Main Dukun

Main Dukun
Pergi ke rumah Paman


__ADS_3

Iyan meraih ponsel Melati dan mengangkat panggilan dari Arka.


"Mel!" suara Arka di seberang sana memanggil Melati.


Iyan menekan gambar speaker, sedikit melihat wajah Melati yang tampak khawatir.


"Halo Mel! Nanti sore aku akan menjemputmu." ucap Arka lagi.


Iyan mendekatkan ponselnya kepada Melati, mengisyaratkan untuk menjawab 'Iya'.


"Iya Mas." jawab Melati gugup.


"Kok begitu, apa kau tidak suka?" tanya Arka curiga.


"Ti-tidak Mas." jawab Melati lagi.


"Ingat Mel, Aku belum mengatakan semuanya kepada Ibu." Arka mengingatkan ancamannya.


"Iya." jawab Melati cepat, mata beningnya menatap Iyan yang mendadak menyelidik.


"Ya sudah, jangan lupa makan ya Melati Sayang."


"Iya Mas Arka." jawab Melati lemas.


Iyan mengakhiri panggilan ponsel tersebut. Matanya kembali fokus dengan Melati. "Apa maksudnya?" tanya Iyan pelan, semakin penasaran melihat Melati menunduk.


Tak ada jawaban, Melati menautkan kedua tangannya.


"Mel?" Iyan mengangkat wajah Melati.


"Mas Arka akan cerita tentang seberapa dekat Melati dengan Mas Arka kepada Ibu kalau Melati tidak menurut." jawab Melati halus.


Iyan bertambah terkejut lagi, ternyata kelakuan Arka memang tak tanggung-tanggung.


"Sejak kapan?" tanya Iyan berusaha menekan amarahnya.


"Sejak beberapa hari lalu Mas." jawab Melati lagi, wajah cantiknya benar-benar menciut, takut Iyan marah, takut dengan Arka, juga takut dengan sikap Ibu.


Iyan menarik nafas, hanya mendengarnya saja ia sudah sesak, bagaimana Melati yang menjalaninya.

__ADS_1


Iyan kembali meraih tubuh Melati, memeluknya dengan rasa bercampur aduk. Tentu hanya Iyan yang tahu semua masalahnya tanpa terkecuali, itu pula sebabnya Melati benar-benar merasa hanya memiliki Iyan dalam hidupnya.


"Ponselmu Mas yang pegang ya, sementara Melati pakai ini." Iyan merogoh kantong jaketnya mengeluarkan ponsel miliknya.


"Tapi ini ponsel bagus Mas?" Melati menunjuk ponsel Iyan yang memang bermerek, jauh sekali harganya di banding milik Melati.


Iyan tersenyum menatap gemas Melati. "Mau di cium lagi?" tanya Iyan membuat Melati melebarkan matanya.


"Mau Mas." jawab Melati tersenyum dengan mengernyitkan hidungnya.


Iyan terkekeh, sambil mengeratkan pelukannya. Ternyata jawabannya membuat hati Iyan semakin kacau. "Nanti kalau Arka telepon kamu lagi, biar aku yang menjawab." ucap Iyan menyimpan ponsel Melati.


"Ini serius?" tanya Melati masih bingung.


"Serius Mel." Iyan melepaskan pelukannya.


"Terus yang tadi tidak jadi." Melati menggoda Iyan kali ini.


"Nanti saja setelah halal." Iyan mencubit hidung Melati, duduk di sebelahnya dan memberikan kantong plastik berisi sesuatu. "Takut khilaf dan tidak bisa stop kalau sering-sering di coba. Kamu terlalu cantik untuk di coba-coba." Iyan balas menggoda Melati yang tersenyum sangat manis.


"Ini apa Mas?" tanya Melati lagi, karena Iyan selalu penuh kejutan.


Tak pernah menyangka akan mendapatkan perhatian Iyan sepenuhnya, Arka saja tidak pernah melakukan hal seperti itu. Laki-laki yang sudah menemaninya lebih dari tiga tahun tersebut tergolong pelit dan tidak suka walaupun hanya sekedar meminjamkan barang pada Melati. Hanya akhir-akhir ini saja, pemuda itu lebih royal mau sedikit rugi demi Melati. Itupun ia lakukan karena dia ingin mempertahankan Melati, rela memberi dukun itu uang. Jauh berbeda dengan perlakuan Iyan yang manis, meskipun Melati tak mengharapkan pemberian Iyan, tapi sikapnya seperti itu benar-benar membuat nyaman.


