
"Menginap saja ya Paman?" Melati berbicara kepada Adi setelah makan malam.
"Kami harus pulang, tapi mungkin setelah agak malam. Jika kau mau tidur duluan silahkan saja, nanti pintunya akan paman kunci dari luar." ucap Adi kepada Melati.
"Kamu capek ya?" Iyan menggenggam tangan Melati.
"Tidak Mas, entah mengapa aku merasa tidak nyaman di rumah ini." Melati melihat sekeliling ruangan.
"Hanya perasaan saja." Iyan menenangkan Melati, walaupun dia tahu apa yang di rasakan Melati itu benar adanya. Terlebih lagi di kamar Ibu, auranya gelap dan pengap. Padahal jendelanya cukup besar jika hanya berhubungan dengan siklus udara. Belum lagi rumah yang terbuat dari rangka kayu bagian atapnya sering berderit bagaikan bergerak rangka besarnya, seolah ada yang menginjak dan berjalan di atas sana.
Iyan memilih pura-pura tidak tahu, sebenarnya dia melihat memang ada yang sedang duduk di atas langit-langit rumah Melati, makhluk besar sengaja menunggu di sana. sesekali berpindah posisi jika sedang Maghrib dan tengah malam mengakibatkan pergerakan rangka langit-langit tersebut tanpa terlihat oleh mata biasa. Belum lagi di luar rumah, air yang di percikkan Arka, menanamkan kaki-kaki makhluk halus untuk mengawasi rumah Melati, membujuk dan membawa penghuninya kepada permintaan orang yang menyuruhnya. Misalkan bertengkar atau apapun lainnya, dan yang dapat di pengaruhi mereka adalah Ibu.
"Aku keluar sebentar ya." Adi beranjak lebih dulu.
"Mau kemana?" Iyan menanyai sahabatnya tersebut.
"Beli cemilan." jawab Adi berlalu.
"Pantesan semakin hari semakin gendut, baru saja makan sudah mencari cemilan." Iyan menertawai Adi, walaupun tidak di dengar olehnya.
Melati tak menanggapi, wajah cantiknya masih terlihat khawatir.
Iyan menoleh kekasihnya tersebut, dia paham betul Melati sedang bingung dengan keadaan.
"Hanya tinggal besok, lusa kita sudah bersama." Iyan merangkul Melati, mengelus pundaknya.
"Hanya sedih Mas, hidupku jadi seperti ini. Aku tahu ibu sakitnya aneh." Melati menatap Iyan.
"Ya, percaya saja nanti akan sembuh, kita harus berusaha dan berdoa." Iyan menyibak rambut Melati, menatap wajah cantik, putih dan halus itu sangat dekat. Semuanya terlihat sempurna di mata Iyan.
"Mas Iyan tampan sekali." Melati memuji kekasihnya dengan sorot mata tulus, bola matanya menelusuri setiap lekuk wajah Iyan Rahendra.
__ADS_1
Iyan tersenyum manis penuh cinta, pemuda itu sangat senang mendengar pujian Melati.
"Kamu juga sangat cantik, sejak lama aku ingin memilikimu. Dan sekarang kita akan bersama, aku benar-benar bahagia." Iyan menyatukan kening mereka, menikmati wanginya nafas Melati.
"Terimakasih Mas." bisik Melati perlahan mendongakkan wajahnya, mengecup pipi Iyan dengan lembut sekali.
Sebagai laki-laki normal dia terpancing dengan hangat dan halusnya ciuman Melati. Iyan memeluknya erat dan membalasnya lebih hangat. Tentu bibir merah Melati menjadi sasaran pemuda itu kali ini. Ternyata Iyan bukanlah laki-laki yang polos atau tak tahu tentang berciuman, malah dia sangat mahir membuat Melati tak karuan, porak poranda hatinya, berlari aliran darahnya.
Lidahnya halus menyentuh pelan, bibirnya lembut perlahan mengecup menghisap begitu nikmat. Melati menggenggam baju di dada Iyan dengan kuat, rasanya dia ingin jatuh lemas di pelukan Iyan Rahendra, namun sayang sekali jika harus menutup mata ketika apa yang selalu dia inginkan sekarang sedang mereka lakukan.
