Main Dukun

Main Dukun
Hubungan kita sudah berakhir


__ADS_3

"Mas Iyan datang ke rumah ini, untuk melamarku!" ucap Melati dengan berani.


"Apa!" Arka sungguh terkejut, wajah Arka berubah gelap, entah mungkin sebab di pagi hari hingga tak seseram saat malam Jum'at kemarin. Tapi tetap saja menampakan perubahan, perangai yang buruk dan menjengkelkan.


"Iya Mas Arka, dia datang untuk memintaku menjadi istrinya, dan aku sudah bersedia."


"Kau jangan main-main Melati! Aku tidak mengizinkanmu menerima siapapun selain aku!"


"Aku tidak butuh izinmu Mas Arka! Mulai sekarang jangan datang menemui aku, hubungan kita sudah berakhir."


"Mel!" bentak Arka.


"Pulanglah, katakan pada ibumu, aku sadar diri, aku memang tidak pantas untuk menjadi istri seorang Arka Wijaya! Carilah wanita yang lebih layak bersamamu, lebih cantik dan berpendidikan tak seperti diriku yang hanya sekedar bisa membaca dan menulis. Aku sama sekali tidak sekelas dengan dirimu." Melati meraih tas di atas meja kayu segera pergi bekerja.


"Mel, Mel!" Arka yang sempat terpaku lalu mencegah Melati yang sudah diambang pintu. "Mel, Mas mohon jangan seperti ini. Ingatlah bahwa hubungan kita sudah sekian lama, dan itu tidak mudah kita lewati bahkan kita sudah kenyang melakukan hal itu." Arka mengingatkan.


"Ya, kau benar Mas Arka! Tiga tahun lebih kau membuat aku sebagai wanita murahan yang hanya setiap kali kau datang untuk menyalurkan cairan haram itu di dalam perutku. Kau tidak peduli bagaimana rasanya aku, setiap malam merasa berdosa bahkan tak layak walau hanya sekedar sholat. Apakah kau pernah mengerti?" Melati menatap mata Arka dengan berani.


"Aku mengerti Mel?"


"Kalau kau benar-benar mengerti, harusnya tak butuh selama ini hanya untuk mengatakan sebuah lamaran, sudah cukup sekian lama aku menunggu ucapan tanggung jawab atas semua dosa yang sudah kita lakukan, tapi rasanya, mustahil datang darimu. Aku menyerah Mas! Aku lelah."


"Hanya sebatas itu cintamu padaku Mel!" ucap Arka memelas kali ini.

__ADS_1


"Batas apa yang kau sebutkan itu Mas? Jika kau tanyakan padaku, tentu tak ada batas dalam mencintaimu selama ini, aku sampai terlihat seperti wanita rendah yang selalu bersedia menjadi budak nafsumu, tapi yang ku dapat hanyalah duka dan hina." tangis Melati pecah kali ini, air matanya tak tertahankan lagi.


"Aku tidak menganggapmu seperti itu." lirih Arka.


"Aku pernah merasa sangat berharga, ketika semua mata memujaku walau hanya menikmati keindahan bunga sederhana yang belum sempat merekah. Tapi akhirnya kau datang merayuku dengan cinta, menjadikan aku benar-benar tak berharga, seperti sampah yang hanya kau bersedia memungutku. Membuatku pasrah dalam luka yang tak pernah kau sadari setiap harinya selalu bertambah. Dan itu sudah cukup! Biarkan aku pergi menjalani hidup yang hanya tersisa sedikit arti, yang bagi keluargamu aku tak berharga."


"Mel!" Arka mengejar Melati hingga di halaman rumah.


Ributnya Dua sejoli fenomenal di kampung tersebut, tentu mengundang banyak mata yang memang sudah sejak lama mengutip hubungan mereka. Pagi ini benar-benar seperti mendapatkan bongkahan emas, beberapa pasang mata ibu-ibu tetangga menatap tajam tanpa berkedip, juga daun telinga yang menjadi semakin lebar agar tak terlewatkan setiap kata yang keluar dari mulut keduanya.


Arka menarik tangan Melati, mencegah gadis itu untuk tidak pergi.


