
Bahagia, kata-kata yang sering terucap sebagai ungkapan ketika perasaan seseorang berada di puncak yang diinginkannya. Seperti halnya dengan Iyan Rahendra malam ini, duduk di ruang tamu dengan jendela terbuka menghirup udara malam yang menenangkan. Canda dan tawa menghiasi keduanya dengan kehadiran nyawa yang baru di dalam rahim Melati, Iyan lebih menyayangi dan memanjakannya.
"Kopi mu Nak." Ibu membawakan kopi untuk Iyan.
"Terimakasih Bu, Iyan bisa bikin sendiri." ucap Iyan merasa merepotkan ibu mertuanya.
"Tidak apa-apa, Ibu juga lagi bikin teh. Sekalian buat kamu dan melati." Ibu juga meletakkan Susu yang tadi di belikan Iyan untuk Melati.
"Tadi Paman Aryo menelpon, katanya Bapak sudah ada kabar, dan akan pulang bulan depan." ucap Melati kepada ibunya.
"Benar begitu Nduk?" Wajah tua Ibu Nur terlihat berbinar dengan berita akan pulangnya suami tercinta, ayah Melati.
"Iya, hanya sulit di hubungi karena tak ada jaringan di area proyek Bu. Mungkin tiga Minggu lagi Bapak sudah kembali." jelas Melati lagi.
"Syukurlah kalau begitu, Ibu lega." Ibu Nur tersenyum senang, nafasnya juga terdengar ringan.
"Aku harap Bapak tidak terkejut dengan pernikahan kita." Iyan menyahuti pembicaraan Ibu dan anak itu.
"Tentu saja Tidak Mas, Bapak bukan orang yang banyak menuntut, dia baik dan hanya mengikut apa yang terbaik untukku."
"Yang pastinya, Ibu sedang bahagia sekali dengan kehamilan kamu, jaga baik-baik karena Ibu sudah tidak sabar pingin punya cucu." Ibu terkekeh kecil.
"Tentu saja Aku akan menjaganya Bu, mulai besok Melati tak akan bekerja. Ibu juga tak perlu bersusah payah mengolah kebun sayur. Jika hanya untuk di konsumsi silahkan ibu tanam dan petik. Tapi jika untuk dijual rasanya Ibu akan kelelahan. Untuk sementara aku ingin Ibu menjaga Melati, aku merasa tidak baik untuk Melati jika sering ditinggalkan sendiri."
"Tapi sayang sekali Nak, Ibu sudah terbiasa." Ibu tampak berpikir.
"Hanya sementara Bu, Iyan minta Ibu menjaga Melati." pinta Iyan lagi.
"Ya sudah kalau begitu. Ibu hanya takut merepotkan kalian."
"Tidak Bu, aku hanya merasa tak enak jika berhenti saat ini. Adi masih butuh aku." jelas Iyan pada ibu mertuanya itu.
"Ya sudah, ibu nurut saja." jawabnya beranjak dengan gelas teh ikut di bawa.
Melati terkekeh geli, ibunya tak bisa menolak.
"Lagi pula aku baik-baik saja Mas, mengapa harus di jaga?" tanya Melati dengan suara halusnya.
__ADS_1
"Karena kamu istriku." jawab Iyan memeluk Melati, mengecup pipinya dan menggodanya.
Mereka tak sadar jika dari kejauhan seseorang sedang memperhatikan mereka. Pria itu berdiri tegap dengan kedua tangannya berpangku di belakang. Matanya memandang dengan bibirnya sedikit tertarik, dia tersenyum menyaksikan kebahagiaan Iyan dan Melati. Tapi mata yang mirip seperti Iyan itu meneteskan air mata.
24 tahun yang lalu, ketika istrinya sedang hamil muda seperti Melati.
"Akhirnya istriku hamil, aku akan punya anak, kita akan punya anak!"
Begitu kata-kata yang diucapkan masih teringat hingga saat ini.
"Iya Mas, aku hamil anak kita."
Begitu pula suara merdu istri tercinta masih terngiang di telinganya.
Tapi kebahagiaan dan cinta luar biasa itu tak berlangsung lama, hancur ketika kehadiran seorang laki-laki bernama Arjuna berkunjung ke rumah sederhana mereka.