Tatapan pemuda itu sangat lembut, sentuhannya pelan memanjakan, Melati sangat menyukainya. Begitu pula sebaliknya Iyan tidak sedang terburu-buru, semuanya pelan dan lembut, menikmati setiap gerakan bibirnya menyatu hangat menghanyutkan Melati.
Iyan melepaskan ciumannya perlahan, membiarkan Melati menahan gejolak tak menentu di dadanya, mengatur nafas hingga kembali normal.
Melati memeluk Iyan kembali, menyembunyikan wajah cantiknya di dada pemuda itu, menikmati sisa sentuhan yang hanya sedikit tapi membuatnya melayang setinggi langit. Melati selalu menginginkannya, hanya Iyan selalu menahan diri agar tidak terjadi lebih dari pada sekedar memeluk Melati.
Iyan mengecup pucuk kepala gadis cantik di pelukannya, tentu dadanya juga sedang bergemuruh hebat. Melati yang cantik membuatnya ingin menghabiskan waktu hingga pagi, tapi tak akan pernah dia lakukan, karena kata-kata sah hanya menunggu sebentar lagi.
"Apa?" jawab Iyan lembut, membelai rambut Melati.
"Besok bekerja atau tidak?" Melati mendongak kali ini, nafasnya mulai normal teratur.
Iyan juga menunduk, matanya memancarkan cinta yang besar. "Kalau Melati lelah istirahat saja, biar aku yang bekerja." Iyan membelai pipi Melati.
Melati menikmati itu, menyandar dan menghisap hembusan nafas Iyan di wajahnya.
"Lagipula besoknya kita harus ke rumah Paman Aryo. Lebih baik di rumah saja ya?" ucap Iyan lagi.
Melati mengangguk.
Iyan senang sekali melihat gadis itu menurut, mengangguk patuh seperti seorang istri idamannya. Tentu itu akan terwujud lusa, Iyan hanya berharap semuanya berjalan dengan baik.
__ADS_1
"Tidurlah lebih awal, aku akan mengobrol di depan bersama Pamanmu." pinta Iyan lagi mengelus rambut Melati.
"Iya Mas." Melati melepaskan pelukannya, beranjak dari meja makan menuju kamarnya.
Iyan memandanginya hingga gorden pintu tersebut kembali diam tak bergerak, membiarkan Melati istirahat dengan nyenyak.
Sedangkan di rumah Arka, pemuda itu sedang duduk bersila di atas tempat tidurnya. Matanya tertutup dengan tangannya mengatup di depan dada. Dia terlihat berkonsentrasi penuh, dia sedang menghubungi seseorang melalui mata batinnya, mencoba berkomunikasi dengan Ki Juno dengan ilmunya yang baru beberapa waktu di dapatnya dengan belajar dan berlatih hingga pagi.
Di tempat yang gelap itu, Arka dan Ki Juno bertemu, mereka saling berhadapan dengan wajah serius.
"Kau hanya punya waktu hingga besok malam Arka!" ucap laki-laki tua itu dengan wajah tegang.
"Apa yang harus ku lakukan Ki, rasanya semua ajian dan jampi-jampiku sudah ku pakai semua, tapi Melati tak juga berubah." ungkap Arka merasa bingung.
"Dia bersama anak dukun pengasingan itu, tentu dia aman dengan jin yang juga menjaganya." ungkap Aki Juno menoleh Arka.
"Artinya aku harus menyingkir Iyan." Arka menatap tajam Aki Juno.
Aki Juno membuang pandangannya, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Ki!" Arka meminta pendapat.
"Itu sulit Arka!" jawabnya membelakangi Arka.
"Kenapa Ki, bukankah kau sudah menurunkan ajian andalan mu padaku?" Arka mendekati Aki tua tersebut.
"Dimas Mahendra tidak akan diam saja, dia akan membela anaknya." Aki Juno menunduk sedih.
"Kau mengenalnya?" Arka semakin penasaran.
Aki Juno menarik nafas dalam, kemudian berbalik berhadapan dengan Arka.
__ADS_1
"Ibu Iyan Rahendra adalah wanita yang aku cintai, sama sepertimu mencintai Melati. Bedanya aku merebut hingga wanita itu mati bunuh diri karena tak sanggup menahan perasaan cinta yang ku ciptakan melalui pelet andalanku. Hatinya terbagi dua, sebagian menyadari jika dia adalah istri Dimas Mahendra, sebagiannya memberontak ingin bersamaku."