Main Dukun

Main Dukun
Takut ditinggal Iyan


__ADS_3

Mata beningnya memohon, berharap agar Iyan tak membencinya. Perasaan bersalah dan cinta bercampur menjadi ketakutan dan kegelisahan di dalam hati Melati.


"Tetap di sini Mas." pintanya memohon.


"Sudah malam Mel, tidak baik terlalu lama berduaan di malam hari. Setan akan senang berbisik tentang nikmatnya berbuat dosa, dan kita akan terbuai dengan bisikan-bisikannya, imanku tak sekuat itu."


"Mas!" semakin membuat Melati menyesal setengah mati, tersindir dengan ungkapan iman yang tak sekuat itu.


Iyan belum beranjak, rasa cinta dan kesal masih bertarung di dalam jiwanya. Ingin marah namun percuma, Melati juga sudah tampak menyesal dan ketakutan, Iyan sungguh mengerti apa yang di rasakan Melati.


"Aku ikut Mas." Melati semakin mengeratkan pelukannya di lengan Iyan.


Iyan bertambah bingung di buatnya, senang tapi juga entah apalagi, Iyan menjadi heran dengan sikap Melati.


"Mel, Arka masih ada di depan sana, sebaiknya aku pulang agar tidak menimbulkan keributan lagi." ucap Iyan membujuk.


Melati tak mau mendengar, masih bertahan memeluk lengan Iyan dengan wajah ikut menempel di baju Iyan kali ini.


"Kamu kenapa?" suara Iyan lembut, tingkah Melati seperti itu membuat hatinya luluh, kecewanya berangsur hilang.


"Takut." jawab Melati singkat masih bersembunyi di bahu menghadap kebelakang.


"Takut apa? Aku pulang sekalian mampir di rumah ujung sana meminta ibu pulang." jelas Iyan memang rencananya seperti itu sejak tadi.


"Bukan itu Mas." jawabnya masih tak melepaskan lengan Iyan. Membuat pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Terus apa?" Iyan meraih bahu Melati memintanya menghadap Iyan, agar pembicaraan mereka cepat selesai. "Hem, apa?" Iyan menanyainya lagi dengan lebih lembut.


"Takut Mas Iyan meninggalkan aku." ucapnya menggigit bibirnya sendiri, wajah yang baru saja menghadap Iyan itu semakin menunduk.


Iyan tertawa sedikit, menarik nafas sekaligus membuang kekesalan yang tersisa.


"Kalau takut, jangan di lakukan hal yang akan membuatku marah. Aku laki-laki normal yang punya perasaan Mel. Aku juga punya keinginan yang sama seperti Arka, aku tak melakukannya karena aku menghormatimu. Bukan karena aku tidak memiliki nafsu terhadap wajah cantikmu. Aku tahu sekali semua yang ada padamu sangat menggiurkan." Iyan mengangkat wajah Melati dan mendekatkan wajahnya. "Wajahmu, bibirmu, juga bagian-bagian yang lainnya. Aku yakin semua itu sangat menyenangkan. Aku saja berusaha mati-matian menahannya saat berduaan denganmu. Aku yakin kau juga merasakan yang sama, tapi aku akan menahannya hingga waktu itu tiba. Aku harap, kau juga menjaga diri untukku juga untuk dirimu sendiri. Agar aku tak terlalu kecewa saat aku menjadi suamimu nanti." Iyan menjelaskan perasaannya.


"Maaf Mas, aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi. Aku mohon maafkan aku kali ini." Melati memohon dan menangis, menatap Iyan dengan sendu.

__ADS_1


Iyan menarik nafas, tak memungkiri perasaannya yang juga sangat mencintai Melati, harusnya dia senang saat ini Melati takut kehilangannya setelah berhasil merebutnya dari Arka.


Iyan meraih tubuh langsing namun padat berisi itu, mendekapnya erat tak peduli jika Arka masih mengintip atau sudah pergi, tapi dia yakin pria egois itu masih ada di sekitar rumah Melati. "Kita akan tetap menikah, apapun yang terjadi." bisik Iyan tak mampu membohongi dirinya, jika Melati yang cantik sangat menggangu malam-malamnya sebagai lelaki yang sudah dewasa.


