Main Dukun

Main Dukun
Sama-sama tak akan mengalah


__ADS_3

"Tentu saja aku tidak akan mengalah." Arka menjawab pertanyaannya sendiri.


Hatinya sungguh sangat bahagia melihat Iyan diam tak mampu berkata apa-apa. Malam ini Arka menang, benar-benar puas, sepertinya keberuntungan sedang berpihak padanya. Begitu Arka berpikir..


"Mas." Melati memanggil Iyan yang belum juga menolehnya. Perasaan takutnya semakin besar melihat pria yang baru beberapa waktu di cintanya malah tak memberikan respon apa-apa.


"Pulanglah! Ku rasa urusan antara kita bertiga sudah selesai." usir Arka dengan wajah sombong.


Setelah berkali-kali menarik nafas menenangkan diri sendiri, Iyan tersenyum sedikit, usiran Arka membuatnya tersenyum.


"Mas Arka mengusirku, tapi yang punya rumah ini ingin aku tetap di sini." jawab Iyan tenang menoleh Melati dengan senyum manis.


Membuat Melati terkejut bukan main, ketakutan dalam hatinya sungguh salah besar. Bola matanya semakin dalam menatap wajah Iyan, antara lega juga tidak percaya.


Iyan kembali menatap Arka. "Justru Mas Arka yang harusnya pulang lebih dulu, mengerti jika yang punya rumah hanya menginginkan aku." jawab Iyan lagi membalas namun tetap tenang.


Wajah Arka merah padam, ia salah menyangka jika memergoki dirinya mencium Melati bisa membuat Iyan berpaling.


"Sepertinya kau memang menantang ku." Arka menatap tajam, mata yang tadinya biasa sekarang menjadi merah dan menakutkan, aura hitam menyelimuti Arka, kulit putihnya berubah gelap. Begitu yang dilihat Iyan, membuat Iyan mundur memegang tangan Melati.


"Aku tidak menantang Mas Arka, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Jika Mas Arka tak percaya, silahkan tanyakan pada Melati."


Arka menoleh Melati, ia benar-benar dibuat emosi terlebih lagi tangan halus Melati tak henti memeluk lengan Iyan.


"Tak perlu berkelahi Mas, apalagi di rumah orang, kita hanya perlu bicara baik-baik. Dan akan lebih baik jika kita pulang, aku juga dirimu." Iyan menunjuk Arka.


"Siapa kau mengaturku?" kesal Arka.


"Karena jika Mas Arka tidak pulang, aku juga tidak akan pulang. Jadi pilihannya hanya ada dua, kita sama-sama menginap di sini, atau kita pulang bersama-sama?" tanya Iyan sangat yakin.


"Aku ingin di sini, jika kau ingin pulang maka pulanglah sendiri! Tidak usah mengajak aku." Arka mendengus kesal, kemarahannya tak mendapatkan respon dari Iyan.


"Baiklah, kalau begitu aku juga akan tetap di sini." Iyan duduk di kursi dekat jendela, dan Melati mengikutinya tak mau melepaskan Iyan sama sekali.

__ADS_1


"Melati!" geram Arka semakin marah.


Melati tak menjawab, sadar jika ulahnya memancing amarah Arka, ia memilih berdiri menyandar didinding tapi tetap dekat dengan Iyan.


Lama mereka berada di ruangan yang sama, tapi tak juga ada yang memulai bicara. Arka mondar-mandir menatap gelisah pada Melati yang hanya menunduk di samping Iyan, sedangkan Iyan duduk tenang tak memperhatikan Arka.


"Ibu kemana Mel?" tanya Iyan pada akhirnya.


"Ibu di rumah Bu Lek yang kemarin di depan gang. Kan hajatannya besok." jawab Melati sambil menatap serba salah kepada Iyan.


"Ya sudah, aku pulang dulu." Iyan beranjak dari duduknya.


"Mas!" Melati menarik lengan Iyan lagi.


Iyan menolehnya, lalu melirik Arka. Sedikit merasa tak enak hati, tentu sikap Melati yang menempel terus itu membuat Arka semakin terbakar cemburu.