Masih terbayang jelas pula bagaimana pemuda itu menatap istrinya. Tak sedetikpun mata pemuda itu melewatkan gerak-gerik istri tercintanya.
Hingga suatu saat Dimas mendapati pemuda itu nekat menemui istrinya. Istrinya menolak, dan Dimas juga menyerang hingga pemuda bernama Arjuna itu kalah.
Namun tak terduga ketika Dimas lengah, dan pemuda bernama Arjuna itu malah menyerang istrinya lewat alam bawah sadar, menemuinya di dalam mimpi dan mengikat jiwanya dengan ilmu hitam.
Aneh, Dimas semakin aneh dengan sikap Kenanga istrinya. Hingga beberapa waktu berlalu, istrinya menangis di siang dan malam tanpa henti.
"Apa yang membuatmu sedih?" tanya Dimas pelan.
Dia menggeleng, tapi dapat di lihat dia benar-benar sedang bersedih.
Hari-hari berlalu. Tanpa di ketahui sebabnya dia semakin kurus dan tak bersemangat, seperti sedang menahan beban yang berat.
Dan hari itu, pemuda bernama Arjuna itu sengaja menampakkan diri, melewati rumah mereka hingga berkali-kali. Tak juga menyerah hingga Kenanga keluar dan melihatnya.
Langkah Kenanga mengikuti pemuda itu tanpa sadar, kakinya berjalan tanpa tahu arah, bahkan apa yang sedang diinjaknya dia tidak peduli.
Mengikuti hingga jauh dan mata tak lepas dari pemuda itu, hingga tiba di jalan yang curam.
Pemuda bernama Arjuna itu berhenti dan menoleh gadis impiannya tersebut.
__ADS_1
"Kita pulang." ucapnya mengulurkan tangannya pada Kenanga, dia tersenyum manis dan mata berbinar.
Kenanga mengulurkan tangannya, perlahan bibirnya yang sudah lama tidak tersenyum itu tertarik sedikit, ada perasaan bahagia penuh damba di sana.
Namun hatinya berkata, bahwa itu tidak benar. "Aku istri Dimas Mahendra."
Sekejap mata tubuh indah dengan perut yang mulai membuncit itu melewati jurang yang tinggi.
Hanya ucapan terakhir itu bisa di dengar pemuda bernama Arjuna itu, juga Dimas Mahendra yang sedang berada di ladang, ia mendengar jika istrinya berkata demikian di dalam hatinya.
Sejak itu ia terus mencari namun tak bisa menemukan istrinya.
Hingga beberapa bulan kemudian, Dimas Mahendra berhasil menemukan istri tercinta, tapi tubuh yang di rindukannya sudah tidak bernyawa.
Air mata di pipi laki-laki itu masih saja menetes.
"Jangan sampai kau mengalami hal menyakitkan itu seperti aku dan ibumu." gumamnya menengadah langit sejenak.
Lalu kemudian kembali menyaksikan tawa dan kemesraan anak menantunya dari kejauhan.
...***...
Sementara itu, di rumah kayu di pinggiran hutan.
"Apakah aku sudah tampan?" tanya Arka kepada Rahayu Dukun awet muda.
"Tentu saja kau selalu tampan." pujinya kepada Arka, satu bulan tinggal bersama dan pulang dengan keberhasilan yang tak sia-sia.
"Terimakasih." ucap Arka tersenyum senang.
"Lain kali datanglah ke sini." pinta Rahayu begitu lembut.
"Ya, aku akan kembali." jawab Arka masih menyukai kecantikan Rahayu.
"Pulanglah, Arjuna sudah menjemputmu." Wanita itu menunjuk Aki Juno sudah ada di depan rumahnya.
"Ya."
__ADS_1
Pulang dengan rencana baru, hatinya gembira dan bangga dengan ilmu baru yang di dapatnya. Dia berpikir akan segera memenangkan persaingannya dengan Iyan.
"Beruntungnya aku memiliki teman dan guru seperti mereka." bangga Arka di dalam hatinya, dia tidak sadar jika saat ini ia semakin tersesat dalam ambisi yang salah, juga jalan kehidupan yang semakin menjauhkan dirinya dari sang pencipta.