Melati membalas pelukan Iyan, rasanya sungguh hangat dan menenangkan, hatinya berdenyut-denyut bahagia seperti ada kupu-kupu yang ingin terbang keluar dan menari, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Aku mencintaimu Mas, Aku tidak mau kau meninggalkanku aku." ucapnya sedikit merengek dalam pelukan Iyan.


Iyan tersenyum mendengarnya, tidak pernah terbayangkan akan mendengar kata-kata cinta sedalam itu dari mulut Melati.


"Sekarang istirahat dan kunci pintunya. Jangan di buka selain ibu." pesan Iyan setelah melepaskan pelukannya.


Melati mengangguk mengerti, hatinya lega Iyan masih sangat peduli.


"Mas pulang ya." Iyan tersenyum manis.


Melati mengangguk lagi, membalas senyum itu dengan tatapan manja.


Iyan mengusap kepala Melati kemudian berlalu dengan menutup pintu. Meninggalkan Melati yang masih terpaku, masih terasa nikmat di peluk Iyan. Entah mengapa rasanya sungguh berbeda, hatinya selalu berbunga-bunga dibuatnya.


Pukul 23:00, terdengar suara Ibu memangil juga mengetuk pintu.


Tok


Tok


"Iya Bu!" Melati keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu, segera membukakan pintu untuk Ibu.


Ibu langsung menatap wajah Melati, entah apa yang sedang ibu pikirkan sehingga matanya menatap penuh tanya juga khawatir terlihat di sana.


"Ada apa Bu? Apa Mas Iyan tadi menemui Ibu?" tanya Melati setelah menutup kembali pintu.


Ibu tak menjawab, wanita yang sudah beruban itu menuju dapur meletakkan bakul berisi makanan.


"Bu!" Melati memanggilnya lagi.

__ADS_1


Ibu menoleh, duduk di meja makan juga Melati ikut duduk bersamanya.


"Arka yang menemui Ibu." jawab Ibu, lumayan membuat Melati terkejut.


"Bukannya Mas Iyan?" Melati jadi berpikir.


Ibu menggeleng, sejenak ia menarik nafas. "Mel Arka mengadukan keributan kalian. Dia mengatakan jika sikapmu aneh, kamu menempel terus sama Iyan." ucap Ibu masih nada tenang.


"Aku takut Mas Iyan marah Bu, takut Mas Iyan meninggalkan aku." jawab Melati jujur.


Ibu menautkan alisnya, ternyata yang di adukan Arka benar adanya.


"Kamu benar-benar suka sama Iyan?" tanya Ibu lagi.


"Tentu saja Bu, aku hanya ingin menikah dengan Mas Iyan, bukan Mas Arka atau siapa saja." Melati tak menutupi apapun isi hatinya.


"Menurut Arka itu aneh Mel?"


"Apanya yang aneh Bu, bukankah kami memang akan menikah?" tanya Melati balas menatap ibu.


"Ya, sikap tidak biasamu itu. Menurut Arka kamu di pelet sama Iyan, begitu juga pendapat orang-orang yang mendengar Arka berbicara kepada Ibu, katanya kamu bisa jadi kena pelet." jelas Ibu.


"Tapi Mas Iyan itu baik Bu, dia sangat baik sehingga aku sangat takut kehilangan calon suami seperti dia. Jauh berbanding terbalik dengan Mas Arka." jelas Melati tak terima prasangka Arka pada kekasihnya.


"Ibu tahu dia baik, tapi curiga sedikit apa salahnya." jawab Ibu.


Melati jadi kesal mendengarnya, tak hanya kali ini Melati mendengar ibu ragu jika sudah berbicara dengan Arka.


"Begini saja, besok ibu akan membawamu kepada seseorang temannya paman Aryo. Ibu harus mengobati mu terlebih dahulu, agar tak ada keraguan apa-apa sebelum kau menikah."


"Ibu! Percaya hal seperti itu dosa Bu!" Melati meninggikan suaranya.


"Kamu harus menurut, mulai sekarang jangan bertemu dengan Iyan dulu."


Semakin membuat Melati tercengang, tak habis pikir dengan keputusan ibunya.

__ADS_1


"Bukannya kemarin ibu mendukungku? Lalu mengapa sekarang malah seolah menyudutkan Mas Iyan?" Melati sungguh tak percaya.


"Mel, kalau dipikir-pikir Kasihan Arka." ucap Ibu, tatapannya menerawang entah kemana.


__ADS_2