Main Dukun

Main Dukun
Ancaman Arka


__ADS_3

"Ada apa Mbak Nur, kok tiba-tiba datang kemari? Melati apa tidak bekerja?" tanya Aryo sedikit bingung melihat wajah-wajah tegang dari dua wanita yang baru saja datang. Dia mempersilahkan keduanya duduk.


"Kedatangan kami kemari bukan hanya berkunjung, tapi memang ada keperluan." jawab Ibu Nur sedangkan Melati tampak menyandar tak terlalu tertarik dengan apa yang akan mereka bicarakan.


"Keperluan apa?" Aryo menatap Ibu Nur dengan serius.


"Aku mau mengobati Melati, tetangga-tetangga mengatakan jika Melati kena pelet. Itu sebabnya Melati dengan cepat melupakan Arka dan sekarang malah ingin menempel terus sama Iyan." jelas Ibu semakin membuat Melati jengah.


Aryo tertawa terbahak-bahak. "Terus kemarin pas lagi baik-baik saja sama Arka tetanggamu bilang apa Mbak?"


"Ya banyak! Pacaran tak kunjung menikah, nuduh yang macam-macam, terus ibunya tidak setuju, membuat kesal." rutuknya menjelaskan kepada Aryo.


"Lha itu tahu! Omongan tetangga kok di dengar. Kemarin salah, yang ini juga salah, terus yang benernya kapan Mbak?" Aryo kembali tertawa, menggeleng-geleng mendengar Ibu Nur sangat mudah terpengaruh.


"Yang penting sekarang kamu obati dulu Melati!" kesal Ibu Nur, ia tidak suka ditertawai.


"Itu pasal mudah, yang sulit itu sampeyan Mbak, ada yang benar-benar melamar malah dituduh main pelet. Terus yang cuma ngajak pacaran mau di bela begitu?" Aryo semakin membuat Ibu Nur kesal.


"Ya bukan seperti itu, aku ingin memastikan Melati itu tidak dalam pengaruh apa-apa. Kalau sudah di obati terus dia masih cinta sama Iyan, berarti Iyan jodohnya." ucap Ibu Nur masih bersikeras dengan keinginannya.


"Ya sudah, kalau begitu kita akan ke sana." Aryo mengalah, tentu tak sembarang mengalah. Menurut Aryo Melati memang perlu di obati mengingat Arka juga memiliki ilmu hitam. Melati harus bebas dari pengaruh Arka, salah satu caranya adalah di bawa kepada teman Aryo bila perlu di rukiyah.


Beberapa saat setelah keduanya istirahat, mereka berangkat menuju rumah teman Aryo, tak seberapa jauh, mereka hanya berjalan kaki menuju rumah di pinggiran kali ujung desa.


"Masih jauh Paman?" Melati bertanya sambil melihat pinggiran desa yang tampak hijau dan bersih karena baru saja di bangun pemerintah.


"Sebentar lagi sampai." jawab Aryo sambil terus berjalan. Hingga tak berapa lama kemudian mereka sudah sampai di sebuah rumah sederhana, terbuat dari kayu tapi tampak menyejukkan, bersih dan nyaman.


"Assalamualaikum Mad?" begitu Aryo mengucapkan salam.


"Wa'alaikum salam." jawab laki-laki berpakaian sederhana namun bertengger peci di kepalanya.

__ADS_1


"Ahmadnya ada?" tanya Aryo pada laki-laki muda tersebut.


"Mas Ahmad sedang keluar kota Mas. Kalau boleh tahu ini ada perlu apa?" tanya adik dari Ahmad tersebut.


"Oh, ini keponakanku ada keperluan sedikit, tapi kalau Ahmadnya tidak ada ya lain kali kami datang lagi. Kalau boleh tahu kapan si Ahmad pulang?" tanya Aryo lagi.


"Belum tahu Mas, soalnya lagi mengobati Pakde di Cirebon. Sepertinya agak lama, tapi nanti kalau Mas Ahmad sudah pulang biar saya yang memberi kabar sama Mas Aryo." ucapnya sangat sopan sekali.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Kami pulang dulu. Assalamualaikum!" pamit Arti juga Melati dan Ibu ikut mengucapkan salam.