"Jangan terlalu baik Mas, nanti Melati tidak bisa bayar." candanya lagi.


"Itu yang aku mau, agar kamu tidak dapatkan berlari, tidak bisa berpindah ke lain hati. Kamu harus menjadi milikku." mendekatkan wajahnya dan berucap pelan.


"Itu juga yang aku mau Mas, kalau begitu aku akan mengambil semua ini. Biar kamu tidak melepaskan aku lagi." Melati meraih kantong plastik hitam juga ponsel Iyan dan memeluknya.


Iyan terkekeh geli, sambil sedikit mengeluh di dalam hati. 'Kapan aku bisa menikahimu Mel?' ucapnya sambil terus memandangi Melati.


Sejak lama sekali Iyan mencintainya, hanya bisa memperhatikan wajahnya dari jauh.


Pernah satu kali Iyan sedang belanja dan kebetulan Melati juga sedang belanja. Jarak yang sedikit berdesak-desakan membuat Iyan dapat memperhatikan wajah cantik halus Melati dari dekat. Semuanya terlihat sempurna dengan suara lembut dan merdu. Termasuk jarinya yang bergerak indah sekali memilih belanjaan, itu tepat terjadi di samping Iyan. Namun ketika itu Iyan hanya bisa memperhatikan tanpa berani bicara atau hanya sekedar menyapa, karena Arka menunggu dan membuntutinya. Saat itu mereka terlihat begitu mesra, tak pernah menyangka ternyata kemesraan mereka berakhir tepat ketika Iyan berhasil masuk ke dalam hidupnya.


Siang itu setelah makan siang, Melati sudah bersiap akan menginap di rumah Aryo. Berangkat bersama Adi, dan Iyan menjaga dealer sebelum tutup beberapa jam lagi.


"Bukannya tadi Mas Iyan yang akan mengantarkan aku?" tanya Melati ketika tahu ternyata hanya Adi yang mengantarkan.

__ADS_1


Adi dan Iyan berpandangan, Adi semakin garuk kepala melihat kelakuan keponakannya yang semakin bucin dengan Iyan.


"Adi bilang lebih baik kalau dia saja yang mengantar. Agar tidak terjadi keributan nantinya." Iyan mendekati Melati.


"Ya sudah." Melati sedikit kesal.


"Besok aku akan datang, bahkan malam-pun tak masalah bagiku, yang penting kamu sampai lebih dulu." Iyan sedang membujuk, sementara Adi berjalan keluar bersiap mengeluarkan motornya dari parkiran.


"Melati pergi Mas." pamitnya dengan berat hati, meraih tangan Iyan dan menciumnya.


Sama beratnya juga dengan Iyan, menyibak rambut lurus Melati dan melihat wajah cantiknya.


"Nanti malam atau besok, Aku pasti menyusul." Iyan meyakinkan lagi.


Melati mengangguk, balas memegang wajah Iyan. "Aku benar-benar tidak mau pisah darimu Mas." ucap Melati pelan.


"Ya Sayang, aku tahu." Iyan tersenyum tulus. "Pergilah." ucap Iyan lagi menurunkan tangannya.


Melati mengangguk dan segera keluar menyusul Adi. Begitu juga Iyan mengiring hanya untuk melihat Melati pergi.


Tin


Suara klakson Adi, mereka berangkat meninggalkan Iyan.


...***...


Malam itu, Iyan memeriksa ponsel Melati, semuanya tanpa terlewatkan. Ada foto Arka di sana yang sempat membuat hati Iyan kesal, tapi foto dirinya juga ada sehingga membuatnya sedikit mereda. Lagi pula sekarang Melati hanya menempel padanya, untuk apa lagi kesal dengan foto Arka.


Pesan. 'Mel mengapa tidak memberitahu aku jika ingin pergi, harusnya aku yang mengantarmu!'


Ternyata Arka sangat kesal tadi sore menjemput Melati tapi dealer sudah tutup. Panggilannya pun sudah beberapa kali, Iyan menunggu waktu yang tepat untuk mengangkatnya.


Kali ini kembali berdering, setelah beberapa pesan semuanya di baca oleh Iyan.


"Halo Mel!" suara Arka terdengar sangat gelisah, nafasnya terdengar kasar. "Aku akan bicara kepada Ibu jika kau terus seperti ini." ancamnya lagi.


"Bicarakan saja Mas Arka, setelah itu dapat di pastikan Melati akan marah." jawab Iyan santai.


"Kau!" Arka sangat terkejut. Tentu dia sangat marah saat ini.

__ADS_1


__ADS_2