidur lagi sehabis adzan." jawab Melati pasrah.
"Oh, ya sudah. Mungkin dia benar-benar tidak bisa tidur beberapa hari ini." Iyan mengambil gelas dari rak piring dan meletakkan di meja makan.
Melati mendekati Iyan dan kembali memeluknya sedikit, seperti pencuri yang takut ketahuan Adi.
"Kenapa?" bisik Iyan di telinga yang tertutup rambut itu.
"Tidak apa-apa, hanya kangen, alias rindu." Melati tersenyum lebar.
"Bilang saja minta di cium." Iyan berbisik lagi, tentu ia takut di dengar Adi yang sedang khusyuk sholat di depan kamar Ibu Nur.
"Tidak Mas." Melati mencubit perut Iyan.
"Tidak apa?" tanya Iyan lagi.
"Tidak menolak." jawab Melati terkekeh bersama Iyan.
"Sabar ya Sayang. Besok kita pilih pakaian untukmu, lusa kita akan menikah di rumah Paman Aryo. Aku sudah bicara dengannya tadi, dan dia setuju untuk menikahkan kita." jelas Iyan mengungkapkan alasan ia pergi ke rumah Aryo.
"Lusa Mas?" Melati terkejut, tak menyangka secepat itu.
"Iya." Iyan menatap wajah Melati, takut keterkejutan gadis itu malah membuatnya urung menikah.
"Bagaimana dengan Ibu?" ucap Melati setengah berbisik.
"Setelah kita menikah, ibu akan sembuh." Jawab Iyan yakin.
"Mas tahu dari man? Aku sedih jika menikah tanpa Ayah juga Ibu Mas." Melati kembali merasakan khawatir.
Iyan menarik nafas lagi, sepertinya senjata andalan harus sering-sering di keluarkan agar Melati merasa yakin padanya.
"Kita akan membuat Ibu sembuh setelah menikah, Ibu seperti itu karena Arka selalu menambah jampi-jampinya. Belum lagi yang lain-lain yang kamu tidak tahu Sayang." Iyan mendekatkan wajahnya, mengelus pipi Melati dan menatapnya mesra.
__ADS_1
"Tapi Mas, apa sebaiknya kita bicarakan pada Ibu?" Melati merengek manja setelah di rayu Iyan.
"Kita pergi menikah hanya sebentar lalu kita pulang , setelahnya kalian adalah tanggung jawabku." ucap Iyan menempelkan hidungnya pada hidung Melati, walaupun akhirnya di dorong oleh gadis itu, Melati hapal betul Iyan hanya memberi harapan palsu, pemuda itu hanya menggodanya.