"Wa'alaikum salam warahmatullah." jawabnya tersenyum sopan.


"Mereka bertiga kembali pulang, kedatangan yang sia-sia membuat Melati semakin merasa lelah. Namun demi menyenangkan hati ibunya, juga keyakinan yang di dapat dari Iyan, membuatnya menarik nafas dan sabar.


"Kita pulang ya Bu?" bujuk Melati saat setelah tiba di rumah Aryo.


"Ya wes." kesal Ibunya.


Perjalanan yang sedikit berliku, membuat Aryo melaju pelan dan hati-hati, sambil mengobrol dengan ibunya Melati.


"Mbak, kalau anaknya sudah sama-sama suka ya di nikahkan saja. Soal di pelet atau tidak di pelet toh si Iyan memang ingin menikahi Melati, lalu masalahnya dimana?" Aryo mencoba menasehati Mbak yu-nya yang rada aneh.


"Hanya memastikan saja Yok!" Ibu Nur masih kesal.


Aryo melirik Ibu Nur dengan heran, lalu melirik keponakannya yang kebetulan juga melihat Aryo.


Sepertinya kedua orang tersebut merasakan hal yang sama, ada yang aneh dengan ibunya Melati.


Aryo tak lagi berbicara, merasa percuma dan semua yang di katakan Aryo tak akan di dengar malah di bantah oleh wanita yang sudah tua itu.


Pukul lima sore mereka sudah tiba di rumah Melati, ibu Nur langsung turun dengan wajah yang tidak terlihat senang. masuk ke dalam rumah tanpa bicara.

__ADS_1


"Masuk dulu Paman, Melati buatkan kopi." ucap Melati meraih tas yang di bawa ibunya di tinggal begitu saja di mobil Aryo.


"Mel, kayanya yang mesti di obati itu ibumu." canda Aryo sambil tertawa.


"Melati juga merasa begitu, biasanya Ibu tidak begitu Paman."


"Ya wes, kamu jangan ajak berdebat ibumu. Tunggu kabar dari Paman nanti setelah Ahmad pulang kita obati dia. Tapi jangan bilang-bilang sama ibumu, biarkan dia berpikir kamu yang harus diobati." usul Aryo sambil menutup kembali pintu mobilnya.


"Iya Paman, Melati mengerti." Melati masuk kedalam rumah bersama Aryo.


Hari-hari berikutnya, masih tetap bekerja seperti biasa. Hanya bisa bertemu di tempat kerja dengan Iyan. Sedangkan sore dan malam hari, Arka selalu standby di rumah Melati, meski hanya mengobrol dengan ibu tapi Melati cukup terganggu. Tak jarang Melati masuk kamar sejak Maghrib dan tidur lebih awal untuk menghindari Arka.


"Mel! Mel!" malam Minggu ini, Ibu Nur memanggil-manggil Melati, memintanya bangun dan menemui Arka.


"Apa Bu, Melati mau tidur ngantuk." Melati kembali menarik selimut yang sudah diraih ibunya.


"Mel! Temui sebentar, kasihan Nak Arka, sudah beberapa hari dia selalu datang nanyain keadaan kamu, tapi kamu malah tidak perduli." kesal Ibu Nur masih menahan selimut Melati.


"Bu!" protes Melati kesal.


"Sebentar saja." Ibu Nur meletakkan selimut Melati di atas lemari. Membuat Melati sangat kesal namun akhirnya menurut.


Melati keluar dengan wajah kusut, sedangkan Arka menatapnya dengan sangat bahagia.


"Mas mau apalagi datang ke sini? Kita sudah selesai Mas, apa perlu di ingatkan setiap hari." Melati duduk berjarak dengan wajah masih menekuk.


"Aku tidak menerima keputusan sepihakmu itu Mel." jawab Arka senang.


"Kita hanya sekedar pacaran Mas Arka, keputusan tak perlu kedua belah pihak seperti suami istri, jika aku sudah tak mau maka kau juga harus terima." tegas Melati.


"Aku tahu, tapi apakah perlu diingatkan juga setiap hari, bahwa hubungan kita sudah seperti suami istri selama ini. Apa harus ku katakan juga kepada ibu?" ancam Arka membuat Melati terkejut bukan main.

__ADS_1


__ADS_2