"Lepas Mas, kita sudah selesai!" ucap Melati lantang.


"Sudah terlambat Mas! Hari yang ku impikan bersamamu telah berlalu, aku tidak lagi menginginkannya." Melati menarik tangannya sekuat tenaga, dia tak peduli dengan banyak orang sedang melihat.


Mungkin sekaranglah waktunya untuk membuktikan bukan Melati yang pengemis cinta Arka di sini, bukan Melati yang dengan ikhlas harga dirinya terinjak-injak selama bertahun-tahun. Sudah waktunya Melati bangkit dan membuktikan, Melati juga bisa membuat Arka tak berharga.


"Melati!" teriak Arka dengan nafas naik turun wajah sedih dan putus asa. Perasaannya bercampur aduk saat ini, marah, sedih, kecewa, dan banyak lagi rasa di hatinya.


Melati tak peduli, ia enggan menoleh wajah yang dulunya angkuh, sombong dan egois, kini memelas mengharap belas kasihan dari Melati yang selama ini rendah di mata semua orang.


'Ya, aku pantas bangga dengan berakhirnya hubungan ini, aku juga layak di hargai bukan hanya bahan gunjingan para tetangga bahkan seluruh warga kampung ikut menghebohkan hubungan ini. Jika hanya harta saja yang membuat mereka memandang rendah diriku, sekarang waktunya aku membuktikan bahwa aku juga bisa hidup mandiri. Aku tak mau selamanya harga diri Ibu juga terinjak-injak karena diriku.'

__ADS_1


Air mata terus berjatuhan seiring langkah yang terasa lelah, lelah karena hati yang kehilangan kekuatan, sungguh cinta Arka begitu besar, juga Melati yang sempat memasrahkan hidupnya dengan sejuta harapan.


Sedih, tentulah Melati bersedih. Kehilangan Arka tidaklah mudah, tak dipungkiri jika cintanya masih ada. Namun kekecewaan yang sudah terlalu banyak membuat Melati menguatkan hati dan mengambil keputusan untuk berpisah. "Demi harga diri Ibu, yang sudah melahirkan aku dan membesarkan dengan susah payah." ucapnya pelan.


"Melati!"


Ternyata Arka tak mennyerah, laki-laki gagah dan tampan itu menyusul dengan sepeda motornya, mengiringi langkah Melati yang sangat pelan.


Melati tak menoleh, tangan halusnya menghapus air mata, terus berjalan dan enggan menjawab.


"Mel, naiklah Sayang." Arka mencoba meraih tangan Melati, meminta gadis itu naik sepeda motor dengannya. Namun mendapat tepisan keras dari gadis pujaan yang selama ini ia anggap patuh bahkan untuk selamanya.


"Mel!" suaranya semakin pelan, membujuk dan merengek, sepanjang jalan Arka terus mengikutinya.


"Aku harus bekerja Mas! Pulanglah!" Melati baru bicara ketika sudah sampai di tempat ia bekerja, tampak di dalam sudah ada Iyan sedang merapikan berkas dan mengatur kursi untuk mereka duduk.


Berbagai macam pikiran yang sulit di jabarkan ketika melihat wajah Arka yang merah padam dan sorot mata tak kalah menusuk. Iyan memilih tak menampakkan ekspresi apa-apa, tentulah jika tersenyum Arka tak kan membalasnya, apalagi menyapa sudah pasti akan memancing amarah. Iyan memilih diam di posisi duduk.


Arka masih mengawasi Melati hingga gadis itu duduk di meja kerjanya. Belum terlihat percakapan atau sapaan dari Iyan ataupun Adi yang juga sudah datang. Suasana yang tak menghasilkan suara itu membuat Arka menyerah dan memilih tancap gas, pulang mengadu dengan ibunya.


"Ribut Mel?" pada akhirnya Adi tidak tahan untuk tidak angkat bicara.


Melati tersenyum menatap Adi sekilas. "Iya Paman, Melati sudah mengakhiri hubungan kami."

__ADS_1


Membuat melongo pamannya yang masih muda itu.


__ADS_2