Main Dukun

Main Dukun
Tersesat


__ADS_3

Lama menunggu, tak ada balasan juga hingga beberapa saat tetap tak mendapat balasan dari Iyan, hingga kemudian ia tertidur.


Malam yang semakin larut, gelap dan sepi, dingin dan sedikit seram. Jalanan yang tak ada seorangpun melewatinya, membuat seorang gadis yang tak sengaja melewatinya ingin kembali. Tapi ketika berbalik malah ia tak menemukan jalan pulang. Berputar di berbagai arah rasanya seperti sedang tersesat padahal sebelumnya ia melewati jalan yang benar, pulang dari Dealer tempat ia bekerja akan menuju rumah.


"Mas!" Melati memanggil Iyan mana tahu pria itu mendengarkan, karena sebelum Melati melangkah jauh, pria itu membuntutinya di belakang, dengan alasan khawatir.


Tak ada jawaban, tentu saja di sana tak ada siapapun kecuali dirinya. Karena rasa takut yang semakin bertambah, Melati memilih berlari dari tempat tersebut, tujuannya akan segera pulang. Menembus jalan yang gelap, namun dapat melihat pohon dan rumah warga sudah tertutup rapat. Tak ada listrik seperti malam biasanya, yang ada hanya cahaya bulan menerangi dari atas, itupun hanya separuh sehingga cahayanya hanya samar-samar saja.


Melati terus berjalan cepat, enggan menoleh karena semakin diperhatikan semakin menyeramkan pula rumah-rumah yang kosong tersebut.


Lama tak juga sampai, sempat heran karena seharusnya jarak antara tempat bekerja dan rumahnya tidaklah jauh.


"Ibu!" panggil Melati. Namun rumah yang di depan sana malah berubah seperti bukan rumahnya.


"Mas Iyan!" panggilnya lagi, sangat berharap pemuda itu mendengar dan menemaninya di jalanan gelap.


Lelah tapi tak juga sampai di rumah, malah semakin tersesat di tempat asing yang tak berpenghuni.


"Ibu!" Melati menangis, ia benar-benar lelah, duduk menyandar di bawah pohon besar karena tak ada lagi tempat aman baginya di sana.


"Mel!" suara ibu memanggilnya dari jauh.


"Ibu!" teriak Melati beranjak dari duduknya. Ia mencari sumber suara yang memanggilnya.


Dari kejauhan tampak seorang wanita tua berdiri di ujung jalan, dengan wajah datar ia terus memanggil Melati.


"Mel, kesini." ucapnya pelan namun menusuk telinga Melati.


"Ibu, di sana sangat gelap, sepi! Melati takut!" jawab Melati tak mau mengikuti ibunya.


"Tidak apa-apa Mel, ayo ikut Ibu." ucapnya lagi meminta Melati keluar dari jalan utama tempat Melati berdiri.

__ADS_1


"Tapi Bu, di sini lebih aman. Di sana banyak binatang buas Bu, di belakang ibu hutan dan gelap." Melati masih tak mau mengikut ibunya.


"Ada Ibu, kamu tak usah takut." ucap Ibu lagi setengah berteriak. Tapi entah mengapa Melati tak melihat mulut ibunya bicara, hanya suaranya saja menggema dan terkadang keras sedikit memekik.


Karena rasa takut dan khawatir bersamaan, Melati melangkahkan kakinya pelan. Ibu semakin samar terlihat, tertutup kabut asap dan menghalangi penglihatan Melati, membuat Melati semakin panik. "Ibu!" teriak Melati mempercepat langkahnya.


"Tunggu!"


Seseorang menahan lengannya.


Melati menoleh, di sampingnya berdiri seorang laki-laki tampan sekali. Wajahnya meneduhkan, dan menghipnotis Melati, membuat waktu berhenti dan melupakan segalanya.


Dia tersenyum tipis tapi manis, tangannya terasa hangat dan halus menggenggam lengan Melati.


"Mel! Cepat ke sini!" suara Ibu kembali membuat Melati menoleh.


"Ibu!" Melati melihat ibunya semakin jauh masuk ke dalam hutan, ia kembali khawatir dan ingin melepaskan tangannya dari seorang laki-laki tampan yang masih menahannya. Sekuat tenaga sehingga tangannya terlepas, Melati mengejar ibunya.