"Melati! Kau benar-benar sudah tidak waras dibuatnya." Arka menarik Melati agar tak bergelayut di lengan Iyan.


"Apa Mas?" Melati menatap tak suka.


Melati sedikit terkejut, benar kata Arka jika dia tak pernah seperti itu pada Arka. Tapi dia benar-benar tidak mau ditinggal Iyan pulang, terlebih lagi tadi siang mereka ribut, lalu sekarang?


Melati tak peduli, baginya yang terpenting adah Iyan. Kembali ia mendekat dan memegang lengan Iyan.


"Mel!" Arka mendekat dan menarik Melati kasar sekali.


"Mas Arka!" Iyan menjadi marah kali ini.


"Heh, kau benar-benar licik, ilmu pelet apa yang kau pakai hah?" Arka menantang Iyan, mendorong bahu pemuda itu.


"Mas Arka mau tahu?" Iya menantang tatapan Arka. "Karena aku tak pernah menyentuhnya, itu membuat dia sangat ingin bersamaku dan hidup bersamaku."


Ucapan yang membuat Arka semakin marah.

__ADS_1


"Sedangkan bersama Mas Arka, dia sudah bosan."


Bugh


Iyan sampai mundur mendapat pukulan di wajahnya.


"Brengsek!" teriak Arka dengan kembali menyeramkan, mata merah menyala dengan gigi mengerat, dia benar-benar kalap dan ingin menghabisi Iyan kali ini.


"Berhenti Mas!" Melati menghadang dan berteriak. Takut pada Arka kalah dengan ketakutan jika sampai Iyan terluka karena Arka mengamuk. Melati memilih menengahi, ia yakin jika Arka tak akan menyakitinya.


"Minggir Mel!"


"Tidak Mas! Aku yang salah disini." Melati memohon untuk Arka bisa mengerti.


Melati mendekati Arka dan mendorongnya agar pria itu menjauh. "Pulanglah Mas, Mas Iyan juga akan pulang." pinta Melati sedikit menekan suaranya agar lebih pelan.


"Aku belum selesai." Arka masih menatap tajam Iyan.


"Kalau kau tidak mau pulang, biar aku yang akan pergi, aku tidak akan pernah memafkanmu lagi, karena aku akan sangat malu jika kau sampai berkelahi di rumah ini." ancam Melati.


Arka menatap Melati tak percaya, dia juga tak bisa membayangkan jika Melati keluar di malam-malam begini. Itu sangat bahaya jika di temukan laki-laki buaya darat yang sering nongkrong di pertigaan jalan. Masih mending Iyan yang belum pernah menyentuh Melati. Artinya masih Arka saja yang sudah memilikinya, emosinya kembali reda.


Senyum sinis kini di perlihatkan lagi di wajah Arka, tak ada yang tahu apa yang sedang ia pikirkan. Yang pasti laki-laki itu sedang merasa menang, entah karena Melati bersikap lebih baik, atau ada hal lainnnya. Arka berlalu tanpa bicara apa-apa, dia juga tak menoleh Melati apalagi Iyan.


Membuat bengong, Melati menarik nafas lega.


"Mas juga harus pulang." Iyan berbalik menuju pintu, sepertinya ada sedikit kekecewaan di dalam hatinya. Walau tertutup rapat tapi jelas jika dia juga merasa sakit ketika melihat calon istrinya berciuman dengan Arka, dan itu baru terlihat setelah Arka tak ada.


"Mas." Melati kembali meraih tangan Iyan, Melati benar-benar khawatir Iyan marah dan benci padanya.


"Kita bicarakan besok saja. Ini sudah malam." Iyan tahu jika Arka masih menunggu di depan jalan, tentu pria itu tak akan membiarkan Melati berduaan dengan Iyan.


"Mas aku bisa jelaskan, semua tidak seperti yang kau lihat." Melati memohon, menunggu besok hanya akan membuatnya susah tidur.

__ADS_1


Iyan menatap bibir Melati, entah mengapa hatinya merasa sakit mengingat itu kembali, walaupun sejak awal Iyan tahu jika mereka bahkan sudah melakukan lebih dari pada itu.


__ADS_2