Entah bagaimana ia berjalan, pemuda tampan itu sudah kembali berdiri menghalangi Melati, kali ini berdiri tepat di hadapannya, tak mau menyingkir meskipun Melati memintanya pergi.


Namun pria itu tak melepaskan Melati, ia menghalangi penglihatan Melati dengan tubuhnya, dan terus menatap wajah Melati tak sekalipun berkedip.


"Ibu." ucap Melati pelan, seperti memohon kepada laki-laki tampan yang menahannya.


Laki-laki itu menggeleng, senyumnya masih terlihat, tatapannya memang selalu mesra.


"Pergi, jangan halangi anakku!" Ibu yang tadinya sudah menjauh kini mendekat dan menyingkirkan tubuh pemuda tampan yang menghadang Melati. Namun pemuda itu tidak diam saja, satu tangannya menepis tangan Ibu Nur yang mendadak kuat dan bertenaga.


Pertempuran dengan satu tangan terjadi, keduanya tampak mahir saling menyerang. Namun seperti sangat asing, Ibu Nur menendang laki-laki tersebut hingga terjatuh di hadapan Melati, Ibu Nur langsung meraih Melati dan membawanya seperti melayang.


"Kita akan kemana Bu?" tanya Melati, sempat menoleh pemuda airi masih terjatuh.

__ADS_1


"Kita sembunyi di sini Mel!" Ibu menunjuk hutan yang gelap.


"Tidak Bu, Melati takut." ucap Melati benar-benar ketakutan.


"Diam!" bentak Ibu dengan suara semakin tak di kenalnya.


Melati memberontak berusaha melepaskan diri, antara sadar dan tidak dirinya sedang terbang. Dan beruntung sejenak kemudian seseorang meraih tubuh Melati, membawanya sangat cepat menembus kegelapan hingga beberapa saat kemudian tiba di depan rumah Melati.


Suasana sepi, lengang namun tampak cahaya listrik menyala di setiap rumah warga, termasuk rumah Melati. Tidak seperti tadi saat ibunya memanggil semuanya terlihat gelap dan menyeramkan. Langit juga berwarna sedikit terang dengan banyaknya bintang di atas sana.


"Kau siapa?" tanya Melati pada akhirnya, ia menyadari jika pemuda tampan dan selalu menatapnya penuh cinta itulah yang sudah membawanya pulang.


Dia tersenyum, lagi-lagi senyumnya manis sekali. wajahnya meneduhkan dan bayangannya saja terasa menghangatkan.


Entah mengapa Melati merasa ia begitu dekat dengan laki-laki di hadapannya. Begitu sempurna, Tak ada kekurangan yang bisa di lihat dari pemuda tersebut, hanya menatap matanya sudah bergetar seluruh jiwanya, kasih sayang dan kerinduan memenuhi hatinya, melambung tinggi khayalan indah bersama dirinya.


Tangan hangatnya menyentuh bahu Melati, setengah memeluk dan menatapnya sangat dekat. "Masuklah, Ibu ada di dalam." ucapnya lembut.


Melati semakin bingung, bagaimana ibunya bisa ada di dalam, padahal tadi ibunya tertinggal di hutan.


Pemuda itu seakan mengerti, mendekap Melati kemudian tiba-tiba mereka sudah ada di kamarnya. "Tidurlah." bisiknya pelan, halus dan langsung membuat Melati mengantuk, hingga tidur lelap dalam dekapan seseorang yang tak di kenal.


Suara telepon beberapa kali berdering mengganggu tidur nyenyaknya. Mata indahnya mulai terbuka, sedikit lalu menutup, kembali terbuka kemudian tangannya meraba-raba mencari keberadaan benda yang mengganggu tidurnya.


"Assalamualaikum Mel!"


Mata yang masih berat dan berulang kali menutup itu kini terbuka lebar dan mendadak ringan di kelopak matanya.


"Mas Iyan." rengeknya, suara mengantuk khas bangun tidur terdengar merdu. Entah mengapa mendengar suaranya membuat Melati menjadi sangat rindu.


"Bangun Mel, sudah pagi Sayang." ucap Iyan lembut.

__ADS_1


"Jam berapa Mas?" tanya Melati, harusnya dia tak perlu bertanya, karena ponselnya ada di telinga.


"Jam 6:30. Cepat mandi dan berangkat, Mas rindu." ucapnya membuat hati Melati berdenyut rindu pula, sepertinya ingin segera memeluknya erat.


__ADS_2